
Di kediaman pak Umar semua orang tengah sibuk untuk persiapan acara empat bulanan Shela. Mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing - masing. Begitupun dengan Syifa yang sedang bersiap - siap karena akan pergi ke kua, Syifa sibuk memilih baju yang akan ia kenakan, Syifa mengeluarkannya semua pakaiannya dari dalam lemari karena ia bingung harus pakai baju yang mana yang cocok untuk pergi bareng ustaz Bani. Hingga akhirnya ia memilih mengenakan pakaian atasan kemeja dan bawahannya menggunakan rok. Syifa terlihat begitu cantik.Ustaz Bani sudah datang, dan menunggu Syifa di ruang tamu di temani oleh Abi Umar.
"Nak Bani maafkan Syifa ya, dia memang begitu kalau mau pergi suka ribet banget apa lagi kalau soal pilih baju" ujar pak Umar.
"Namanya juga perempuan wajar pak" ucap Bani sopan.
"Panggil Abi saja, jangan panggil bapak" ucap pak Umar.
"Iya pak, Eh Abi" ucap Bani malu - malu.
Syifa keluar dari kamarnya dengan rasa dag dig dug, karena ini pertama kalinya ia akan jalan bareng dengan ustaz Bani.
"Kalian hati - hati di jalan ya, Abi titip Syifa" ucap Abi Umar.
Syifa dan ustaz Bani pamit pada Abi Umar dan Ummah untuk berangkat menuju kua. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam membisu Ustaz Bani maupun Syifa tak ada keberanian buat mereka untuk memulai pembicaraan, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing - masing.
Sampai di Kua Bani dan Syifa pun ikut antrian untuk mendaftarkan rencana pernikahan mereka, dan kebetulan hari itu kantor kua cukup ramai, banyak pasangan yang datang untuk mendaftarkan pernikahan mereka, Bani dan Syifa menunggu giliran di ruang tunggu.
"Dari tadi ko diam terus ?" Tegur Bani.
"Hmm bingung mau bicara apa" jawab Asyifa. "Gimana mau biacara kamunya saja diam terus, dasar gak nyadar diri, haduh dada ku dag dig dug lagi" ucap Syifa dalam hatinya.
"Sama aku juga bingung mau bicara apa" ucap Bani seraya tersenyum pada Syifa.
"Aduh jangan senyum doang, aku semakin meleleh ini" ucap Syifa dalam hatinya.
__ADS_1
Satu jam Syifa dan Ustaz Bani mengurus surat pernikahan mereka, setelah dari kantor kua ustaz Bani mengajak Syifa untuk makan siang terlebih dahulu sebelum Bani mengantarkan Syifa kembali ke rumahnya.
"Hmm untuk tempat, Wo dan yang lainnya gimana ?" Tanya Syifa memberanikan diri bertanya.
"Untuk itu aku mau cari rekomen orang - orang dulu, kalau bisa kamu tanya - tanya sama Ummah di mana yang paling rekomen" jawab ustaz Bani santai.
"Nanti sore ustaz akan datang ?" Tanya Syifa.
"Insya allah saya dan keluarga akan datang" jawab Bani. "Di chat berani manggil Abang tapi kalau ketemu langsung aja manggilnya ustaz" gumam Bani dalam hatinya.
"Oh iya buat undangan nanti itu urusan saya saja, karena saya juga punya usaha dalam bidang percetakan" ucap Bani.
"Hmm bukannya usaha ustaz itu di kuliner ?" Tanya Syifa yang baru tau kalau ustaz Bani juga memiliki usaha dalam bidang percetakan.
Bani menceritakan banyak hal tentang dirinya, ia merasa bahwa Syifa wajib tau tentang dirinya. "nanti kalau kita sudah sah, aku bakal kenalin kamu ke teman - teman aku" ucap Bani.
"Iya" jawab Syifa singkat. "Udah siang, anterin aku pulang ya, gak enak ninggalin rumah lama - lama apalagi di rumah sedang ada acara" pinta Syifa.
Akhirnya Bani mengantarkan Syifa pulang ke rumahnya. "Nak Bani mau langsung pulang, kenapa gak nunggun di sini saja biar gak bolak - balik" ucap Abi Umar.
"Bani akan ke kantor dulu, soalnya ada kerjaan yang harus di selesaikan" jawab Bani seraya pamit pulang.
Keluarga Shela mulai berdatangan termasuk kedua orang tuanya, kerabat Ummah juga mulai berdatangan Ummah merupakan anak tunggal jadi Ummah tidak terlalu banyak sodara, sedangkan pak Umar cuma punya adek yaitu almarhum ayahnya Robby.
Keluarga mamah Erni datang bersama kedua anaknya dan juga menantunya, Syifa dan Tasya bergabung mereka saling melepas rindu karena jarang bertemu, sedangkan Salwa mengikuti mertuanya yang memperkenalkannya pada setiap anggota keluarga.
__ADS_1
Keluarga Kyai Hasan datang berbarengan dengan Bani, walaupun mereka berangkat dari beda tempat, namun mereka berjanji bakal datang barengan. Pak Umar langsung menyambutnya dan di arahkan ke tempat yang sudah di sediakan.
Acara demi acara pun di mulai, semua yang hadir larut dalam acara tersebut, acara tersebut berjalan dengan lancar, dan waktu itu Kyai Hasan di minta untuk mengisi bagian tausiah.
Ketika tausiah semua tamu undangan menikmati hidangan maknan, tausiah selesai para tamu undangan mulai pergi meninggalkan tempat acara, hanya tinggal keluarga dan kerabat terdekat. Moment tersebut di manfaatkan pak Umar untuk memperkenalkan calon menantu mereka.
Pak Umar memberi kode pada Bani untuk maju dan akan di perkenalkan sebagai calon mantu, Robby dan Salwa terlihat yang paling terkejut karena mereka tidak menyangka jika Bani akan menikahi Syifa. "Harusnya aku yang jadi istri kami, bukan Syifa" ucap Salwa dalam hatinya, di hati kecilnya ia masih memiliki harapan hidup bersama Bani, namun semua itu seakan sirna ketika ia harus nikah dengan Robby, dan kini Bani juga akan menikah dengan Syifa yang merupakan sepupunya Robby. Salwa berusaha menyembunyikan perasaannya, agar tak membuat suaminya kecewa.
Sebagian ada yang memuji ke tempanan Bani namun ada juga sebagian yang berbisik jika Bani tak cocok dengan Syifa karena umur mereka yang berbeda lumayan jauh, bahkan ada yang berpikir bahwa Syifa hanya mengejar uangnya saja, tanpa memperhatikan yang lainnya.
Semua kerabat sudah pada pulang termasuk keluarga Shela. Hanya meninggalkan keluarga mamah Erni saja.
"Tuh Tasya nanti kamu juga setelah selesai sekolah harus masuk pesantren" titah Robby pada Adiknya.
"Kakak Tasya maunya kuliah bukan pesantren" protes Tasya yang tak terima kalau dirinya di masukan ke pesantren.
"Pesantren enak loh, banyak temen juga di sana apalagi santrinya bening - bening " goda Abi Umar.
"Abi pliss jangan paksa Tasya buat pesantren ya" Tasya memohon pada Abi Umar.
"Abi kamu hanya becanda nak" sahut Ummah tak tega melihat raut wajah melasnya Tasya.
Mereka pun terlibat pembicaraan keluarga, Salwa hanya terdiam menjadi pendengar setia yang lain tertawa heboh, pikirannya masih kalut saat tahu kalau Bani akan menikah dengan Syifa.
Sampai di Apartemen milik Robby, Salwa masih diam tak banyak biacara ia masuk kekamarnya tanpa banyak bicara, ia membersihkam badanya yang lengket, Salwa menangis di bawah guyuran air, harapan untuk memiliki Bani bener - bener sudah tak ada. Robby yang paham akan perasaan Salwa membiarkan Salwa untuk sendiri menenangkan dirinya.
__ADS_1