
"Maaf tapi aku tidak bisa mengantar kamu ke rumah kak Syifa karena aku banyak kerjaan" ujar Fariz.
"Tidak apa - apa, aku bisa pergi sendiri dengan taksi online" ujar Rara.
"Gini saja, kamu antarkan kau ke resto setelah itu kami bawa mobil ke rumah Syifa" usul Fariz.
"Boleh".
Setelah sepakat, Fariz menghidupkan kembali mesin mobilnya namun Rara kembali melarang Fariz melajukan mobilnya. "Kenapa lagi ?" tanya Fariz.
"Aku mau beli dulu buah mangga untuk Syifa".
"Ya sudah sana".
Rara kembali dengan membawa dua buah kantung buah mangga. "Banyak banget beli nya ?" tanya Fariz.
"Ini yang masih muda dan ini yang sudah matang" Rara menunjukan kantong mangga muda dan juga yang sudah matang. "Oh iya nanti sekalian bawain juga makanan dari resto kamu ya". pinta Rara.
"Iya boleh sayang".
Setelah mengantarkan suaminya ke restonya, Rara melanjukan mobilnya menuju kediaman Syifa, sepanjang jalan perjalanan Rara di selimuti rasa ketakutan, bagaimana bila Syifa tidak mau memaafkannya, itu yang ada di pikiran Rara saat ini.
Yang terpenting aku sudah minta maaf, untuk urusan maaf memaafkan itu gimana nanti saja. gumam Rara pelan
Tiga puluh menit perjalanan Syifa sudah sampai di kediaman Syifa. ia mengetuk pintu dan juga mengucapkan salam. Bi Tuti yang mengetahui ada tamu datang langsung membukakan pintu rumah.
"Waalaikumsalam" ucap Bi Tuti seraya membukan pintu. "Eh ada non Rara, silahkan masuk non" ujar Bi Tuti ramah.
"Makasih bi, Syifanya ada ?" tanya Rara.
"Ada, beliau sedang di taman belakang" ujar Bi Tuti.
Karena mendengar ada tamu yang datang Syifa pun beranjak menuju ruang tamu. "Siapa yang datang bi ?" tanya Syifa.
Saat melihat ada Rara Syifa sangat terkejut dengan ke datangan Rara yang tiba - tiba.
"Syifa apa kabar ?" tanya Rara seraya mendekat ke arah Syifa dan juga langsung memeluk Syifa.
"Aku baik - baik saja" Syifa membalas pelukan Rara. "Kamu ke sini bareng siapa ?" tanya Syifa.
__ADS_1
"Aku sendirian".
Bi Tuti berlalu menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Rara dan kembali dengan membawakan dua gelas minuman dingin rasa jeruk.
"Terima kasih bi" ujar Rara dan Bi Tuti pun kembali ke dapur.
"Aku bawakan kamu mangga muda dan ada juga mangga yang sudah matangnya, dan ini ada makanan dari restonya Fariz" terang Rara.
"Masya Allah terima kasih Rara, kamu sudah repot - repot datang ke sini dengan membawa berbagai makanan dan juga buah - buahan" ujar Syifa senang.
Rara tertunduk. "Syifa aku datang ke sini untuk meminta maaf soal kemaren karena aku sudah bersikap dingin dan juga menatap kamu secara sinis, kemaren aku bener - bener merasa iri pada kamu, semua orang perhatian sama kamu gara - gara kamu sedang hamil, sedangkan aku, tak ada satu pun orang yang peduli dengan aku" ucap Rara lirih.
"Ya ampun Rara, maaafkan aku jika perhatian orang - orang membuat kamu merasa tersingkirkan, aku tak ada pikiran untuk membuat kamu tak di perhatikan lagi" ujar Syifa yang ikut merasa bersalah.
"Kamu gak salah ko, Akunya saja waktu itu sedang sensi karena aku sedih belum hamil juga. maafkan Sikap ku yang kemaren ya".
"Enggak apa - apa ko, aku sudah memaafkan mu, maafkan aku juga ya kalau ada yang membuat hati kamu sakit".
Keduanya saling berpelukan, dan saling memaaafkan dan belajar dari kesalahan tersebut.
Meminta maaf bukan lah hal yang hina dan memaafkan adalah perbuatan yang mulia.
Meminta maaf bukanlah sesuatu hal yang mudah dan untuk mengakui kesalahan membutuhkan hati yang besar, agar bisa mengalahkan ego dan juga gengsi. dan memaafkan adalah sebuah kebesaran hati dan mampu untuk menjaga tali silaturahmi.
"Masya allah Rara, terima kasih ya" ucap Syifa.
"Kamu mau gak bikin rujak, kan ni ada buah mangga muda" ujar Rara seraya menunjukan buah mangga yang masih muda.
"Boleh, tapi kita makan siang dulu ya, biar gak sakit perut nantinya". ujar Syifa dan di setujui oleh Rara.
Syifa dan Rara makan siang dengan makanan yang di bawa oleh Rara, sedangkan Bi Tuti di dapur sedang membuat kan sambar rujak.
Berbincang - bincang seputar wanita, kehamilan dan juga tentang cara berpakaian yang baik, seraya menikmati rujak mangga muda di taman belakang membuat mereka lupa waktu, hingga tak terasa adzan ashar pun sudah berkumandang.
"Keasikan ngobrol jadi gak inget waktu, tau - tau udah adzan saja" ucap Rara. "Kalau gitu aku pamit pulang ya" sambung Rara.
"Hmm, kapan - kapan main lagi dan makasih juga ya udah di bawain makanan dan buah mangga". ujar Rara.
"Makasih juga udah mau dengerin curhatan aku, Insya allah kapan - kapan main lagi" ujar Rara dan berlalu pamit pulang.
__ADS_1
Setelah Rara pulang Syifa membersihkan tubuhnya, lalu ia melaksanakan shalat ashar, dan setelah itu ia bersiap - siap untuk menyambut kepulangan suaminya dari kantor.
"Asalamualaikum" Bani mengucap salam ketika masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam" jawab Syifa seraya membukaan pintu untuk suaminya.
Syifa langsung mengambil tas dari tangan Suaminya dan berjalan mengikuti suaminya ke kamar.
"Abang mandi dulu ya" ucap Bani saat mereka sudah tiba di kamar.
"Iya sayang".
Syifa berlalu menuju ke dapur, mengupaskan mangga yang sudah matang untuk suaminya, dan tak lupa juga membuatkan satu gelas minuman segar.
"Sayang kamu habis beli mangga ?" tanya Bani.
"Enggak ko, itu tadi Rara yang bawa". jelas Syifa.
"Tadi Rara ke sini, ngapain ?" tanya Bani penasara .
"Tadi Rara datang katanya buat minta maaf, ternyata feeling aku bener sayang, Rara marah sama aku" jelas Syifa.
"Ko bisa, gimana ceritanya ?" Bani semakin penasaran.
"Kamu makan saja dulu mangganya nanti aku ceritain detailnya" ujar Syifa.
Ketika sedang asyik menikmati buah mangga yang segar sambil menonton acara siaran televisi, tiba - tiba pintu rumah mereka di ketuk.
Bani dan Syifa saling pandang, mereka saling tanya siapa sore - sore seperti ini yang datang bertamu.
"Biar Syifa yang buka saja" ujar Syifa seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Abang saja, nanti kamu cape". Bani melarang.
"Cuma buka pintu doang ko sayang". Syifa berlalu untuk membukakan pintu.
Saat membuka pintu ada seorang laki - laki yang bertubuh tegas dan usianya hampir seumuran dengan suaminya dan satu lagu laki - laki setengah tua, dengan perut yang buncit namun muka tak begitu jelas karena menggunakan kaca mata hitam.
"Apa Bani ada di rumah ? tadi saya datang ke kantornya namun menurut security di sama Bani sudah pulang" lelaki yang tubuh tegap tersebut menanyakan ke beradaan Bani.
__ADS_1
"Mohon maaf sebelumnya, kalian ini siapa, dan apa tujuan kalian bertemu dengan suami saya ?.
"Perkenalkan nama saya Bayu, mungkin mbak lupa, saya saudaranya Aisha, dan ini tuan Rico yang merupakan suami sah dari Aisha" Bayu menjelaskan siapa dirinya dan siapa lelaki yang setengah tua tersebut . "Baninya ada kan ?"