
Pulang dari kantor Bani melupakan sesuatu, Sampai rumahnya Bani di sibukan dengan kegiatan di pesantren. dan lupa akan janjinya pada Syifa.
Sampai malam Syifa masih menunggu pesan dari Bani namun tak kunjung ada hingga Syifa bener - bener ketiduran di kamarnya.
...****...
Keluarga Bani dan Syifa sedang di sibukan dengan persiapan pernikahan Bani dan Syifa yang akan di gelar dua hari lagi, Keluarga Kyai Hasan yang dari luar kota sudah mulai berdatangan, Apalagi hari ini, di rumah Kyai Hasan akan di adakan pengajian menjelang acara pernikahan Bani dan Syifa.
Kegiatan pesantren hari ini hingga hari pernikahan Bani di liburkan, semua santri ikut di sibukan dengan persiapan pernikahan Bani, Aula pesantren yang luas di jadikan tempat untuk pengajian tersebut, sejak dari pagi santri sudah di sibukan dengan mempersiapkan acara pengajian tersebut, Acara tersebut di laksanakan ba'da Ashar, tamu yang di undang pun cukup banyak, selain keluarga dan tetangga pesantren Kyai Hasan juga mengundang beberapa teman dan rekan sesama Kyai. Bahkan ada beberapa temen - temen Bani juga termasuk Indra dan Tio.
Begitu pun di rumah pak Umar, Mereka juga mengadakan acara pengajian jelang hari pernikahan anaknya, acara tersebut di hadiri banyak keluarga, tetangga dan tamu undangan lainnya. Acara tersebut berjalan sangat khidmat.
Setelah acara selesai satu persatu tamu dan tetangga pada pamit pulang, hanya ada keluarga besar dari pak Umar dan Ummah, mereka sedang bercengkrama satu sama lain melepas rindu karena jarak tempat tinggal mereka dan juga ke sibukkan yang membuat mereka jarang bertemu.
Salwa tak pernah lepas dari genggaman tangan Robby, menurutnya gabung bersama suaminya itu lebih baik dari pada harus gabung sama mertuanya dan saudara yang lain karena mereka akan asik bergibah.
"Eh Erni kenapa itu menantu kamu belum hamil juga" tegur salah satu keluarganya.
"Iya jaga yah padahal pernikahan mereka juga sudah hampir mau tiga bulan" sahut saudara yang lainnya.
"Mungkin belum waktunya" jawab Mamah Erni.
"Jangan - jangan menantu mu itu bermasalah, sudah di cek ke dokter belum ?"tanya yang lainnya.
Robby dan Salwa yang tak jauh dari tempat mertuanya, dengan jelas kalau mereka sedang membicarakan Salwa, namun Salwa berusaha tegar di depan keluarga suaminya.
"Abian saja nunggu tiga bulan baru istrinya hamil" jawab Mamah Erni.
"Ah kamu Erni bisa saja bandingin menantu mu dengan istrinya Abian" sahut saudara yang lainnya.
"Dulu aku kira Robby nikah cepet - cepet karena sudah cetak gol duluan, eh nyatanya sampai sekarang gak melendung - melendung" ucap saudara mamah Erni seraya menahan tawanya.
Sebenarnya mamah Erni kesal dengan semua ucapan saudaranya, dari lubuk hati yang paling dalam ia juga menginginkan seorang cucu namun kenyataannya sampai sekarang menantunya belum juga memberikannya.
Karena tak kuat dengan perkataan saudara suaminya, Salwa mengajak suaminya untuk pulang.
"Semuanya Robby pamit dulu, karena ada undangan makan malam dari temen" ucap Robby berbohong.
__ADS_1
"Tapi ini kan belum magrib, nanggung bentar lagi magrib" ujar Abi Umar.
"Iya Robby dan Salwa mau ke apartemen dulu, ganti baju" Alasan Robby juga masuk akal, akhirnya Abi Umar pun membiarkan Salwa dan Robby pergi.
Setelah kepergian Robby mamah Erni dan Tasya pun ikut pamit pulang karena sudah tak tahan terus - terusan di tanya tentang masalah cucu.
...****...
Bani sedang bercengkrama dengan teman dan juga saudara sebayanya yang juga ikut datang bersama keluara mereka.
"Akhirnya ustaz nikah juga" Goda Julain yang merupakan sepupuhnya Bani.
"Nanti bagi - bagi kisah malam pertamanya ya" Goda Tio pada Bani.
"Eh bisa pada diem gak, gue lagi mikirin besok siapa yang jadi gandengan gue" ucap Fariz membuat semua orang menatap tajam pada Fariz.
"Noh di pesantren banyak santri wati tinggal pilih saja, ibarat jadi gandengan sewaan " ucap Julian seraya menahan tawanya.
"Eh sembarangan di kira kamu, aku gak laku sampai harus cari sewaan" jawab Fariz.
Tamu dan keluarga Kyai Hasan sudah mulai berkurang, Adzan magrib sudah berkumandang, Semua orang bersiap - siap untuk melaksanakan shalat berjamaah di mesjid, Karena Nayla sedang datang bulan, ia pun memutuskan untuk di kamar saja. Sedangkan Mila ke surau sendirian.
"Nayla mana ?" tanya Rima.
"Di asrama sedang halangan" jawab Mila lalu meninggalkan Rima yang masih berdiri di dekat pintu asramanya.
Keluarga Kyai Hasan yang datang dari luar kota pun memutuskan untuk menginap di pesantren agar tak cape harus bolak - balik.
...****...
Pagi telah datang, semua orang mulai melakukan aktivitasnya, mencari kebahgaian di setiap harinya. Aisha sudah berangkat bekerja, namun pikirannya tak fokus karena ia belum mengetahui siapa calon istri dari Bani, bahkan ia menyesal karena telah merobek kartu undangan yang di berikan oleh Bani.
Andai aku tak merobeknya, aku pasti sudah bisa mengetahui siapa calon istri Bani, bahkan aku lupa kapan Bani akan melangsungkan akad nikah, apa ini sebuah pertanda bahwa aku memang bukan jodohnya" Gumam Aisha dalam hatinya.
"Tapi aku sudah banyak berkorban untuknya, jadi aku harus bisa menikah dengan Bani" ucap Aisha dalam hatinya.
"Hmm aku harus datang ke rumahnya dan menemui keluarganya" ucap Aisha.
__ADS_1
Aisha pun bertekad untuk datang ke rumah Bani esok hari, karena kebetulan besok adalah hari libur ia bekerja. Aisha pun melanjutakan pekerjaannya.
****
Riuh sanak saudara terdengar dari ruang keluarga di rumah Syifa, mereka semua sedang sibuk mempersiapkan untuk hari esok. sanak saudara satu persatu mulai berdatangan.
"Hebat si Syifa pesantren berapa bulan langsung dapat jodoh" ucap saudara Ummah.
"Namanya juga sudah jodoh" ucap Ummah seraya tersenyum.
"Eh tau gak cowoknya ganteng, katanya juga dia ustaz loh, tapi sayang umurnya lumayan jauh dari Syifa" ucap tante Rika yang memang tidak suka dari dulu dengan keluarga pak Umar.
"Eh jangan ngomong gitu, nama juga sudah jodoh, nanti ke dengeran sama Syifanya loh" sahut saudara yang lainya.
"Lah emang begitu kenyataannya" ucap Tante Rika yang memang tak mau kalah.
Mereka pun terlibat pertengkaran kecil, mereka beradu agrumen dan mempertahankan agrumen mereka masing - masing, Ummah yang mendengar perdebatan di antara mereka hanya bisa tersenyum seraya menggeleng - gelengkan kelapa, sudah tua bukanyanya mendekatkan diri pada sang maha kuasa namun ini semakin menjadi - jadi ketika bergibah seraya yang paling benar.
Hati Syifa tak karuan, dengan Setia Shela dan juga Tasya menemenai Syifa di kamarnya.
"Kak Syifa gimana perasaanya ?"tanya Tasya.
"Gak tau gak karuan" jawab Syifa jujur.
"Itu mah wajar kali, semua orang juga pasti meresakan itu semua" jawab Shela.
"Kak Shela juga gitu dulu ?" tanya Tasya penasaran.
"Antara senang dan takut campur aduk" jawab Shela.
Shela juga menceritakan tentang kisahnya saat menanti hari pernikahannya dengan Abian, Tasya yang penasaran pun dengan khusuk mendengarkan cerita Shela.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Hai Para Readers Besok bagian episode Bani dan Syifa menikah, dan insya allah besok akan up special hari pernikahan mereka. buat yang penasaran tunggu upnya di jam 10.00 pagi.
jangan lupa Like dan juga hadianya minimal mawar deh, nah kalau untuk hari senin jangan lupa vote juga yah. .
__ADS_1