Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Kebakaran Jenggot


__ADS_3

"Kak, kok rasanya aneh ya tiba-tiba saja ada orang yang langsung mau membeli saham kita?" Tanyaku pada Damar dalam perjalanan pulang


"Entahlah, aku juga merasa aneh. Tapi siapapun yang berminat itu bukan lagi urusan kita. Mungkin saja kita hanya beruntung" Jawab Damar mencoba berpikir positif


"Mungkin saja. Paman sekarang pasti sedang kebakaran jenggot karena ternyata ada yang berminat membeli saham kita hehehe"


"Hahahaha kasihan, aku yakin tadinya dia berniat untuk mendapatkan saham ini dengan cuma-cuma atau paling tidak membelinya dengan harga murah" Damar tergelak


"Percuma dia mengubah aturan kepemilikan saham, yang ternyata orang lain juga yang memiliki hak atas saham ini" lanjut Damar di sela-sela tawanya


"Iya kasihan sekali. Yang aku baca tadi di berkas rapat, Pak Robert memiliki saham 15%. Kalau besok kita jadi memindahkan hak kita padanya total dia memiliki 55% saham. Artinya orang ini pemegang saham utama dong ya hahaha"


"Hahahah Iyah benar, orang sakit jiwa itu tidak akan bisa leluasa di perusahaannya sendiri"


"Kira-kira apa tujuannya membeli saham ini ya? Padahal nilainya makin jatuh. Tadi mulut paman kayaknya sampai berbusa mencoba menenangkan pemegang saham kalau perusahaan ini akan membaik"


"Hahahaha aku yakin tadi mulutmu pasti gatal untuk membantah setiap ucapannya. Benar kan Tari?"


"Hahahaha tentu saja begitu"


"Orang yang membeli ini kemungkinan tertarik dengan perusahaan ayah kita Tari, kalau nanti si tua gila itu gagal, jalan satu-satunya pasti menjual perusahaan itu"


"Lebih baik dikelola orang yang mengerti daripada seperti sekarang. Sayangnya kita tidak bisa berbuat apa-apa ya kak?!"


"Iyah, lebih baik kita fokus dengan usaha yang sedang aku kembangkan ini Tari"


"Baiklah kak. Besok setelah semua selesai kita jadi makan-makan di kantor baru kan?"


"Jadi dong, kamu yang atur ya!"


"Siap pak Damar!!" kataku sambil menghormat padanya


Damar hanya nyengir menoleh padaku


Aku memandang ke arah jalan "Turun bentar yuk kak, fotoin aku disini. Untuk kenang-kenangan, kita mungkin akan jarang sekali kemari atau bisa jadi...." Suaraku tercekat menahan rasa kesedihanku yang tiba-tiba saja muncul. "...Bisa jadi kita tidak akan pernah lagi kemari kak"


Damar menoleh ke arah Riri kemudian mengangguk sambil menepikan mobilnya


Riri bergegas mengambil posisi, seingatnya ia dulu sering berdiri di sekitar sini. Dibawah pohon rindang dekat dengan rambu lalu lintas yang menunjukkan tanda 80km batas maksimum kecepatan kendaraan.


Damar mengambil beberapa foto Riri kemudian ia meletakkan ponselnya diatas kap mobil. Dengan bantuan tumpuan tas yang dibawanya, Damar bermaksud untuk menggunakan timer untuk mengambil foto mereka berdua

__ADS_1


Damar berlari lalu merangkul Riri, terdengar suara kamera ponsel bekerja "trek!"


Setelah puas mereka pun melanjutkan perjalanan pulang.


Sementara itu di kantor pak Brata, suasana sedang tegang. Setengah jam lalu pak Brata mengamuk menghancurkan seisi kantornya. Berkas-berkas, alat tulis, kalender, kursi, gelas semua barang dari atas meja nampak berantakan tercecer disana sini. Semua karyawan yang sedang bekerja merasa kaget luar biasa dengan kejadian ini.


Erika yang sedang gemetar sedang ditemani oleh Hadi di ruangannya. Dua orang ini sempat dimaki-maki oleh pak Brata karena dianggap tidak becus membantunya di perusahaan. Ketika pak Brata pergi dari sana tangis Erika pecah dalam pelukan Hadi.


"Kak bagaimana nasib kita setelah ini?" Tanyanya pada Hadi masih sambil terisak


"Aku juga tidak tahu Er, saat ini kita hanya bisa menunggu" Kata Hadi dengan wajah bingung


Erika menghapus air matanya "Kalau sampai kita bangkrut dan perusahaan ini di jual apa yang harus kita lakukan kak?"


Hadi menggeleng "mungkin aku akan mencari pekerjaan atau membangun usahaku sendiri. Entahlah aku juga masih belum tahu apa yang akan aku lakukan"


"Aku ikut ya kak! Aku takut menjalani hidupku sendirian kak" Erika kembali tersedu


"Iyah kamu boleh ikut aku Er" Hadi memeluk Erika semakin erat


"Kenapa hidup Damar dan Tari selalu lebih baik dari kita kak?? Kenapa kak??!!!" Teriak Tari dalam pelukan Hadi, air matanya semakin deras mengalir


Hadi hanya sanggup terdiam, dalam hatinya saat ia bisa melihat Tari berada disini tadi sudah cukup membuatnya bahagia. Walaupun ia pernah berbuat kesalahan fatal padanya dan mendapat ganjaran setimpal layaknya orang cacat seperti sekarang namun tidak mampu mengubah perasaannya pada Tari. Ia masih menaruh rindu yang teramat dalam padanya.


Riri mengirimkan dua buah foto di sisi jalan tadi untuk Sugi dalam perjalanan.


Ponselnya bergetar, ia melihat balasan dari Sugi baru saja masuk


"Cute one, I love it! 😘"


"😘 Nanti mau kerumah?"


Ponselku berbunyi. Sugi melakukan panggilan


"Hi" sapanya dengan suaranya yang khas, aku tiba-tiba merasa rindu pada pemilik suara ini


"Nanti mau kerumah?" Tanyaku lagi


"Iyah, aku mau menginap"


"Lagi?"

__ADS_1


"Iyah, nggak boleh ya? Tapi kata kakakmu boleh hahahaha"


"Masa?"


"Siapa yang berani melarangku? Hahaha" tantangnya sambil tergelak


"Ck! Aku speechless"


"aku lebih suka tinggal bersama kalian, lebih seru sayang"


"Ya sudah, artinya kalau aku pesan makan aku pesannya lebih"


"Iyah dong, apa yang kamu pesan aku juga mau"


"Buat pak Doni juga, tolong bilang padanya agar nanti makan malam dirumahku saja"


"Ck! Kenapa dia harus ikut sih?"


Pak Doni tiba-tiba saja merasa ia sedang dibicarakan dan menoleh dari spion atas


"Kasihan pak Doni sayang, pasti dia lelah seharian membantu pekerjaanmu yang tak ada habis-habisnya itu"


"Yha!" Jawabnya malas


"Hehehe gitu aja kesal, ya sudah lanjut lagi ajah sibuknya. Dah sayang"


"Ciumnya mana?" Suara Sugi terdengar manja


Pak Doni memalingkan wajahnya tak percaya saat mendengar nada suara Sugi di jok belakang


"Hehehehe nanti aja yah" tiba-tiba aku merasa malu. Aku menoleh ke arah Damar yang sedang menahan tawa ia nampaknya mengerti arah pembicaraan kami walaupun ia hanya mendengar ucapanku saja


"Yah, malu ma Rio ya? Aku ngambek ah"


"Yakin?" tanyaku sambil menutup mulutku


"Nggak jadi deh hahahaha, I love you"


"I love you too, aku tutup ya"


"Iya" ia memutuskan sambungan teleponnya

__ADS_1


"I lep Yu tu hahahaha" Damar meniru ucapanku sambil terbahak, dan terus-terusan mengulangnya berkali-kali


"Hahahaha" aku hanya mampu ikut tergelak mendengar nada suara Damar yang mengejekku berulangkali


__ADS_2