
Mobil iring - iringan polisi pun melaju menuju ke sebuah pemakaman, tak lupa juga Bayu mengikuti iring - iringan tersebut dengan menggunakan kendaraannya sendiri.
Sampai di pemakaman Aisha bersimpuh memeluk nisan yang bertuliskan nama sang adik.
"Dek, maafin kakak, gara - gara kakak kamu harus menanggung akibatnya. kakak janji kakak akan menjalani hidup yang lebih baik lagi. maaf jika selama ini kakak belum bisa jadi kakak yang baik untuk kamu. semoga kamu bahagia di sana dan bertemu dengan ibu dan ayah di surganya Allah" ucap Aisha lirih seraya terisak. ia pun memanjatkan doa untuk sang adik yang telah tiada.
Sebelum di bawa ke kembali ke mobil polisi, Aisha berpesan agar Bayu mau membantunya dalam mengurus surat perceraiannya dengan sang suami yang telah lama ia tinggalkan. dan Bayu pun menyanggupinya.
Kabar tentang kembali Aisha ke dalam sel tahanan, kini telah sampai di telinga Tama sang pengacara Bani yang menangani kasusnya bersama Aisha.
Tama langsung buru - buru menemui Bani yang kini sedang berada di kantornya, mereka akan membicarakan kelanjutan kasusnya.
"Hai Bro sudah lama kamu tidak nongol di kantor ini" tegur Tio saat melihat ke datangan Tama.
"Sorry bro sibuk terus sama kasus - kasus yang datang silih berganti" jawab Tama.
"Kasus orang lu urusin, giliran kasus sendiri saja di anggurin". celetuk Tio.
"Sorry bro gue gak punya kasus ya" ujar Tama.
"Masa, itu loh kasus mu yang jomblo abadi".
"Kata siapa gue jomblo, gue ada yang punya ko, cuma masih gue simpen saja takut lo pengen" ujar Tama. "Mana Bani, ada urusan penting nih" sambung Tama.
Tio membawa Tama ke ruangan kerja Bani, di sana Tama langsung menceritakan maksud kedatanganya, Tama menceritakan sesuai apa yang di dapatkan dari pihak ke polisian. Tama juga menceritakan keadaan Aisha yang lupa akan kejadian yang bersangkutan dengan Bani.
"Jangan - jangan dia pura - pura lagi agar bebas dari hukumannya" celetuk Tio yang ngasal.
"Jika kamu kurang paham dengan kondisi Aisha, kita bisa tanyakan langsung dengan dokter yang menangani Aisha selama ia di rawat di rumah sakit" saran Tama.
Bani masih diam, ia masih berpikir apa Aisha beneran lupa atau hanya pura - pura saja.
"Ah nanti dokternya sudah di sogok dia lagi" ucap Tio yang ngasal.
__ADS_1
"Husstt, jangan sembarangan" ucap Bani.
"Kita lihat saja nanti di persidangan" sambung Bani. sebenarnya ia tak ingin membuat Aisha menjadi tahanan namun ia hanya ingin memberikan efek jera dengan apa yang di lalukannya terhadap keluarga kecilnya.
"Persidangan akan di gelar minggu depan namun untuk waktunya belum di tentukan" ucap Tama.
...******...
Hari - hari Salwa kini di liputi rasa kebahagiaan. bahagia dengan kehadiran calon buah hati mereka yang kini berada dalam rahim Salwa. namun ada yang mengganjal di hati Salwa, sampai saat Robby belum mengajaknya untuk berkunjung ke rumah mertuanya.
"Sayang kapan kita akan kerumah mamah ?" tanya Salwa.
"Sabar ya sayang, aku masih sibuk ngurus kerjaan ku" jawab Robby.
Robby belum ada niatan untuk memberikan kabar bahagia ini pada orang tuanya, menurutnya walaupun Salwa hamil orang tuanya tetap akan mencoba memisahkan mereka. ada sebuah rahasia yang Robby simpan rapat - rapat tentang orang tuanya.
"Sayang, boleh gak aku menghubungi mamah, aku ingin denger reaksi mamah saat aku tahu jika aku sedang mengandung anaknya ?".
"Kemaren sudah aku hubungi ko, mamah senang sekali mendengar kamar ini" jawab Robby berbohong.karena tak ingin membuat istrinya kecewa dan bersedih, takut akan menggangu tumbuh kembang calon anak mereka.
Secara diam - diam Salwa langsung menghubungi mertuanya di dalam kamar, ia tak ingin orang lain mengetahuinya jika ia sedang menghubungi mertuanya.
Lama tak ada jawaban, Salwa pun mencoba menghubungi kembali.
"Ada apa kamu menghubungi saya ?" ucap Mamah Erni saat panggilannya di jawab.
"Asalamualikum mamah, apa kabar ?" Salwa mencoba ramah terhadap orang tua suaminya.
"Aku tak butuh basa basi mu, cepat kata kan apa mau menghubungi aku ?" bentak mamah Erni membuat Salwa hanya dapat mengelus dadanya.
"Mah, aku punya kabar gembira buat mamah, mah aku sedang hamil mah" ujar Salwa berharap sikap mertuanya dapat berubah.
"Apa kamu hamil ?" teriak mamah Erni tidak percaya.
__ADS_1
"Iya mah, aku hamil, mamah akan segera dapat menimang cucu. nanti setelah mas Robby sudah tidak sibuk dengan kerjaannya aku dan mas Robby akan berkunjung kerumah mamah" jelas Salwa. Namun tiba - tiba panggilan pun terputus secara sepihak membuat Salwa terkejut.
Ketika aku mengatakan, aku sedang hamil mamah sepertinya sangat terkejut, tapi kenapa mamah terkejut bukannya mas Robby sudah memberi tahu ini ke mamah. Aneh sekali. lalu kenapa telepon mamah terputus apa batrei ponsel mamah habis. batin Salwa di selimuti rasa penasaran.
Sementara Mamah Erni bener - bener terkejut dengan apa yang di sampaikan oleh Salwa.
Ini yang aku takutkan jika mereka tinggal jauh dari aku. aku harus segera menemukan alamat rumah mereka. gumam mamah Erni.
Semua rencana yang telah tersusun rapih harus berantakan karena Robby dan Salwa memutuskan untuk pindah dari kota tersebut. hal itu membuat mamah Erni semakin membenci sang menantu. menurutnya Robby tak lagi mau menurut padanya setelah menikah dengan Salwa.
Flashbaack on
"Mah, Robby mau menikah, satu minggu lagi" ujar Robby pada mamahnya.
"Apa menikah ? dengan siapa, kenapa secepat ini ?" tanya mamah Erni sangat terkejut dengan penuturan Robby yang akan menikah.
"Robby akan menikah dengan Salwa mah, ia merupakan salah satu pengajar di sebuah pesantren" terang Robby.
"Robby, mamah sudah menyiapkan calon untuk kamu, maka mamah harap batalkan pernikahan kami itu. apa kata orang - orang kamu menikah tanpa adanya pertunangan, nanti kamu di kira menghamili anak orang". mamah Erni menolak keras dengan rencana perniakahan Robby.
"Keputusan ku sudah bulat mah, mamah mau setuju atau tidak aku akan tetap menikah dengannya" ucap Robby tegas.
"Mana bisa seperti itu Robby ?".
"Sekarang mamah pilih menerima Salwa dengan baik di rumah ini, atau silahkan mamag angkat kaki dari rumah ini, dan jangan bawa barang apa pun dari rumah ini".
Maafkan Robby mah, mungkin dengan cara ini mamah bisa menerima Salwa. dan maaf juga Robby tidak bisa bercerita jujur pada mamah, alasan Robby menikah secepat ini. gumam Robby dalam hatinya.
"Kamu mau jadi anak durhaka, hanya demi wanita itu kamu tega mengusir mamah dari rumah kamu" ujar mamah Erni marah.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya mamah Erni menyetujui pernikahan itu, dia memilih menyetujuinya dari pada ia harus meninggalkan rumahnya.
Mamah Erni meminta untuk di pertemukan dengan calon menantunya, namun Robby menolaknya, ia tahu maksud mamahnya menemui Salwa.
__ADS_1
Flashback off