
Rara masih bekerja seperti biasanya, namun ia tetap berusaha agar bisa resign secepatnya, Bahkan Rara rela lembur agar kerjaannya selesai dengan tepat waktu. sudah beberapa hari bosnya selalu memberikan setumpuk kerjaan padanya padahal itu bukan bagiannya, namun bos itu selalu mempunyai alasan yang masuk akal.
"Semua kerjaannya sudah saya kerjakan, saya pamit pulang dulu ini sudah malam" ujar Rara yang kebetulan waktu itu sedang lembur.
"Tunggu sebentar. kita pulang bareng, sekalian makan malam" ujar bosnya.
"Terimakasih atas tawarannya, maaf tapi saya sudah di jemput oleh suami saya" ujar Rara dan berlalu.
Dan keesokkan harinya, Rara berangkat ke kantor, hari ini bosnya telah berjanji akan memberikan tanda tangan di surat pengunduran dirinya. Rara pun berangkat bekerja dengan semangat karena menurutnya hari ini adalah hari terakhir ia bekerja.
Sampai di kantor, Rara langsung menyelesaikan kerjaannya yang sempat tertunda kemaren, setelah selesai Rara pun bermaksud untuk menyerahkan hasil laporannya.
"Misi bos, saya mau menyerahkan hasil laporan yang kemaren bos minta, dan sekalian untuk meminta tanda tangan untuk pengunduran diri saya" ucap Rara.
"Taruh laporannya di atas meja saja" ucap bosnya dengan nada ketus. "Ada satu syarat jika kamu ingin tanda tangan saya !" Serunya dengan muka dingin.
"Apa itu ?" tanya Rara penasaran.
Bosnya pun bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah pintu, menutup pintu yang terbuka dan menguncinya membuat Rara sangat terkejut.
"Bos kenapa pintunya di kunci ?" tanya Rara yang mulai panik.
lelaki itu terus berjalan ke arah Rara, karena ada rasa takut Rara pun mencoba menjauh dari bos nya itu.
"Jangan menghindar Rara !, katanya kamu mau tanda tangan ku, maka kemarilah puaskan aku terlebih dahulu" ujar lelaki tersebut.
"Apa maksud mu.?" tanya Rara lagi, dirinya bener - bener sudah ketakutan, bahkan kini sudah mengeluarkan keringet dingin.
"Sejak pertama kamu kerja di sini, aku sudah menyukai mu, tapi kamu malah memilih lelaki itu, maka kamu harus tanggung jawab atas rasa sakit hati ku" ujar bosnya itu.
Rara semakin ketakutan, ia mencoba berteriak meminta pertolongan. " teriak saja sekencang - kencangnya, ruangan ini kedap suara" ucap bosnya itu sambil tertawa terbahak - bahak.
Bosnya terus mendekat ke arah Rara, namun kali ini Rara tak bisa menghindar lagi, karena sudah mentok di tembok. "Aku ingin menikmati tubuh mulus mu, seperti lelaki itu menikmati tubuh mu" Rara terus memberontak namun kekuatan Rara kalah dengan bosnya.
__ADS_1
"Bos lepaskan, saya mohon" pinta Rara seraya menangis terisak - isak.
"Puaskan aku dulu, baru aku lepaskan !" seru bosnya itu.
Wajah mereka semakin dekat, Bosnya pun siap menikmati bibir indah milik Rara, namun sebelum itu terjadi, Rara menendang kuat bosnya dan pas kena pada alat vital bosnya, lelaki itu pun meringis kesakitan. dan kondisi tersebut di manfaatkan Rara untuk kabur, dan untung saja kuncinya masih menempel di pintu.
"Rara jangan kabur !" teriak lelaki itu seraya menahan sakit di alat vitalnya.
Rara berlari ke arah mejanya sambil menangis, mengambil tasnya lalu kembali berlari meninggalkan kantornya dan menuju resto sang suami.
Rara yang menangis dan berlari membuat para karyawan lainnya bertanya - tanya apa yang terjadi dengan Rara.
"Mana Rara ?" tanya Bosnya.
"Dia berlari keluar kantor" jawab salah satu pegawai kantor tersebut.
"Agrhhhh sialan" gerutu lelaki tersebut. "Kalian lanjutkan kerjaan gak usah banyak merumpi !" bentak lelaki itu karena tak suka dirinya jadi pusat pembicaraan para karyawannya.
Lelaki itu mengamuk di dalam ruangan kerjanya, membanting semua barang - barang yang ada di sana.
...****...
Semenjak kejadian Syifa pingsan, kini ia sering mengalami pusing, kadang juga mual di pagi hari dan dirinya kini merasa cepat lelah ketika bekerja seharian di rumahnya.
Aku selalu minum obat yang kemaren dokter kasih, tapi kenapa kepala ku masih sering sakit, dan badan ku rasanya masih sering lemas. Gumam Syifa ketika dirinya sedang masak sarapan pagi.
Seperti biasa ketika Bani berangkat kerja, ia akan baru minum obat tersebut, dan obat di taruh di dalam kamar namun di tempat yang tidak di ketahui Bani.
Selesai meminum obat, Syifa akan kembali melanjutkan pekerjaannya, namun saat menuruni tangga rumahnya Syifa sangat terkejut karena ternyata suaminya masih ada di dalam rumahnya.
"Abang, bukannya tadi sudah berangkat ?" tegur Syifa.
"Abang lupa, ponsel abang ketinggalan di kamar" sahut Bani sambil berjalan ke arah kamar mereka.
__ADS_1
"Huh belum juga punya anak sudah pikun" gerutu Syifa. ia melanjutkan pekerjaannya membersikan dapur terlebih dahulu.
Bani memasuki dalam kamar dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidurnya, namun padangan Bani teralihkan pada kantong plastik putih yang di atas meja rias, kantong plastik itu berlogo gambar rumah sakit.
Siapa yang sakit. batin Bani.
Karena penasaran ia pun mencoba mendekat ke arah meja rias tersebut. Obat, atas nama Syifa. Syifa sakit ? kenapa dia tidak bilang, kapan dia pergi ke rumah sakitnya ? Batin Bani terus bertanya - tanya.
Setelah memperhatikan satu persatu obat milik Syifa, Bani menemukan sebuah amplop putih bertuliskan laboratorium. Syifa sakit apa,
? kenapa sampai ada hasil lab segala ? tapi kenapa ia menyembunyikan masalah ini dari aku. pikiran Bani sudah tak karuan. ia bener - bener takut jika istrinya mempunyai penyakit yang serius apalagi akhir - akhir ini istrinya sering mengeluh sakit kepala.
Seketika Bani menjadi emosi kenapa Syifa menyembunyikan sakitnya pada dirinya, dengan perasaan marah dan kecewa Bani membawa plastik obat dan juga hasil lab yang belum ia baca, untuk meminta penjelasan pada Syifa.
"Syifa. . . Syifa . . " teriak Bani menuruni anak tangga di rumah mereka.
"Ada apa si bang, teriak - teriak, ini di rumah bukan di hutan" sahut Syifa yang berlari dari arah dapur.
"Apa maksud semua ini ?" tanya Bani dengan menaikan intonasi bicaranya. ia memperlihatkan kantong plastik yang berisikan obat milik Syifa.
"A. . aa . . anu" jawab Syifa gugup. Aduh kenapa aku lupa memasukan obat itu pada laci. gerutu Syifa dalam hatinya.
"Jelaskan Syifa !" bentak Bani.
"Sayang tenang dulu, aku baik - baik saja ko, dengerin dulu".
"Kamu bilang baik - baik saja ? lihat kenapa sampai ada hasil lab segala ?".
"Kemaren waktu ada Ummah, aku sempat pingsan, lalu aku di bawa ke rumah sakit, dan hasilnya aku mengalami anemia" Syifa menjelaskan kondisinya waktu itu.
"Bohong !" Seru Bani dengan intonasi yang masih tinggi.
"Kalau tidak percaya buka saja hasil labnya, dan itu obat penambah darah dan juga vitamin" ucap Syifa.
__ADS_1
Karena tidak percaya dengan ucapan sang istri, Bani pun membaca hasil lab tersebut, namun mata Bani terfokus pada sebuah tulisan yang ukurannya lebih besar dari tulisan yang lain dan tulisan tersebut juga di cetak bold.
"Positif !" Seru Bani.