
Sugi melihat jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Saat ini ia dalam perjalanan pulang setelah baru saja menyelesaikan meeting terakhir hari ini. Dia nampak menyandarkan tubuhnya yang lelah pada sandaran jok sambil memejamkan matanya.
"Kita pulang ke rumah bapak atau ke Bu Riri pak?" tanya pak Doni
"Saya mau mampir kerumah Bu Riri sebentar nanti baru pulang kerumah saya. Malam ini saya mau tidur dirumah saja. Ibu kemungkinan besar datang lagi malam ini. Saya tidak mau Riri mendapat masalah baru"
"Baik pak" jawab pak Doni sambil mulai berkonsentrasi kembali pada jalan raya di depannya.
Sugi nampak mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Riri. Hari ini hari pertama ia bekerja tanpa kehadiran Riri di kantor. Ternyata rasanya sangat berbeda. Ia rindu sekali padanya.
"Sayang lagi apa? Aku sebentar lagi sampai dirumahmu" ketik Sugi dalam pesannya
Beberapa detik kemudian Riri ternyata menghubunginya. Sambil tersenyum Sugi mengangkat ponselnya.
"Hi" jawab Sugi terlihat senang
"Hi babe, aku juga baru sampai dirumah. Sudah makan malam?"
"Belum, maksudku belum makan kamu aja sih hehehe" Sugi tertawa tertahan karena merasa geli sendiri dengan leluconnya
"Ck!" Riri terdengar berdecak, Sugi bisa membayangkan wajah cantik Riri yang sedang memutar bolamatanya saat ini seperti yang sering ia lakukan
"Kok baru pulang, tadi kemana aja? Kenapa kartu yang aku kasih belum di pakai?"
"Ihh nanyanya satu-satu dong. Bentar aku sambil make baju dulu ya sayang. Aku baru habis mandi loh" ujar Riri seperti bermaksud menggodanya
"Eh bajunya nggak usah dipake aja, pengin liatttt. Aku lebih suka Riri yang natural hehehehe" lagi-lagi ia terkekeh
"Pak Dirut, itu namanya nude yah bukan natural hahahaha" suara tertawa Riri terdengar renyah di telinganya. Ia merasa jadi lebih rileks hanya dengan mendengar suaranya saja
Sugi mengelus lehernya sendiri sambil tertawa "Oh beda yah? Hahaha"
"Sayang, tadi siang aku ke showroom mobil"
"Terus jadi beli mobilnya?"
"Jadi, nanti deh aku cerita"
"Ok, ini aku sudah didepan rumah"
"Masuk saja, sebentar lagi aku turun"
"Ok sayang"
Ia memutuskan sambungan teleponnya dan turun dari mobil.
Dengan langkah tergesa-gesa ia menuju ke dalam rumah lalu naik ke lantai dua. Ia ingin bertemu Riri secepatnya untuk menuntaskan rasa rindu yang ada dalam hatinya ini.
Tanpa mengetuk pintu kamar Riri terlebih dahulu, ia langsung masuk dan menemukannya sedang menyisir rambut didepan cermin
"Hei!!! Ketuk pintu dulu!!" Teriaknya kearahku dengan wajah kesal sambil berdiri
"Nggak mau, aku males nungguin kamu bukain pintu" Sugi mendekat dan memeluknya erat
"Kalau aku lagi telanjang gimana?" Sungutnya
Tawa Sugi pecah "hahahah Ya Bagus, Kan aku sudah bilang sukanya Riri yang natural"
__ADS_1
"Besok-besok pintunya aku kunci aja!!"
"Jangan, iya deh maaf lain kali aku ketuk dulu sebelum masuk" ia memandang wajahnya lekat
"Kenapa sih buru-buru kemari? Kan bentar lagi aku turun"
"Aku kangen berat sama kamu, gimana dong?" Sugi berkata dengan mimik wajah seperti bocah ingusan
Riri menghela napasnya
"Dia kenapa belakangan jadi manja begini sih setiap kali bertemu?" Ia membatin
Sugi menarik lembut lengannya menuju tempat tidur "aku mau rebahan, badanku rasanya sakit semua"
Sugi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurku "peluk sini, aku butuh energimu sedikit. Aku lelah Riri" suaranya terdengar seperti benar-benar sedang kelelahan
Aku mengikuti keinginannya ikut rebah sambil memeluknya. Wajahku menelusup ke lehernya yang beraroma wangi musk yang khas. Ia kemudian mengosok-gosokkan dagunya di rambutku dengan gemas sambil mengelus tanganku yang melintang di atas dadanya.
"Tahu nggak, tiap kali aku menyentuhmu seperti ini moodku terasa jauh lebih baik, lelahku berkurang banyak. Itu kenapa aku buru-buru kemari" ujarnya padaku
"Biar lebih segar, sebaiknya mandi dulu, nanti aku bantu pijat atau apalah biar rasanya lebih nyaman"
"Aku mandi dirumahku saja, malam ini aku tidak bisa menginap disini Riri"
"Kenapa?"
"Ibuku dari semalam tiba-tiba kerumah, bisa jadi malam ini ia akan datang kembali. Aku tidak mau dia berpikir yang tidak-tidak tentangmu"
"Memangnya dia tahu kamu menginap disini?"
"Kan dia bisa menebak sendiri. Yang dekat denganku sekarang kan cuma kamu"
"Aku malah bersyukur di guna-guna oleh wanita sepertimu sayang. Diam sebentar ya, aku mau menikmati momen ini" ia terlihat memejamkan matanya
Aku mengikuti kemauannya sambil mengelus-elus dadanya.
Beberapa saat kemudian kurasakan napasnya mulai teratur. Ia tertidur dengan cepat. Aku sama sekali tidak berani bergerak karena takut akan membangunkannya.
Satu jam berlalu, lengan kananku terasa mulai kesemutan karena terjepit oleh badanku sendiri. Mau tidak mau aku harus menggerakkannya secara perlahan dan berhati-hati.
Setelah berhasil aku berniat untuk turun sebentar mengambil air minum. Tanpa aku ketahui Sugi sudah terbangun dari tidurnya.
"Mau kemana?" Tanyanya dengan suara serak
"Ambil minum dibawah, aku membangunkanmu ya?"
"Tidak apa-apa Riri, aku sepertinya harus pulang sekarang" ia terdengar menghela napas
"Ya sudah, masih ada banyak waktu untuk kita bertemu" kataku mencoba menghiburnya
"Ternyata Berat yah kalau tinggal terpisah"
"Hehehehe kenapa terdengar seperti kita menjalani hubungan jarak jauh sih? padahal dekat begini"
"Mungkin karena aku mulai terbiasa tinggal bersamamu dan kita bertemu setiap hari"
"Hmm kalau sempat besok mampir saja untuk sarapan disini"
__ADS_1
"Iyah aku akan datang pagi-pagi" Sugi berdiri dan mengecup keningku "I love you Riri"
"I love you too Sugi" jawabku sambil tersenyum padanya.
Kami menuruni anak tangga dengan beriringan
"Rio kemana?"
"Dia keluar katanya ada urusan, bilang mau pulang malam, mungkin pacaran" aku tersenyum geli sambil mengangkat bahuku
"Oh iya mobilnya kapan datang?"
"Katanya sih cepat, aku masuk list indent VIP kok. Nih tipe mobil yang aku beli" aku memperlihatkan hasil pencarian di internet pada ponselku ke hadapannya.
"Ihhh gaya loh dia beli mobil tipe terbaru paling mahal hahahaha"
"Hahahaha keren kan?!"
"Kerenlah, aku juga mau ah. Nanti aku info pak tua untuk mengurusnya"
"Nanti aku bantu bilang ke yang punya showroom biar kamu dikasih harga spesial dan list indentnya di taruh paling atas"
"Memangnya kamu kenal pemiliknya?"
"Kenal! Malah mobilnya dikasih gratis loh sebagai hadiah hahahaha" aku terbahak
"Hah!!!?? Sebentar .... Ini showroom yang terkenal lengkap itu kan? Yang punya showroom itu sudah memiliki anak dan Istri Riri. Aku kenal baik keduanya. Jangan macam-macam, Kenapa dia memberimu hadiah!!!?? Kalau aku tahu begini lebih baik aku yang membelikannya untukmu!!! Aku lebih dari mampu kok!! " Wajah Sugi terlihat marah dan menatapku tajam
Sebenarnya aku masih berniat menggodanya tapi urung aku lakukan karena melihat perubahan pada wajahnya.
"Tenang sayang, memangnya aku wanita yang seperti itu??" Kataku sambil mengelus lengannya
"Ternyata istri pemilik showroom itu adalah tanteku, adik tiri dari ibu kandungku, sayangku cintaku!" aku mengecup pipinya. Sugi terlihat sedang memikirkan sesuatu, ia seperti masih mencerna ceritaku.
"Kenapa jadi kebetulan begitu sih?"
"Besok kalau ada waktu aku cerita deh"
"Artinya kakekmu bapak Wiratama ya? Astaga Riri ini berita besar"
Aku mengangguk
"Bapak Wiratama itu orang yang luar biasa, aku mengaguminya. Pantas saja kedua cucunya hebat begini"
Riri hanya bisa tersenyum lebar mendengar ucapan Sugi.
"Ya sudah aku pulang yah, besok aku pasti kemari untuk sarapan"
"Ya sayang, hati-hati di jalan"
Sugi mengelus pipiku sambil tersenyum dan berlalu keluar rumah diikuti oleh pak Doni yang sedari tadi ternyata menunggu di ruang tamu.
Setelah masuk ke dalam mobil kulihat pak Doni melambai padaku sambil tersenyum
"Hati-hati di jalan pak" seruku padanya
"Iyah Bu Riri, terimakasih"
__ADS_1
Mobil mereka nampak berlalu menjauh secara perlahan