Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Iba dan tak peduli


__ADS_3

"Aku minta maaf, Sam. Karena kedatanganku mencarimu keadaan jadi seperti ini. Tapi aku benar-benar tidak bermaksud begini" Mita menunduk tidak berani memandang langsung ke wajahnya


"Kenapa kamu datang mencariku?"


"Aku... telah bercerai Sam. Aku tidak bahagia dengan pernikahanku. Aku tahu Itu semua salahku. Aku yang memilih bersamanya. Ternyata kebiasaan buruknya berganti-ganti wanita tidak berubah setelah kami menikah. Aku sudah tidak tahan dengan kelakuannya"


Sesekali mata Mita mencuri pandang ke arahnya yang sedang menatap balik tanpa ekspresi


"Mmmm... Aku datang mencarimu... untuk..." Ia menoleh pada pak Doni , kemudian melanjutkan ucapannya "untuk memintamu kembali padaku, Sam"


Sugi terdiam masih dengan wajah datarnya


Mita menghela napasnya seperti mencoba untuk tidak larut dalam kesedihannya


"Aaaa.. aku tahu aku keterlaluan, tidak berpikir panjang sebelum datang kemari. Aku begitu naif, aku mengira... kamu masih Sam yang seperti aku kenal dulu..." Bibirnya bergetar, ia tak sanggup lagi menahan air matanya.


"Mita, hubungan kita sudah lama berakhir. Dan aku sudah mulai menemukan lagi hidupku yang baru bersama seseorang. Jadi kita lupakan saja semua yang pernah terjadi di antara kita di masa lalu. Aku sekarang menganggap hubungan kita hanya sebatas teman"


Tangis Mita semakin kencang kala mendengar ucapan Sugi ini. Sugi mengambil tisu dari meja sebelah dan memberikannya pada Mita


"Hapus air matamu, maaf waktuku tidak banyak. Aku butuh informasi ketika kamu tiba disini di hari pertama. Aku dengar informasi dari staff, katanya kamu sempat mencariku ke kantor. Apa itu benar?" tanya Sugi tanpa basa basi lagi, ia menoleh ke arah pak Doni untuk bersiap merekam pembicaraan ini


Mita menghapus air matanya yang mengalir deras, ia memaksakan diri untuk menghentikan tangisnya ini. Setelah beberapa saat akhirnya ia bisa mengendalikan dirinya, dengan napas yang masih tersendat-sendat ia mulai bercerita


"Waktu itu... aku memang mendatangi kantormu. Tapi kata staf disana kamu sedang ada perjalanan bisnis keluar negeri. Aku memang berniat akan kembali mencarimu beberapa hari lagi. Setelahnya aku bermaksud untuk pulang, tapi di tengah jalan ada staff lain yang mendekatiku. Sepertinya dia mengikutiku dari awal, namanya Dewi. Dia memperkenalkan diri kalau dia sekretarismu, jadi tanpa sungkan aku menceritakan maksud kedatanganku"


"Dia bahkan menawarkan bantuan agar aku bisa bertemu denganmu. Dia mengajakku mengobrol di suatu cafe yang sepi pengunjung. Karena aku merasa dia baik jadi aku menceritakan semua secara detail padanya"


Sugi nampak merenung "berarti benar apa yang dikatakan staff kantor depan itu, memang hanya Dewi yang patut di curigai" gumamnya dalam hati


"Selain Dewi dan staf kantor depan, apakah ada orang lain yang mengetahui kedatanganmu waktu itu?"


"Tidak ada, mmm ada sih satu orang temanku namanya Eko. Dia teman baik Erik. Mungkin kamu pernah bertemu dengannya dulu"


Sugi menghirup kopinya yang baru saja datang "Mungkin saja aku mengenalnya, tapi aku tidak ingat nama itu" jawabnya sambil meletakkan kembali cangkir yang ia pegang pada lepek diatas meja


"Tapi aku rasa Eko tidak akan berbuat sejahat itu, Sam"


"Rencanaku besok siang kita akan melakukan test DNA di rumah sakit. Detailnya pak Doni akan mengirimkan informasinya padamu. Setelah hasilnya keluar, baru akan kita adakan press conference lanjutan untuk melakukan klarifikasi berita ini


"Apa yang perlu aku jelaskan nanti?"


"Hubungan kita yang telah usai lama, kamu sudah menikah dengan orang lain, ayah anakmu bukan aku, dan tujuan kedatanganmu kemari. Untuk yang terakhir itu aku sarankan kamu mengatakan tidak dengan jujur. Karena akan memperpanjang masalah ini. Katakan saja kalau kamu kemari untuk berkunjung saja, bertemu teman lama"


Mita memejamkan matanya dan menghela napas "aku mengerti" katanya dengan lemah

__ADS_1


"Wartawan pasti akan menunggu kita di rumah sakit, kita akan sedikit kerepotan dengan serangan mereka besok. Kamu hanya perlu diam tidak usah menjawab pertanyaan mereka"


Mita terlihat mengangguk pelan


"Baiklah Mita, pembicaraan kita usai sampai disini. Sampai jumpa besok, jaga dirimu baik-baik" Sugi berkata dengan lembut, ia tiba-tiba merasa kasihan padanya


"Apa... benar-benar tidak ada kesempatan lagi untukku, Sam?"


"Maafkan aku Mita. Setelah sekian lama berlalu semua hal bisa berubah, termasuk perasaan. Saat ini aku telah menemukan seseorang yang benar-benar aku butuhkan. Dia bisa mengimbangi energiku, aku sangat mencintainya" ia tersenyum secara samar. Karena tiba-tiba saja wajah Riri yang sedang menggerutu terlintas di pikirannya.


Saat melihat senyuman samarnya tadi , Mita makin tersadar tempatnya kini telah digantikan oleh seseorang itu. Ia menunduk melihat tangannya yang sedang meremas pahanya sendiri dengan gelisah.


"Aku harus pergi, ada beberapa hal yang harus aku urus hari ini. Terimakasih atas kedatanganmu , aku sangat menghargainya. Sekarang pulanglah dan beristirahat, simpan energimu untuk besok" ujar Sugi sambil berdiri dan beranjak dari sana diikuti oleh pak Doni setelah meletakkan sejumlah uang dibawah cangkir Kopinya


Mita memandangi punggung Sugi yang bergerak menjauh. Ia termenung cukup lama di tempat itu kemudian memutuskan untuk menghubungi Eko untuk meminta tolong padanya agar menjemput. Ia merasa sangat lemah hari ini, bahkan untuk berjalan sekali pun ia merasa tak mampu. Beruntung rumah Eko dekat dengan tempat penitipan anak dan Zac bisa ia titipkan tadi disana sehingga ia tidak perlu khawatir dengan keadaan Zac saat ini.


Air matanya lagi-lagi mengalir meratapi nasibnya yang kini tanpa arah


"Apa perasaan ini yang dulu sempat kau rasakan saat aku meninggalkanmu, Sam? Aku sekarang merasa tak berdaya, hancur berkeping-keping. Semua hal indah yang sempat aku bayangkan beberapa hari yang lalu, kini hanya jadi lelucon bagiku. Aku menyesal Sam!!" Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak. Dadanya terasa sakit teringat akan perlakuannya pada Sugi, sehari sebelum pernikahannya waktu itu.


Sementara itu di dalam mobil, pak Doni nampak sesekali melihat ke arah spion atas. Dilihatnya Sugi sedang diam menatap ke arah jendela mobil.


"Pak, kita langsung ke kantor?" tanyanya untuk mengalihkan pikiran Sugi


"Iyah" ia terdengar menghela napasnya


"Nanti saja, mungkin sekarang dia lagi sibuk. Saya tidak mau mengganggunya"


"Pak Sugi baik-baik saja?" tanya pak Doni kembali dengan wajah khawatir


"Saya hanya sedang merasa iba pada Mita, tapi di sisi lain saya juga merasa tidak peduli. Entah apa nama perasaan ini"


"Menurut saya wajar pak, mungkin karena bapak dan Bu Mita pernah menjalin hubungan, jadi perasaan iba itu muncul. Tapi alam bawah sadar bapak juga memunculkan ingatan rasa sakit saat Bu Mita meninggalkan bapak. Sehingga rasa tak peduli juga muncul berbarengan"


Ia mengangguk pelan "mungkin saja pak Doni benar"


Mobil saat ini telah memasuki area kantor pusat. Wartawan yang nampak menunggu disekitar kantor nampak terkejut dengan kedatangan Mereka. Dari kejauhan mereka sudah bersiap menghampiri, tapi ternyata mereka masuk melalui pintu darurat yang berada lebih dekat dengan tempat parkir mobil.


Semua wartawan nampak kecewa dengan hal itu. Mereka kemudian memutuskan untuk kembali menunggu. Beberapa ada yang menunggu di depan pintu masuk kantor dan sisanya menunggu di depan pintu darurat.


Para staff di dalam juga tercengang dengan kehadiran Sugi secara tiba-tiba dari arah pintu darurat. Mereka satu persatu mulai menyapanya dengan senyuman kikuk.


Seperti biasa Sugi dan pak Doni berlalu melewati staff dengan wajah datar. Mereka langsung menuju ke ruangan pak Danu yang berada dilantai tiga.


"Bu, apa pak Danu ada di dalam?" Tanya pak Doni pada seorang sekretaris

__ADS_1


"Ada pak, sebentar saya informasikan kedatangan bapak ke dalam terlebih dahulu" jawabnya sambil tersenyum, ia sempat melirik ke arah Sugi dengan wajah penuh kekaguman


"Ok" jawab pak Doni


"Selamat sore pak, pak Sugi sudah kembali. Sekarang beliau ada disini untuk menemui bapak"


"..."


"Baik pak" ia menutup teleponnya


Ia menoleh kembali pada pak Doni "Silahkan masuk pak"


"Baik, terimakasih" jawabnya lalu bergegas membukakan pintu untuk Sugi.


"Sam, selamat datang kembali, kapan landing?" tanya pak Danu sambil menghampiri Sugi lalu memeluknya


Pak Doni kemudian menutup pintu ruangan ini lalu mengambil tempat di kursi yang agak jauh dari sana


"Sudah beberapa jam yang lalu yah" jawab Sugi sambil duduk disofa


"Kamu sudah makan? Apa perlu kita ke cafe atas?" Pak Danu ikut duduk di sebelahnya


"Nanti saja yah, belum lapar. Aku tadi bertemu dengan Mita. Seperti yang kita duga sebelumnya ia memang hanya bicara dengan Dewi setelah menanyakanku pada staff kantor depan"


"Kita perlu bukti untuk menjeratnya Sam. Ayah yakin dia tidak bekerja sendiri, pasti ada mastermind-nya"


"Aku juga berpikir seperti itu. Sebentar lagi pak Doni akan ke bagian security untuk memeriksa CCTV disekitar sini dan di depan meja Dewi. Mungkin ada detail yang terlewatkan oleh kita, siapa tahu dari sana ada petunjuk baru"


"Semua sudah diperiksa, Sam. Tapi tidak ada salahnya juga sih memeriksa ulang" jawab pak Danu


"Pak Doni juga telah menghubungi seseorang untuk membantu kita, agar bisa mendapatkan daftar nomor yang dihubungi oleh Dewi dua minggu terakhir termasuk pesan yang masuk dan keluar di ponselnya. Sebentar lagi kita akan mendapatkannya. Oh iya satu lagi aku juga meminta pak Doni untuk mendapatkan informasi rekening koran Dewi dari bank"


Wajah pak Danu terlihat kaget kemudian ia tersenyum "kenapa ayah tidak berpikir sejauh itu ya?"


"Aku juga baru kemarin mendapatkan ide tersebut. Mudah-mudahan saja Dewi tidak sepintar itu memilih aplikasi tertentu untuk mengirimkan pesan"


"Kenapa begitu, Sam?"


"Kalau dia pintar, dia akan menggunakan satu aplikasi tertentu sehingga komunikasinya dengan si Mastermind benar-benar aman, tidak bisa kita hack sama sekali"


Pak Danu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya


"Pak Doni, sebaiknya bapak ke ruangan pantau CCTV sekarang" Sugi menoleh pada pak Doni


"Baik pak, saya kesana sekarang. Permisi pak Danu" ujar Pak Doni beranjak dari sana

__ADS_1


"Silakan" ujar pak Danu


__ADS_2