
Sugi baru saja selesai mempersiapkan pakaiannya untuk dibawa ke tempat acara. Ia memang terbiasa mengurus keperluan pribadinya sendiri. Ia kini terlihat duduk di ruang tamu menunggu jemputan. Ponsel di tangannya bergetar, ada pesan masuk dari pak Doni.
"Maaf pak saya tidak bisa mengantar bapak ke lokasi acara. Saya sedang tidak enak badan. Setelah kembali dari pemeriksaan hotel tadi pagi, tiba-tiba saja saya Demam"
Sugi membaca pesan dari pak Doni berulang kali karena merasa sedikit aneh dengan pesan itu. Karena selama dia bekerja dengannya tak pernah sekalipun dia sakit di acara penting seperti ini.
Ia lalu menghalau perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul dalam benaknya.
"Kemarin memang pak Doni dan dirinya sangat sibuk. Bahkan ia tidak sempat untuk makan siang lalu melanjutkan meeting sampai larut malam. Mungkin karena itu pak Doni tidak enak badan" gumamnya sendiri
"Sudah ke dokter pak? Kalau begitu saya saja yang menjemput bu Riri. Bapak Istirahat saja"
Pesan kedua dari pak Doni pun masuk
"Bapak tidak usah khawatir dengan bu Riri. Saya juga sudah mengatur seseorang untuk menjemputnya tepat waktu. Yang menjemput namanya Iwan, dia memakai mobil sewaan"
Usai membaca pesan tersebut, Sugi pun bergegas berangkat menuju lokasi acara. Ia harus bertemu dengan ayahnya terlebih dahulu sebelum acara dimulai nanti malam.
Dua jam berlalu saat ini Riri sedang bersiap-siap di dalam kamar villanya. Ia memilih mengenakan gaun hitam simpel bergaya little back dress tanpa lengan dipadukan dengan sepatu model pump berhak tinggi berwarna merah menyala.
Diatas meja ponselnya bergetar beberapa kali
"Pasti pak Doni. Biasanya dia akan menjemputku, setelah terlebih dahulu mengantar Sugi ke lokasi acara" gumamku sendiri. Lalu bergegas memeriksa pesan yang masuk
"Bu Riri, saya minta maaf tidak bisa menjemput hari ini karena kurang enak badan. Tapi jangan khawatir, saya sudah mengirim seseorang kesana untuk menggantikan saya"
Dahi Riri berkerut "nggak biasanya pak Doni sakit diacara penting begini" bathinku merasa khawatir
"Ok tidak apa-apa. Bapak sudah ke dokter? Istirahat yang cukup ya pak. Siapa nama orang yang menjemput saya?"
"Iyah Bu terimakasih. Namanya Iwan" jawab pak Doni singkat
"Iwan? Kok aku nggak pernah mendengar nama itu ya? Apa mungkin orang baru ya?! Entahlah. Aku akan memeriksanya dengan teliti, apakah ia memakai pin yang biasanya digunakan oleh bawahan pak Doni atau tidak!" Gumamnya lagi
Sementara itu di dalam apartemennya Silvi nampak bahagia, ia meletakkan kembali ponsel pak Doni diatas meja.
"Sudah beres, selanjutnya kuserahkan padamu, jangan lupa jemput dia tepat waktu. Jangan menghubungiku lagi setelah ini, aku anggap kita tidak pernah saling mengenal"
Ia mengirimkan pesan itu pada Hadi.
Sedetik kemudian Hadi pun menjawab pesannya
"Ok aku mengerti, terimakasih atas bantuan dan waktumu selama ini Silvi. Jaga dirimu baik-baik, senang bisa mengenalmu"
Silvi menggigit bibirnya, teringat kembali kejadian malam itu. Ia menyadari kekeliruannya, malam itu mereka berdua mabuk parah hingga tidak sadar sudah melakukan hal gila itu. Mereka terbangun dengan keadaan kacau, bahkan Hadi buru-buru pergi meninggalkannya sendirian di motel murahan itu.
__ADS_1
Ia mengucek rambutnya dengan perasaan frustasi. Ia menatap cermin di hadapannya.
"Malam ini penentuan dari masa depanmu Silvi. Kamu harus berhasil melakukannya. Sammy tak akan bisa menghindar lagi. Dia akan menjadi milikmu selamanya, Silvi!!"
Ia berbicara sendiri dengan senyuman lebar dibibirnya
Telepon terdengar berdering di atas nakas, dengan tenang Riri mengangkatnya. Ia nampak sudah siap untuk berangkat ke Hotel Mahardika.
"Selamat siang, dengan Riri"
"Siang Bu Riri, saya Dewi di kantor depan. Jemputan ibu sudah menunggu di depan"
"Ohh ok, terimakasih Dewi" jawabnya kemudian meletakkan teleponnya kembali.
Ia kemudian mengambil tas tenteng kecil berwarna merah yang berada diatas meja. Warna merahnya senada dengan sepatu yang ia kenakan. Ia lalu turun. Sebelum menuju ke lobby ia mencari pak Yuda untuk memberitahu keberangkatannya
"Pak Yuda, saya berangkat ya pak"
"Baik Bu, dijemput Pak Doni?"
"Bukan pak, pak Doni sedang tidak enak badan. Saya di jemput bawahannya yang lain"
"Siapa bu?"
"Namanya Iwan, ada yah bawahan pak Doni namanya Iwan?"
"Ok, Silahkan pak ikut saya"
Riri pun naik ke atas buggy diantar oleh pak Yuda
Sesampainya di lobby, mereka pun bergegas menuju sebuah mobil berwarna hitam yang parkir tak jauh dari sana. Langkah Riri terhenti saat melihat model mobil yang dibawa terlihat berbeda dari biasanya.
"Ada apa Bu?" tanya Pak Yuda khawatir
"Ini mobil baru ya? Kok saya belum pernah melihat mobil ini sebelumnya?" Kecurigaanku kembali muncul, ditambah lagi orang yang menjemput ini tidak turun dari mobilnya
"Mungkin saja Bu, saya periksa dulu ya"
"Ok pak"
Pak Yuda pun mendekati mobil tersebut, ia mengetuk kaca di sebelah sopir berada. Kaca mobil tersebut turun perlahan
"Selamat siang" sapanya dengan wajah tersenyum. Laki-laki itu berwajah ramah, memiliki kumis dan jenggot yang dicukur rapi. Ada satu tahi lalat yang jelas terlihat di ujung kanan pipinya
"Siang, anda Iwan?"
__ADS_1
"Benar pak, saya staf baru dibawah pak Doni. Baru masuk dua hari lalu, dan hari ini saya ditugaskan untuk menjemput Bu Riri" ujarnya dengan tenang
Pak Yuda menelisik wajah Iwan dengan teliti. Ia juga sempat melihat ke arah dalam mobil beberapa kali
"Ini mobil sewaan, mobil yang hitam dibawa pak Doni sedangkan yang satu lagi dibawa pak Sugi, itu kenapa beliau memerintahkan saya untuk menyewa mobil mewah ini"
Wajah pak Yuda dipenuhi dengan rasa curiga
"Kalau bapak tidak percaya silahkan menghubungi pak Doni secara langsung. Saya hanya mengikuti perintah"
Pak Yuda kemudian menghubungi ponsel pak Doni. Ia pun telah mencobanya berkali-kali namun tak sekalipun diangkat olehnya.
Ia lalu mengirimkan pesan
"Pak Doni, apa benar yang menjemput Bu Riri bernama Iwan? Dan dia menggunakan mobil sewaan atas perintah bapak?"
"Saya tidak akan membiarkan Bu Riri di bawa oleh anda sebelum pak Doni menjawab pesan saya" ujarnya pada Iwan
"Tidak masalah pak, asal bapak bisa bertanggung jawab atas keterlambatan saya mengantar Bu Riri. Saya kan tinggal melaporkan kejadian sebenarnya." jawab Iwan dengan penuh kesabaran
"Gimana pak?!!" teriak Bu Riri dari kejauhan
"Tunggu sebentar Bu, saya sedang menunggu informasi dari pak Doni"
Selang beberapa menit pesan jawaban dari pak Doni pun masuk
"Iyah, Saya mendadak sedang tidak enak badan jadi menyuruh orang baru untuk menjemput Bu Riri, karena yang lain sedang bersiaga di hotel"
Pak Yuda merasa sedikit lega setelah membaca jawaban itu. Ia lalu memanggil Bu Riri "Bu Riri!! kata pak Doni benar Bu, silahkan masuk Bu. Aman!!"
Riri mendekat secara perlahan, ia memperhatikan orang yang bernama Iwan ini. Ada sebuah Pin yang terselip di jas resminya yang berwarna hitam. Pin yang ia kenakan pun sama dengan pin yang digunakan oleh pak Doni bersama anak buahnya.
"Semua ini nampak meyakinkan, namun kenapa perasaanku tidak baik-baik saja ya?! Perasaan waspada di masa lalu ini muncul kembali. Sama persis dengan yang aku rasakan di tempat gelap itu. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Riri dalam hati. Ia nampak berpikir sejenak.
"Pak Yuda, bagaimana kalau bapak ikut saya hari ini. Nanti saya yang akan bertanggung jawab pada pak Doni" ujarnya pada Pak Yuda
"Baik Bu, saya ikut"
Riri sedikit merasa lega dengan jawabannya
"Sebentar ya, pak Yuda masuk saja duluan" katanya sambil berjalan ke depan mobil lalu mengambil foto nomor plat mobil tersebut. Lalu mengambil foto Iwan, kemudian menyusul masuk ke dalam mobil
Mobil pun melaju dengan perlahan meninggalkan Villa Lembayung
Foto Plat mobil tersebut ia kirimkan pada Sugi
__ADS_1
"Sayang, fyi aku dijemput orang namanya Iwan ini fotonya. Sampai nanti 😘"