
Karena melihat sang istri sedang mengobrol serius dengan tetangga rumahnya, akhirnya Bani pun memutukan untuk turun dan menghampiri sang istri.
"Ada apa ya ini, ko sepertinya serius sekali" tegur Bani.
"Ini Bang kata si ibu tadi ada orang yang mengawasi rumah kita" jelas Syifa.
"Apa bener itu bu ?" tanya Bani seakan - akan tidak percaya.
"Iya pak, tadi pagi setelah bapak pergi dari rumah, ada dua orang menggunakan motor seperti sedang mengawasi rumah bapak, mereka menggunkan helm jadi kami tidak bisa mengenalinya, saat kami tadi ingin menghampirinya malah orang tersebut langsung pergi, kami sempat mengingat plat nomornya, namun saat di cek ternyata itu plat palsu" jelas ibu tersebut.
Siapa lagi yang akan berbuat jahat dengan keluarga ku, ya allah lindungi keluarga ku. doa Bani dalam hatinya.
"Sebaiknya kita tidak usah pergi, perasaan ku sepertinya tidak enak" ujar Syifa.
"Tapi Sayang".
"Kita perginya kapan - kapan saja" ujar Syifa.
"Kata ibu - ibu yang lainnya, selain rumah neng Syifa ada beberapa rumah juga yang orang itu pantau, mereka memantau rumah yang terlihat kosong, sepertinya mereka itu merupakan sindikat pencuri deh" jelas ibu itu lagi.
"Hmm terima kasih ya bu infonya" ujar Syifa ramah.
"Iya sama - sama neng, kalau ada yang mencurigakan lapor saja sama pak rt, ibu permisi dulu ya".
"Iya bu".
Setelah ibu - ibu itu pergi, Bani kembali memasukan kembali ke perkarangan rumahnya sedangkan Syifa mengunci pintu pagar rumah mereka.
"Abang jadi khawatir ketika harus meninggalkan kamu di rumah sendiri" ujar Bani, kini mereka mengobrol di ruang televisi.
"Hmm kita berdoa saja, semoga itu orang iseng saja" sahut Syifa, walaupun dirinya juga ketakutan namun ia berusha berfikir positif.
"Abang mau pasang cctv di luar dan Abang juga akan mencari security untuk menjaga rumah kita" ujar Bani.
"Apa itu gak berlebihan sayang".
"Abang khawatir ketika Abang harus meninggalkan kamu di rumah sendirian, apa lagi kami perempuan" jawan Bani.
__ADS_1
"Ya sudah terserah abang saja". ujar Syifa, yang di katakan Suaminya memang ada benarnya juga.
Bani pun menghubungi Tio, ia meminta bantuan pada Tio untuk mencarikan orang yang biasa pasang cctv, tak lupa juga Bani memerintahkan Tio untuk mencarikan seorang security untuk bekerja di rumahnya.
"Sayang apa kita perlu mencari asisten rumah tangga untuk membantu kamu" ujar Bani.
"Untuk masalah itu, aku tidak setuju sayang, nanti saja pakai asisten rumah tangganya kalau kita sudah memiliki seorang anak" jelas Syifa.
"Oh iya sayang, tiga hari lagi kita akan liburan ke bali, abang juga sudah beli tiketnya, kita akan pergi selama satu minggu" ujar Bani.
"Ko Abang gak cerita sih !" protes Syifa.
"Dari pagi juga abangnya di cuekin".
"Siapa suruh bentak - bentak istri".
"Iya maaf, abang yang salah". sahut Bani. "Kamu lagi dapet, sudah berapa hari ?" tanya Bani.
"Mungkin besok terakhir" jawab Syifa membuat Bani senang mendengarnya.
Robby mengurus tentang kepindahannya ke suatu kota. Robby pun mempercayakan kantornya pada orang ke percayaannya, dan di tempat yang barunya nanti ia akan memimpin kantor cabangnya yang ada di sana.
"Sayang bawa barang yang di perlukan saja, jangan di bawa semua, nanti mas akan nyuruh orang untuk membersihkan apartemen ini seminggu sekali" ujar Robby.
"Mas emang mamah bakal setuju dengan rencana kita ini" ujar Salwa.
"Kita sudah berkeluarga, kita berhak menentukan kehidupan kita seperti apa" ujar Robby. "Besok kita kerumah ibu dan Ayah dulu, habis itu kerumah Abi dan Ummah dan baru kerumah mamah, kita akan menggunakan jalur darat dengan menggunakan mobil pribadi kita" jelas Robby.
"Emang tidak cape sayang, kamu nyetir sendiri". Salwa ragu dengan kodisi sang suami.
"Kita jalannya santai, kalau lelah ya kita istirahat" ujar Robby.
Setelah membereskan barang yang harus di bawanya mereka pun langsung tidur karena waktu sudah larut malam. sesuai rencana mereka bangun pagi - pagi sekali. Robby pun Sibuk memasukan koper - kopernya ke dalam bagasi mobil.ketika semua sudah siap mereka pun langsung menuju kediaman orang tua Salwa.
Robby tak ingin menunda lagi kepindahannya, ia mengurus semua perindahannya hari itu juga dengan mengerahkan orang - orang kepercayaannya, bahkan rumah baru untuk tempat tinggal mereka pun sudah di siapkan oleh Robby. dulu memang dia pernah bercita - cinta tinggal di sana setelah menikah, namun karena tak ingin meninggalkan orang tuanya, maka Robby mengurungkan niatannya.
Saat tiba di rumah orang tua Salwa, Robby langsung mengutarakan niatnya.
__ADS_1
"Ibu, Ayah, aku dan Salwa hari ini akan pindah rumah keluar kota, maaf jika ini sangat mendadak, tetapi ini sudah menjadi keputusan kami bersama" ujar Robby.
"Ayah dan Ibu hanya bisa mendoakan kalian semoga kalian betah di rumah baru kalian, Ayah maupun ibu tidak bisa melarang kalian, karena kalian sudah berkeluarga dan berhak menentukan pilihan kalian" ujar Ayah Salwa.
Robby tak ingin menceritakan kejadian sebenarnya yang menyebabkan ia harus mengambil ke putusan tersebut. setelah dari rumah orang tua Salwa, Kini mereka menuju rumah Abi dan Ummah yang sudah Robby anggap sebagai orang tua sendiri.
"Abi, Umi, Robby dan Salwa mau pamit, Salwa dan Robby mau pindah ke kota B " jelas Robby.
"Kenapa mendadak sekali" sahut Ummah.
"Apa yang menyebabkan kalian memutuskan pindah dalam waktu yang sesingkat ini, apa ada masalah ?". Abi umar sangat yakin jika Robby sedang ada masalah. "kamu tidak bisa membohongi Abi" sambung Abi Umar.
Dengan ragu - ragu Robby menceritakan kejadian kemaren di apartemennya, mendengar penuturan dari Robby membuat Abi Umar kesal dengan tingkah laku sang adik ipar.
"Keputusan kamu adalah keputusan terbaik, Abi dan Ummah selalu mendoakan yang terbaik buat kalian berdua" ujar Abi Umar lagi. " Malah Erni biar Abi yang menyelesaikannya" sambung Abi Umar.
"Kalian yang sabar ya, mungkin ini ujian buat pernikahan kalian, jangan lupa banyak - banyak berdoa ya" ujar Ummah.
"Kita harus segera pamit, kita juga akan pamit terlebih dahulu dengan Mamah" ujar Robby pamit.
Saat mereka tiba di rumah mamah Erni, ada rasa ketakutan dalam diri Salwa. namun ia berusaha menyembunyikan rasa itu.
"Ngapain kalian ke sini lagi" ketus mamah Erni.
"Aku dan Salwa hanya ingin pamit dengan mamah bahwa kita berdua akan pindah keluar kota hari ini juga" jelas Robby yang mengutarakan tujuannya mendatangi ruang orang tuanya.
"Kenapa kalian pindah ?".
"Aku dan Salwa hanya ingin mencari suasana baru saja" jawab Robby.
"Ke kota mana kalian akan pindah ?" tanya mamah Erni dengan nada yang masih ketus.
"Untuk sekarang aku akan merahasiakan ke kota mana kami pindah, tapi suatu saat kami akan memberitahu di mana tinggal kami sekarang" ujar Robby dengan tegas.
Mamah Erni mendengus kesal karena Robby tiba - tiba pindah, bahkan ia tidak memberi tahu alamat mereka yang baru, ini membuat rencana nya untuk memisahkan antara Robby dan Salwa akan gagal.
"Apa kepindahan kamu ada sangkut pautnya dengan kejadian kemaren ?" tanya Mamah Erni.
__ADS_1