
Mendengar nama Asyifa Fariz sedikit kaget, ada rasa kesal dan marah karena keluarganya seakan - akan menutupi hal itu dari dirinya.
"Abah, Umi, kak Bani, kenapa kalian tidak memberitahu aku jika Syifa sakit, apa kalian tidak menganggap aku sebagai bagian dari keluarga ini lagi ?" tanya Fariz dengan sedikit emosi.
"Hey Fariz kenapa ngomong seperti itu, harusnya kamu intropeksi diri, Habis shalat subuh kamu suka langsung tidur lagi, bangun mandi sarapan berangkat, bahkan kamu juga jarang ikut gabung shalat berjamaah di surau, bahkan kamu gak peduli dengan ke adaan pesantren, terus sekarang kamu ngomong kamu gak di anggap keluarga, pikir dong kalau ngomong jangan asal jeplak saja" ucap Bani kesal dengan tingkah adiknya.
"Sudah - sudah gak usah berantem, Abah gak cerita soal ini karena kamu saja gak pernah tanya, nanti kalau Abah cerita duluan kamu suka bilang bukan urusan Fariz" ucap Kyai Hasan tegas.
Fariz hanya menunduk, iya menyadari ke salahannya.ia langsung meminta maaf pada ke dua orang tuanya dan kakaknya atas tindakannya.
Fariz memang terlalu cuek tentang pesantren bahkan ia tidak pernah mau dilibatkan dalam acara pesantren. namun setelah ke hadiran Syifa, Fariz mulai berubah sedikit demi sedikit. Fariz yang kebanyakan berdiam diri di kamar kini mulai mau berinteraksi dengan orang yang berada di lingkungan pesantren.
"Mi apa Syifa baik - baik saja ?" tanya Fariz lirih, kepalanya kini di sandarkan di pundak sang Umi, Fariz tergolong anak yang penurut dan juga manja, mungkin ini karena Fariz merupakan anak bungsu.
"Syifa baik - baik saja, suhu tubuhnya sudah mulai normal tinggal pemulihan saja" Jawab Umi seraya mengelus - ngelus kepala anaknya.
...****...
Malam hari di apartemen Robby mendapatkan sebuah kabar kalau Syifa sedang di rawat di rumah sakit karena demam berdarah.
"Besok aku mau jenguk Syifa, kamu harus ikut" ucap Robby tegas.
"Kalau tidak mau bagaimana ?" tanya Salwa balik.
"Untuk yang ini aku tidak terima penolakan !" seru Robby tegas.
Robby melanjutkan acara makan malamnya. iya tak butuh jawaban apapun dari Salwa, bagaimana caranya besok Robby akan tetap membawa Salwa ketika menjenguk Syifa.
Ke esokan paginya Robby sudah bersiap - siap untuk pergi menjenguk Syifa hanya tinggal menunggu Salwa yang masih mandi.
pintu apartemen di ketuk. Robby pun langsung membukanya.
"Mamah " Sapa Robby saat melihat orang tuanya ada di hadapannya.
"Salwa mana ?" tanya mamah Erni.
"Lagi mandi mah".
__ADS_1
"Kamu gak bekerja ?".
"Hari ini aku mau jenguk Syifa mah, dia sedang sakit demam berdarah" jawab Robby.
"Mamah ikut ".
Salwa keluar dari kamarnya dan terkejut karena di ruang tamu sudah ada mamah mertuanya, begitupun mamah Erni iya juga merasa kaget karena Salwa keluar dari kamar tamu.
"Kenapa kamu keluar dari kamar itu ?" tanya mamah heran.
"Tadi mas Robby mandinya lama, jadi aku mandi di sini biar cepet" jawab Salwa berbohong.Mamah Erni langsung percaya dengan jawaban Salwa.
"Mamah bareng kalian ya jenguk Syifanya" pinta mamah.
"Iya boleh mah" Jawab Salwa seraya tersenyum.
Awalnya Salwa akan beralibi sakit perut untuk tidak ikut menjenguk Syifa namun rencananya harus gagal akibat kedatangan sang mertua yang tiba - tiba.
"Robby ini bukan jalan menuju rumahnya Syifa" protes mamah Erni.
"Syifa di rawat di rumah sakit harapan keluarga, rumah sakit yang deket dengan pesantren, soalnya Syifa sakit ke adaanya masih di pesantren" jelas Robby.
Sampai di rumah sakit, Robby langsung menuju tempat resepsionis untuk menanyakan ruangan Asyifa di rawat.
Pintu ruangan Syifa di ketuk, dengan sigap Abi Umar membukaan pintu tersebut.
"Ayo masuk" titah Pak Umar pada keluarga Robby.
Robby pun menyalami pak Umar dan Ummah secara bergantian. dan langsung mendekati Syifa yang sedang berbaring di atas tempat tidur.
Ummah pun mempersilahkan Mamah Erni dan Salwa untuk duduk di sofa, Ummah dan Mamah Erni terlibat obrolan santai sedangkan Salwa hanya terdiam menjadi pendengar setia dan sesekali tersenyum ramah.
Sementara Robby sedang becanda dengan Syifa, sesekali Robby tertawa lepas membuat Salwa kesal karena selama mereka tinggal Robby tak pernah tertawa selepas itu. Mereka dekati sekali, bikin kesel saja, pasti Robby sengaja biar aku cemburu, tapi sorry aku gak bakalan cemburu. gerutu Salwa dalam hatinya.
Sebenarnya Syifa penasaran dengan cerita pertemuan Salwa dan Robby namun karena tak enak hati apalagi di situ juga ada Salwa membuat Syifa mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Sementara di rumah Kyai Hasan sedang di adakan kegiatan sarapan pagi, mereka makan seperti biasanya tanpa banyak bicara karena Kyai Hasan akan melarang mereka berbicara ketika makan.
__ADS_1
"Bani nanti Umi ikut kamu ya, kan jalan ke kantor sama rumah sakit searah" ucap Umi setelah selesai sarapan.
"Sama Fariz aja Umi" tawar Fariz.
"Umi sama ka Bani saja, jalannya kan searah kalau sama Fariz nanti kamu harus puter balik jauh banget". Umi menolak dengan alasan yang masuk akal.
"Bener kata Umi, biar gak ganggu waktu kerja kamu, kasian Zidan jika tugas kamu harus di kerjakan dia terus" ucap Abah memberi pengertian pada anak bungsunya.
Ketika Kyai Hasan sudah angkat bicara itu tandanya tak ada bantahan lagi dari siapa pun, akhirnya karena kesal Fariz berangkat duluan ke restonya.
Bani dan Umi berangkat namun di tengah perjalanan Bani merasa curiga ada yang mengikutinya dari belakang, tapi ia mencoba berpikir positif saja.
Sampai di rumah sakit Bani dan Umi langsung menuju ke ruang perawatan Syifa. Bani masih saja merasa ada yang mengikutinya. sesekali Bani menoleh ke belakang namun tak ada yang mencurigakan yang ada hanya orang berlalu lalang.
"Asalamualaikum" ucap Umi ketika membuka pintu ruangan Syifa di rawat.
"Walaikumsalam" jawab kompak dari dalam ruangan tersebut.
"Lagi ada tamu ya, maaf ganggu" ucap Umi tak enak hati.
"Masuk Umi" Ummah menyambutnya dengan ramah.
"Ada Salwa juga di sini" tegur Umi saat melihat Salwa sedang duduk.
"I i iya Umi" ucap Salwa gugup, tak lupa Salwa pun menyalami Umi dan cipika - cipiki.
Bani hanya berdiri dekat pintu, ia masih berdiri mematung karena ia tak menyangka bakalan bertemu dengan Salwa dan Robby.
Umi langsung mendekati Syifa dan menanyakan keadaan Syifa. "Aku sudah membaik, Umi maaf jika Syifa merepotkan Umi, dan sampaikan terimakasih Syifa pada kedua temanku Nayla dan Mila karena sudah sudi mencucikan pakaian kotor Syifa" ujar Syifa.
"Iya nanti Umi sampaikan, sekarang jangan pikirkan apa - apa ya, biar cepet sembuh" ucap Umi seraya mengusap kepala Syifa lembut. tentu saja hal itu membuat Salwa semakin kesal dengan ke adaan seperti itu.
Pak Umar baru saja habis dari luar untuk membeli keperluan Syifa, ketika ia hendak menuju ruangan tempat Syifa di rawat tanpa sengaja melihat seseorang mondar mandir di depan ruangan Syifa.
"Maaf , anda siapa ya ko anda mondar - mandir di ruangan anak saya" tegur pak Umar sopan, namun dalam hatinya ada ketakutan, takut orang tersebut akan berbuat jahat pada keluarganya.
πππππ
__ADS_1
Buat yang nanya kenapa Upnya ko cuma satu, jawabannya karena Author Abis sakit Gigi jadi belum bisa tulis yang banyak, tau kan kalau sakit gigi nyut -nyutan gimana sakitnya. . ah mantapππ».. untuk ke depannya Author akan berusaha biar up banyak, jangan lupa terus dukung Author dengan cara Like, Vote dan Comen yang positif.