
Hadi nampak termenung sepanjang jalan kembali ke kantornya. Berkali-kali ia terlihat mengerutkan dahinya seperti sedang berpikir keras.
"Brengs*k! Kamu di dimana Tari? Kenapa aku tidak melihatmu hari ini?? Sia-sia aku datang kembali untuk melihatmu?!! Katakan padaku Tari??!! Kenapa kamu biarkan aku menderita begini!!" Berulangkali ia bergumam hal yang sama di benaknya
Ia terlihat gusar, mengetuk-ngetuk jendela mobil dengan lekukan buku jari telunjuknya.
"Antarkan saya ke rumah wanita itu!"
"Baik pak" jawab sopirnya tanpa bertanya lagi, ia langsung mengerti siapa wanita yang dimaksud oleh bosnya ini.
Ponselnya berbunyi nampak sebuah nomor yang tidak ia kenali menghubunginya
"Selamat...malam" jawabnya ragu
"Selamat malam, Pak Hadi ya? Saya Silvi. Apa masih ingat?" Suara Silvi terdengar bersemangat
Hadi terdiam memikirkan nama dari pemilik suara ini
"Masa sudah lupa, saya yang kemarin parkir disebelah mobil anda di komplek pertokoan itu"
"Ohh Iyah saya baru ingat"
"Masih ingat tawaran kerjasama kita untuk saling membantu??"
"Iyah"
"Kita sepertinya harus segera bertemu kembali untuk membahas rencana kita. Hahaha ini pasti seru!"
Tawa Silvi bergema si telinganya
"Ok, kapan dan dimana?"
"Kalau sekarang bagaimana? , untuk lokasinya nanti saya kabarkan kembali"
"Ya, saya tunggu informasinya"
"Ok kalau begitu sampai nanti"
Silvi menutup sambungan teleponnya
Hadi nampak tersenyum samar karena merasa akan mendapat bantuan untuk mendapatkan Tari kembali.
"Kita berhenti pak?" tanya sopirnya ketika mereka hampir sampai di depan rumah Riri
"Jangan, saya hanya ingin lewat. Pelan-pelan ya"
"Baik pak"
__ADS_1
Seperti permintaan Hadi, laju mobil pun melambat
Ia melihat lampu di rumah Riri menyala
"Kemungkinan dia sedang berada di rumah, bisa jadi sedang tidak enak badan" gumamnya
Terbayang olehnya Sugi juga berada dirumah Riri dan mereka sedang bermesraan
"Dirut Sial*n!!!" Geramnya dalam hati
Pesan dari Silvi pun telah masuk ke ponselnya, ia membaca alamat yang tertera pada pesan tersebut.
"Kita kesini pak" Hadi memberikan ponselnya pada sopir
"Saya tahu tempat itu" ujarnya sambil mengembalikan ponselnya pada Hadi
Mobil melaju lebih kencang meninggalkan tempat itu
Sementara itu Riri dan Sugi telah kembali dari makan malam, dan kini mereka tengah berada dirumah Sugi
"Menginaplah disini" kata Sugi masih memeluk Riri dengan erat di pangkuannya
"Iyah deh" jawabnya sambil tersenyum
"Yay!!" Sugi nampak kegirangan
"Kapan itu?"
"Besok aku berniat untuk membelinya. Tadi siang aku sudah menghubungi pak Yudi untuk membantu dokumen jual belinya"
Sugi tersenyum samar "seperti biasa kamu selalu gerak cepat ya. Dari foto-foto yang kamu tunjukkan tadi aku akui pemandangan dan suasana villa itu benar-benar cocok untuk healing"
"Waktu kami melakukan inspeksi, aku merasa seolah-olah villa itu yang memilihku sebagai pemilik barunya. Entahlah mungkin perasaanku saja tapi aku sangat nyaman berada di sana"
"Kalau kamu mulai tinggal disana, waktu kita bertemu jadi semakin sedikit dong?"
"Kan sementara, renovasi dan perubahannya nggak banyak kok. Aku juga sudah menghubungi orang-orang yang waktu itu merenovasi warung Priboemi"
Sugi lagi-lagi tersenyum "ok, jadi semua sudah siap ya?"
"Sudah dong. Konsepku adalah Yoga Retreat and Spa Villa. Sebagian villa aku pakai untuk spa terutama yang view nya dekat dengan aliran sungai, sebagian lagi aku biarkan tetap menjadi Villa seperti sebelumnya. Awalnya aku hanya ingin menjual Spa saja, tapi setelah aku melihat secara langsung properti nya aku jadi berubah pikiran" ujarku bersemangat
"Menarik, kalau begitu mereka yang datang artinya memang bertujuan untuk healing, kan?"
"Iyah, nanti yoganya dilakukan outdoor. Ada dua tempat yang cukup luas untuk itu, kebetulan disana ada function room yang lumayan luas juga untuk berjaga-jaga kalau hujan"
"Excellent!"
__ADS_1
"Hahahaha namanya berencana kan boleh saja, mudah-mudahan lancar semuanya. Belum apa-apa aku sudah deg-degan begini" aku mendekatkan tangannya ke dadaku
"You'll be fine. Konsepnya bagus, tinggal mencari orang-orang yang tepat untuk bekerja disana"
Aku mengangguk "tentu saja"
"Aku jadi ikut bersemangat mendengar ceritamu ini" katanya sambil mengelus lembut rambutku yang tergerai
"Mmm..Nanti aku pasti akan menghubungimu kalau menemui kesulitan"
"Ok baby, sekarang sebaiknya kita beristirahat. Aku benar-benar lelah" ia menutupi mulutnya yang sedang menguap
Aku pun bangkit dari pangkuannya. Ia pun bangun dan merangkulku melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sementara itu Hadi dan Silvi telah bertemu sejak dua jam yang lalu di sebuah cafe yang letaknya jauh dari apartemen Silvi. Mereka secara bergantian menceritakan masa lalu mereka yang menyedihkan.
"Kalau bukan gara-gara kehadiran wanita buluk itu, mungkin aku sudah berhasil menikah dengannya" Silvi buru-buru menyesap cocktail yang ada di depannya
"Hei jaga mulutmu!, Wanita yang kamu bicarakan itu kesayanganku dan dia sangat cantik!!" Hadi mengerutkan dahinya, ia menatap Silvi dengan tajam
Silvi nampak tergelak "Hahahahaha, maaf! aku terbawa emosi"
"Ck!" Hadi menggeleng dan mengalihkan pandangannya
Rupanya waktu dua jam sudah mampu membuat mereka menjadi akrab, seakrab meninggalkan panggilan formal untuk saya, anda menjadi aku dan kamu.
"Apa yang harus kita lakukan untuk memisahkan mereka?" Hadi nampak gelisah matanya kembali menatap tajam pada Silvi
"Sabar, sementara aku masih sedang mencoba mengambil hati calon mertua ku. Aku beruntung setelah kejadian itu mereka masih mau menerimaku dengan baik"
"Kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Tari karena ulahmu, kau akan membayarnya dengan nyawamu"
Senyum Silvi memudar kala ia melihat kilatan amarah di mata Hadi
"Kamu serius, hanya menginginkan pujaan hatimu kembali? Apa tidak mau membalas dendam padanya?. Terus terang kalau aku tidak berhasil mendapatkan cintanya lagi, aku akan membuatnya menderita. Bagaimana denganmu, apa kita sama? Aku tidak rela melihatnya bahagia dengan orang lain"
Hadi mengigit bibirnya sendiri. Ia memejamkan mata, kini hanya wajah Riri yang terlintas dibenaknya. Namun ia harus akui bukan hanya ada cinta yang terpendam untuknya tapi juga dendam yang harus dilampiaskan padanya dan juga pada Dirut sial*n itu
"Aku setuju, aku juga merasakan hal yang sama"
"Bagus. Sementara aku akan berusaha berbaik-baik pada keluarganya. Kita mungkin akan sering-sering berkomunikasi"
"Berhati-hatilah karena nampaknya pak Dirutmu menempatkan anak buahnya di kejauhan untuk mengawasi Tari di komplek pertokoan itu
Silvi ganti menatap Hadi dengan wajah serius
"Pasti karena kejadian waktu itu, aku bahkan tidak berani mengatakan hal itu pada orang ini. Sebaiknya ku tutup saja mulutku ini" gumam Silvi dalam benaknya "
__ADS_1