
Aku meregangkan pelukanku "kita mau kemana sih?" Tanyaku lagi penasaran
"Hahahaha nggak sabaran banget" ia terkekeh "Perjalanan ini agak lama, jadi yah kalau kamu ngantuk tiduran aja"
Aku memperhatikan jalanan di sekeliling kami "Kita kok mengarah ke Utara? Pasti mau ke daerah pegunungan ya?"
Sugi mengangguk "pintar"
"Tapi aku kan nggak bawa jaket, pasti dingin dong disana?"
"Tuh lihat dibelakang, semua sudah aku persiapkan dengan lengkap"
Aku menghidupkan lampu penerangan di dalam lalu melihat ke arah jok belakang. Benar saja, ada tas tenteng yang sepertinya berisi pakaian dan dua buah jaket tebal yang terlipat rapi. Di sebelahnya ada dua buah kotak sepatu sport.
"Besok kan hari minggu, aku mengosongkan jadwal khusus untuk kita berdua" ujar Sugi
"Nggak cape? Kenapa nggak cari waktu yang lain aja?" Jawabku sambil mematikan lampu penerangan tadi dan kembali duduk bersandar dengan tenang
Ia menoleh sekilas ke arahku "Sayang, mmm... minggu depan aku harus keluar negeri, ada beberapa pertemuan yang harus aku hadiri disana. Jadi aku mau menghabiskan waktu seharian sama kamu sebelum berangkat"
"Lama nggak disana?" tanyaku khawatir
"Sepertinya begitu, kenapa?" Ia tersenyum
"Yah nggak apa-apa sih namanya kerjaan. Aku juga mulai Senin besok sudah harus sibuk di kantor baru" aku menghela nafasku
"Nggak sedih?" Ia membelai rambutku dengan tangan kirinya
"Yahhhh mau gimana lagi"
"Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu" ia mencubit kecil pipiku
"Iyah sama aku juga"
"Nanti kalau aku dan Damar sudah berangkat, jaga dirimu baik-baik ya. Jangan membuat keributan. Hindari masalah. Aku hanya khawatir hal yang satu itu"
"Iya , aku tahu sayang. Nggak akan ada kejadian apa-apa lagi"
"Kalau kamu pergi-pergi diluar rutinitas, misalnya jalan-jalan atau berkunjung ke rumah Bu Ina kabari aku ya"
"Iyah duh kayak tahanan kota, Wajib lapor hehehe"
"Ck! Kalau sama yang bandel memang harus banyak aturan"
"Ya ya ya..." jawabku sambil menghidupkan radio untuk menghentikan ocehan Sugi padaku
Terdengar lagu lama dari Frank Sinatra yang berjudul "Fly me to the moon" mengalun indah dari satu stasiun Radio yang khusus memutar lagu-lagu oldies.
Riri nampak ikut bernyanyi dengan penuh penghayatan
"Fly me to the moon
__ADS_1
Let me play among the stars
Let me see what spring is like
On a-Jupiter and Mars
In other words, hold my hand
In other words, baby, kiss me"
Riri menggoyangkan bahunya dengan gerakan menggoda dan mulai ikut bernyanyi kembali
"Fill my heart with song
And let me sing forever more
You are all I long for
All I worship and adore
In other words, please be true
In other words, I love you"
Riri menatap Sugi sambil memberikan ciuman di udara.
Sugi tersenyum geli melihat ekspresi dan gerakan Riri yang penuh penghayatan.
"Ayahku selalu menyanyikan lagu ini kalau sedang menggoda ibu"
"Kenapa iri? Nanti kita berdua kan bisa begitu juga"
"Ck! Can't wait" Sugi menggenggam tangannya erat
Masih sambil mengobrol dan menyanyi bersama mereka melanjutkan perjalanan
Sementara itu Damar nampak gelisah menunggu pihak dekorasi dan katering membersihkan kantornya. Ia ditemani oleh Gia yang terlihat sabar sedang duduk di kursi dalam diam. Sedangkan Pak Doni sejak acara selesai tadi sudah dipersilahkan pulang oleh Damar.
Usai kantor dibersihkan, ia duduk disebelah Gia dengan wajah tegang.
"Sudah selesai semua? Kalau sudah, kita pulang sekarang aja" kata Gia
"Aku pengin ngomong sesuatu sama kamu" ia menatap Gia
"Ngomongin apa?" Gia berpura-pura terlihat baik-baik saja, padahal di dalam hatinya ia merasa gugup luar biasa. Akhirnya saat-saat seperti ini datang juga. Ia memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara dengan Damar
"Sebelumnya aku minta maaf kalau selama ini aku tidak pernah membahas mengenai hubungan kita, Gia. Mungkin kamu merasa bingung dan tidak yakin dengan semua yang kita lalui bersama belakangan ini"
Gia nampak menahan napasnya, ia takut Damar akan mengatakan kata-kata perpisahan
Damar menghela napasnya "aku tidak bermaksud mempermainkan perasaanmu. Awalnya aku pikir ini hanya hubungan yang hanya akan sekedar lewat begitu saja, karena saat ini fokusku memang lebih ke urusan bisnis dan keluarga"
__ADS_1
"Tapi aku salah, Gia. Semakin lama aku mengenalmu, semakin dalam juga perasaanku padamu. Sudah lama aku tidak pernah merasa senyaman dan sedekat ini dengan seorang wanita"
"Biasanya sama laki-laki ya? Hehehe" Gia terkekeh salah tingkah mencoba mencairkan suasana. Karena sejak awal tadi Damar bicara tiba-tiba saja air mata sudah tergenang di pelupuk matanya. Ada perasaan takut, khawatir dan kelegaan luar biasa menjadi satu di dalam hatinya
Damar tersenyum lalu menggeleng "Ck! Aku serius" ia menggenggam erat tangan Gia
"Aku juga... selalu... serius Damar" air matanya mulai menetes tak bisa ia bendung lagi
"Hei, kenapa menangis?" Damar terlihat panik, dengan cepat ia mengambil tisu diatas meja dan membantu Gia menghapus air matanya
Gia menggeleng "A...Aku pikir selama ini kamu hanya... Hanya menganggap aku teman biasa saja" Gia terisak
Damar memeluk erat tubuh Gia yang bergetar
"Maafkan aku Gia, aku tidak ada maksud untuk membuatmu sedih. Aku hanya butuh waktu untuk menyadari kalau aku benar-benar jatuh hati padamu"
Ia meregangkan pelukannya, dan kembali menghapus air mata Gia "semenjak orang tuaku meninggal yang ada di pikiranku hanya bagaimana caranya bertahan hidup dan bisa sukses di masa depan. Aku tanpa sadar selalu mengabaikan urusan pribadi seperti ini, sampai akhirnya aku bertemu denganmu"
"Ciuman pertama kita benar-benar membuatku kebingungan. Aku sangat menyukainya, sampai aku harus memastikan apa itu benar perasaan cinta atau hanya nafsu yang bicara. Karena sebelumnya aku tidak pernah menyentuh wanita seperti yang aku lakukan padamu, Gia. Aku bukan lelaki yang seperti itu. Terus terang aku memikirkan hal ini cukup lama"
"Apa kamu juga merasakan hal yang sama? Maksudku perasaanmu padaku?" tanya Damar dengan wajah penasaran
Gia mengangguk "aku sangat...sangat...sangatttt menyukaimu Damar. Kamu laki-laki idamanku selama ini" ujar Gia sambil menunduk malu
"Oh Syukurlah" Ada perasaan lega luar biasa yang Damar rasakan, tersirat dari ucapannya ini. Ia kembali memeluk Gia dengan erat
"Kita jalani pelan-pelan yah Gia, aku juga masih belajar mengenali kembali perasaanku ini"
Gia mengangguk dalam pelan "aku mengerti Damar"
Damar melepaskan pelukannya "Tapi apa kamu mau menjalani hubungan jarak jauh? Aku sebentar lagi harus kembali ke luar negeri untuk mengurus bisnisku disana"
"Aku mau Damar, aku juga sudah mempertimbangkan hal ini. Tapi berjanjilah untuk menjaga kesetiaanmu. Aku takut ada wanita di luar sana merebutmu dariku" Gia terlihat sedih
Damar tersenyum "tenang, itu takkan terjadi, aku serius dengan hubungan ini, Gia"
"Aku juga serius. Kalau saja kamu tadi tidak mengajakku bicara seperti ini, mungkin aku yang akan mengajakmu membahasnya. Aku ingin semuanya menjadi jelas"
"Aku lega karena akhirnya apa yang ada di pikiranku selama ini bisa kukatakan dengan baik, terimakasih sayang" Damar mengecup lembut punggung tangan Gia
Gia hanya mampu tersenyum, dadanya kini terasa hangat dan sesak dipenuhi rasa cinta pada laki-laki yang ada di depannya ini
"Kita pulang sekarang ya, Malam ini gimana kalau menginap di rumahku saja?" kata Damar
Wajah Gia terlihat kaget mendengar tawaran Damar "mmm gimana ya?"
"Kok gimana? Eh sebentar aku hanya mengajak menginap ya, bukan melakukan hal-hal yang kamu inginkan Hahahaha" Damar tergelak
"Ihhh kok jadi aku?" Gerutu Gia
"Benar Nggak mau?"
__ADS_1
"Mau aja deh hahahaha" Gia terkekeh sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Damar
"Astaga sayang, kok pasrah begini sih hahaha ayo kita pulang" ujar Damar masih tergelak sambil menarik lembut tangan Gia untuk beranjak dari tempat itu