
Tak lama Sugi pun menyusul kami
"Pak, kita ke restauran cepat saji. Pesankan seperti biasa" kata Sugi saat mobil melaju dalam perjalanan pulang
Riri terlihat kaget "Belum makan?" Ada terbesit rasa kasihan dalam hatinya
Sugi menggeleng "belum, pak Doni juga belum kok"
"Iyah saya belum Bu" jawab pak Doni
Pak Doni membelokkan arah mobil ke satu gerai Restauran cepat saji terdekat. Ketika kami sampai di tempat pemesanan layanan tanpa turun, kami melihat antrian mengular di depan kami.
"Saya turun saja ya pak, kelihatannya di dalam tidak terlalu ramai" ujar pak Doni
"Ok" jawab Sugi singkat
"Bu Riri mau pesan apa?"
"Saya tidak usah pak, masih kenyang terimakasih" sahut Riri
"Baik bu" Pak Doni bergegas memarkirkan mobil lalu turun
Aku melihat ke arah Sugi dengan perasaan tidak enak "dia pasti sangat lelah hari ini, sudah semalam ini dia ternyata belum makan"
Sugi terlihat memejamkan matanya dengan kepala mendongak bersandar pada sandaran jok mobil.
"Sayang..." Aku mengusap lembut tangannya
"Mmmm" jawabnya
"Lihat kemari"
Ia menoleh kearahku dengan sebelah mata terbuka
"Tidur disini saja" aku menepuk pahaku
Ia nampaknya menuruti saranku untuk tidur di pangkuanku dan kembali terpejam
Aku mulai mengelus kepalanya dan mencium keningnya dengan lembut. Dengan begini aku berharap kemarahannya kali ini bisa berkurang lebih cepat.
Tiba-tiba saja ponselku bergetar, ia menahan tanganku agar tidak memeriksanya.
"Kenapa sayang?" Ujarku bingung
"Itu pasti dari anaknya Bu Siska"
"Ahh paling kak Damar, aku belum mengabarkan apapun padanya semenjak kita berangkat tadi sore"
__ADS_1
"Mau taruhan? Aku yakin itu dia bukan Rio" ujarnya sambil terpejam
"Kan dia sudah tahu aku milikmu, masa dia berani?"
"Coba saja nanti kamu lihat sendiri. Aku mendengar rumor kalau anak Bu Siska itu luar biasa liar. Masih muda tapi gonta-ganti perempuan. Jangankan wanita seusiamu, yang tante-tante saja dia embat kok. Sepertinya menurun dari ayahnya"
"Siapa ayahnya?"
"Pemilik Swalayan besar ternama "Shop 'n Shop" tahu kan?".
Dahi Riri berkerut "ohhh bapak itu, yang gosipnya punya banyak istri simpanan? Jadi itu benar ya?"
"Rahasia umum" ujar Sugi
'Gimana? berani taruhan nggak? Kalau aku benar kamu harus mengikuti keinginanku dalam waktu seminggu dan hukuman atas kenekatanmu hari ini aku tambah"
"Keinginan apa? Aku nggak mau ah" terbayang di pikirannya Sugi akan memanfaatkan hal ini untuk berbuat mes*m padanya, ia bergidik
Ia menghela napasnya "Ck! Segitu aja takut. Aku tidak akan memintamu melakukan hal-hal diluar batas, Riri"
"Kalau aku menang aku dapat apa?"
"Kamu bebas memintaku melakukan apa saja selama seminggu atau kamu meminta apapun akan kukabulkan"
"Tapi aku memang nggak punya permintaan aneh-aneh sih. Nggak ah nggak adil"
"Terus kamu mau dapat apa?"
Sugi menyunggingkan senyumnya "Riri...Riri permintaanmu selalu saja bukan dalam bentuk materi. Sementara wanita lain pasti sudah bersemangat meminta dibelikan ini dan itu" gumamnya dalam hati
"Ok, deal" ujar Sugi yakin
Riri mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk. Matanya terbelalak melihat ada nomor yang tidak dikenal mengirimkan pesan panjang padanya
"Dari siapa? Aku tahu dari matamu yang membesar, pasti dari pemuda liar itu yah hahahaha?" Tawa Sugi pecah
"Ah malas ... Anak itu kenapa sih?? Sudah tahu aku sudah milik orang, tapi kenapa dia masih saja merayuku begini" gerutuku
"Coba baca, aku ingin mendengarnya"
"Hi, ini aku Dion. Disimpan yah nomorku. Akan sangat berkesan untukku, kalau Riri mau mampir ke kedai kopi yang aku ceritakan tadi. Aku senang bisa berkenalan dengan wanita secantik kamu Riri, it's a pleasant for me. Hubungi aku kapan saja kalau butuh teman ngobrol 😊 I'm more than happy 😉"
"Tuh kan apa ku bilang, dia pasti mencoba mencari celah, sudah kebiasaan"
"Mana sok akrab, pake aku kamu CK!"
"Hahahaha I win. Hukumanmu dobel, seminggu ini aku berhak 24 jam waktumu"
__ADS_1
"Kok 24 jam? Kapan aku istirahatnya?
"Istirahat kan bareng, seminggu kamu harus tidur dikamarku, di rumahmu"
Riri menghela napasnya
"Bangunin aku setiap pagi, siapkan pakaian yang akan aku pakai. Siapkan sarapanku. Kamu harus kirim foto selfie senyum manis dimana pun kamu berada setiap jam 10 pagi. Waktu makan siang kamu kabarin aku makan siangnya apa. Malamnya aku mau disayang-sayang, di pijat semuanya sama kamu"
"Ck! Ya sudah gitu aja kan?"
"Tapi ada satu lagi, karena ini plus hukuman jadi berlaku sebulan. Kamu juga di larang pergi sendiri diluar dari jam kerja. Oh iya aku mau disuapin selama sebulan ini kalau kita makan bersama"
Aku hanya bisa menghela napas panjang mendengar permintaannya.
Ia bangkit lalu mendadak mengecup bibirku dan kembali duduk. "Kok aku jadi lebih bersemangat ya?" Katanya tersenyum sambil mengucek pelan rambutku
Pak Doni akhirnya kembali, ia menyerahkan sebungkus paket ayam goreng dengan tambahan burger ke tangan Sugi.
Kemudian Sugi menyerahkan bungkusan itu ketanganku. "Mulai yah" Ia membuka lebar mulutnya untuk disuapi "Aaaaa...."
"Ya ampun pak Direktur Utama kenapa jadi manja begini sih?" Batinku sambil menyuapkan sepotong kentang ke mulutnya dengan perlahan. Ia mengunyah dengan wajah yang tersenyum puas.
Pak Doni melihat kami dengan mata terbelalak "Duh makin jadi saja manjanya kalau sama Bu Riri. Siapa yang menyangka, pak Dirut yang berwibawa dan berkharisma luar biasa bisa bersikap semanja ini pada wanita yang sangat ia cintai" gumamnya dalam hati sambil menggeleng keheranan
Makanan pun tandas dengan cepat. Sugi menarik Riri lembut dalam pelukannya. "Terimakasih sayangku" dengan gemas ia menggesek-gesekkan dagunya di kepala Riri yang bersandar di dadanya.
Sejenak aku teringat dengan urusanku besok
"Sayang, besok aku sama kak Damar ke perusahaan ayah. Kami mau menjual saham kami sesuai rencana sebelumnya"
"Notarisnya sudah siap?"
"Sudah diurus kakak"
"Ok, kabarin aku ya kalau ada masalah. Seharusnya sih prosesnya cepat, kecuali ada yang keberatan saat rapat. Kemungkinan rapat akan menjadi alot"
"Pak Doni dengar informasi Bu Riri ini? siap-siap pak" ujarnya pada Pak Doni
"Baik pak saya mengerti" jawab pak Doni
"Siap-siap apa?" Tanyaku kebingungan
"Siap-siap kalau kamu butuh bantuan" Sugi mengelus-elus lenganku
"Malam ini menginap di rumahku?"
"Kan tadi sudah cukup jelas, mulai malam ini sampai sebulan baby"
__ADS_1
Aku mendongak dengan wajah memelas
"Don't make that face, I love you, Nanti biar terbiasa kalau kita menikah" ia mengecup bibir dan pipiku dengan lembut.Lalu kembali memelukku dengan erat.