
Syifa dan Bani baru saja menyelesaikan kewajiban mereka sebagai umat muslim, iya itu menunaikan shalat Isya, seperti biasa selesai shalat Bani selalu membacakan ayat - ayat Allah untuk kedua calon buah hatinya.
"Syifa duluan ke bawah ya, buat bantuin bi Tuti menyiapkan makan malam" ujar Syifa seraya merapihkan mukenanya dan menaruh kembali ke tempatnya.
"Tapi inget ya jangan cape - cape".
"Iya bawel".
Syifa berlalu menuju ruang makan mereka, di sama bi Tuti baru saja selesai menata makanan untuk makan malam majikannya.
"Udah selesai ya, bi ?".
"Udah bu". sahut Bi Tuti.
"Bi Tuti lupa ya, kan udah Syifa bilang jangan panggil Syifa ibu". Syifa protes saat di panggil ibu oleh bi Tuti.
"Ehh , maaf neng bibi lupa". ujar Bi Tuti ragu, dalam hatinya ada rasa tidak enak ketika memanggil majikannya dengan sebutan neng tapi tak ada pilihan lainnya dari pada harus menyebut namanya langsung.
"Ayo bi kita makan bareng di sini, ajak juga pak yanto sekalian" ujar Syifa.
"Tapi neng, bibi sama pak yanto bisa makan di belakang".
"Untuk malam ini kita makan malam bersama".
"Tapi gimana dengan bapak ?" bi Tuti takut jika Bani akan marah jika mereka ikut gabung dengan mereka.
"Abang gak akan marah ko" ucap Syifa dan hal itu terdengar langsung oleh Bani ketika ia sedang menuju ruang makan.
"Abang kenapa ?" tanya Bani, ia tak paham kenapa Syifa sampai membawa - bawa namannya.
__ADS_1
"Enggak ko Abang, Syifa ngajak bi Tuti dan pak Yanto buat makan bersama di sini tapi bi Tuti takut Abang marah, ya udah Syifa bilang saka Abang gak akan marah" terang Syifa meraya menyiapkan piring buat makan untuk suaminya.
"Ya sudah ayo kita makan bersama, biar rame" ujar Bani senang.
Setelah mendapat perintah dari Bani, Bi Tuti pun langsung memanggil pak Yanto untuk makan bersama. mereka pun menikmati makan malam bersama.
Syifa menghentikan makannya ketika merasa mual mau muntah, ia pun menahannya agar tak mual di hadapan orang yang sedang menikmati makanannya. Syifa berlari menuju kamar mandi dan langsung memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Sayang kamu gak apa - apa ?" tanya Bani yang mengikuti Syifa ke kamar mandi.
"Gak apa - apa sayang, ini sudah biasa ko" jawab Syifa.
Syifa akan merasa mual ketika ia makan dengan porsi yang terlalu banyak, dan itu berujung dengan Syifa memuntahkan kembali makanan yang telah susah payah di masukannya itu. tadi Syifa sedang menikmati makanannya, karena sayang ada sedikit lagi maka Syifa bertekad untuk menghabiskan nya, hingga iya merasa sangat kekenyangan dan akhirnya muntah.
Setelah merasa baik - baik saja, Syifa kembali ke ruang makannya, bi Tuti ternyata sudah menyiapkannya sebuah teh hangat untuk mengurangi rasa mualnya.
"Makasih ya bi" ucap Syifa seraya meneguk teh hangat tersebut. "Maaf jika tadi membuat selera makan kalian terganggu" ucap Syifa meminta maaf pada bi Tuti dan juga pak Yanto.
"Abang, Syifa mau cerita" ujar Syifa setelah Bani selesai membacakan sholawat untuk buah hati mereka.
"Abang juga mau cerita, tapi ya sudahlah kamu duluan saja" ujar Bani.
"Syifa bukannya mau soudzon atau apapun itulah, tapi Syifa merasa aneh saja, ketika tadi kita pamit pulang pada Rara ko tatapannya seperti sinis sama Syifa bahkan sikapnya saja dingin" ujar Syifa menjelaskan apa yang mengganjal di hatinya.
"Ah mungkin itu perasaan kamu saja sayang" sahut Bani.
"Masa sih bang, tadi sepanjang perjalanan pulang Syifa sampai mencoba mengingat - ngingat takut Syifa ada salah".
"Itu perasaan kamu saja, atau mungkin Rara sedang lelah setelah menyiapkan acara pengajian di rumahnya. dan lagian sekarang kan kamu lebih sensitif, abang diemin semenit saja di bilangnya abang marah". ujar Bani.
__ADS_1
"Ya mungkin Rara sedang lelah" ucap Syifa mencoba berpikir positif tentang Rara. "Sekarang giliran abang mau cerita apa ?".
"Tapi janji jangan marah ya". pinta Bani dan Syifa pun mengangguk tanda setuju.
"Beberapa hari yang lalu Tama datang ke kantor abang, dia memberi tahu jika Aisha sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit Jiwa, namun Aisha langsung di jemput pihak polisi untuk menjalani kasus yang di buat oleh Abang. Tama juga memberi tahu jika ada sebagian ingatan Aisha yang hilang. Aisha tidak mengingat kejadian tentang dirinya yang selalu mengejar abang tapi untuk kematian adiknya ia mengingatnya" Bani menceritakan tentang Aisha pada istrinya, karena sidangnya akan di gelar akhir minggu ini, dan di sidang tersebut Syifa harus hadir karena sebagai saksi.
"Ciee lagi nyeritain sang mantan pada istri sah". Syifa menggoda suaminya.
"Tadi katanya sudah janji gak bakalan marah, Abang cerita seperti ini karena kamu harus hadir sebagai saksi sayang" ujar Bani.
"Becanda juga" ucap Syifa seraya bertawa kecil.
"Kasian Aisha, kenapa gak di cabut saja sih laporannya sayang, mungkin sekarang dia sudah sadar dengan apa yang di perbuatnya dulu. lagian dulu kan dia seperti itu sedang depresi sayang" ujar Syifa.
Bani terdiam sebentar "Ia tapi yang abang aneh kenapa dia hanya lupa tentang abang saja, yang lainnya kenapa gak lupa ?".
"Ya kalau itu bagus dong, berarti dia sudah melupakan Abang. Ahh sudahlah ujung - ujungnya jadi gibah deh" ucap Syifa, kemudian menarik badcover untuk menutupi tubuhnya agar angin malam tak masuk ke pori - pori tubuhnya.
Bani pun mengikuti Syifa ia membaringakan tubuhnya di samping sang istri yang mulai terlelap dalam tidurnya, namun Bani masih terjaga, ia masih memikirkan tentang Aisha yang bisa melupakan kejadian tersebut, namun ke jadian lainnya masih bisa di ingat oleh Aisha.
Namun tekad Bani sudah bulat, ia tak akan mencabut laporannya walaupun Aisha sudah mengakui kesalahanya dan meminta maaf. bagi Bani Aisha harus mau bertanggung jawab dengan apa yang di perbuatnya, dan untuk hukuman yang di dapat Bani pasrahkan semua pada pihak pengadilan. berapa lama ia di hukum itu tak akan menjadi masalah baginya.
Bani tak menaruh dendam apa pun pada Aisha, tetapi sebagai kepala keluarga Bani harus bisa mengambil keputusan yang tepat untuk melindungi keluarganya.
Syifa kembali membuka matanya, melihat suaminya masih terbangun dan sedang melamun.
"Abang ko gak tidur ?" pertanyaan Syifa membuyarkan lamunan Bani.
"Kamu kenapa bangun lagi ?" tanya Bani balik.
__ADS_1
"Syifa mau ke kamar mandi sebentar" sahut Syifa. "Pasti abang lagi mikirin Aisha ya" tebak Syifa seraya berjalan menuju kamar mandi.
"Astaghfirullah" ucap Bani seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya