Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Saya tunggu di rumah


__ADS_3

Pagi ini sebelum berangkat bekerja aku berniat untuk memberitahu Sugi kalau aku tidak jadi bekerja di rumahnya. Setelah aku pikir -pikir, aku bisa saja menghindarinya dengan datang lebih pagi, dan selalu melalui jalur belakang lewat pantai seperti yang aku biasa lakukan.


"Selamat pagi Sugi hari ini saya bekerja dari kantor saja, sepertinya tidak masalah. Anggap saja saya tidak ada dikantor 😁 "


Aku mengirim pesan melalui ponsel pribadiku sambil memakai sepatu di depan pintu. Semenit kemudian ponselku berbunyi, sudah kuduga Sugi menelponku


"Selamat pagi Sugi" sapaku


"Kenapa tidak jadi?" Ujar Sugi terdengar kesal tanpa menjawab sapaanku


"Rumah Sugi jauh, lagipula saya bisa kok menghindari Andi. Nanti saya titip pesan saja sama teman-teman di Restauran, kalau saya sudah resign dari sana"


"Ya sudah kalau begitu" katanya ketus dan memutus pembicaraan kami begitu saja


Aku memandang bingung ponselku "si Bapak kenapa sih cepat banget betenya" gumamku sambil melanjutkan persiapanku untuk berangkat.


Sesampaiku di Sentral parkir, aku berjalan dengan cepat melalui jalur belakang. Sebelum naik kekantor di depan Kitchen aku memanggil Sena yang sedang mengerjakan sesuatu di dalam.


"Sena!"


Dia menoleh kearahku dan berjalan mendekat "ya Bu Riri, ada apa?"


"Saya mau minta tolong, kalau nanti ada orang datang mencari saya, siapapun itu bilang saja saya sudah resign dari sini"


"Baik Bu" jawabnya, wajah Sena seperti penuh pertanyaan


"Nanti info juga ke teman-teman yang lain yah, makasih banyak Sena. Tenang saja ini bukan masalah nunggak hutang kok" ujarku lagi sambil tersenyum


"Oh yah Bu sama - sama. Nanti saya info ke yang lain juga"


"Sip " kataku lagi sambil menaikkan kedua jari jempolku lalu naik kelantai dua.


Sugi baru saja datang dengan ditemani oleh pak Doni. Seperti biasa ketika ia datang, posisi Riri selalu sedang berkonsentrasi dengan pekerjaannya tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.


"Kenapa baru terpikir olehku untuk memindahkan meja Riri ini ke tempat yang lain yah? Seharusnya dia tidak membelakangi orang yang masuk seperti ini" Sugi berkata dalam hatinya

__ADS_1


"Selamat pagi Bu Riri" sapa pak Doni di belakangku


Aku memutar badanku "Selamat pagi pak Doni, selamat pagi pak Sugi" jawabku santai. Tapi ketika aku melihat wajah dingin Sugi, perasaanku menjadi tidak enak.


"Gimana hari ini Bu? Sudah lebih baik?" Tanya pak Doni mendekatiku


"Sudah pak, terimakasih untuk bantuannya waktu itu pak. Maaf saya merepotkan pak Doni"


"Tidak masalah Bu, yang penting semua baik-baik saja" pak Doni tersenyum. Lain halnya dengan Sugi, wajahnya terlihat semakin menakutkan.


"Dia kenapa lagi sih? Drama banget!" Gerutuku dalam hati


"Oh iya pak Doni, kalau orang itu mencari saya sampaikan saja saya sudah resign"


"Saya mengerti, saya turun dulu Bu Riri" pak Doni terlihat bergegas keluar dari ruangan. Sepeninggalan pak Doni Kantor ini mendadak hening. Aku menoleh kearahnya, kulihat dia sibuk dengan laporan dan emailnya.


Aku seperti merasa dia marah padaku. Aku memang cepat sekali menyerap emosi orang lain. Aku peka terhadap perubahan emosi orang-orang yang dekat denganku. "Apa hubungan kita sedekat itu, sehingga aku bisa menangkap warna wajah dan emosinya dengan cepat seperti ini yah?" Tanyaku dalam hati


Aku mengambil ponsel pribadiku dari atas meja, kemudian mengetik pesan untuk Sugi


Aku mengirimkan pesan itu dengan cepat


Sugi mengambil ponselnya, dan membaca pesan dari Riri


"Kok manggil pak lagi? Iya saya sedang kesal" dia mengirimkan jawaban pesanku dan meletakkan ponselnya kembali di meja


Aku membaca jawaban pesannya dan menoleh kearahnya, mata kami bertemu "Dheg!" "Kenapa jantungku berdebar begini?!" Matanya seolah-olah berbicara padaku untuk mendekat kemejanya. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku mengikuti perasaanku untuk benar-benar mendekati mejanya.


"Pak kita lagi dikantor, kan kemarin sepakat kalau dikantor saya formal lagi" jawabku sambil duduk didepannya mencoba santai. Berbanding terbalik dengan kondisi detak jantungku yang bertalu-talu saat ini.


"Di kantor, kan itu di chat" jawabnya dengan wajah datar


"Ahh begitu, saya mengerti. Terus apa Pak Sugi kesal karena saya?" Tanyaku langsung tanpa basa basi


"Saya paling tidak suka orang yang plin-plan" jawab Sugi matanya menatapku tajam

__ADS_1


"Plin-plan?" Seketika aku teringat tentang aku yang tidak jadi bekerja di rumahnya hari ini "Oh yang itu, baik pak lain kali saya tidak akan plin-plan lagi. Kalau saya sudah menyanggupi sesuatu saya akan berusaha untuk menepatinya. Saya minta maaf pak"


"Hari ini saya sudah minta Bu Widi untuk masak, karena saya pikir Bu Riri jadi kerumah. Dan saya kemarin juga sudah membatalkan janji saya hari ini dengan beberapa orang"


Aku ternganga "Astaga, kenapa jadi serius begini yah? Kan aku nggak minta dimasakin, juga nggak minta dia menemani dirumah. Gimana sih?" Aku menepuk-nepuk pahaku menandakan aku sedang gusar.


"Sepertinya saya harus meluruskan ini. Saya berniat bekerja dirumah pak Sugi yah maksud saya datang, bekerja lalu pulang. Tidak ada maksud saya merepotkan tuan rumah sama sekali dan tentu saja saya tidak ingin ditemani siapa-siapa"


Sugi memandangku dengan pandangan "jadi ini salah saya?"


Aku menghela napasku "Ya deh pak, ini salah saya. Siang nanti saya kerumah pak Sugi ya, untuk makan siang. Kasihan Bu Widi sudah repot masak" aku berkata dengan lembut


Sugi tersenyum "saya heran, kenapa Bu Riri tahu apa yang ada dalam benak saya?"


"Saya kandang-kadang peka dengan perubahan emosi lawan bicara saya pak"


Sugi memajukan badannya kearah Riri "Kalau begitu, apa bisa merasakan apa yang saya rasakan sekarang?" Sugi menatapku lembut


Aku melihat kedalam matanya yang jernih beberapa detik "detak jantungku kenapa semakin lama semakin kencang yah?! Tidak masuk akal... Ya Tuhan rasanya aku seperti tenggelam didalamnya . Apa aku salah memahami tatapan ini??! Perasaan apa ini??!!". Aku mengerjap lalu mengalihkan pandanganku dengan cepat


"Gimana?" Sugi menjauhkan badannya kembali


"Entahlah pak saya juga kurang yakin" jawabku pura-pura tidak merasakan apa-apa, dan mulai berpikir hal-hal yang bisa mengalihkan pembicaraan ini


"Hmm ohh Iyah saya baru ingat, ada Editor majalah terkenal mau bertemu pak Sugi. Saya forward email-nya sekarang yah" aku beranjak pergi dari hadapan Sugi kembali ke meja kerjaku


Sugi yang melihat tingkah aneh Riri hanya bisa tersenyum geli "ck!"


Jam makan siang pun tiba, Sugi mendekati Riri yang sedang sibuk memperhatikan beberapa foto yang akan dia kirim sebentar lagi.


"Riri saya pulang duluan, saya tunggu dirumah" bisiknya di telingaku


Aku terperanjat sekaligus merinding mendengar ucapan Sugi. Belum sempat ia menjawab, Sugi sudah menghilang dibelakangnya. Hanya langkah kakinya saja yang terdengar menuruni anak tangga "Shhh... Kenapa aku jadi merinding begini" aku mengusap-usap lenganku


"Dia bilang apa tadi?? Pulang duluan? saya tunggu di rumah? Kok rasanya seperti di tunggu suami pulang kerumah begini sih??!" Aku tertawa geli sambil menutup mulutku yang masih memakai masker.

__ADS_1


__ADS_2