Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 185


__ADS_3

Setelah menunaikan kewajibannya sebagai Umat muslim dan juga makan siang, kini Bani siap untuk menjemput istrinya di ruang sang mertua.


Perjalanan di siang hari dengan cuaca yang sangat terik dan juga jalanan yang macet, membuat Bani harus bersabar sedikit. siang ini jalanan bener - bener macet parah, entah yang yang menyebabkannya kemacetan tersebut. Bani menyelinap ke kiri ke kanan agar bisa cepat terbebas dari kemacetan tersebut


Dua jam perjalanan, Bani baru sampai di rumah sang mertua dengan wajah yang kusut karena lelah dalam mengendarai mobilnya, tapi rasa lelah itu hilang saat sang istri menyambutnya dengan senyum sumringah.


"Asalamualikum".


"Waalaikumsalam" Syifa menyalami suaminya. terlihat gurat lelah di wajah sang suami.


"Mau kopi gak ?" tawar Syifa.


"Boleh sayang".


Syifa berlalu menuju dapur untuk membuatkan suaminya secangkir kopi, sedangakan Bani berebahkan tubuhnya di kursi ruang keluarga.


Syifa datang dengan membaca secangkir kopi yang masih mengepul uapnya.


"Ini kopinya, tapi masih panas" ujar Syifa.


"Terima kasih sayang" ucap Bani. "Ummah dan Abi mana ?" tanya Bani yang tak melihat keberadaan mertuanya.


"Masih di rumah sakit".


"Jadi dari pagi kamu sendirian di rumah ?!".


"Enggak ko, tadi aku kerumah kak Shela, saat kamu bilang lagi otw ke sini, ya sudah aku pulang deh" jelas Syifa. "Gimana urusannya Fariz ?" tanya Syifa penasaran.


"Sudah beres, orang itu mau mengerti tentang penolakan dari kita" ujar Bani.


"Emang Fariz kenal dari mana orang itu ?".


"Menurut Fariz orang itu tiba - tiba datang saja, menawarkan kerja sama, bahkan orang tersebut menawarkan harga yang lebih murah" jelas Bani seraya menikmati secangkir kopi buatan sang istri.

__ADS_1


"Kalau harganya murah lalu kwalitasnya bagaimana ?".


"Abang juga gak tahu. maka Fariz menolak karena kita nyari yang sudah - sudah pasti saja" jelas Bani.


Adzan ashar telah berkumandang merdu di mesjid - mesjid. Bani segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu melaksanakan Shalat berjamaah bersama sang istri. bait - bait doa mereka panjatkan demi kesehatan sang calon buah hati dan juga kelancaran Syifa menuju hari kelahiran. walaupun baru memasuki usia kehamilan enam minggu, tapi tak bisa di pungkiri jika Syifa kadang mengalami rasa ketakutan menjelang hari kelahiran calon buah hati mereka.


Usai shalat, mereka bersiap - siap untuk pulang kerumah mereka, hanya sedang menunggu Abi dan Ummah yang masih di rumah sakit menjaga tante Erni.


Ketika Ummah dan Abi datang, Bani dan syifa langsung pamit pulang, karena ia tak ingin ke malaman di jalan.


"Gak nginep lagi saja" ujar Ummah.


"Nanti lagi Ummah" jawab Syifa.


"Ya sudah, hati - hati di jalan, jangan cape - cape inget kandungan kamu semakin besar". ujar Ummah menasehati anak bungsunya.


Mobil Bani pergi meninggalkan kediaman Abi Umar dan Ummah, menuju sebuah jalan raya yang sudah mulai macet karena bersamaan dengan jam pulang kantor. suara klakson mobil saling bersautan, belum lagi asap kendaraan bertebaran di udara, cuaca sore itu sudah mendung menandakan hujan akan segera turun, para pengguna motor saling salip menyalip agar cepat sampai di tempat tujuan tanpa terjebak oleh hujan.


"Mendung belum tentu hujan" sahut Bani.


Hujan turun dengan lebatnya, mobil Bani pun tak bisa melaju dengan cepat karena jarak pandang terhalang oleh lebatnya hujan.


Banyak pengendara yang penepi untuk berlindung dari derasnya air hujan atau hanya untuk mengenakan jas hujan.


Bani tiba di kediamannya pukul tujuh malam, karena jalanan macet dan derasnya hujan membuat mereka lama di jalan. untung saja tadi mereka telah menunaikan shalat magrib di mesjid, karena Bani merasa jika shalat di rumah waktunya sangat mepet sekali.


malam semakin larut tapi hujan belum juga reda di tambah dengan suara petir yang menggelegar. Syifa meringkuk dalam kedapan sang suami, hingga Syifa terlelap tidur dengan posisi yang masih sama. ketiaka Syifa sudah terlelap berlahan Bani membenarkan posisi tidur yang istri tak lupa menyelimutinya dan kembali di peluk untuk memberi sebuah rasa perlindungan dan juga kehangatan.


...*******...


Hari ini Fariz bekerja agak siang, menurutnya hari ini tidak terlalu sibuk, hingga ia bisa lebih sedikit santai dan menikmati waktu pagi bersama istri tercinta.


Ketika sarapan pagi selalu saja ada drama yang terjadi, karena Rara mengalami morning sickness di kehamilan pertamanya.

__ADS_1


Ketika sarapaan selesai Tama datang bersama mamanya, akhirnya mereka berkumpul di ruang keluarga dan berakhir ketika Fariz harus segera berangkat bekerja.


Setelah kepergian Fariz mamanya Rara pergi ke dapur, ia ingin membuatkan celiman sehat untuk anak nya dan moment tersebut di gunakan Tama dan Rara untuk saling bertukar informasi.


Rara menceritakan bahwa perempuan yang bersama Fariz ternyata adalah orang yang mengajak kerja sama pada, namun Fariz menolaknya. tak lupa juga Rara menceritakan nomor tersebut mengirim kembali Foto Fariz dengan perempuan tersebut.


Kini giliran Tama yang bercerita, jika kemaren secara diam - diam Tama mengikuti perempuan tersebut menuju sebuah cafe dan bertemu dengan soerang laki - laki yang tidak di ketahui siapa namanya.


Tama menujukan sebuah foto yang di ambilnya secara diam - diam. Rara nampak sangat terkejut dengan sosok lelaki yang berada di foto tersebut.


"Kamu kenal dengan lelaki tersebut ?" tanya Tama.


"Iya aku kenal kak, dia adalah mantan bosku ditempat kerja ku dulu" Tiba - tiba tubuh Rara bergetar hebat, sekelebat bayangan tentang kejadian dulu memenuhi pikirannya. keringat dingin pun mulai bercucuran.


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari kakak ?" Tama mencurigai perubahan sang adik saat melihat foto yang merupakan mantan bosnya tersebut.


Dengan berurai air mata Rara menceritakan apa yang penah ia alami beberapa bulan yang lalu. Rahang Tama langsung mengeras. ia tak menyangka jika sang adik mengalami hal seperti itu.


"Kenapa kamu tidak cerita hah ?!". Rara pun hanya diam dalam tangisannya. "Aku akan menjebloskan dia ke dalam penjara !" seru Tama.


"Jangan kak, kita tak punya bukti kuat apalagi saksi, nanti yang ada malah kita yang di tuntut atas pencemaran nama baik" ujar Rara.


Mendengar suara tangis sang anak mamanya Rara langsung menghampiri anak - anaknya.


"Ada apa ini, kenapa Rara menangis ?" tanya mamanya Rara. kemudian ia memeluk sang putri untuk memberi ketenangan. "Jangan nangis ya, inget ada janin yang sedang tubuh di rahim kamu" ujar mamanya menasehati anaknya.


"Mama tenangin Rara, aku harus pergi !".


"Kak jangan gegabah, nanti malah kakak yang akan masuk dalam penjara".


"Tenang saja, kakak akan bermain cantik" ujar Tama dan berlalu meninggalkan rumah sang adik dengan keadaan yang sangat emosi.


Sementara Mama nya sedang berusaha menenangkan Rara, ia tak ingin jika Rara seperti ini terus akan berakibat pada kesehatan terutama pada janin nya.

__ADS_1


__ADS_2