Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Rumah Sakit


__ADS_3

Untung saja Pak Doni berada tepat di belakang Hadi. Ia memiliki insting yang baik untuk hal-hal seperti ini karena terbiasa waspada sepanjang kegiatan penyerangan sedari menjadi preman di masa lalu.


Dengan refleks Pak Doni menendang bokong Hadi ke samping sehingga tembakannya meleset. Ia pun juga segera menendang senapan yang terlepas dari tangan Hadi hingga terpental jauh dari sana.


Saking kerasnya tendangan Pak Doni tanpa sengaja kaki kirinya menghantam batu besar. Pak Doni yakin kaki kiri Hadi mengalami cedera berat akibat hantaman tersebut.


Anak buah pak Doni pun buru-buru memungut senapan tersebut dengan bantuan sehelai handuk yang mereka temukan di tali jemuran. Mereka tak mau sidik jarinya menempel pada senapan itu sebagai barang bukti ke pihak berwajib.


Hari sudah mulai terang ketika pihak berwajib datang dengan pasukannya. Mereka membawa Hadi yang nampak terkulai lemas beserta anak buahnya.


"Saya akan temui bapak nanti di kantor untuk kelengkapan laporan" ujar Pak Doni pada pihak berwajib


Sebuah helikopter juga nampak mendarat tak jauh dari sana untuk menjemput. Sugi menggendong tubuh Riri yang kelelahan naik ke atas helikopter disusul oleh Damar dan Dion. Sedangkan pak Doni dan Ridwan beserta anak buahnya kembali mengggunakan jalur laut.


Dalam helikopter Sugi memeluk erat tubuh Riri. Ia hampir saja menangis saat melihat sekujur tubuhnya yang dekil dan kakinya yang kotor tanpa alas dipenuhi dengan luka dan darah yang mengering. Perasaan bersalah dan menyesal bergelayut dalam hatinya.


Begitu pula Damar dan Dion mereka terdiam tenggelam dalam benaknya masing-masing usai melihat keadaan Riri.


Ponsel Sugi bergetar, Bu Rita melakukan panggilan. Namun karena mereka sedang berada dalam penerbangan yang bising ia tak bisa langsung menjawab telepon.


Ia pun mengetik pesan untuk ibunya


"Riri sudah ketemu bu, dia baik-baik saja. Hadi dan komplotannya juga sudah diamankan oleh pihak berwajib. Sekarang kami sedang menuju ke rumah sakit"


Tak lama balasan pun diterima


"Syukurlah Riri selamat, nanti kabari ibu kalau kalian sudah sampai di rumah sakit. Ibu sedang dalam perjalanan untuk menjenguk Silvi, tidak enak rasanya pura-pura tidak tahu. Ibu hanya ingin melihat keadaannya"


"Ok" jawab Sugi lalu menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku kemejanya.


Sementara itu di dalam Rutan Silvi berteriak-teriak tak karuan, ia mengoceh sendiri seperti orang gila yang mengamuk. Kondisinya ini semakin memburuk sejak semalam. Beberapa orang yang berada dalam satu sel dengannya sampai harus di ungsikan ke tempat lain. Keluarganya telah dihubungi, namun mereka mengabarkan baru akan tiba keesokan harinya.


Bu Rita baru saja tiba, ia bersama asistennya menuju tempat dimana Silvi di tahan. Setelah melapor dan mengisi buku tamu ia diantarkan masuk ke dalam.


Wajah Bu Rita terlihat kaget, ia merasa prihatin melihat keadaan Silvi. Rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat dan pakaiannya dekil. Ia berjalan mondar-mandir sambil mengoceh sendiri dan sesekali berteriak. Bu Rita tak jelas mendengar apa yang sedang dia bicarakan di dalam. Ia pelan-pelan mendekat dengan perasaan tak nyaman.


"Silvi..." panggil Bu Rita pelan


"Silvi ini Tante, Silvi"


Langkah Silvi terhenti ia menoleh ke arah Bu Rita. Dengan cepat ia mendekat dan menempel pada jeruji besi, senyumannya mengembang.


"Tante... hehehehe.. aku nggak salah. Mereka menjebakku. Aku nggak salah Tante...tolong aku. Aku mau keluar hikss..." Silvi menangis meraung-raung


"Orang tuamu nanti malam tiba disini, nanti coba tante bicarakan dengan orang tuamu"


Wajah Silvi berubah kaget, matanya menatap nanar. Pelan-pelan ia mundur ke belakang sampai menyentuh tembok dibelakangnya.


"Mereka tidak boleh tahu, tidak boleh Tante... tidak boleh. Bantu aku tolong... aku wanita baik-baik Tante. Aku wanita baik huaaaa" ia lagi-lagi menangis


"Silvi, tenangkan dirimu. Tante hanya bisa membantumu kalau kamu mau bekerjasama dengan mengakui kesalahanmu"


"Bukan aku Tante,... aku nggak salah apa-apa" ia menggeleng, sejenak kemudian ia tersenyum lalu mendekat kembali


"Tante, aku pasti bisa keluar dari sini hehehehe. Tahu nggak?! Sam dan aku kan mau nikah. Sam belum memberitahu ya??! Kami berencana untuk menikah dalam waktu dekat" ujar Silvi manja sambil bergelayut pada jeruji besi


"Sttt...tante aku hamil hahahaha ini buah cinta kami. Aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di seluruh dunia" ia mengelus perutnya sambil berputar-putar kegirangan


Dahi Bu Rita berkerut memperhatikan gerak geriknya yang aneh.


"Iyah wanita kampungan itu.... dia mau merebut Sam dariku!!! Keluarkan aku dari sini Tan!!! Jangan sampai dia merebut Sammy dari tanganku lagi!! Hiikksss" ia menangis lagi. Silvi kemudian nampak berjongkok, mendadak ia memuntahkan semua isi perutnya di atas lantai sel.


Pemandangan ini membuat Bu Rita semakin prihatin. Ia memejamkan matanya sembari menarik napas dalam-dalam lalu menoleh pada asistennya yang berdiri tak jauh dari sana.


"Ya Bu" ujarnya sembari menghampiri Bu Rita


"Tolong koordinasi sama petugas disini, agar kita bisa mengirim seorang dokter untuk memeriksa kesehatan Silvi. Saya tunggu laporannya, segera"


"Baik Bu"

__ADS_1


"Saya tunggu di mobil saja ya" ujar Bu Rita lalu berlalu


Asistennya mengangguk dan menjalankan perintah dari Bu Rita


Beberapa saat asistennya pun kembali, mereka melanjutkan perjalanan.


Di dalam kamar rawat inap VIP, Riri baru saja tertidur usai meminum obat yang diresepkan oleh dokter. Luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya terutama bagian kaki nampaknya juga telah dibersihkan dan diobati.


Damar menghentikan Sugi yang berniat untuk menemani Riri di sebelahnya.


"Jangan Sam, biar Riri dapat istirahatnya full" ujarnya berbisik


"Aku kan cuma mau duduk disebelahnya" jawab Sugi dengan wajah sedih


"Aku nggak yakin tanganmu bisa diem. Paling diemnya cuma bisa 10 detik, abis itu pasti elus-elus rambut sama pegang-pegang tangannya. Ya kan?!"


"Nggak"


"Halah, mending temenin aku makan siang" sahut Damar sambil setengah menyeret Sugi ke ruang tamu


"CK!" Sugi menghela napasnya, ia pun mau tak mau akhirnya harus setuju beranjak dari sana


"Pak Doni sama Dion kemana ya?" tanya Damar kemudian saat mereka sedang menyantap makan siang


"Mereka masih berada dikantor polisi, sebentar lagi kemari"


"Riri benar-benar beruntung Sam, dokter bilang dia dalam keadaan fit. Hanya kelelahan saja. Tidak ada tanda-tanda kekerasan lainnya"


"Iyah benar. Kasihan Riri, semalam dia pasti harus memutar otaknya agar bisa selamat. Aku merasa gagal melindunginya"


"Sudahlah Sam, semua sudah berlalu. Semoga saja setelah ini tidak terjadi lagi hal-hal mengerikan yang bisa mengancam nyawanya"


Sugi mengangguk "Ridwan akan aku tunjuk sebagai sopir sekaligus Personal asistan untuk Riri. Menurutmu bagaimana? Aku merasa khawatir kalau dia harus menyetir sendiri"


"Yah boleh, asal adikku tidak merasa terkekang Sam. Kamu tahu kan Riri seperti apa?!"


"Eh pak Yuda gimana nasibnya? Dia selamat?"


"Iyah dia selamat, Untung saja dia hanya dibuat pingsan"


"Gila yah, Silvi benar-benar jahat. Aku nggak menyangka dia bisa sekejam itu"


Ponsel Sugi bergetar


"Sebentar ya Yo, ibuku menelpon" ujar Sugi lalu bergegas keluar ruangan.


Damar mengangguk


"Hamil? Yang benar Bu?" Wajah Sugi terlihat kaget


"Iyah, itu laporan hasil dari pemeriksaan dokter tadi. Dan kamu tahu?! Keadaan Silvi benar-benar memprihatinkan. Mentalnya terganggu, dia jadi kayak kurang waras"


"Terus itu jadinya anak siapa Bu?"


"Menurut pengakuan Silvi itu anakmu katanya"


"Hah!!!?"


"Hahahaha hayo loh tanggungjawab Sam. Kamu berbuat apa sama dia?" Goda ibunya


"Orang gila!!! Umpat Sugi


"Hahahaha" ibu Rita kembali terbahak-bahak


"Ibu kapan kemari?"


"Ini lagi dijalan, tadi mampir ke warung langganan untuk makan siang sebentar terus beli kue juga buat Riri. Biar dia semangat!"


"Nah gitu dong Bu, itu baru berita baik"

__ADS_1


"Hahahaha dasar kamu. Riri gimana keadaannya"


"Lagi istirahat, kata dokter sih hanya kelelahan"


"Baguslah tidak ada yang serius. Pikiran ibu sudah kemana-mana sejak semalam"


"Dia menjaga dirinya dengan baik Bu, aku merasa sangat bersyukur"


"Iyah ibu juga. Limabelas menit lagi ibu sampai disana. Nanti kita ngobrol lagi"


"Ok"


Sugi pun memasukkan ponselnya dan kembali ke ruangan


Dari kejauhan terdengar hentakan langkah kaki yang terburu-buru. Seseorang mengetuk pintu ruangan ini. Tanpa menunggu jawaban, orang tersebut membuka pintu dengan perlahan.


Damar dan Sugi menoleh bersamaan


"Damar!!! Riri mana? Bagaimana keadaannya?" Suara Bu Alina terdengar parau, wajahnya memerah. Ia terlihat sibuk menghapus air mata yang menetes di pipinya. Ia ingat bagaimana paniknya dia saat mendapat kabar dari Bu Rita mengenai penculikan Riri sejam yang lalu.


Walaupun menurut informasi Bu Rita keadaan Riri baik-baik saja, namun tetap saja ia tidak bisa tenang sebelum melihatnya sendiri. Hingga akhirnya ia buru-buru datang ke rumah sakit ini.


"Loh Ibu" sahut Damar terkejut


Ia menepuk pundak Damar agak keras "Kamu loh, kenapa nggak bilang ada kejadian begini sama Bu Ina. Kalau terjadi apa-apa sama Riri gimana? Kenapa Bu Ina nggak dikabari?!" Kata Bu Alina terdengar kecewa bercampur khawatir


Damar memeluk erat Bu Alina "Maafin Damar bu. Kejadiannya benar-benar mendadak, jadi nggak kepikiran menghubungi siapapun. Maunya Damar menghubungi ibu setelah Riri baikan, biar nggak jadi pikiran"


Bu Alina menangis tersedu-sedu "Nanti nggak boleh gini lagi. Ibu Ina kan ibu kalian juga, jangan menganggap ibu orang lain Damar"


"Iya Bu Damar mengerti, lain kali nggak begini lagi" ujar Damar sambil menahan harunya


Bu Alina melepaskan pelukannya "Terus sekarang Riri mana?"


"Lagi tidur Bu di dalam, dia kelelahan. Keadaannya baik bu, hanya luka-luka ringan saja"


Sugi hanya bisa terdiam, rasa bersalahnya kembali muncul saat melihat kesedihan Bu Alina.


"Duduk dulu Bu, Damar akan ceritakan semuanya pada Ibu"


Bu Alina pun duduk.


"Bu Alina" sapa Sugi dengan raut wajah Sugi yang gelisah.


"Sebelum Damar bercerita saya ingin minta maaf Bu. Gara-gara saya Riri hampir saja celaka" ujar Sugi


"Nak Sugi, ibu sama sekali tidak menyalahkanmu atau Damar. Ini namanya musibah, siapa sih yang menyangka mereka akan melakukan hal sejahat itu?!. Yang penting kan sekarang Riri dalam keadaan baik" Kata Bu Alina sambil menghapus sisa-sisa air matanya


Mendengar itu perasaan Sugi menjadi sedikit lebih lega.


Mereka pun mulai menceritakan semua yang terjadi, termasuk berita Silvi yang ternyata sedang mengandung pada Bu Alina.


Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan histeris dari dalam kamar rawat.


"HAAAAAAAA!!!! JANGANN!!!....KAKAKKK!!!" suara teriakan Riri mengagetkan mereka. Sugi melompat dan berlari masuk ke kamar disusul oleh Damar dan Bu Alina


Riri sepertinya mengigau, ia menangis tersedu-sedu dengan mata terpejam. Buru-buru Sugi memegang tangannya dan memanggil-manggil namanya


"Riri...Riri ini aku...Sugi.. kamu bisa mendengarkan aku?"


Mata Riri perlahan terbuka, ia nampak tegang dan bingung. Namun perlahan ada kelegaan yang terpancar di wajahnya.


"Astaga...!! Ya ampun... Untung saja itu hanya mimpi" ujarnya pelan


Bu Alina pun mendekatinya "Riri sayang, ini Bu Ina datang" ujarnya langsung memeluknya


Tangis Bu Alina kembali pecah dibarengi oleh Riri yang juga menangis melihat Bu Alina ternyata juga ada disana.


Suasana haru meliputi kamar rawat inap VIP Ini, bahkan bertambah haru ketika kemudian Bu Rita dan Gia menyusul datang.

__ADS_1


__ADS_2