
Kami masuk melalui lorong panjang menuju aula tempat acara. Di tengah jalan aku melihat sesosok perempuan bergaun merah dengan potongan seksi berdiri di hadapanku. Dia berdiri di dampingi dua orang laki-laki, satunya berbadan besar berotot dan satunya lagi kurus berkacamata. Perempuan itu nampaknya sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Bu masa aku kemari cuma sama dua orang ini, ibu nggak ikut?". "Hah?! Ck! Tahu gini kan tadi mendingan nggak usah kemari" katanya dengan nada kecewa. Suara itu terdengar seperti milik seseorang yang sangat dikenali oleh Riri.
"Sebentar yah Bu" kataku pada Bu Yuli. Langkahnya terhenti melihatku berjalan menghampiri perempuan bergaun merah itu.
"Mbak gaun merah, godain kita dong" ujarku padanya
Perempuan itu menoleh, laki-laki berbadan besar yang sedari tadi bersamanya dengan cekatan menghadang jalanku.
"Aaaaa... Omaygod Riri!!" Pekiknya kegirangan mendekat padaku kemudian memelukku erat
"Hahahaha" aku tertawa sambil membalas pelukannya
"Cantik banget Gia" kataku usai melepas pelukannya
"Kamu di undang juga Ri? Iyah spesial datang kemari kan memang harus cantik"
"Aku nemenin atasanku, sini aku kenalin" aku menarik tangannya. Dua orang laki-laki dibelakang Gia masih tetap mengikutinya
"Eh kenapa dua orang laki-laki dibelakangmu ini ikut terus"
Gia tergelak "Hahahaha satunya bodyguard aku, satunya asisten"
"Dih gaya banget"
"Nanti deh aku ceritain" ujarnya dengan wajah geli
Setelah sampai di depan ibu Yuli aku memperkenalkan Gia kepada Bu Yuli
"Bu Yuli kenalkan ini Gia teman sekantor saya dulu di Hotel Z. Gia ini Bu Yuli atasanku sekarang di Villa Padi"
Mereka bersalaman menyebut nama masing-masing, nampak Gia mengeluarkan kartu namanya dan diberikan pada Bu Yuli.
Wajah Bu Yuli agak terkejut "Gianina Monika, Lanina Grup" dia membaca kartu nama yang diberikan oleh Gia
Bu Yuli menoleh pada Gia "Maaf Bu Gia kalau saya tidak salah, apa anda putri dari bapak Kusuma?"
"Iyah saya putri beliau, darimana ibu tahu?"
"Saya dulu pernah bekerja di salah satu travel agent milik Lanina Grup. Sewaktu sopir beliau kecelakaan saya yang menjemput Anda saat masih sekolah dulu"
"Iyah saya ingat, ibu yang jemput saya pakai sepeda motor kan hahaha" Tawa Gia pecah
"Iyah itu saya, waktu itu ayah Anda minta tolong saya tapi saya bingung karena jalanan macet, taksi juga tidak ada yah terpaksa saya jemput pakai sepeda motor saya" kata Bu Yuli sambil tersenyum
"Karena saya ngambek telat dijemput, Ibu membelikan saya es krim kan?? hehehe" Gia kembali terkekeh
"Hehehehe waduh ternyata Anda masih ingat" ibu Yuli ikut terkekeh
Sementara mereka mengobrol aku hanya bisa bengong mendengar kalau ternyata Gia adalah anak dari seorang pemilik travel agent yang sukses. Bisnis travel agent yang mereka miliki saat ini sedang berkembang cukup baik "entah lini bisnis apalagi yang mereka miliki saat ini" gumamku dalam hati
"Sampaikan salam saya pada pak Kusuma yah, kalau beliau masih ingat"
"Tentu Bu Yuli nanti saya sampaikan, terimakasih sudah menjemput saya waktu itu"
"Dengan senang hati" jawab Bu Yuli
__ADS_1
"Nah sekarang saya pinjam Riri dulu yah Bu, sebentar saja" katanya lagi
"Silahkan, saya tunggu didalam saja. Nanti nyusul yah Riri. Saya jangan ditinggal sendiri" ujarnya padaku
"Baik Bu" kataku pada Bu Yuli yang langsung melangkah kembali menuju aula.
Dengan wajah menyesal Gia berkata "Maaf yah Ri, aku nggak pernah cerita tentang latar belakang keluargaku"
"Tidak apa-apa Gia, semua punya rahasia sendiri dalam hidupnya. Aku pun begitu, nanti kalau aku merasa sudah siap aku akan menceritakan juga padamu"
"Nggak marah kan?"
"Kenapa harus marah?, Lagipula aku sudah menduganya dari awal kalau kamu ternyata dari keluarga yang berada. Aku bisa lihat dari apa yang kamu pakai, walaupun tidak kelihatan bermerk tapi aku tahu semua benda yang menempel di kamu itu mahal"
"Wahhh kelihatan yah? Eh iya aku janji mau bayarin cicilan sepeda motormu kan?"
"Oh iya aku kenapa lupa bayar bulan ini sih, aneh banget kenapa tagihannya belum masuk notifikasi ya? Besok deh aku cek"
"Aku ikutttt kan mau bayarin"
"Terimakasih niat baikmu tapi Nggak usah ya Gia? Aku masih mampu kok, serius" kataku dengan wajah yakin
"Ya sudah, kalau nanti kamu kesusahan kasih tahu yah Ri"
"Iyah siap Bu Gia, anak pak Kusuma hehehe" candaku sambil terkekeh
Gia nampak ikut tertawa geli mendengar ucapanku
"Eh Riri keren banget sih outfitnya hari ini, duh coba buka maskernya. Aku mau lihat"
Aku membuka masker diwajahku
"Kamu juga hari ini lebih cantik dari biasanya, gaunnya apalagi, wow!" Mataku terbelalak
Gia terbahak "Hahahaha eh aku ada cerita lucu. Si menor ternyata sering belanja di butik kesayanganku. Tapi dia bayarnya nyicil sampai setahun ih cuih! Gayanya aja sok banyak duit!! Terus kan dia lagi ngincer gaun ini, aku yakin dia mau pakai gaun ini kemari"
"Terus gimana" aku bersemangat mendengar ceritanya
"Aku beli aja cash, aku bayar lebih biar gaunnya dikasih ke aku. Rasain lu! Hahaha"
"Hahahaha ada-ada aja sih"
"Aku sebenarnya nggak terlalu suka yang seksi begini, tapi demi balas dendam aku akan lakukan apapun itu" kata Gia berapi-api
Aku hanya bisa menggeleng mendengar ceritanya
Tiba-tiba ada suara berdehem keras sekali dibelakang kami
"EHMMM!!"
Kami otomatis menoleh ke arah suara itu, Suci nampak berdiri dengan pose menantang didepan kami.
"Si menor panjang umur nggak sih?!" Bisik Gia di telingaku
"Ada dua kutu rupanya disini?" Ujar Suci, matanya kemudian menyusuri gaun yang dikenakan oleh Gia. Ia nampak kaget, wajahnya berubah semakin kesal
"Kenapa? Bagus kan gaun yang aku pakai. Situ paling nggak bisa beli, kalaupun bisa pasti nyicil. Perabotan kali ah pake nyicil hahaha" nyinyir Gia sambil tertawa
__ADS_1
"Gia ah! hahahaha" aku ikut tertawa mendengar ucapan Gia
"Awas yah kalian..."
"Awas apa? Lapor si Hartono? Sana!! Lapor aja. Sekalian lapor ke polisi gih sana. Ngaca dong, situ beda level sama kami" Gia lagi-lagi mengoceh memotong perkataan Suci
"Yuk Ri, kita masuk aja. Disini hawanya nggak enak. Kayak ada hawa nenek keriput" Gia menarik tanganku masuk ke dalam aula.
Tangan Suci melayang hendak menjambak Gia, tapi di tepis dan didorong oleh bodyguard Gia dengan sigap. "BHUG!!" Suci jatuh terguling
Semua orang yang lewat berlalu lalang kaget melihat Suci yang jatuh mengenaskan. Suci hendak memaki Gia dan Riri tapi urung ia lakukan karena banyak orang yang tiba-tiba datang mengerubunginya.
"Jatuh lagi tuh Suci" kataku pada Gia
"Biarin ajalah, paling di hajar bodyguard ku" kata Gia nyengir, aku hanya bisa menghela napasku.
Gedung aula yang dimiliki oleh Wijaya Grup ternyata sangat luas. Aulanya seperti disulap mirip ballroom. Aku mencari keberadaan Bu Yuli di tengah-tengah kerumunan. Terdapat banyak meja bundar dan kursi yang diatur sedemikian rupa. Masing-masing meja sudah berisi tulisan nama undangan. Dari tulisan banner di panggunglah aku tahu ternyata ini adalah acara Ulang tahun Wijaya Grup. Aku manggut-manggut sendiri membaca tulisan tersebut.
"Kayaknya duduknya pisah deh" aku berkata pada Gia yang terlihat kecewa
"Sepertinya begitu, coba aku minta sama mbaknya yang disana biar kita bisa duduk bareng" Gia mendekati seseorang petugas wanita yang sedang membantu undangan yang datang
Gia kembali padaku dengan wajah girang "Bisa katanya"
Kulihat staf tersebut menukar nama yang ada diatas meja dengan nama Gia disebelahku
"Yes, yuk duduk ri" ajaknya
"Terimakasih yah mba" kataku pada staf tadi
"Sama-sama Bu" jawabnya kemudian berlalu
Bu Yuli berdiri saat kami sampai
"Duduk aja Bu Yuli, tidak usah formal" kata Gia
Bu Yuli tersenyum lalu kembali duduk di tempatnya
"Aku ingin tahu yak, kenapa waktu itu memilih bekerja jadi staff biasa?" Tanyaku dengan wajah penasaran
"Yah pengin aja ri. Sebelum aku mengambil tanggungjawab besar ini aku mau sedikit merasakan kebebasan seperti orang lain. Orang tua sih waktu itu udah ngasih ultimatum, aku boleh bebas selama 5 tahun saja dan ini tahun terakhirku. Waktu kamu resign aku langsung berpikir untuk memulai saja tanggungjawab ini"
"Oh gitu" aku mengangguk
"Eh Sugi apa kabar?! Kalian baik-baik saja kan?" Bisiknya ditelingaku
"Aku sudah sebulan nggak ketemu dia, dia sudah pergi dari Eat and Love. Katanya ganti manager. Entah kemana dia sekarang ditugaskan, aku juga nggak tahu"
"Kan kamu ada nomor dan ponselnya dia, kenapa nggak tanya aja sendiri?"
Aku menggeleng "aku merasa tidak pantas aja menghubungi dia secara kasual. Kan nggak ada yang penting"
"Ihh Riri gimana sih? Laki-laki seganteng itu kamu cuekin?!" Gia gemas sendiri kemudian menggeleng tak sanggup lagi melanjutkan omelannya pada Riri
"Kita hanya sebatas atasan dan bawahan Gia" kataku pelan, terselip sedikit rasa sedih di dalam hati Riri mengingat Sugi yang entah sekarang ada dimana
"Ya sudahlah kalau berjodoh pasti akan bertemu lagi yah Ri" Gia menatapku kemudian mengedipkan satu matanya
__ADS_1
Aku tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah Gia