Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 80


__ADS_3

Sesuai rencananya Bani dan Tama mendatangi kantor kepolisian untuk bertemu dengan Malik, namun waktu itu Pihak kepolisan belum mengizinkan Malik di jenguk oleh siapa pun kecuali pengacaranya, karena Malik masih dalam proses penyelidikan.


"Apa gak sekalian bikin laporan baru tentang kebakaran itu" ucap Tama.


"Nanti saja, tunggu kasus ini selesai" jawab Bani.


...***...


Hari terus bergulir, Bani menyerahkan semua masalah pembukaan cabang baru resto mereka kepada adiknya. Bani kini di sibukan dengan penataan kantornya yang baru saja selesai di perbaiki, Bani telah memindahkan semua barang - barang kantor dari rumahnya. kantor tersebut akan kembali beroperasi hari esok, semua persiapan pun di lakukan untuk acara pembukaan besok.


"Sayang, sebaiknya kita tinggal di sini dulu, nanti habis lebaran baru kita pindah kerumah baru kita" jelas Bani.


"Gimana baiknya saja, Syifa nurut saja" ucap Syifa seraya bersandar di dada bidang sang suami.


"Besok kamu hadir ya di acara pembukaan kantor" ucap Bani.


"Iya sayang" jawab Syifa manja.


"Maaf Abang belum bisa ngajak kamu berlibur" ujar Bani seraya menatap mata indah milik istrinya.


"Gak masalah, yang penting kita selalu bersama - sama" ucap Syifa seraya tersenyum manis.


Rintik hujan, menemani permainan malam mereka, desahan manja dan merdu milik Syifa menjadi candu untuk Bani terus bermain di atas tempat tidur, mereka melakukannya hingga dini hari.setelah lelah memadu kasih mereka terlelap tidur dalam posisi saling berpelukan dan juga dalam keadaan telanjang, tubuh mereka hanya di tutupi oleh selimut.


...****...


Pembukaan kantor pun berjalan dengan lancar, setelah acara selesai Bani menyerahkan semuanya pada Tio, kini Bani mengajak Syifa untuk mengunjungi rumah yang akan mereka tinggali. rumah itu sudah kembali rapih, namun Bani belum mengisi keperluan rumah tangga, sengaja ia belum membelinya karena ia ingin istrinya yang akan memilih langsung.


"Maaf rumahnya gak terlalu besar" ucap Bani saat memasuki rumah mereka.


"Gak papa, yang penting nyaman, suasananya juga adem, masih banyak pepohonan" ucap Syifa sambil memonitor seluruh pekarangan rumahnya.

__ADS_1


"Nanti untuk halaman depan akan di pagar tinggi biar lebih aman, dan untuk peralatan rumah aku serahkan semuanya sama kamu" ucap Bani.


Bani mengajak Syifa menuju lantai dua di mana kamar utama untuk mereka berada, kamar yang masih kosong. di lantai dua ada tiga kamar, dan di lantai satu ada dua kamar yang di peruntukan tamu atau pun keluarga yang menginap, satu kamar di ruangan atas akan di gunakan untuk ruang kerja Bani dan satu kamar lagi untuk kamar anak mereka kelak.


Syifa tertunduk lesu, saat tau suaminya sudah mempersiapkan kamar anak mereka, yang tandanya Bani sudah mengharapkan kehadiran anak di keluarga kecil mereka,namun sayang sudah hampir tiga bulan Syifa menikah belum juga hamil.


"Ko sedih, gak suka yah tempatnya" ucap Bani saat melihat raut sedih di wajah istrinya.


"Kita sudah menikah hampir tiga bulan, tapi aku tak kunjung hamil juga" ucap Syifa sedih bahkan tak dapat membendung air matanya.


"Hmmm, Kita baru tiga bulan, banyak ko dari mereka yang lebih lama dari kita, tapi mereka selalu berusaha dan tak pernah mengeluh, kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan juga berusaha" ucap Bani menasehati istrinya. "Gimana kalau besok kita pergi kedokter kandungan untuk konsultasi" usul Bani dan si setujui oleh Syifa.


setelah puas berkeliling rumah mereka, Bani mengantarkan Syifa pulang, namun sebelum pulang mereka mampir terlebih dahulu ke resto.


keadaan resto yang penuh, membuat Bani dan Syifa langsung melangkah menuju ke ruangan Fariz. di sama sudah ada Fariz dan Zidan yang menunggu ke datangan Bani.


Syifa duduk di samping Bani, dirinya merasa lelah mengikuti kegiatan suaminya hari ini, seluruh badannya terasa remuk. Fariz memesankan makanan dan minuman untuk Bani dan Syifa.


Syifa penumpang ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka, berharap rasa lelah itu hilang setelah di basuh air yang segar, saat memasuki kamar mandi Syifa menjadi teringat dimana pertemuanya dulu dengan Bani di resto ini. Syifa pun hanya tersenyum mengingat kejadian dulu, di mana Bani selalu bersikap dingin padanya dan tak pernah mau mengalah, namun Setelah menikah sifat Bani berubah derastis, menjadi lebih hangat dan lembut, bahkan Bani tak lagi membentak Syifa seperti dulu ketika ia terlihat mengantuk saat mengikuti kajian di pagi hari.


"Kamu kenapa ?" tanya Bani panik.


"Aku mual, mungkin masuk angin" jawab Syifa.


"Kak bawa Syifa pulang saja, mungkin dia butuh istirahat, dia kelelahan mengikuti kegiatan hari ini" saran Fariz yang ikut cemas dengan kondisi kakak iparnya.


Bani pun segera membawa istrinya pulang. " Apa kita mau ke rumah sakit dulu ?" tawar Bani.


"Gak usah, tiduran saja nanti juga sembuh ko" jawab Syifa.


Bani pun melajukan mobilnya dengan cepat, agar cepat sampai, tiba di rumah Bani memapah Syifa menuju kamarnya, keadaan kamarnya sepi karena Umi dan Abah sedang pergi karena ada urusan. Bani meminta BinTuti untuk membuatkan teh hangat dan juga bubur untuk istrinya.

__ADS_1


Syifa terbaring lemah di atas tempat tidur. "Maafkan Syifa" ucap Syifa lirih.


"Kamu istrirahat saja, jangan banyak pikiran" ucap Bani lembut sambil mengelus rambut sang istri.


Bani pergi ke dapur dan membawakan semangkuk bubur dan juga teh hangat untuk istrinya, Bani pun menyuapi Syifa makan, namun setelah beberapa sendok Syifa kembali merasakan mual. hingga Syifa penumpahkan seluruh isi perutnya di selimut.


Dengan penuh kesabaran Bani mengganti seprai dan juga bad cover, lalu menaruh yang kotor di keranjang cucian, sedangkan Syifa membersihkan dirinya di kamar mandi.


"Maaf" ucap Syifa lirih, saat melihat suaminya baru saja selsai mengganti seprai di tempat tidurnya.


"Kita ke dokter ya" ajak Bani.


"Besok saja kalau belum sembuh" ucap Syifa yang kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.Bani pun setia menunggu istrinya yang kini sudah terlelap tidur.


Umi dan Abah baru saja pulang, melihat keadaan rumah masih sepi dan mengira kalau Syifa dan Bani masih berada di kantornya.


"Umi, neng Syifa sakit" ujar bi Tuti.


"Sakit apa ?" tanya Umi panik.


"Pusing, mungkin kelelahan, sekarang lagi istirahat di kamarnya bareng nak Bani" sahut bi Tuti.


Karena khawatir dengan kondisi menantunya, Umi dan Abah pun langsung menghampiri kamar Bani dan Syifa, lalu mengetuknya secara perlahan.


"Abah, Umi, kalian sudah pulang" ujar Bani saat membuka pintu kamarnya, tak lupa juga Bani menyalami ke dua orang tuanya sebagai tanda hormatnya.


"Kata bi Tuti, Syifa sakit ?" tanya Umi.


"Kelelahan saja, dan kayanya asam lambungnya naik, sekarang lagi istirahat" jelas Bani.


"Kenapa kamu gak bawa ke rumah sakit ?".

__ADS_1


"Kata Syifa besok saja kalau belum sembuh" jawab Bani.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2