Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Riri yang Nakal


__ADS_3

Hadi menatapku tak berkedip ketika aku baru saja keluar dari kamar mandi. Senyumannya terlihat semakin lebar saat tatapan tajamnya berhenti di kaos kebesaran yang aku kenakan.


"Tari... Kemarilah aku gemas melihatmu memakai ini hehehehe" ia tertawa kecil sambil menyeringai.


Aku tak langsung mengiyakan permintaannya, karena aku paham benar arti seringainya itu. Ia menyeringai bak singa kelaparan, dan berada didekatnya saat ini adalah pilihan yang buruk.


"Sebentar kak. Perutku dari tadi keroncongan. Aku lapar kak, disini ada makanan kan?" tanyaku sambil memegang perutku yang sebenarnya memang sedang lapar


Senyumannya lenyap berganti dengan wajah masam.


"Jon!!!" Panggilnya dengan keras menghadap ke arah pintu keluar


Seorang laki-laki berbadan tinggi gempal berlari tergopoh-gopoh mendekatinya.


"Ya pak"


"Buatkan Bu Tari seporsi mi instan lengkap"


"Baik pak" Jawabnya lalu terburu-buru keluar dari ruangan ini


"Disini sementara hanya ada itu. Nanti makanlah cepat-cepat, jangan menguji kesabaranku"


Ia menarik tanganku menuju ruangan yang lain. Di dalam ruangan kecil ini ada sebuah meja yang cukup besar dengan tiga buah kursi berbahan plastik berwarna merah di sisinya.


"Kita makan disini" ujarnya lagi sambil mendudukkan aku di salah satu kursi plastiknya. Aku pun menurutinya tanpa protes sedikitpun. Ia mengambil tempat tepat disebelahku


"Pulau ini milikmu kak?" tanyaku untuk mengurangi ketegangan diantara kami


"Kenapa kau ingin tahu?"


"Yah kalau nggak mau dijawab yah sudah"


"Ini milik ayah, sisa-sisa harta keluarga" jawabnya sambil menghela napas


"Paman sekarang dimana? Apa kabar beliau?"


"Kamu benar-benar ingin tahu atau hanya berbasa-basi?" Sahutnya dingin


"Aku benar-benar ingin tahu, sudah lama aku tak mendengar kabarnya"


"Semenjak mengalami kebangkrutan, ayah sakit-sakitan dan bersama ibu memilih hidup di pedesaan. Aku sudah lama tak menjenguknya, mereka pun sudah lama tidak pernah memberi kabar lagi"


"Kalau Erika?"


Ia memandangku beberapa detik lalu memalingkan wajahnya ke arah lain


"Dia bersamaku"


Mataku terbelalak "Dia sekarang ada disini?"


Ia menggeleng "Dia tak pernah tahu tentang pulau ini... Hanya.... " ia terdiam beberapa saat


"Sudahlah Tari itu urusanku... Itu makan malammu sudah datang. Aku beri waktu 5 menit" ia melirik arlojinya lalu berdiri dan keluar dari ruangan


"Ok, aku perlu tenaga lebih untuk menghadapi malam panjang ini. Semoga saja keberuntungan berpihak lagi padaku" gumamku dalam hati.


Dengan segera aku menyantap mi instan yang ada di depanku. Tepat di suapan terakhir Hadi pun muncul kembali.


Aku sedang meneguk air, saat ia tiba-tiba saja membopong tubuhku dengan sekali hentakan kasar ke dadanya.


"Turunkan aku kak?!!" Ujarku sambil berontak


"Diam kamu!!! Apalagi alasanmu untuk mengulur waktuku?!! Kamu pikir aku tak tahu?!!" Cengkraman tangannya semakin kencang di pinggangku.


Aku merasakan sakit yang menusuk di bekas luka yang ada di perut bagian bawahku.


"AW!!!..aw!!!" Aku spontak berteriak


Hadi nampak tak peduli. Ia buru-buru membawaku ke kamarnya dan menjatuhkan tubuhku di atas ranjang. Dengan kasar ia membuka pahaku lebar-lebar dan menahannya dengan kedua kakinya yang berat. Ia mengunci badanku hingga aku sama sekali tidak bisa bergerak dibawahnya.


"Kamu harus melawan Riri?!! Apa kamu akan berakhir seperti ini?!! Tendang, cakar, apalah Riri... Apa saja?!! Kenapa kamu malah tak berontak sama sekali?!!" Aku memaki diriku sendiri dalam hati


"...Tarihh.." Panggilnya dengan nafas tertahan. Tangannya mulai mengelus wajahku. Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup keningku dan pipiku


Jantungku berdegup kencang, aku mulai merasa takut dengan keadaan ini

__ADS_1


"Kalau aku melawan, aku yakin dia akan mengikatku seperti tadi bahkan menyiksaku tanpa ampun dan itu lebih berbahaya. Seingatku dulu Hadi sangat kuat, ia salah satu atlit karate di sekolahnya. Aku tak akan bisa melawannya sendiri" gumamku lagi dalam hati.


Rasa sakit yang aku rasakan tadi kembali berdenyut-denyut saat tangannya tak sengaja menekan bekas luka itu.


"Kak di..Sakit...." Ujarku lemah, aku sengaja mendramatisir keadaanku


"Sakit?! Aku bahkan belum mulai!!!" Ia menghardik


"Perutku... yang...sakit" sahutku lagi kali ini dengan air mata yang mulai menetes di pipiku


"Apalagi sih?!!!" Ujarnya Geram


"Aku ... aku punya bekas luka tusuk di perutku bagian bawah. Mungkin lukanya belum sembuh benar"


Ia nampak terkejut


"Kamu jangan mengada-ada ya?!"


"Kamu lihat saja sendiri bekasnya"


Ia melepas kunciannya dan menarik naik bajuku.


"Apa yang terjadi? Apa laki-laki itu yang melakukannya? Dia menyiksamu ya?!!!" tanyanya dengan wajah kesal


"Bukan, ada seorang perempuan gila yang melakukannya. Ia mengirim dua orang untuk mengerjaiku"


"Siapa dia?!"


"Namanya Silvi, kamu pasti tidak mengenalnya"


Wajahnya terlihat penuh amarah


"Silvi k*p*rat!!! Wanita gila... Berani-beraninya ia menyentuhmu!! Aku akan membuat perhitungan dengannya nanti"


"Dia mengenal Silvi?!!. Jangan-jangan mereka berdua memang saling mengenal dan bersekongkol membuat kekacauan ini" ujarku dalam hati


"Kakak mengenalnya?!"


Ia mengangguk "kamu tenang saja, aku akan membalasnya untukmu. Sekarang yang paling penting adalah saat ini. Aku janji akan melakukan ini dengan lembut" ia kembali menyeringai


"Kak..kata dokter, karena luka ini cukup dalam sementara aku harus menghindari hal-hal seperti ...yah... Kakak tahulah maksudku. Aku tidak boleh melakukan hal-hal berat selama setahun agar luka di dalamnya tidak kembali terbuka"


Ia mulai terlihat kesal dan frustasi.


"Kalau sampai lukanya terbuka akan sangat berbahaya untukku. Pisaunya ternyata juga sampai mengenai rahimku kak" ujarku berpura-pura sedih


Ia melompat dari ranjangnya dan berteriak lantang


"ARGHHHHHHHHH!!!!"


Ia berjalan gusar kesana kemari terseok-seok sambil menghantamkan tangannya ke meja dan tembok kamar ini bergantian. Suara gaduh ini membuat beberapa orang bawahannya mendekat dan mengetuk pintu.


"Pak, anda baik-baik saja?!?" Sebuah suara terdengar di balik pintu


"Aku tidak apa-apa!!! Kalian pergilah!! Jangan menggangguku!!! Sana jauh-jauh!!!" Teriaknya geram


tanpa jawaban, suara langkah kaki berlari terdengar menjauh dari sana.


"Terus apa aku harus menunggu selama setahun???!!! Tidak Tari... Tidak!!!! Aku tidak bisa menunggumu lagi. Aku sudah cukup menderita oleh ulahmu!!!!" Ia kembali mendekatiku.


Dengan kasar ia kembali mendorong tubuhku rebah ke atas ranjang. Tak cukup sampai disana, ia menjambak rambutku dengan kencang.


"Aaaa!!! Sakit kak!!!"


"Hahahahaha....Semakin kamu berteriak aku semakin bern*fs* cantik!"


Ia pun mulai ******* bibirku dan memaksa membukanya. Aku tak bisa menahannya lagi. Dengan terpaksa kubiarkan lidahnya masuk dan menari-nari di dalam. Aku menahan diri dari rasa mual yang muncul saat ini.


Sebersit ide kemudian muncul dibenakku. Aku menghentakkan tubuhnya kebelakang.


Ia pun sedikit terhempas lalu mengusap bibirnya sambil tertawa "Hahahaha...ini yang aku tunggu-tunggu Tari" katanya dengan kilatan mata penuh b*r*h*


"Kak rumah sakit jauh dari sini. Kalau aku sampai pendarahan di dalam atau infeksi bagaimana?!!?"


Ia mengangkat bahunya "kita pikirkan nanti saja!!!" Ia mencoba mendekat dan memeluk tapi Riri berhasil menghindarinya

__ADS_1


"Hahahaha... CK! Tari...kemarilah aku sedang tidak ingin bermain! Lihatlah dibawah sini" ia menunjuk ke arah bagian bawah tubuhnya yang terlihat mulai bangkit


Aku menutup mulutku berpura-pura menahan tawa.


"Ahhh kau sengaja ya?!! Hahaha" ia mencoba lagi untuk menangkapku dan kali ini berhasil


"Kak!!" tanganku turun sengaja merogoh kebagian tubuh sensitifnya


"Maafkan aku Sugi" aku membathin


"Ahhh...Hei..hei!!! Sabar... Nakal yah kamu" ia mencolek hidungku mesra


Aku berbisik ditelinganya "Kakak kok nggak sabaran banget. Padahal aku bisa bantu dengan cara lain. Kakak mau yah?!" Aku menggigit bibirku menatapnya


Ia balik menatapku tajam


"Demi kesembuhananku kak" ujarku dengan wajah manja "please!! Aku akan turuti kemauan kakak setelah aku sembuh"


"Benar?!" tanyanya dengan wajah melunak


"Benar!!"


"Ok, sekarang kamu bisa apa. Coba tunjukkan padaku?!"


"Tapi kakak nggak boleh protes ya?"


"Iyah" jawabnya


"Aku akan melucuti semua pakaian kakak terlebih dahulu, kita akan bermain. Kak di pasti suka, mungkin akan ketagihan" aku tersenyum nakal padanya.


Dalam hati aku merasa sangat kesal pada diri sendiri. Belum pernah aku merasa begitu menjijikkan seperti ini.


"Wahh boleh-boleh" ia terlihat bersemangat


Riri melepas pakaiannya perlahan. Ia juga mulai menggerayangi tubuhnya sejengkal demi sejengkal. Sementara Hadi terlihat sesekali melenguh tipis dengan mata tertutup.


"Apa kakimu yang ini bisa merasakan sentuhan?!" Kataku sambil memegangi kakinya yang cacat


"Bisa Tari, bahkan lebih sensitif"


Aku memijat telapak kakinya sampai pada pangkal pahanya.


Hadi mendesis-desis tak karuan. Tangannya kini mencoba menggapai tubuhku. Ku tepis pelan tangannya


"Sabar... tangannya jangan nakal!!!" Aku menghardiknya


"Ya.. hahahaha" jawabnya bersemangat


Pelan-pelan aku mengambil tali bekas tali yang digunakan untuk mengikatku tadi. Aku mendudukinya dan menciuminya wajah dan badannya.


"Ah ..Tari kenapa kau jadi selihai ini...kenapa tidak kau lakukan dari dulu..!"


"Sttt!!!" Plak! Aku menamparnya "jangan berisik!!!"


"Ough!!" Ia melenguh menikmati tamparan ku


Aku mengangkat naik tangannya dan mengikatnya erat-erat sambil menciumi tengkuknya


"Hei kau mengikatku..mmmphh..."


"Sttt!!! Diam!!! Nikmati saja!!!"


"Ok..hahaha..ok! Kau suka mendominasi rupanya" Ia terkekeh pelan


Tanpa disadari oleh Hadi kini ia sudah benar-benar terikat erat dengan ranjangnya.


Riri kini bersiap di posisinya


"Kak, coba buka matamu" ujarku padanya


Sesuai perintah ia pun membuka matanya. Disaat itulah Riri memukul rahang Hadi ke samping dengan keras, persis seperti yang pernah diajarkan Damar padanya.


Pukulan itu sukses membuat Hadi pingsan.


Riri meringis menahan sakit tangannya usai memukul Hadi. Tak membuang waktu ia pun bergegas mengikat kakinya erat ke tepian ranjang. Kemudian mengambil ponselnya dan perlahan-lahan keluar dari kamar ini. Tak jauh dari sana terdengar suara beberapa orang mengobrol dengan ditemani lagu dangdut dari siaran radio lokal. Riri pun mengendap-endap menyelinap masuk ke dalam hutan yang gelap.

__ADS_1


__ADS_2