
Malik begitu terkejut melihat isi dari amplop tersebut, satu persatu foto itu di perhatikannya. "Sialan kamu Bani". teriak Malik dan langsung melempar foto tersebut.
Dan begitu melihat isi flasdiks di komputernya emosi Malik langsung membara, Malik melempar seketika laptopnya membuat Pak Roger panik.
"Malik tenang dulu !" seru Pak Roger yang melihat amarah di mata Malik.
Kini ruang kantor itu sudah berubah menjadi kapal becah, semuanya berserakan di lantai.
"Kamu kerja tidak becus" Teriak Malik pada Roger.
"Tapi menurut saya, kerja saya sudah rapih" Jawab Roger membela dirinya.
"Kalau sudah rapih bagaimana bisa mereka mendapatkan semua bukti ini".
"kalau itu saya tidak tahu pak" ujar Roger yang kini sudah ketakutan.
"Keluar kamu !! saya tidak butuh penjelasan kamu" bentak Malik, dan menunjuk ke arah pintu keluar.
Setelah Roger keluar Bani mengambil kembali foto - foto yang di kirim Bani tak lupa Malik juga mengambil flasdiks yang masih menempel di laptok yang susah rusak.
Malik menghubungi seketarisnya, Yanti untuk membersihkan ruangannya. Yanti datang keruang atasanya itu, tak lupa mengetuk pintu terlebih dahulu. Yanti membuka pintu, betapa terkejutnya dia saat melihat ruangan atasannya sudah seperti kapal pecah.
"Kamu bersihkan semuanya, kerjaaan untuk hari ini kamu yang handle, jika ada yang ingin bertemu dengan saya bilang saja saya sibuk dan hari ini tidak bisa di temui" jelas Malik.
"Baik pak".
Malik keluar dari ruanganya sedangkan Yanti kini sibuk membersihkan ruangan bosnya, banyak pertanyaan di pikiran Yanti, namun dirinya tidak berani untuk bertanya langsung tentang ke pada bosnya itu, karena dari sorot matanya bosnya sedang marah besar.
Malam hari Bani kembali memutar beberapa video yang kirim Bani dengan laptop miliknya.
Malik masih penasaran dengan nama folder bertulisan "Maaf", Karena penasaran Malik membuka folder tersebut dan memutar sebuah video.
"Hai Sahabatku, apa kabar ?
Mungkin kamu awalnya bingung dengan isi amplop yang aku berikan, gimana dengan isinya, sesuatukan ?".
Aku tidak membencimu dan aku juga tidak akan melaporkan perbuatanmu, namun jika kamu mengulanginya lagi, maka aku akan bertindak lebih kejam dari kamu. setelah kamu memutar video ini semoga kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan itu salah,
salam dari sahabatmu Rabbani".
__ADS_1
Itulah isi dari video tersebut, Malik kali ini bisa mengendalikan emosinya, ada rasa kesal karena gagal namun dari lubuk hati yang paling dalam terbesit sebuah rasa sesal dan malu, karena aksinya di ketahui oleh lawan.
...*****...
Sudah hampir satu minggu Bani melakukan shalat istikharah tapi dia belum mendapatkan jawabannya, tak ada nama atau bayangan Salwa yang mengiasi mimpi atau pun pikirannya. namun dia mendapat bayangan yang lain, sekelibat bayangan santri yang selalu membuatnya kesal menghiasi pikirannya.Bani mencoba menepis semua bayangan itu, namun semakin di hindari semakin bayangan itu kuat menari di pikiran Bani.
Hari ini hari libur, Bani sengajak mengajak ustaz Ali untuk keluar dengan alasan ada yang harus di bicarakan bersama.
Bani dan Ustaz Ali menuju resto milik Bani dan adiknya, mereka memesan tempat VIP, karena Fariz adiknya tidak berangkat ke resto, jadi kedatangan Bani dan Ustaz Ali tidak di ketahui adiknya atau pun Zidan orang kepercayaan Fariz. hanya pelayan yang menyadari ke datangan pemilik resto.
Bani dan Ustaz Ali menyantap makanan yang sudah di pesan oleh mereka. setelah selesai makan Ustaz Ali memberanikan diri untuk bertanya pada Bani.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu ceritakan sehingga kamu mengajak aku ke sini ?" tanya Ustaz Ali penasaran.
Bani menghela panasnya panjang, dan mulai bercerita.
"Abah dan Umi mau menjodohkan saya" ujar Bani
"Terus apa masalahnya ?".
"Aku tidak tau siapa wanita yang akan di jodohkan denganku, tapi ayah memintaku untuk tidak menolaknya, tapi" ucap Bani menggantung.
"Tapi kenapa ?"
Ustaz Ali tersenyum " Bani kenapa kamu gak mencoba menyebut nama wanita itu dalam doa mu" usul ustaz Ali.
"Untuk apa ? aku tidak menyukainya, malah aku cenderung membencinya" jelas Bani.
"Benci jadi cinta" ujar ustaz Ali sambil tertawa.
"Ini ke hidupan nyata bukan di dongeng atau pun novel" ketus Bani.
"Ya sudah terserah" jawab ustaz Ali. "Lalu bagaimana apa kamu mau menerima perjodohan orang tua kamu ? tanya Ustaz Ali.
"Jika pilihan orang tua ku yang terbaik maka aku akan memerimanya, aku tidak ingin di langkahi oleh adik ku" jawan Bani.
"Ha ha ha ha rupanya anda sedang tancap gas biar tidak di langkahi" ustaz Ali terus mentertawakan Bani.
"Diam ! tidak sedang melucu" ketus Bani.
__ADS_1
...******...
Di pesantren, tepatnya di dalam kamar Abah dan Umi sedang membicarakan tentang perjodohan anaknya.
"Apa Abah sudah berbicara tentang ini pada Umar ?" tanya Umi.
"Abah belum membicarakannya, Abah takut mereka akan menolak setelah mengetahui perlakuan anak kita pada anaknya" jawab Abah yang merasa hilang harapan.
"Umi juga merasakan hal yang sama, tapi apa salahnya kita membicarakan ini terlebih dahulu dengan Umar, lalu bagaimana dengan ustazah Salwa ?".
"Abah akan mencoba membicarakan hal ini dengan Umar, dan untuk Salwa orangtuanya sudah setuju mereka meminta jawabannya tiga hari lagi". jelas Abah.
"Apa tiga hari ? apa itu terlalu cepat, kita belum memberi tahu Bani !" Umi terkejut dengan penuturan suaminya, dia berpikir bagaimana untuk menyampaikan ini pada anaknya.
"Biar nanti Abah yang akan berbicara dengan Bani" ujar Abah mengakhiri pembicaraannya.
Sementara para Santri sedang memanen tanaman kacang tanah di ladang belakang pesantren.
"Apa setiap tahun di tanami kacang tanah ?" tanya Asyifa.
"Hmmm beda beda, kadang kentang, kacang tanah, jagung dan banyak yang lainnya" jelas Mila.
"Terus hasilnya ?" tanya Asyifa lagi.
"Hasilnya sebagian di jual dan sebagian di konsumsi untuk santri" jelas Nayla "Nah lihat lahan kosong di ujung sana, itu akan di tanami sayuran hijau seperti sawi, bayam dan banyak lainnya" sambung Nayla sambil menunjuk lahan yang di maksud.
"Wah enak juga, kalau mau masak langsung petik, pasti seger banget sayurannya, dan ternyata bercocok tanam seperti ini seru yah" Sahut Asyifa.
...******...
Bani baru balik ke rumahnya, langsung di sambut oleh Abah dan Uminya.
"Abah dan Umi kenapa masih di rumah, bukan hari ini ada panen ?" tanya Bani bingung.
"Abah dan Umi ingin bicara dengan kamu nak" ujar Umi lembut.
Bani dan kedua orang tuanya duduk di ruang keluarga, sedangkan Faris hari ini dapat tugas untuk membantu panen di ladang.
"Apa Abah dan Umi ingin membicarakan tentang perjodohan itu ?" tebak Bani.
__ADS_1
"Iya Abah ingin membicarakan itu, lebih cepat itu lebih baik". ujar Abah. " Abah sudah memilih calon untuk mu, yaitu Salwa Azzahra Alfatunissa, kamu mempunyai waktu tiga hari untuk shalat istikharah" jelas Abah tegas membuat Bani tak sanggup untuk membantah.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃