Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Bahasa formal


__ADS_3

"Kakak sudah sarapan?" Tanyaku sambil menyuapkan sesendok bubur yang masih hangat ke mulutku


"Sudah, eh nanti siang aku mau lihat satu rumah yang kayaknya lumayan bagus, dekat kok dari sini. Kalau cocok, aku ajak kamu kesana nanti kita putuskan bersama mau diambil atau tidak"


"Ok kak"


"Tari, Erika bilang apa semalam?"


"Banyak hal, dia berubah kak. aku pikir dia masih sebaik itu. Atau memang akunya aja yang baru tahu dia ternyata hanya berpura-pura baik pada kita"


"Dia pasti mau membujukmu tentang saham kan?"


Aku mengangguk sambil menceritakan apa saja yang Erika katakan semalam.


"Hahahahaha" Damar terbahak-bahak mendengar ceritaku


"Salahku apa sih kak kenapa dia jadi sewot begitu ya!? Kalau memang dia sepintar itu harusnya bisa bantu ayahnya kan?"


"Memang dianya aja yang nggak suka sama kamu dari awal. Mungkin dia merasa tersaingi"


"Entahlah" aku mengangkat bahuku


"Pokoknya sekarang kamu konsentrasi sembuh dulu. Urusan paman dan Erika nanti kita bahas lagi. Aku berencana membawa seorang pengacara saat rapat nanti"


"Hehehehe bakalan seru nih" kataku sambil bertepuk tangan merasa tidak sabar


Damar hanya tersenyum geli melihat tingkahku


"Hari ini aku mau keluar ada urusan, pulangnya mungkin malam. Nanti kalau ada apa-apa telepon aku dulu ya"


"Iyah siap bos"


Damar berlalu keluar dari kamarku.


Karena bosan, aku memutuskan untuk memeriksa email yang masuk hari ini.


"Jawab-jawab email ajalah, daripada nanti kerjaanku nambah banyak kan ya?!" Gumamku sendiri


Beberapa email sudah aku balas dan tembuskan secara tersembunyi ke email Sugi. Belum ada beberapa detik, ponselku berbunyi. Dari nada dering khusus yang aku pasang, aku jadi tahu itu panggilan dari Sugi.


"Halo selamat pagi pak" jawabku formal, karena merasa ini masih jam kerja

__ADS_1


"Kenapa malah jadi kerja dari rumah sayang, kok nggak istirahat aja?" Katanya pelan dengan suara beratnya yang khas


"Aku lagi bosan, jadinya malah ngecek kerjaan. Mungkin karena tadi sudah makan bubur rasa cinta jadi lumayanlah bersemangat hari ini. Makasi yah sudah beliin aku bubur" jawabku mencoba mengurangi rasa khawatirnya


Sugi tertawa kecil mendengar jawabanku "Hehehehe bisa aja"


"Mendengar ia tertawa seperti ini kok aku jadi deg-degan. Rasanya malah jadi kangen pengin ketemu dia sekarang juga. Pengin peluk dia "aku menepuk-nepuk dahiku agar berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak


"Itu suara apa?"


"Aku lagi nepuk-nepuk jidat"


"Kenapa ditepuk? Pusing?"


"Iyah!, pusing karena terus-terusan mikirin kamu hahahaha. Kamu nggak cape lari-lari terus di pikiranku?" aku tergelak mendengar gombalanku sendiri


"Hahahaha Ck!" Ia pun ikut tergelak


"Suara Sugi tertawa membuat hatiku hangat seketika"


Pak Doni nampak kaget melihat Sugi terbahak-bahak dengan wajah santai dari spion atas. Selama bekerja dengannya ia jarang sekali melihat Sugi tertawa lepas seperti ini. Paling sering hanya tersenyum, dan itu pun tidak lama. "Hanya dua orang yang bisa membuatnya tertawa seperti ini, mereka adalah Rio dan Riri" bathin pak Doni sambil tersenyum lega.


"Mmm jangan melarangku bekerja dari rumah hari ini yah babe. Kalau aku nggak sibuk, nanti pikiranku jadi kemana-mana" kataku dengan suara manja, aku mencoba merayunya agar memperbolehkan aku bekerja


"Babe? Kenapa? Nggak enak didengar ya?" Tanyaku khawatir


"Bukan, aku happy dengernya. Jadi pengin pulang sekarang" ujarnya, ada nada rindu dalam ucapannya


"I miss you" bisikku pelan sambil menutup wajah karena malu pada ucapanku sendiri


"I miss you too honey so much" jawabnya


"Mmm lagi dimana?"


"Lagi di jalan, mau balik ke kantor. Nanti aku pulang lebih cepat deh"


"Ih kenapa gitu, bukannya ada jadwal makan malam?"


"Orangnya pending, dia mendadak ada urusan. Mungkin nanti dijadwalkan ulang aja ya"


"Baik pak Sugi, nanti saya jadwalkan ulang kembali. Saya tunggu kedatangan anda hari ini dirumah lebih awal. Ada hal lain yang saya bisa bantu lagi?" sahutku dengan bahasa formal

__ADS_1


"Hehehe gemes" katanya sambil tertawa geli


"Oh saya mengerti, baik saya akan bantu pak Sugi melepas rindu sore ini. Bagaimana pak? Hahahaha" aku kembali tergelak dengan ucapanku sendiri


"Hehehehe Ck! Awas nanti sore aku bungkam bibirmu yang sok formal itu" bisik Sugi sambil menahan tawanya sendiri


"Hahahaha ah udah ah saya mau kembali bekerja pak. Bapak mengganggu waktu kerja saya saja"


"Ya sudah, asal nggak memaksakan diri aja" ujarnya lembut


"Iyah babe aku tahu"


"Dah sampai nanti"


"Dah"


Ia menutup sambungan teleponnya.


"Pak Doni masalah sepupu Riri bagaimana?"


"Sudah beres pak, ada satu rekanan kita yang berencana untuk mempekerjakan dia beberapa hari lagi. Tapi setelah mendengar informasi ini mereka pun membatalkannya"


"Bagus"


"Maaf pak, saya ingin tahu kenapa kita tidak melakukan sesuatu pada perusahaan pamannya?. Saya pikir semua hal yang terjadi sumbernya dari dia, kemungkinan orang tua Bu Riri meninggal pun bisa jadi rencana dari pamannya"


"Kalau kita melakukan sesuatu pada perusahaan keluarga Wirama takutnya Rio dan Riri berubah pikiran dan memutuskan mengambil alih perusahaan mereka, saya menjaga kemungkinan itu. Kita lihat kembali setelah rapat umum pemegang saham yang akan mereka hadiri. Mmm tolong informasikan ke pak Budiman untuk mempersiapkan satu pengacara diluar dari tim legal kita untuk membantu mereka"


"Baik pak, saya mengerti" jawab pak Doni kemudian kembali berkonsentrasi pada laju kendaraannya


Sementara itu dirumah Bapak Subrata kembali terdengar teriakan menggelegar memenuhi ruang makan keluarga itu.


"BODOH!!! Sudah kubilang bujuk dia untuk pulang jangan menyewa orang untuk menangkapnya!!!! Kamu tahu siapa keluarga Wijaya?? Kalau sampai salah satu dari mereka marah, kita akan kena masalah!!!"


"Aku nggak tau ayah, maafkan aku. Aku tidak menyangka dia memiliki hubungan khusus dengan keluarga itu" Erika menunduk di tempatnya dengan suara lemah


"Sudah terlambat, mereka mungkin sudah merencanakan sesuatu pada keluarga kita, paling tidak padamu"


"Tidak mungkin ayah, mereka tidak mengenal siapa aku, lagipula besok aku sudah akan kembali keluar negeri"


"Terserah!!! aku tidak peduli!!! Kamu dan Hadi sama saja tidak berguna!!!" Pak Brata berdiri kemudian pergi meninggalkan Erika yang sedang menahan air mata di hadapan ayahnya

__ADS_1


Air matanya menetes satu persatu setelah ayahnya pergi dari hadapannya. Erika nampak menggenggam erat serbet di tangannya sambil terisak.


"Andai saja ayah seperti paman Praja, yang menyayangi anaknya dengan tulus. Aku mungkin akan lebih bahagia berada di tengah-tengah keluarga ini. Semua yang aku lakukan selalu saja kurang di matanya. Saat aku berprestasi pun ia tidak pernah kelihatan bangga padaku, namun ketika aku gagal segala makian akan keluar dari mulutnya. Aku iri padamu Riri! Apapun yang kamu lakukan, kedua orang tuamu selalu merasa bangga padamu. Di saat gagal mereka juga pasti menyemangatimu dengan sabar. Itu yang tidak pernah aku peroleh di keluarga ini, dan aku merasa sangat kesepian disini" gumamnya dalam hati. Dengan air mata yang berlinang ia melihat sekeliling rumahnya yang megah dan sunyi.


__ADS_2