Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Ngambek


__ADS_3

Damar nampak sedang menunggu kami di depan pintu saat tiba di rumah


"Tari, kenapa sih harus nekat begitu? tadi siang kan sudah ku bilang hubungi aku kalau kamu merasa tidak nyaman. Selalu ada saja kelakuanmu yang membuat semua orang khawatir" ujar Damar sambil berkacak pinggang ketika Riri melewatinya


Aku menoleh pada Sugi dan menatapnya tajam "tuh kan dia sudah mengadu pada kakak. Pantas saja tadi dia yakin sekali yang mengirimkan pesan itu Dion, bukan kak Damar"


Sugi memalingkan wajahnya sambil menahan tawa, pura-pura tidak mengerti maksud dari pandangan Riri padanya


"Aku cape kak, ngomelnya besok aja ya. Yang penting aku masih dalam keadaan sehat, dan utuh!!" Sahutku sambil berlalu


"Ck! Bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu Tari?!!! Kamu pikir aku akan baik-baik saja?!! Bisa-bisanya kamu bertindak seenaknya sendiri !!! Kamu egois!!!" Damar berteriak


"Kak, kalau aku masih menunggu orang lain membantuku dan tidak bertindak cepat aku tidak akan memperoleh banyak bukti untuk memberatkan Silvi. Dan aku sudah cukup lelah di omeli kalian semua. Kalau tahu begini mungkin lebih mudah untukku tinggal sendiri saja seperti dulu!!!" Aku berlari naik ke lantai dua dan masuk ke kamar


"Tari!!!!" Panggil Damar hendak mengejarnya


Tangan Sugi dengan cepat menghalangi "jangan dikejar"


Damar kemudian duduk di sofa dan memegang dahinya, kepalanya terasa pening memikirkan Riri. Sore tadi ia menghubungi pak Doni mengenai keadaan Riri di acara tersebut. Ia memang sengaja tidak menghubungi Riri maupun Sugi karena takut mengganggu mereka yang mungkin saja sedang mengobrol serius dengan partner bisnis atau tamu undangan disana. Ketika pak Doni mengabarkan kejadian itu, ia merasa sangat khawatir.


"Aku sudah mengomelinya tadi disana. Mungkin karena itu dia merasa tidak ada orang yang bisa mengerti dirinya" sahut Sugi sembari ikut duduk disebelahnya


"Aku berlebihan yah marah padanya?"


"Nggak, dia hanya sedang lelah Rio"


"Anak itu kalau sedang penasaran dan merasa benar, kadangkala kumat juga impulsifnya, bagaimana aku bisa tenang meninggalkan dia sendiri disini Sam?"


"Tenang, masih ada aku"


"Kita tidak bisa selalu berada disampingnya, aku hanya berharap dia bisa lebih hati-hati. Apalagi sekarang beberapa orang pasti sudah mengenal adikku dan hubungan spesial antara kalian berdua"


"Aku mengerti kecemasanmu. Gara-gara kejadian itu, hanya sedikit yang memperhatikan kami berdua, jangan khawatir"


"Semoga saja begitu, aku tidak mau dia menjadi sasaran gosip orang-orang bermulut racun diluar sana. Semenjak kejadian yang sama Hadi itu, aku selalu was-was kalau ingat Tari, Sam"


"Hadi tidak akan berani macam-macam lagi, begitu juga yang lain. Bisa jadi sekarang Riri sedang menyesal dan banyak berpikir mengenai kejadian hari ini"


"Pasti dia dikamar lagi ngambek. Biasanya begitu, kalau sudah ngambek bisa lama Sam, apalagi saat dia merasa benar. Bisa berhari-hari dia cuek seperti tidak melihat kita ada disini juga"

__ADS_1


"Oh ya? Aku baru tahu" Sugi tersenyum


Damar menghela napasnya


"Anak itu masih saja tidak berubah"


"Biarkan saja sebentar, kalau kamu mau bicara bisa menunggu sebentar lagi atau besok mungkin?"


"Besok pagi kami sudah harus bersiap ke rapat pemegang saham"


"Ya sudah tunggu saja sebentar biar ngambeknya reda"


Damar mengangguk "kamu menginap disini?"


"Sepertinya begitu"


"Pak Doni?"


"Sudah kembali, dia besok ada urusan pagi-pagi sekali sebelum menjemputku"


"Ok, kamu naiklah dulu Sam. Aku mau duduk sebentar disini"


"Aku mandi dulu ya nanti aku turun lagi" Sugi bangkit lalu bergegas menuju kamarnya


Sementara Riri di dalam kamarnya sedang melamun memikirkan ucapan kakaknya tadi. Handuk masih melilit di kepalanya yang basah usai keramas.


"Egois sebelah mananya sih? Kalau bukan aku yang bertindak belum tentu semua orang tau kebusukan Silvi" gerutunya kesal. Kantuk yang ia rasakan sewaktu sampai dirumah tadi, lenyap seketika. Ia memutuskan untuk membaca berita di ponselnya untuk meredakan kekesalannya.


Beberapa saat terdengar suara ketukan pintu


"Tok!... Tok!...Tok!


"Tari ini kakak, aku tahu kamu belum tidur. Buka pintunya aku mau bicara" Suara Damar terdengar lembut dibalik pintu. Riri tidak segera menjawabnya


"Aku minta maaf Tari, karena sudah memarahimu tadi. Ayolah buka pintunya sebentar saja. Aku janji tidak akan mengomel lagi"


Ada sebersit rasa penyesalan di hari Riri saat mendengar suara kakaknya yang lembut. Ia kemudian turun dari tempat tidur dengan langkah malas lalu membuka kunci pintu kamar.


Kini Damar nampak tersenyum lebar di depannya

__ADS_1


"Mungil lagi ngambek yah? Sini! peluk dulu" Damar mendekati Riri dan memeluknya erat


"Maafin Kakak yah Tari, kakak hanya terlalu khawatir sama kamu" ucapnya pelan


"Iya aku tahu kak, aku juga lagi cape' " jawab Riri didalam pelukan Damar


Damar meregangkan pelukannya dan menutup pintu kamar, kemudian mengajak Riri untuk duduk di atas karpet di lantai kamar.


"Aku hanya punya kamu, Tari. Hanya kita yang tersisa di keluarga ini. Aku nggak mau kehilangan adik satu-satunya, dan itu ketakutan terbesarku selama ini setelah orang tua kita meninggal"


"Bahkan hampir setiap hari saat aku berada di luar negeri tidak henti-hentinya aku memikirkan keadaanmu disini sendirian. Aku selalu berdoa agar kamu sehat dan selamat" Suara Damar bergetar mengingat rasa sesal dalam hatinya saat harus meninggalkan Riri karena keterpaksaan.


Riri menatap kakaknya dengan perasaan sedih. Air matanya mengalir di kedua pipinya


"Karena sekarang hanya ada kita berdua, aku ingin kamu mulai berhati-hati dalam mengambil tindakan dan keputusan dalam hidup. Kamu tahu sendiri kan ada saat-saat tertentu dimana kita hanya bisa mengandalkan diri kita sendiri untuk menyelesaikan suatu masalah.


Riri mengangguk sambil menghapus air matanya


"Apalagi kamu sekarang berhubungan dekat dengan Sammy tentu masalah yang kamu hadapi akan lebih berat lagi. Bayangkan kalau kamu salah bertindak, bukan hanya diri sendiri yang kena, orang-orang terdekat sudah pasti ikut kecipratan masalah"


"Aku mengerti itu kak. Jangan khawatir berlebihan, aku akan baik-baik saja. Aku bertindak seperti sore tadi itu juga sudah sangat aku perhitungkan"


"Lain kali hindari saja, lebih aman dari konflik. Kecuali lawan terang-terangan menyerang di muka umum. Baru hadapi langsung"


"Iyah kak akan ku ingat kata-katamu ini"


"Dalam waktu dekat aku harus kembali ke luar negeri. Kamu harus bisa menjaga dirimu dengan baik, Tari"


"Iyah aku tahu, maafin aku juga kak. Aku sudah membuatmu khawatir lagi"


"Ya sudah, sekarang tidur ini sudah larut. Besok adalah hari penting untuk kita berdua" Damar berdiri dan mengucek lembut rambut Riri lalu melangkah keluar dari kamar


Baru saja Damar keluar dari kamar, ponsel Riri bergetar. Ia mengambil ponsel yang ia letakkan tadi diatas nakas dan membaca pesan masuk yang ternyata dari Sugi


"Sayangku jangan ngambek lagi. Tidur yang nyenyak yah, bersiaplah untuk hari penting besok. I love you 😘"


Aku tersenyum membaca pesannya. Tapi dengan sengaja juga ia tidak membalas pesan itu.


"Biar saja ia menunggu dengan gelisah. Itu bentuk hukumanku untuknya hari ini" gumamnya

__ADS_1


Benar saja di dalam kamarnya, Sugi merasa gelisah karena pesannya tidak di balas oleh Riri. Padahal ia melihat tanda centang biru dua disebelah pesan yang ia kirim, yang berarti telah dibaca oleh penerima pesan.


"Ck! si cantik Masih ngambek" gumamnya sedih


__ADS_2