
Keluarga besar dari Kyai Hasan dan Umi sudah bersiap - siap untuk berangkat ketempat acara. begitu pun dengan Syifa, sejak subuh dia sudah bertarung dengan peralatan make up, ia ingin tampil cantik di acara tersebut.
"Sayang dari tadi belum selesai juga", tegur Bani saat melihat istrinya masih berada di depan cermin.
"Sudah selesai ko, tinggal pake kerudung saja" sahut Bani.
"Abang tinggal keluar ya, mau nemuin Fariz" ujar Bani. Bilangnya sudah selesai tapi pakai kerudung saja belum, kalau tiap mau pergi dandannya kaya gina, ampum dah. gerutu Bani dalam hatinya.
Bani keluar kamar untuk menemui sang adik. "Bagaimana sudah siap ?" tanya Bani.
"Sudah, tapi aku masih menghapal buat ijab kabul, takut ada yang salah" sahut Fariz.
Tak bisa di pungkiri rasa bahagia tengah di rasakan Fariz, namun di balik itu semua Fariz juga di baluti rasa cemas, apakah acaranya akan lancar atau ada kendala, dan bagaimana jika dirinya salah dalam mengucap kalimat ijab kabul. segelintir pikiran tersebut membayangi pikiran Fariz.
Sementara Di hotel tempat Acara, Sejak pagi hari Rara sudah menjalani proses make up, Yang di rasakan Rara sama halnya dengan yang di rasakan Fariz. begitupun dengan Tama iya juga di hinggapi rasa was - was pasalnya ia akan bertindak sebagai wali nikah Rara dan Fariz.
Satu persatu tamu undangan datang berdatangan, menempati tempat yang sudah di sediakan oleh pihak panitia acara, Tamu yang hadir dalam akad nikah hanya dari keluarga dan sahabat dekat Rara saja.
Rombongan pengantin pria tiba di tempat acara, kedatangan mereka langsung di sambut pihak panitia, karena mereka harus bersiap - siap untuk acara penyambutan pengantin pria beserta keluarga dan rombongannya. panitia pun memberikan arahan apa saja yang harus di lakukan.
Acara penyambutan pun di mulai, keluarga pengantin sudah berbaris rapih untuk memasuki tempat acara, begitupun dengan keluarga pengantin perempuan sudah siap menyambut kedatangan calon pengantin pria beserta keluarga dan rombongan, lantunan Sholawat mengiringi acara penyambutan tersebut.
Satu persatu rangkaian acara pun telah di lewati, kini tiba pada acara inti, ya itu proses ijab kabul. Baik Tama mau pun Fariz mereka sama - sama menghela napasnya dalam, lalu menghempaskannya. mereka berdua pun berjabatan tangan.
"Saya nikahkan dan kawinkan anda dengan adik kandung saya, yang bernama Tiara Meirina Muhtar binti Abdullah Muhtar Almarhum, dengan mas kawin perhiasaan Emas Lima ratus gram, uang sebesar emam ratus emam puluh enam ribu rupiah dan juga seperangkat alat shalat di bayar tunai".
"Saya terima nikah dan kawinnya Tiara Meican...".
"Stop ! Kamu salah, harusnya Tiara meirina bukan meican" Tama langsung memotong kalimat Fariz saat mengetahui Fariz salah dalam menyebutkan nama adiknya.
Fariz menghela napasnya berat saat tahu jika ia salah menyebutkan nama sang calon istri. "Gak usah terburu - buru santai saja, tarik nafas kamu secara perlahan lalu keluarkan" perintah kepala kua pada Fariz.
Keadaan ruangan pun seketika menjadi tegang takkala Fariz salah dalam menyebutkan nama lengkap sang calon istri. sebagian tamu undangan ada yang beranggapan bahwa meican adalah nama mantan Fafiz. namun nyatanya Fariz pun tidak mengerti kenapa ia bisa mengucapkan nama meican padahal ia tak mengenal siapa yang bernama meican, nama itu spontan keluar dari mulut Fariz saat melakukan ijab kabul.
__ADS_1
"Nak Fariz sudah siap ?" tanya kepala kua, dan Fariz pun mengangguk tanda bahwa ia sudah siap.
"Awas kalau salah lagi" ancam Tama pelan namun masih bisa terdengar oleh Fariz. mereka pun kembali berjabatan tangan. Bismillah. ucap Fariz dalam hatinya.
"Saya nikahkan dan kawinkan anda dengan adik kandung saya, yang bernama Tiara Meirina Muhtar binti Abdullah Muhtar Almarhum, dengan mas kawin perhiasaan Emas Lima ratus gram, uang sebesar emam ratus emam puluh enam ribu rupiah dan juga seperangkat alat shalat di bayar tunai".
"Saya terima nikah dan kawinnya Tiara Meirina Muhtar binti Abdullah Muhtar Almarhum dengan mas kawin perhiasaan Emas lima ratus garam, uang sebesar enam ratus enam puluh enam ribu rupiah dan seperangkat alat shalat di bayar tunai".
"Sah"
"Sah"
"Sah"
Suara riuh tepuk tangan pun mengiringi Sahnya Fariz dan Rara menjadi pasangan suami istri. Rasa syukur pun Fariz panjatkan karena kedua kali ia membaca ikrar ijab kabul ia lolos tanpa ada kesalahan seperti yang pertama.
Senyum sumringah terlukis di wajah Rara saat memasuki tempat acara, Rara berjalan di dampingi Para sahabatnya menuju tempat ijab sesaat setelah Fariz usai berikrar.
Kini suara Bani sedang menggema memberikan khotbah nikah, di pernikahan sang adik bungsu, awalnya Bani sempat menolak karena dirinya merasa tak pantas untuk memberikan khotbah nikah, Bani merasa malu karena dirinya sendiri pun belum sempurna menjadi seorang imam dan juga kepala rumah tangga yang baik. Namun Abah Hasan dan Syifa meyakinkan Bani bahwa ia mampu dan pantas untuk membacakan khotbah nikah.
Acara berlanjut satu persatu para tamu undangan menaiki panggung pelaminan penghampiri pengantin untuk memberikan ucapan selamat. sebagaian orang mengantre untuk mengucapkan selamat dan sebagiannya lagi terlihat mulai menikmati hidangan yang telah di sediakan.
Syifa dan Bani pun ikut menaiki panggung pelaminan memberikan selamat dan juga mengabadikan moment tersebut dalam sebuah album Foto.
"Sayang mau makan gak ? biar Abang yang ambilkan ?". Tawaran Bani hanya di balas geming oleh Syifa. bukan tak menjawab, tapi Syifa sedang berpikir ingin makan apa. "Abang tanya ko malah diam sih ?".
"Enggak Apa - apa ko Bang".
"Terus kamu mau makan apa biar Abang yang ambilin ?".
"Enggak tahu, Syifa lagi bingung"
"Bingung kenapa ?".
__ADS_1
"Bingung Syifa mau makan apa".
Bani menghela napasnya panjang, entah kenapa sekarang tingkah sang istri kadang membuatnya sampai terheran - heran.
" Bang, Syifa mau makan bakso saja".
"Ya sudah Abang ambilkan. tunggu sebentar, ya".
"Tunggu sayang !"
"Kenapa lagi ?".
"Abang, tapi Syifa juga mau sate, batagor, sama kebab, terus jangan lupa jus jeruk dan juga es krimnya".
Mata Bani membeliak. Apa telinganya tidak salah dengar. sebanyak itu ? apa Syifa sanggup menghabiskan semua itu ? ah, tunggu dulu. bukannya Syifa paling tidak suka dengan batagor, kenapa sekarang malah mau ?.
"Yakin kamu mau makan itu semua, sayang ?"
Syifa manggut - manggut. Bani bergegas mengambil semua yang di inginkan istrinya. dalam hati, dia berpikir, apa mungkin Syifa sedang mengerjainya.
Dengan bantuan pihak catering Bani membawakan semua makanan yang di inginkan Syifa. Bani membawa ke meja di mana Syifa telah menunggunya.
"Abang gak makan ?" tanya Syifa karena Bani hanya membawa makanan yang di pesan oleh Syifa saja.
"Abang makan ko, kan makannya berdua bareng kamu, Sayang".
"Berdua ? ini semua makanan untuk aku, bukan untuk kita berdua" Bani menelan salivanya saat mendengar perkataan sang istri. Apa ada Arwah yang nempel di tubuh Syifa, hingga membuat syifa makan sebanyak ini. ucap Batin Bani.
Bani hanya mengambil segelas jus jeruk untuk membasahai tenggorokan yang terasa sudah mengering. melihat Syifa makan sebanyak itu membuat Bani pun ikut kenyang walaupum hanya melihatnya.
"Ada apa dengan istri mu ? kenapa makan sebanyak itu ?" tanya Zahwa.
"Mungkin sedang kelaparan" sahut Bani ngasal.
__ADS_1