Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 200


__ADS_3

Usai Shalat magrib berjamaah, mereka semua kumpul di ruang keluarga seraya menunggu waktu makan malam tiba. anak Shela dan Abian merangkak ke sana kemari menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi Abi Umar.


Ummah dan Shela di bantu bi Ida sedang memasak untuk makan malam, menu yang sederhana tersaji di meja makan, dan siap untuk makan malam bersama.


Usai makan malam Syifa memilih untuk istirahat di kamar miliknya, entah kenapa akhir - akhir ini Syifa lebih sering merasakan sakit di perutnya. sedangkan Bani, Abian dan Abi sedang membicarakan untuk acara meeting besok.


Abian dan Bani bisa di bilang telah berhasil mengembangkan usaha milik Abi Umar, usaha yang bergerak dalam bidang garmen itu sudah mulai di kenal luas, bahkan terkadang juga mendapatkan klien dari luar negri. hal itu membuat pak umar merasa bangga pada anak dan juga menantunya.


"Kok sudah masuk.?" tanya Syifa saat suaminya memasuki kamarnya.


"Emang kenapa sayang ?" tanya Bani balik.


"Bukannya tadi lagi kumpul bareng Abi dan Kak Abian ?" tanya Syifa.


"Oh itu, tadi hanya membicarakan untuk persiapan besok" ujar Bani.


"Emang besok ada meeting apaan sih ?" tanya Syifa penasaran.


"Tentang kerja sama sama dengan sebuah perusahaan luar negri.mereka menyukai kualitasnya dan mengajukan kerjasama" jelas Bani.


"Hmm seperti itu".


"Iya sayang". sahut Bani. "Perutnya masih sakit ?".


"Sudah enggak sayang" jawab Syifa.


Bani mengelus perut sang istri dan membacakan sesuatu. "Anak Abi gak boleh nakal di dalam ya, kasian Ummahnya kesakitan" bisik Bani di dekat perut Syifa yang membuncit.


"Abi juga jangan nakal ya" Syifa menyauti dengan suara khas anak kecil.


Kehamilan yang sudah mencapai trimester tiga dan hanya tinggal menghitung hari untuk menjelang melahirkan, membuat Syifa kini tak bisa lagi merasakan tidur nyenyaknya, kadang ketika tidur tiba - tiba ingin buang air kecil, kadang juga anak mereka bermain tendang menendang di dalam perutnya dan kadang juga Syifa merasakan kontraksi palsu.

__ADS_1


Pagi harinya, Abi Umar, Abian dan juga Bani mereka langsung berangkat secara bersamaan. sedangkan para istri mereka mengantarnya sampai teras depan rumah.


"Ummah, Syifa sering kontraksi tapi kata dokter itu hanya kontraksi palsu saja, itu wajar gak sih


?" tanya Syifa.


"Hmm itu wajar - wajar saja sayang, nanti kalau kontraksinya lebih sering itu baru bukan kontraksi palsu. tapi kalau sakit lalu hilang dua jam kemudian ada lagi itu sih namanya kontraksi palsu, banyakin jalan sayang" ujar ummah.


"Beberapa hari yang lalu Syifa merasakan sakit di bagian perut dan akhirnya abang bawa Syifa ke rumah sakit karena panik, eh pas masuk ruangan bersalin sakitnya ilang lagi, kata dokternya hanya kontraksi palsu" jelas Syifa.


"Dulu kak Shela juga begitu, malah sampai beberapa kali ke rumah sakit dan ternyata hanya kontraksi palsu". ujar Shela.


Mereka bertiga pun berbincang - bincang tentang masalah menjelang melahirkan, mereka memberikan beberapa nasehat pada Salwa agar jangan panik ketika ia akan segera melahirkan. mereka berbincang - bincang seraya memperhatikan Anak Shela bermain kesana kemari dengan merangkak. Shela mengurus anaknya sendiri tanpa bantuan baby sistter.


Di sebuah ruangan rumah sakit, suara tangis bayi menggema di ruangan tersebut, ketiga Bayi Salwa menangis secara bersamaan, Syifa menggendong anak pertamanya untuk di beri Asi secara langsung dari dirinya. sedangkan kedua anak yang lainnya menggunkan dot, karena tidak memungkinkan untuk Salwa memberi asi secara langsung kepada tiga anaknya, semuanya harus menunggu giliran.


"Maaf mamah gak bisa bantu apa - apa" ujar mamah Erni sedih saat melihat anak dan menantunya kelabakan saat harus menenangkan ketiga cucunya menangis.


Salwa dan Robby menikmati peran barunya sebagai seorang ibu dan ayah baru, mereka masih belajar dalam mengurus ketiga buah hatinya, untung saja mamah Erni selalu ada di samping Salwa, mamah Erni mengajarkan bagaimana cara mengurus bayi.


Lima hari Salwa berada di rumah sakit akhirnya di izinkan pulang oleh pihak dokter, karena kondisi Salwa yang sudah membaik. ketiga cucunya di gendong oleh nenek dan kakeknya.


Selama lima hari di rumah sakit selama itu juga mamah Erni tak pernah pulang kerumahnya. tiap hari Tasya selalu datang dengan membawa baju ganti untuk orang tuanya.


...****...


Aisha kini bisa menjalani hidup normal, tak ada rasa ketakutan lagi terhadap mantan suaminya yang kini mendekam di penjara. Aisha menjalani harinya sebagai pengasuh di yayasan yatim piatu.


Aisha mulai melupakan masa lalunya dan membuka lembaran baru di yayasan, keceriaan dari anak - anak yatim piatu manjadi obat semangat untuk Aisha. karena Aisha merasa nasibnya sama seperti mereka yang sudah tak memiliki orang tua.


Selesai mengajar anak - anak, Aisha merasa heran karena ada keramaian di depan gerbang masuk pesantren.

__ADS_1


Ada apa kok rame - rame ? gumam Aisha bingung.


Karena penasaran akhirnya Aisha mendekat ke arah kerumunan.


"Ini ada apa ?" tanya Aisha pada salah satu anak yang sedang ikut berkerumun.


"Bapak dokter pulang" ujar anak tersebut.


"Bapak dokter ?" tanya Aisha lagi, karena ia tak mengetahui siapa bapak dokter itu, karena selama tinggal di sana, gak ada yang membahas tentang bapak dokter tersebut. "Siapa bapak dokter ?" tanya Aisha penasaran.


"Bapak dokter itu anak tunggal dari Abah Anom dan Umi Lilah" ujar salah satu pengurus pesantren yang mendengar pertanyaan Aisha.


"Ehh ada ibu Nuni" ujar Aisha yang baru menyadari keberadaan ibu Nuni.


"Saya nyari kamu keruangan tapi gak ada, ternyata di sini, ayo ikut saya" ujar Ibu Nuni mengajak Aisha keluar dari kerumuman tersebut.


Aisha di ajak ke rumah Abah anom dan Umi Lilah, karena semua.pengurus yayasan berkumpul di sana guna menyambut ke datangan anak Abah Anom dan Umi Lilah yang baru saja menjadi relawan di suatu kota yang terjadi bencana alam. beliau bertugas selama tujuh bulan, dan kini tugasnya selesai.


Apa dia orang sangat penting hingga ada penyambutan seperti ini. Gumam Aisha.


Aisha ikut membantu menyiapkan makanan dan minuman, kemudian di tata di meja di ruang tamu.


"Mbak emang bapak dokter itu orang penting ya, kok sampai ada penyambutan seperti ini ?" tanya Aisha penasaran.


"Bukan orang penting, tapi di adakan penyambutan seperti ini karena bapak dokter telah berjuang mengabdikan dirinya di tempat bencana" jelas salah satu pengurus yayasan yang sama - sama sedang menyiapkan makanan dan minuman.


Aisha mengangguk mengerti, tak lama suara riuh, sorak - sorak terdengar dari halaman yayasan itu tandanya bapak dokter sudah datang. karena pemasaran Aisha mengintip lewat jendela.


Sosok seorang lelaki yang gagah dengan pakaian seragam dokter, di gandeng oleh Abah Anom dan Umi Lilah, di belakangnya ada sebagian pengurus yayasan dan para anak - anak yang tinggal di yayasan.


"Jangan di liatin nanti tergoda, ia masih lajang loh" ujar Yuni yang menggoda Aisah.

__ADS_1


Hahaa apa aku bakal merasakan jatuh cinta lagi, sepertinya tidak mungkin, mana ada orang yang mau sama dengan wanita seperti aku. lagian aku gak kepikiran untuk mencari pendamping lagi. aku menyukai kehidupanku yang seperti ini. gumam Aisha dalam hatinya


__ADS_2