
Sementara di rumah sakit, dokter keluar dari dalam ruang UGD, Bani dan Umi langsung menghampiri dokter tersebut.
"Dok bagaimana ke adaan Syifa ?" tanya Umi dan Bani kompak.
"Jadi Gini pasien baik - baik saja. . ".
"Gimana baik - baik saja panasnya tinggi bahkan sampai mengigau - ngigau" ucap Bani yang memotong perkataan dokter.
"Emang panasnya masih agak tinggi, ngigau itu di sebabkan oleh panas yang tinggi, untuk diagnosa awal pasien terkena tifus namun saya akan mengecek darahnya takutnya itu gejala awal dari BDB" jelas dokter.
"Dok lakukan yang terbaik" ucap Umi.
"Untuk sementara pasien di biarkan istrirahat terlebih dahulu, nanti setelah tes labnya keluar maka kita akan memberitahu lagi" ucap dokter menjelaskan.
"Kami boleh melihatnya ?" tanya Bani.
"Tentu boleh asal jangan mengganggu jangan dulu di ajak bicara" ucap dokter mewanti - wanti.
Umi dan Bani masuk keruangan tempat Asyifa di rawat. hati Bani seakan hancur melihat Syifa terkulai lemas di tempat tidur dan tangannya terpasang jarum infus. Bani dan Umi menunggu Syifa di kursi ruang tunggu di ruangan tersebut.
"Nak Umi lihat kamu seperti Khawatir sekali dengan Asyifa" ucap Umi memulai obrolannya.
"Itu perasaan Umi saja, aku hanya khawatir jika nanti orang tua Syifa menyalahkan Abah, Umi atau pun pihak pesantren" jawab Bani dengan seribu alasanya.
"Yakin kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Umi ?" tanya Umi lagi.
"Nggak ada yang di sembunyikan ko" jawab Bani pura - pura santai. Maaf Bani belum berani cerita, Bani takut Syifa menolak yang membuat kalian nantinya kecewa lagi. ucap Bani dalam hatinya.
"Ya sudah kamu belikan Umi bubur buat sarapan kalau ada sekalian teh hangatnya" perintah Umi pada Bani.
"Tapi Syifa bagaimana ?" tanya Bani.
"Syifa sedang istirahat" jawab Umi santai.
Akhirnya dengan berat hati Bani keluar dari ruangan Syifa dan menuju kantin rumah sakit.
saat kembali dari kantin Bani tanpa sengaja bertemu dengan orang tau Syifa.
"Nak Bani" sapa Pak Umar.
__ADS_1
"Eh Bapak, mau jenguk syifa ya, ayo bareng saya saja" ucap Bani sopan.
Pak Umar dan Ummah mengikuti setiap langkah Bani dan masuk ke ruangan tempat Syifa di rawat. tak lupa pak Umar dan Ummah menyapa terlebih dahulu Umi.
"Kata dokter biarkan Syifa istirahat dulu, jangan di ganggu" ucap Umi memberi tahu.
"Sebenarnya, Syifa sakit apa kata dokter ?" tanya Ummah penuh kekhawatiran.Umi pun menjelaskan apa yang di sampaikan dokter tadi.
"Syifa akan baik - baik saja" Umi menenagkan Ummah yang sudah mulai sesegukan menangis.
Tak lama kemudian dokter datang dan menjelaskan ke adaan Asyifa yang ternyata terkena DBD, Ummah yang mendengarkan penjelasan dokter langsung terkulai lemas di dekapan sang suami.
"Tak perlu khawatir karena kondisi pasien baik - baik saja, dan sekarang akan di pindahkan ke ruang perawatan biasa" dokter menjelaskan.
"Ummah" suara lirih Asyifa.
"Iya nak, Ummah ada di sini sayang" ucap Ummah.
"Syifa di mana Ummah ?" tanya Syifa lirih.
"Kamu di rumah sakit sayang" jawab Ummah lembut.
"Ya sudah kamu makan bubur dulu ya" ucap Ummah dan hanya di angguki oleh syifa.
setelah selsai makan Syifa kembali tertidur. Ummah dengan setia duduk di samping tempat tidur anaknya.
"Umi kalian boleh ko pulang, biar Syifa kami yang jaga" ucap Pak Umar.
"Iya kami mau pamit pulang dulu, nanti kami akan kembali ke sini lagi" jawab Umi.
Awalnya Bani gak mau ikut pulang, namun ia kasian melihat Uminya harus pulang sendirian, Umi dan Bani pun pamit pulanh, tak lupa Pak Umar mengucapkan terima kasih karena telah membawa Syifa ke rumah sakit.
Tak butuh waktu lama Umi dan Bani sudah sampai di pesantren. keduanya pun langsung masuk ke rumah, Bani bahkan langsung masuk kamarnya karena ia harus sgera pergi ke tempat kerjanya.
Kyai Hasan sudah menyambut ke datangan sang istri dan menunggu nya di ruang televisi.
"Umi sudah pulang, lalu Asyifa dengan siapa ?" tanya Kyai Hasan pada Istrinya.
"Ada Umar dan istrinya di sana, nanti kita siang jenguk Syifa ya" jawab Umi.
__ADS_1
"Terserah Umi saja, Abah mah ikut saja" ujar Kyai Hasan.
Bani sudah siap berangkat kerja, tak lupa sebelum berangkat ia pamit ke orang tuanya, Umi pun meminta tolong agar Bani mau mengantarnya nanti siang jenguk Syifa, dengan senang hati Bani siap mengantarnya.
Tiba di kantor Bani memasuki ruang kerjanya, dan di ikuti Tio.
"Tumben siang ?" tanya Tio penasaran.
"Syifa sakit, gue tadi nganter dulu dia ke rumah sakit" jawab Bani dengan rasa cemasnya.
"Syifa santri yang sering lo ceritain itu ?" tanya Tio lagi.
"Iya" jawab Bani singkat.
Tio langsung terdiam, ia paham yang sedang di rasakan oleh Bani, Tio lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sementara di rumah sakit, Syifa sedang terbaring, Ummah dengan setia menemani di samping anaknya sedang tertidur pulas.
"Bi apa lebih baik kita pindahkan Syifa ke rumah sakit yang lebih dekat dengan rumah kita" usul Ummah pada suaminya.
"Abi rasa tidak perlu, tidak enak nantinya dengan keluarga pesantren" jawab Abi Umar.
"Ya sudah terserah Abi saja" ujar Umi. "Bi hungungi Abian jika ke sini sekalian bawain baju ganti buat kita " perintah Ummah pada suaminya.
Setelah adzan dzuhur Abian dan Shela baru tiba di rumah sakit tempat Syifa di rawat, tak lupa Abian pun membawakan makan siang untuk kedua orang tuanya. Akhirnya mereka makan bersama sedangkan Syifa masih tertidur setelah makan dan minum obat siang.
Bani sudah tiba di rumahnya, siap untuk mengantar orang tuanya ke rumah sakit.
"Abah, Umi ayo Bani sudah siap" seru Bani saat masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu udah Shalat ?" tanya Umi.
"Sudah tadi di kantor" jawab Bani cepat.
"Makan siang dulu nak, baru kita berangkat" ujar Umi.
Setelah makan siang Bani dan ke dua orang tuanya berangkat ke rumah sakit. membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai ke rumah sakit, mereka juga berhenti di pinggir jalan untuk membeli buah tangan saat menjenguk Syifa. Rasa cemas Bani sedikit berkurang saat mendengar kalau Syifa dalam ke adaan baik - baik saja, bahkan demamnya sudah mulai turun.
Syifa terbangun saat mendengar riuh di ruangannya. "kamu bangun nak, maaf jika kami ganggu waktu istirahatnya" Ucap Umi seraya membelai kepala Syifa.
__ADS_1
Syifa hanya tersenyum, rasa syukur selalu ia panjatkan karena dalam ke adaan sakit seperti ini banyak orang yang sangat peduli dengannya. Senyuman Syifa terhenti saat melihat Ustaz Bani juga ada di sana. ada rasa gugup saat pandangan mereka beradu, apalagi di sana ada kedua orang tua mereka masing - masing.