Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Panik


__ADS_3

"Apa yang harus kulakukan sekarang?" gumamnya pelan sambil terisak. Tak ada satu pun orang yang ia lihat melewati unit ini. Seluruh kompleks ruko ini tiba-tiba saja senyap, sepi dari ujung ke ujung


"Maafkan aku Sugi, mungkin nanti pada akhirnya aku tidak akan bisa bertahan. Perjalanan cinta kita harus berakhir sampai disini. Aku merasa beruntung bisa mengenalmu dan dicintai oleh laki-laki sebaik dirimu. Itu adalah hal terindah yang terjadi dalam hidupku. aku sangat mencintaimu, sayang" gumamnya dalam hati, air matanya tak henti-hentinya menetes di pipinya.


Kemudian bayangan wajah Damar tiba-tiba melintas di pikirannya, ia kini benar-benar merasa tak berdaya lagi "kakak...." bisiknya pelan


Sebuah mobil merah mencolok nampak mendekat kearah mereka. Menyadari hal tersebut, dua orang laki-laki yang menyerang Riri dan pak Jon nampaknya mulai panik.


"Ayok Cabut!!!" Kata laki-laki yang sedang memegang belati pada temannya yang sedang menghajar pak Jon habis-habisan. Ia terlihat berlari menuju mobilnya


"Tapi ini gimana?!!!" Temannya berteriak, menunjuk ke arah Riri sambil berlari mengekor pada temannya yang lebih dulu pergi


"Lupakan saja, kita gagal!!!" Jawabnya sambil membuka pintu mobil dengan terburu-buru diikuti oleh temanya yang juga tergesa-gesa masuk kedalam mobil. Mobil Jeep tersebut lenyap seketika dari pandangan mata. Mereka berdua berhasil kabur dari sana


Sementara itu Dion yang baru saja tiba, lalu turun dari mobilnya sambil bersiul. Langkahnya terlihat santai menuju ke kantor Riri. Betapa terkejutnya ia saat melihat Riri sedang mengerang kesakitan bersimbah darah di depan matanya.


"ASTAGA RIRI!!!" Ia memekik sambil berlari mendekatinya


"Dion" suara Riri terdengar lemah


"Kita kerumah sakit sekarang!!!" Ujarnya sambil membopong tubuh Riri dengan hati-hati.


"Tekan yang keras di bagian yang berdarah Riri!!" perintahnya


"Sudah...dari..tadi"


Ia menoleh kearah seorang laki-laki yang sedang tergeletak tak jauh dari sana


"Itu...pak Jon..Sekuriti...disini" ujar Riri mencoba menjelaskan dengan terbata-bata. Kepalanya mulai pening, napasnya kini terasa agak sesak.


Dion tidak menjawab, ia bergegas merebahkan tubuh Riri di jok penumpang belakang.


"Bertahanlah Riri, kita akan sampai di rumah sakit secepatnya" ujarnya mencoba tenang, berbanding terbalik dengan rasa khawatir yang ia rasakan saat ini. Sekelabat muncul pikiran-pikiran buruk dalam benaknya.


Dion kemudian melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sesekali matanya melihat Riri yang sedang terbaring dari spion atas.


"Pinjam...ponsel...Dion" Riri sedikit mengeraskan suaranya dengan bersusah payah


"Kamu ingin menghubungi siapa?"

__ADS_1


"Su..gi"


"Aku akan menghubunginya nanti. Tidak usah khawatir Riri. Tenangkan saja dirimu lebih dulu" ujarnya pada Riri.


Ia sebenarnya memiliki banyak pertanyaan mengenai kejadian mengerikan ini. Namun ia tak mampu menanyakannya, karena melihat kondisi Riri yang buruk


"Bertahanlah Riri.... Ayo Riri aku tahu kamu bisa, beberapa menit lagi kita sampai" hiburnya ditengah rasa panik yang mulai menderanya.


Air mata Riri masih membanjiri pipinya, ia terlihat mengatur napasnya dengan bersusah payah. Debaran jantungnya terasa semakin kencang


"A..ku..nggak...ku..at Di..on..... Tato... bunga dililit...ular"


Ia menyimak apa yang dikatakan oleh Riri "Kamu kuat Riri!!!! " teriaknya sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Riri masih dalam keadaan sadar.


Letak rumah sakit yang akan dituju oleh Dion sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja ia terhambat oleh kemacetan panjang jalan raya saat ini. Ia akhirnya memutuskan untuk menepikan mobilnya di satu lokasi yang cukup aman. Dan bergegas membopong Riri keluar dari dalam mobil lalu berlari menyusuri trotoar.


Dengan susah payah dan keringat yang mengucur deras di sekujur tubuhnya akhirnya mereka sampai di lobby rumah sakit. Pihak kantor depan di rumah sakit langsung menghubungi bagian IGD saat melihat mereka tiba.


Beberapa perawat dan seorang dokter terlihat berlari mendorong brankar dorong kearah mereka. Riri di turunkan diatas brankar dorong dalam kondisi bersimbah darah, lemas dan tidak sadarkan diri.


"Aku mohon bertahanlah Riri" bisik Dion pada Riri


"Kemungkinan kena benda tajam di bagian pinggang dok. Bagaimana keadaan teman saya dok?"


"Kami harus memeriksanya lebih lanjut, silahkan ke bagian administrasi terlebih dahulu" dokter tersebut menunjukkan tempat untuk melakukan registrasi


"Baik dok" jawab Dion dengan wajah khawatir


Mereka lalu membawa Riri masuk ke ruangan IGD dengan terburu-buru


Setelah mengurus administrasinya, ia lalu menghubungi ibunya untuk meminta nomor ibu Alina, untuk mengabarkan keadaan Riri saat ini


Setelah itu ia Kemudian menghubungi Sugi


"Selamat siang" jawab Pak Doni


"Selamat siang pak Dirut" kata Dion


"Maaf bapak Sugi saat ini sedang ada meeting, saya Doni Asisten beliau. Maaf ini dengan siapa saya bicara?"

__ADS_1


"Saya Dion pak"


"Pak Dion??" tanyanya heran


"Iyah anaknya Bu Siska" ujar Dion. Ia memang lebih senang menyebut nama ibunya daripada ayahnya sendiri


"Ada apa pak?"


"Sebaiknya bapak mengirim seseorang ke kantor Riri karena tadi ada orang yang menyerang mereka. Sekuriti di sana masih tergeletak di depan kantor dan Riri sekarang ada di Rumah sakit Sempurna"


Wajah Pak Doni terlihat kaget dan berubah pucat "bagaimana keadaan Bu Riri pak?" Tanyanya khawatir


"Saya juga belum tahu, masih di periksa oleh dokter. Tapi dia kehilangan banyak darah, pinggangnya terluka kemungkinan kena benda tajam. Dan sekarang masih belum sadar"


"Ok, saya beritahu Pak Sugi sekarang. Terimakasih pak Dion" ujarnya terburu-buru


"Iyah" Dion menutup sambungan teleponnya


Pak Doni bergegas mendekati Sugi yang sedang terlihat serius diruangan meeting bersama beberapa orang relasi. Ia terlihat berbisik ditelinga Sugi, seketika wajahnya berubah terkejut.


Ia pun berdiri "Bapak-bapak, sebelumnya saya minta maaf. Saya harus pergi sekarang karena ada hal mendadak yang sangat penting yang harus saya urus saat ini"


Semua yang hadir terlihat mengangguk dengan wajah sedikit kecewa


"Silahkan bapak-bapak melanjutkan pertemuan ini tanpa kehadiran saya, dan informasikan hasilnya nanti pada saya seperti biasa"


"Baik pak Silahkan" jawab seorang yang hadir di sana


Sugi melangkah terburu-buru meninggalkan ruangan tersebut diikuti oleh pak Doni di belakangnya


Sambil melajukan kendaraan menuju rumah sakit, pak Doni menghubungi anak buahnya untuk melakukan pengecekan ke kantor Riri.


Sementara itu pak Jon saat ini sedang rebah di atas sofa kantor. Ia nampak sedang menenangkan dirinya yang kini sedang kesakitan. Tadi ia masuk kedalam dibantu oleh seseorang yang kebetulan lewat di depan kantor. Beruntung orang asing tersebut memilih untuk membantunya alih-alih berlari menjauh ketika melihat wajahnya yang kini sudah tak berbentuk.


Ia baru saja menghubungi pak Doni untuk mengabarkan keadaannya sekaligus mengenai Riri yang kini hilang dibawa oleh dua orang tadi. Namun ia akhirnya bisa bernapas lega saat mengetahui orang yang membawa beliau ternyata seorang teman dan bukan dua orang laki-laki yang menyerang mereka tadi.


Saat ini ia masih merasa sangat cemas dengan keadaan Riri yang dikabarkan belum siuman di rumah sakit. Ada perasaan bersalah yang cukup besar dalam benaknya saat ia teringat bagaimana Riri mendorongnya agar terhindar dari belati yang dibawa laki-laki bertato itu.


"Bu Riri, maafkan saya karena tidak mampu melindungi ibu. Bahkan Ibu sampai terluka karena mencoba menyelamatkan saya" gumamnya dalam hati penuh penyesalan

__ADS_1


__ADS_2