Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Resmi dibuka


__ADS_3

Ketika kami sampai, semua sudah nampak siap. Damar, Gia dan Pak Doni telah menunggu kami di depan pintu kantor. Kami turun dari mobil untuk segera menemui mereka.


"Riri....!!!" Gia memanggilku dengan gaya centilnya , ia kemudian memelukku dengan sangat erat


"Hahahaha Aku nggak bisa napas Gia" pekikku sambil tergelak


"Ahh sori, aku terlalu bersemangat" ia meregangkan pelukannya


"Kemana aja Gia? Kenapa teleponku tidak pernah diangkat" aku berkacak pinggang pura-pura marah padanya


"Hihihihihi maaf Riri bukannya mau menghindarimu tapi aku malu hahahaha"


"Malu kenapa? Malu ketahuan pacaran sama gorim itu yah hahahahaha. Nggak banget sih alasannya" aku tergelak


"Plok!" Gumpalan kertas mengenai kepalaku. Kertas itu ternyata di lempar oleh Damar, rupanya ia mendengar ucapanku tadi. Aku menoleh ke arah Damar yang sedang berkacak pinggang memandang ke arah kami. Aku menjulurkan lidahku kearahnya.


Sugi yang sedari tadi disebelah Damar hanya tersenyum geli melihat kelakuanku.


Gia menarik tanganku menjauh dari sana. Ia menggigit bibirnya sambil berbisik "aku belum resmi pacaran sama Damar"


"Hah?! Kok bisa?"


Wajah Gia berubah sedih


"Belum resmi tapi aku yakin kalian sudah..." Aku memonyongkan bibirku meniru orang berciuman


Ia menutup mulutnya menahan tawa, Gia mencubit pinggangku gemas "Riri ahhh... "


"Sakit Gia..Hahahaha kenapa sih? Ada masalah apa?"


"Kami berdua sepertinya takut untuk berhubungan serius Riri. Karena sebentar lagi dia kan harus kembali keluar negeri. Dan kami berdua belum siap eLDeeR-an. Masa, pacaran baru sebentar udah ditinggal jauh. Aku nggak bisa kayak gitu"


"Ya kalau nggak bisa kenapa nggak bubar aja. Gampang kan?! Lagian kalian kan belum jadian"


"Masalahnya kami sama-sama ngerasa cocok. Aku suka banget sama kakakmu, dia tipe idaman aku" Gia menunduk sedih


"Astaga.... Kamu kan bisa nyusulin dia kesana sesekali. Kak Damar juga pasti kembali, dia harus bolak-balik mengurusi bisnisnya. Malah sekarang komunikasi bisa lewat video call juga kan?"


"Tapi aku maunya nempel terus sama dia, gimana dong?"


"Kalau pun kakak masih lama disini, apa kalian bisa bertemu setiap hari terus nempellll gitu?"


Gia menggeleng


"Tuh nggak juga kan?! Kalian sama-sama punya kesibukan luar biasa. Kalau mau lanjut ya harus komitmen, biar hubungannya bisa jalan terus"


"Aku tahu. Tapi aku takut dia kecantol cewek lain disana, mana cewek-cewek bule biasanya bebas banget, aku bisa apa Ri? Aku takut patah hati sama hubungan ini. Aku benar-benar memujanya Riri" mata Gia berkaca-kaca


"Ck!" Aku memeluknya erat "sudah sempat membicarakan ketakutanmu ini sama dia?"


"Belum, gimana mau ngomong kayak gitu. Aku sama dia aja nggak jelas hubungannya"


"Kakakku nggak pernah bilang suka sama kamu?"


Gia menggeleng "secara langsung gitu sih nggak, tapi kita beberapa kali jalan bareng, kissing bahkan mulai..cukup... jauh" ia berbisik pelan lalu menutup wajahnya karena malu


"Duh kak Damar itu kenapa sih? Dulu dia nggak gitu kok. Sebaiknya kamu tanyakan saja langsung sama dia, jangan mau digantung begini. Aku lebih suka kalau semua hal itu jelas Gia. Atau jangan-jangan dia menunggu waktu yang tepat?"

__ADS_1


"Bisa jadi, aku juga kaget waktu dia mengajakku datang ke acara ini"


"Apa perlu aku menanyakannya nanti?"


"Jangan, biar aku aja Ri. Mungkin nanti malam setelah acara selesai. Setelah aku pikir-pikir, benar katamu. Aku harusnya menanyakannya langsung pada Damar"


"Nah gitu dong. Tenang saja Kak Damar itu tipe laki-laki yang memegang ucapannya Gia. Sekali dia berjanji pasti ditepati. Kayaknya nggak ada yang berubah dari sifatnya itu"


"Doakan aku ya Ri, aku tiba-tiba merasa gugup"


"Halah palingan dia juga takut kehilangan kamu Gia. Jadi dia merasa harus berhati-hati mengutarakan isi hatinya. Kabari aku yah apapun hasilnya nanti" aku mengelus lengannya


"Iyah pasti. Semangat... semangat!!!" Ujarnya sambil mengepalkan tangannya


Sebuah mobil mewah berwarna hitam terlihat memasuki tempat parkir kawasan ruko ini.


"Paman dan Bibiku sudah datang Gia, nanti aku kenalkan pada mereka"


Gia memandangku, ada perasaan ragu dan khawatir dimatanya


"Tenang, mereka orang-orang baik dan menyenangkan seperti aku dan Damar. Kami kayak mau ketemu camer aja hahahaha" aku tergelak


Gia memukul lembut lenganku sambil ikut tergelak


Kulihat paman dan Ibu Ina turun dari mobil mereka


"Sini ikut aku" aku menarik lembut tangannya


"Bu Ina, paman, selamat datang di kantor baru kami" sahut Damar sambil mendekati mereka


Mereka nampak tersenyum melihat Damar datang menyambut


"Terimakasih paman, doakan kami yah" jawab Damar sambil mencium punggung tangan Paman Arya kemudian melakukan hal yang sama pada Bu Ina lalu Damar memeluknya erat


"Pasti Damar, kami sangat gembira bisa hadir hari ini"


"Iyah Ibu Ina selalu mendoakan kalian berdua agar diberikan kesuksesan dan kebahagiaan" timpal Bu Ina sambil mengusap punggung Damar di sebelahnya.


"Bu Ina dan paman Arya Sudarma selamat datang" sapa Riri kemudian mencium punggung tangan paman Arya dan Bu Ina bergantian


Bu Ina pun memeluknya erat


"Ini siapa Riri, cantik sekali" mata Bu Ina tertuju pada seorang gadis yang berada di belakang Riri


"Perkenalkan ini Gia, coba Bu Ina tanya Damar. Gia ini siapanya dia" sahutku sambil menahan tawa


"Saya Gia Bu, pak" Gia menyalami Bu Ina dan paman Arya bergantian


Damar terlihat salah tingkah, ia menyisir ke belakang rambutnya yang lebat.


"Gia teman dekat saya Bu, paman" jawabnya singkat


"Ahh masa teman dekat, bukannya calon istri? Yang benar dong Damar hahaha" tembak Bu Ina sambil tergelak disambut gelak tawa yang lain


"Cieeee!!! Kak Damar!!!"


"Kalau sudah ketemu yang cantik begini disegerakan loh ya, awas nanti di tikung yang lain, Hati-hati! Hehehehe" Lanjutnya lagi sambil terkekeh

__ADS_1


Ujaran Bu Ina membuat suasana menjadi riuh.


Damar hanya ikut tertawa karena tak mampu menjawab ucapan Bu Ina. Sesekali ia menoleh ke arah Gia yang tersenyum malu dengan wajah yang mulai merah padam.


Ia merangkul Gia "Bu Ina hanya bercanda ya Gia, kita semua disini senang bercanda. Nanti kita mengobrol lebih banyak lagi"


"Iyah Bu" jawab Gia pelan


"Nak Sugi kemari" ia memanggil Sugi yang sedang berdiri di belakang Damar


Sugi melangkah mendekati Bu Ina "Ya Bu"


"Ini loh pak, tamu istimewa kita satu lagi" Bu Ina menoleh pada suaminya


"Pak Arya Sudarma, apa kabar?" Sugi berkata sambil mengulurkan tangannya hendak menyalami paman Arya


Paman menyalami Sugi "Saya baik, wah senang bisa bertemu disini bapak Sugi Direktur utama Wijaya Grup" seru paman Arya terlihat bersemangat


"Jangan terlalu formal pak" ujar Sugi merasa tidak enak


"Kalau begitu panggil saya paman Arya saja ya"


"Baik paman"


"Riri, kapan mau mengajak nak Sugi mampir kerumah?" Paman Arya melihat kearah Riri


"Segera paman, usai keribetan hari ini saya pasti jadwalkan mampir ke sana"


Paman Arya terlihat mengangguk sambil tersenyum


"Halah, dari kemarin-kemarin ngomongnya segera hahahaha pasti sibuk pacaran" ujar Bu Ina sambil tertawa


"Ahh Ibu aku belakangan beneran nggak sempat kemana-mana"


"Tenang saja Bu Ina dan paman saya sendiri yang akan menjadwalkan untuk mampir kerumah kalian. Dalam waktu dekat saya akan mengabarkannya" sahut Sugi


"Kalau nak Sugi yang berjanji, Bu Ina percaya kok"


Riri terlihat manyun melingkarkan tangannya pada bahu Bu Ina "ahhhh ibu kok malah lebih percaya Sugi" bisik Riri manja


"Ibu kan sudah tidak sabar ada orang penting dan ganteng ini main kerumah. Kalau menunggu janji Riri, aku bisa lumutan hehehe" ia terkekeh sambil mengusap lembut kepala Riri yang bersandar di bahunya.


"Riri memang gitu, marahin aja Bu" celentuk Damar


"Kamu sama aja Damar, bukannya ngajak Gia juga main kerumah, gimana sih hahahaha"


Ucapan Bu Ina kembali membuat suasana menjadi riuh


Damar ikut tergelak sambil menggaruk kepalanya salah tingkah untuk kedua kalinya.


"Ayo kita mulai saja acaranya" Damar akhirnya berkata untuk mengalihkan perhatian Bu Ina saat itu.


Mereka semua berkumpul didepan pintu. Damar dan Riri nampak maju ke depan untuk memberikan sedikit sambutan


"Terimakasih atas kehadiran Bu Ina, paman, Sugi, pak Doni dan Gia di sore hari ini. Saya dan Tari hari ini merasa sangat bersyukur dan bahagia atas kantor baru ini. Ini salah satu impian saya selama ini yang akhirnya bisa terwujud. Semoga usaha yang sedang kami rintis ini bisa sukses dan rejeki mengalir tiada putus di masa depan. Dengan ini kantor baru DnW secara resmi kami buka"


Damar dan Riri bersama-sama memegang gunting untuk memotong pita yang membentang di depan mereka

__ADS_1


Mereka bertepuk tangan dan mengucapkan selamat secara bergantian.


__ADS_2