Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Fansclub


__ADS_3

"Itu Ibumu ya? Apa yang lucu sih?" tanyaku padanya penasaran saat melihat wajahnya yang geli tadi


Sugi pun menceritakan apa yang ibunya katakan tadi.


Aku hanya bisa ikut tertawa mendengar ceritanya


"Tapi kita pasti akan makan disana, besok aku akan menghubungi pemilik Penumbranya langsung"


"Kenapa tidak langsung saja melakukan reservasi?"


"Hmm kamu pasti belum tahu, kalau restauran itu baru beberapa bulan yang lalu mendapat Michelin Star. Biasanya waiting list mereka memang sudah panjang, apalagi setelah mendapatkan penghargaan itu. Bisa kamu bayangkan kan?!, kalau aku reservasi langsung, berapa hari kita harus menunggu untuk sekedar makan disana?"


"Mendengarnya saja sudah membuat mood makanku hilang" aku mengernyitkan dahi


"Hahahaha makanya aku bypass saja. Palingan kita menunggu sehari dua hari"


"Makanannya enak banget yah? Sampai harus seperti itu?"


"Aku nggak tahu, aku kan juga belum pernah makan disana"


"Memangnya pemilik resto itu siapa sih?"


"Namanya pak Bram. Keluarganya memang turun temurun mengelola bisnis restauran"


"Oh pantas" ujarku sambil menyesap sebotol bir dingin di meja makan usai makan malam tadi


"Kalau bukan karena pekerjaan, aku juga sebenarnya malas ke Restauran Fine Dining seperti Penumbra ini. Aku lebih nyaman bisa makan sambil mengobrol santai begini" ia menarik tanganku, agar aku duduk di pangkuannya


"Mana bisa aku melakukan hal ini kalau makan di tempat serius" ia memeluk pinggangku erat dari belakang saat aku menjatuhkan tubuhku di pangkuannya


Aku menyandarkan punggungku dengan nyaman "Mau menginap lagi malam ini?"


"Mmmm... yah kalau kamu memaksa, aku nggak bisa menolak hehehe" ia terkekeh, wajahnya bertumpu di pundakku


"Sayang, kapan Silvi mulai melakukan pekerjaannya?" tanyaku karena tiba-tiba teringat pada pembicaraan tadi


"Katanya dua hari lagi baru bisa ke properti itu"


"Cie fans setia akhirnya kembali hahahaha" aku terkekeh


"Ck!" Keningnya berkerut


"Bagaimana kalau aku usul nama fans clubnya jadi FBS, Fans Berat Sam! Hahahaha"


Ia meregangkan pelukannya dan melipat tangannya di depan dada


Aku membalikkan badan, nampak olehku ia menatapku tanpa senyum


"Kamu nggak suka nama fansclubnya? Ya deh aku ganti, gimana kalau Sammy Lovers? Ketua umum fandomnya pasti Silvi hahahaha"


Ia masih menatapku dingin

__ADS_1


"Sudah puas ketawanya?" ia menghela napas


Aku merasa dia sedang kesal luar biasa, tanpa menggodanya lagi aku memeluknya erat "kamu marah? Maaf ya sayang"


"Aku benci sekali wanita gila itu, mendengar namanya saja aku jijik"


"Aku hanya bercanda"


"Aku tahu, maaf mengacaukan leluconmu sayang. Tapi bagiku tak ada satu hal pun yang lucu tentangnya"


"Ya sudah kita tidak usah membahasnya lagi"


"Hmm..., Naik yuk, aku mau mandi dan beristirahat"


"Kamu mau berendam? Perlu aku siapkan air hangat di bathtub?"


"Mau, tapi berendamnya sama kamu ya?" ia menggesekkan dagunya di pundakku


"Lukaku kan belum sembuh benar, masih harus berhati-hati selama kurang lebih dua sampai tiga bulan"


"Kalau begitu temani aku ya?!" Bisiknya pelan


"Mmm..."


"Ya ampun, ini maksudnya saat dia berendam telanj*ng lalu aku duduk di pinggiran bathtub, ya? Apa aku akan secepat itu bisa melihat semuanya dengan jelas malam ini??!!! Astaga.. aku belum siap.." batinku dengan rasa khawatir


Tiba-tiba saja Sugi bangkit lalu menggendong tubuhku yang masih ada dalam pangkuannya. Ia berjalan menuju lantai dua tanpa menunggu jawaban dariku


"Hmm"


"Ta tapi..tapi..aku belum siap untuk melihatmu...itu ..eee... Polos" aku berbisik lemah merasa bingung


"Tapi kan kamu pernah menyentuhnya"


"Kan dari luar, ya ... be..da"


Ia membuka pintu kamarnya dengan perlahan dan menurunkan aku di depan kamar mandinya


"Tolong siapkan air untukku sayang" ia memutar badanku menghadap kamar mandi dan mendorongku pelan-pelan sampai dekat dengan bathtub


"Nanti panggil ya kalau sudah siap, aku mau menghubungi pak Doni sebentar, ada hal yang terlupakan tadi siang" ia mengecup rambutku dan pergi keluar


Dengan perasaan yang bercampur aduk aku mulai membuka keran air, sambil duduk di pinggiran bathtub. Aku merasa super gugup menunggunya seperti ini


"Haduh gimana nih?!! apa yang harus kulakukan ya??...tarik napas yang panjang Riri!" Perintah Riri pada dirinya sendiri.


Setelah berulang kali menarik napas panjang, ia melanjutkan memeriksa suhu air dalam bathtub. Pikirannya mulai melayang kesana kemari memikirkan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Diantara rasa gugup terselip rasa penasaran yang tiba-tiba saja muncul entah darimana


"Tenang Riri, malam ini akan menjadi malam yang sangat luar biasa. Hei!!! Kamu malam ini bisa melihat pemandangan indah yang lengkap loh! ibaratnya seperti melihat pemandangan indah dari sawah dengan padi yang menguning, air jernih yang gemericik, pepohonan hijau disekitarnya, semilir angin dan tentu saja ada penampakan belutnya. Hahahaha... sial otakku kenapa jadi begini sih??!!" Riri memukul-mukul pelan kepalanya sendiri sambil menutup mulutnya menahan tawa


Aku mulai melemparkan bathbomb berwarna hijau kedalam bathtub. Suara mendesis dan buih mulai muncul kepermukaan. Sambil menunggu keseluruhan bathbomb larut, aku berinisiatif menyiapkan lilin aroma terapi dan kuletakkan dipinggiran bathtub.

__ADS_1


Di setiap kamar mandi di rumah ini memang sengaja ku siapkan semua perlengkapan mandi selengkap-lengkapnya. Termasuk lilin aromaterapi beserta koreknya.


"Sudah siap sayang?" tanyanya dengan suara beratnya yang khas


Suara Sugi mengagetkanku


"Eee... Iya baru saja" jawabku tanpa menoleh kearahnya


Ia memutar badanku agar menghadap kearahnya.


Aku menutup mata mengikuti gerakan tangannya


"Kenapa merem? Hahahaha" ia tergelak


"Aku takut, siapa tahu kamu sudah telanj*ng?!"


" Memang, pasti nggak sabaran ya? hahahaa... Buka matanya dulu dong sayang"


Dengan ragu, pelan-pelan aku membuka mata, berharap itu hanya candaannya saja. Benar saja ia masih memakai pakaian lengkap


Tawanya terdengar semakin kencang


"Hahahaha astaga sayang. Aku loh belum melakukan apa-apa"


Ia nampak terpingkal-pingkal melihat wajahku yang bersemu merah


Aku memukul lembut lengannya sebal


"Iyah, Iyah...maaf hahaha tapi lucu banget reaksimu tadi.


Aku mendengus kesal "Dah ah... nyemplung dah sana. Aku mau mandi dibawah" ujarku sambil memutar badan hendak keluar dari kamar mandi


"Eitss... Kan aku mau ditemani sama kamu. Hiks...masa pacarnya berendam ditinggal sendirian" tangannya dengan cepat menarik lenganku dan memasang wajah memelas


"Terus akunya duduk aja gitu, di samping sini?!" Aku menunjuk satu tempat landai disebelah bathtub


Ia mengangguk "Iyah temani aku mengobrol disini. Please baby, sudah lama kita nggak punya waktu untuk hal-hal seperti ini. Setiap kali pulang dan menginap disini kadang kamu sudah tidur duluan. Atau kamu masih semangat, eh malah akunya yang pulang dalam keadaan lelah"


Aku mengangguk "iya sih, kamu benar. Kita sudah mulai jarang mengobrol"


Ia meraih tanganku dan membawanya ke bagian dadanya "Tolong bukakan pakaianku. Aku mau kamu yang melakukannya malam ini" Ia tersenyum lalu melepaskan tanganku dan menurunkan kedua tangannya


Aku menarik napas, sesuai permintaannya aku membuka kancing kemejanya satu persatu. Napasku tiba-tiba saja tercekat saat melihat dadanya yang bersih dan bidang. Dengan perlahan aku menarik naik ujung kemejanya agar bisa kulepaskan.


"Sebentar ya" ujarku lalu menghidupkan lilin aromaterapi yang telah aku siapkan sejak tadi, sambil berharap debaran jantungku bisa normal kembali. Aku kemudian mematikan lampu kamar mandi. Cahaya lilin berpendar keseluruh ruangan diikuti dengan wangi lavender dan Citrus yang samar-samar mulai beredar disekitar Indra penciumanku.


Dengan begini wajahku yang mudah bersemu merah akan tersamarkan, dan tentu saja pemandangan indah di depanku ini tidak terlalu jelas terlihat oleh mataku yang jeli


Ia yang sedari tadi memperhatikan setiap gerakanku cukup terkejut saat lampu kupadamkan


"Wow!!" Katanya sambil tersenyum takjub

__ADS_1


__ADS_2