Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Kopi


__ADS_3

Aku terbangun karena bunyi timer di ponselku. Timer itu sengaja aku pasang setiap pagi pukul lima tepat. Dengan mata yang masih terpejam, tanganku meraih ponsel yang ada di meja nakas sebelah tempat tidurku.


Saat meraba-raba tanganku menyentuh suatu permukaan yang tidak rata, keras, berbahan kaos. "Ini apa sih?" Gumamku dengan suara serak, lalu sebuah tangan memegang jemariku, aku terperanjat, menarik tanganku dan langsung terduduk dengan jantung yang berdegup kencang


Kulihat Sugi ikut terbangun "pagi sekali bangunnya" katanya dengan mata yang masih terpejam


"Astaga, Aku lupa kalau ternyata aku masih berada di kamarnya Sugi"


"Timerku menyala, sori kebangun yah?!" Ujarku berusaha terdengar wajar. Aku turun dari tempat tidur untuk mematikan timer di ponselku yang berada di atas nakas.


"Ini jam berapa sih?" Tanyanya, ia berdiri menghidupkan lampu kamar, kemudian menuju kamar mandi dengan langkah gontai


"Jam lima, Sugi kenapa aku bisa ada di tempat tidur? Perasaan semalam aku tidur di sofa"


"Aku yang mindahin kamu semalam. Takut kamu kram tidur di sofa" jawab Sugi kemudian menutup pintu kamar mandi.


"Kenapa aku sampai tidak sadar sih?!" Aku menggerutu sendiri


Sugi keluar dari kamar mandi, dia terdiam sejenak di ambang pintu, seperti memikirkan sesuatu.


"Kalau di kos bangun jam segini buat apa?" Tanyanya dengan wajah penasaran


"Masak air buat mandi, bikin sarapan, sama dengerin musik biar mood enak pagi-pagi"


Dia memandangku bingung "memangnya air keran biasa nggak boleh langsung dipake mandi? Maksudku air harus dimasak dulu, gitu? Airnya mengandung apa sih?"


Aku menutup mulutku menahan tawa "dasar orang kaya, gini aja dia nggak ngerti!"


"Kenapa? ada yang aneh dari pertanyaanku?" Wajahnya semakin bingung


Aku menelan tawaku "begini bapak Dirut, masak air itu bukan karena airnya gimana -gimana, tapi karena ingin mandi air hangat saja. Jadi yah harus dipanaskan terlebih dahulu, karena anak kos kayak aku memang tidak punya pemanas air"


"Oooo" wajahnya seperti baru saja mendapat pencerahan


"Hahahahaha" aku terbahak-bahak karena tidak lagi bisa menahan tawaku


Dengan kening yang berkerut dia berujar "Dih puasnya ngetawain orang yang nggak tahu"


"Maaf Sugi tapi ini lucu sekali, aku baru tahu ternyata memang ada orang yang tidak pernah sama sekali menjerang air hanya untuk mandi air hangat hehehe" aku masih terkekeh


"Setidaknya aku bisa membuatnya tertawa seperti ini" Sugi mengucek rambutnya sendiri "hmm kalau begitu artinya mulai hari ini kamu tidak perlu repot-repot masak air"


Giliran aku yang dibuat bingung dengan perkataannya "memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Kamar dibawah buat kamu, isinya juga sudah lengkap. Kamu bisa pakai apa saja yang ada di sana"


"Hah? Aku tinggal disini?!"


"Iyah ,masa asisten Dirut tinggal di kos-an"


"Tahu gitu kan, semalam aku bisa tidur dibawah" aku menggerutu


"Aku butuh kamu, kan aku sudah bilang minta di temenin, biar tidurku nyenyak." Suara Sugi terdengar sangat lembut


"Astaga, kenapa ada desir aneh saat dia bilang "butuh aku" ini halusinasi ku saja, hentikan Riri!!" Aku mengalihkan pembicaraan "Pak Doni tinggal dimana? Kenapa tidak bareng disini juga?


"Dia tinggal di perumahan dekat dari sini. Dia punya pacar, butuh privasi"


Aku memutar bola mataku "apa aku harus punya pacar juga ya?, biar bisa tinggal sendiri?"


"Nggak gitu, duh!" kata Sugi mengelus lehernya frustasi


"Hehehe" aku terkekeh melihat reaksinya


"Coba kamu turun, terus periksa kamar dibawah. Kasih tahu aja, apa yang kurang"


"Ya deh, aku cek. Tapi aku yakin aku hanya kurang punya pacar. Biar bisa tinggal sendiri dengan privasi, yah privasi terdengar lebih menarik untukku yang muda ini..." aku mengoceh sendiri, menuju kamar dibawah


Mataku terbelalak melihat isi dari lemari pakaian yang ada dikamar bawah. Di gantungan berjejer beberapa model kemeja, celana panjang, rok dan gaun berbagai merek terkenal.


Mataku makin melotot kala melihat sepatu dan tas aneka warna dan model, yang tentu saja juga bermerek di lemari lainnya.


"Ini berlebihan...."


"Kenapa berlebihan? Sebagai asistenku kamu harus menjaga image. Masa Dirutnya aja yang keren?!"


"Kok kamu bisa tahu ukuranku?" Aku menatapnya.


"Hmm kira- kira aja sih?" Ujar Sugi, pikirannya melayang pada malam saat Riri menginap sebulan yang lalu. Ia sengaja meminjam baju Riri dari Bu Widi sebelum di cuci untuk mengetahui ukurannya.


Aku mengangkat bahuku "ya sudah, tapi sore sepulang dari bekerja aku boleh mengambil barang-barang ku di kosan?"


"Siapa bilang kamu bisa pulang kerja seperti orang kantoran biasa?"


"Terus aku pulang jam berapa?


"Sampai pekerjaan kita selesai" kata Sugi sambil tersenyum lebar

__ADS_1


"Ck" aku merasa hari ini akan menjadi hari yang panjang.


"ok baik, sekarang aku mau sarapan dulu. Di kulkas ada apa?" kataku sambil masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi.


"lengkap, hmm boleh minta dibikinin kopi nggak?!!" teriak Sugi dari luar.


"boleh" ujarku sambil bergegas keluar dan turun diikuti oleh Sugi dibelakangku


"Bisa buat Caffe latte nggak?"


"Bisa tapi tanpa art latte yah, aku belum bisa"


Wajah Sugi seketika takjub


Sampai di dapur giliran Riri yang takjub. Dapurnya sungguh mewah, dengan set dapur modern. "Ya Tuhan, ini seperti set dapur yang ada di film-film" aku bergumam dalam benakku


Sugi mendorongku lembut menuju mesin pembuat kopi "nah ini mesinnya, Bu Riri saya persilahkan" ujarnya sambil tersenyum


Dengan cekatan Riri mulai mengambil biji kopi dari toples di rak atas dan menggilingnya dengan penggiling elektrik.


Sugi bersemangat duduk di kursi stool dengan tenang memperhatikan Riri bekerja. Ini pertama kalinya ada orang yang membuatkan kopi untuknya. Biasanya dia membuatnya sendiri atau di buatkan kopi instan oleh Bu Widi.


Aku meletakkan kopi yang diminta oleh Sugi diatas meja makan. Kemudian aku membuat teh hangat manis untuk diriku sendiri beserta setangkup roti panggang cokelat.


Tanpa menambahkan gula, kulihat Sugi mulai menyeruput kopinya dengan tenang. Beberapa saat aku ikut bergabung dengannya di meja makan. Sugi sama sekali tidak berkomentar apa-apa, tangannya ikut menyomot sepotong roti panggang cokelat yang aku potong menjadi empat bagian.


"enak?" tanyaku penasaran


Bukannya menjawab pertanyaanku, Sugi malah balik bertanya "belajar make mesin pembuat kopi dari siapa?"


"Dari hmm kakak. Kenapa? nggak enak yah?. Apa mungkin karena sudah lama aku tidak memakai mesin pembuat kopi yah?" aku mengigit bibirku kesal


Mata Sugi mengikuti gerak Riri "please jangan menggigit bibirmu seperti itu Riri!!, membuat aku ingin juga menyentuhnya" Sugi membatin, matanya terus saja menatap bibir merah muda milik Riri


"Hei, pak Dirut kenapa bengong? pasti karena kopi ini yah? gimana kalau aku buang saja kopinya"


Sugi terperanjat "Loh jangan!! kopinya enak Riri. Terus terang saya sudah lama tidak minum kopi seenak ini, takarannya pas"


"Masa sih?"


"Iyah ,malah mirip kopi buatan teman. Saya tadi tiba-tiba teringat teman baik saya sewaktu kuliah dulu"


"Yay!!!" ujarku gembira "Kak Damar , ternyata aku masih ingat cara membuat kopi seperti yang dulu kakak ajarkan. Terimakasih yah kak" ucapku dalam hati dengan senyuman bahagia.

__ADS_1


__ADS_2