Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Inspeksi


__ADS_3

"Ternyata Purnama Spa fasilitasnya bagus banget ya" kataku pada Gia saat kami baru saja selesai melakukan inspeksi di salah satu spa terkenal di daerah selatan


"Ahhh kamu baru pertama kali kesana kan, makanya kelihatannya keren. Kalau sudah keseringan kayak aku lama-lama kesannya biasa aja, nothing special" jawabnya saat mobil kami baru saja keluar dari parkiran


"Tapi kok terkenal?"


"Pinter-pinternya sales marketing mereka aja itu. Aku kan sering inspeksi terus nyoba satu-satu, ada beberapa yang treatmentnya bagus banget tapi sayangnya nggak banyak yang tahu"


"Nah aku takutnya Lembayung jadi gitu"


"Nggak! kamu terlalu cemas aja"


"Belum apa-apa aku sudah kepikiran, apa nanti Lembayung akan bisa jadi seterkenal itu ya?"


"Hei... percaya sama kemampuan kamu sendiri. Tiap usaha jasa itu unik, tergantung siapa yang mengelola. Aku yakin kamu bisa karena kamu termasuk yang telaten dan mendetail. Sabar belum juga buka, Nanti sambil jalan kita juga jadi makin tahu kok kebutuhan konsumen seperti apa. Kita ikuti kebutuhan mereka secara dinamis"


"Iyah sih, kamu benar aku aja yang nggak sabaran" aku menghela napas mencoba menghalau rasa pesimis yang mulai kurasakan semenjak ikut masuk ke Purnama Spa


"Kamu sudah mulai rekrut staf?"


"Sudah, mulai dari housekeeping, gardener, sekuriti, waiter, cook, pokoknya semua termasuk beberapa terapis yang berpengalaman. Dan mereka hari ini mulai training. Mudah-mudahan sesuai ekspektasi"


"Great, cepat banget kamu kerjanya Ri" ia sedetik melirik ke arahku dengan senyuman lebar


"Cepat, karena sebagian adalah staf lama, jadi yang benar-benar mulai dari nol itu hanya Spanya saja"


"Tapi aku salut loh, kamu bisa mengerjakan ini semua sendiri. Dan aku bilang ini progresnya benaran cepat. Kalau orang lain belum tentu bisa secepatnya ini"


"Setimpallah sama kantung mataku ini, hampir tiap hari memeriksa data ini, itu, progress plan..apalah...apalah.. hahahaha"


"Hahahaha dasar workaholic! Nggak berubah yah Ri. Aku tadinya juga penasaran kenapa matamu jadi seperti panda begitu?. Aku pikir karena sering di ajak sparing sama pak Dirut hahahaha"


"Astaga hahahaha... bisa-bisanya kamu yak!. Aku mencubit lengannya gemas


"Awww!!! Riri sakit! Hahahaha"


"Sparing apa? dianya aja nggak pernah mampir"


"Ah masa?? kalian nggak pernah ketemu sekalipun selama kamu tinggal di Lembayung?"


"Dia lagi sibuk, sempat sih mau mampir beberapa hari yang lalu tapi nggak jadi. Tiba-tiba ada sesuatu hal yang mendesak, biasalah. Ya sudah nggak jadi deh.Tapi bagusan begini sih kerjaanku jadi cepat selesai"


"Riri... Riri... Benar-benar yah...nggak takut dia dibawa kabur cewek lain?" Gia menggeleng keheranan

__ADS_1


"Hahahaha ohhh silahkan...asal ceweknya bisa gendong pak Dirutnya aja"


Tawa Gia menggelar mendengar jawabanku yang terdengar tidak masuk akal "hahahahaha gila ceweknya harus sebesar apa sih? Biar bisa gendong pak Dirut. Ada -ada aja kamu" ia balik memukul gemas lenganku


"Habisnya gimana?"


"Asli kalau kalian ketemu nanti, udah deh saking kangennya bisa dimonopoli habis dah kamu. Kamu pasti nanti dikekep, dibolak-balik kayak pepes pindang hahahaha"


"Ihh Gia..." Aku melirik tajam ke arahnya


"Jangan sok innocent deh. Kamu nggak merasa aneh?? sehari, dua hari nggak ketemu kamu aja dia bisa kebingungan. Gimana ceritanya dia bisa tahan lebih dari dua minggu nggak ketemu kamu sama sekali"


"Yah mungkin memang sibuk aja"


"Halah.... seperti yang kita tahu pak Dirutmu ini kan persisten sekali. Kayaknya dia sengaja menahan diri untuk memberi kamu waktu menyelesaikan ini dengan cepat Riri. Aku 100% yakin? Mau taruhan!??"


"Aaaaa... Apa sih? Nggak!!, nggak mau!!"


"Hahahahaha ingat ucapanku ini. Kamu tunggu saja apa yang akan dia lakukan padamu, saat kalian bertemu nanti"


"Eh iya besok aku di undang ke acara ulangtahun ayahnya Yak"


"Aku mencium bau-bau kejadian enak nih hahahaha"


Aku lagi-lagi mencubit kecil lengannya


"Aku sudah beli terusan warna hitam halterneck, ada belahan sampai atas lutut dikit lah. Too much ya??"


"Nggak!!! Wow kamu pasti jadi cantik, kok jadi aku yang semangat sih hahahaha!!. Jarang-jarang nih kamu seksi"


Aku hanya menggeleng mendengar ucapannya


"Yah pengin aja balik ke masa-masa remaja"


"Serius dulu pakaianmu begitu?? Seingatku dari cerita Damar kamu tomboi banget"


"Tapi bukan berarti selera pakaianku selalu yang celana sama t-shirt gede ya!! Aku suka pake tanktop, halterneck, kadang backless. Suka-sukaku aja tergantung tempatnya sih"


"Oh gitu pantas aja, waktu terakhir kamu pakai terusan sama sepatu berhak tinggi juga emang nggak kelihatan kikuk sih"


"Oh iya Yak, aku minta bantuan kamu ya. Aku kan nanti mau soft launching Lembayung. Aku perlu contact list travel agent yang bisa aku undang"


"Ohh tenang, kamu kasih aja info undangannya ke aku nanti aku forward ke mailing list"

__ADS_1


"Wahhh Gia hebat hahaha terimakasih Gia"


"Aku kan emang hebat hahaha... My pleasure Ririku sayang" ia menepuk punggung tanganku yang berada di atas pangkuan


"Kita abis makan siang nanti inspeksi ke lokasi ke dua kan?"


"Iyah yang kedua ini kamu pasti lebih suka lagi, ini mirip seperti yang kamu akan kelola. Traditional Spa tapi mereka nggak ada Yoganya, sekalian kita cobain paket yang paling laris disana"


"Ok siap Bu"


"Alright!!!" teriak Gia bersemangat


Sementara itu Sugi sedang merenung di dalam mobilnya yang sedang melaju pelan


"Pak, nanti setelah urusan ini selesai antar saya ke tempat Bu Riri ya?!"


"Tapi pak, kan bapak sendiri yang bilang sebaiknya kita jangan mengganggu kesibukan Bu Riri"


"Tapi saya rasanya ingin menyerah saja pak"


Pak Doni melirik ke arah spion atas, ia melihat raut wajah Sugi yang sedang gelisah dan tidak bersemangat. Sepanjang Minggu belakangan ia sadar atasannya ini selalu terlihat muram dan dingin. Seperti awal-awal sebelum bertemu dengan Bu Riri.


"Menurut saya sebaiknya tahan lagi sehari pak, kasihan Bu Riri. Laporan dari pak Yuda sepertinya Bu Riri setiap hari bekerja sampai larut malam. Bahkan pernah sampai hampir subuh pak. Kalau kita kesana sekarang kapan Bu Riri bisa beristirahat. Sebaiknya bapak telepon Bu Riri saja agar beliau beristirahat lebih awal hari ini untuk persiapan acara besok"


"Iyah pak Doni benar" ia nampak mengangguk perlahan


"Bapak kan tahu beberapa orang yang hadir sudah mengetahui hubungan anda dengan Bu Riri. Kalau sampai Bu Riri terlihat kelelahan, kusut dan letih pasti akan menjadi perbincangan"


Sugi menghela napasnya


"Ok, nanti saya video call saja" ujarnya kembali memejamkan mata sambil membayangkan wajah Riri yang sedang tersenyum memeluknya erat.


Di dalam mobilnya Hadi sedang bertukar pesan dengan Silvi. Sudah seminggu ini mereka intens berkomunikasi, bahkan hampir setiap malam mereka bertemu hanya untuk membahas Riri dan Sugi. Hubungan mereka pun semakin dekat.


Anehnya lama kelamaan mereka malah lebih banyak membahas tentang kehidupan dan seputar permasalahan yang mereka hadapi saat ini setiap bertemu.


"Aku tunggu malam ini ditempat biasa"


Ia menunggu jawaban Silvi sambil memandangi rumah Riri dari kejauhan


Ponselnya bergetar, Silvi membalasnya dengan cepat


"Ok, aku punya rencana baru. Nanti kita bahas"

__ADS_1


Hadi memasukkan ponselnya kembali dan menyuruh sopirnya untuk kembali bergerak.


Perasaan hampa kembali menyergap kedalam hatinya, sudah dua minggu ia tidak melihat tanda-tanda kehidupan di rumah Riri. Bahkan di tempat ia bekerja pun sama. Tak sekalipun Riri terlihat berada disana.


__ADS_2