
Riri mengingat-ingat kembali kejadian yang menimpanya. Ingatannya terakhir saat ia merasa Dion mengangkat tubuhnya dan membopongnya sambil berlari.
"Aku beruntung masih bisa selamat karena pertolongannya" gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba ia teringat tentang mimpinya tadi saat tidak sadarkan diri, ia bisa membayangkan kembali dengan jelas wajah kedua orang tuanya "terimakasih sudah datang di mimpiku ayah, ibu. Aku sangat merindukan kalian berdua" gumamnya kembali di dalam hati
Suara tawa dan canda di ruang tamu masih bisa ia dengarkan dengan jelas walaupun mereka sudah berusaha untuk berbicara dengan pelan. Riri kembali mendengarkan pembicaraan mereka. Sesekali ia nampak tersenyum saat Damar menceritakan kenakalan anak-anak didiknya sewaktu ikut menjadi pembimbing silat.
Ia lalu mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Riri nampak tersenyum samar dan kembali menutup matanya
"Sayang..." Bisik Sugi. Ia mengelus pipi Riri dengan ujung ibu jarinya dengan lembut
Pelan-pelan Riri membuka matanya, seolah-olah ia baru saja bangun dari tidurnya yang panjang. Ia nampak mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Hii baby..." Panggilnya lembut
Riri memandang Sugi dan memperhatikan wajahnya tanpa ekspresi
"Hei sayang, laper nggak? Atau haus? Badannya pasti sakti semua ya? Sabar ya sayang" ujarnya lagi
Lagi-lagi Riri hanya memperhatikan tanpa menjawab ucapannya
"Are you ok? Riri... Kamu bisa mendengarkan aku?" Wajah Sugi terlihat khawatir, ia mulai merasa ada yang aneh dengan sikap Riri
"Rio, kemarilah.." Panggilnya pada Damar
Damar menghampiri dengan terburu-buru diikuti oleh yang lain dibelakangnya
"Ada apa Sam?..." Ia melihat Riri sudah membuka matanya "hei Tari!" Panggilnya dengan lembut
Namun Riri hanya memandang semua orang yang ada disana dengan wajah bingung
"Kalian siapa?" Ujarnya sambil memandangi satu persatu orang yang berada disana
"Aku kakakmu Damar, kamu tidak ingat?" Damar mendekatinya dan memeriksa kening Riri.
"Suhu tubuhnya agak sedikit naik"
"Kamu benar-benar tidak ingat padaku?" tanya Sugi dengan wajah khawatir
"Kamu siapa?" Riri terlihat bingung "kenapa aku bisa ada disini?"
"Aku pacarmu, Sugi. Kamu tidak ingat sedikitpun?"
__ADS_1
Riri menggeleng pelan, sorot matanya memancarkan kegelisahan
Gia, Dion dan pak Doni terlihat kaget tak percaya saat mengetahui kalau ternyata Riri mengalami amnesia. Gia sampai harus menutup mulutnya hendak menangis, matanya mulai berkaca-kaca karena tidak tega melihat keadaan Riri saat ini.
"Aku akan menghubungi perawat yang bertugas" Damar hendak mengangkat telepon yang tergantung di sisi dinding sebelah kanan
"Jangan kak!!, aku bercanda Hahahaha... " Riri terkekeh dengan ulahnya sendiri
"Astaga.. Tari!" Ucap Damar geram bercampur gemas. Ia berkacak pinggang sambil menghela napasnya "Tuh kebiasaan, sakit-sakit begini masih saja jahil" Damar nampak mulai mengomel
Sugi hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Riri kali ini. Ada kelegaan yang terpancar di wajahnya. Ia tahu ketika Riri sudah mulai berulah jahil, ia sedang dalam keadaan mood yang baik"
"Orang gila, dasar!!! Hahaha" Gia mengomel sambil terkekeh, tangannya sibuk menghapus air matanya yang sudah merembes membanjiri pipinya
"Ck!..hehehehe" Dion tertawa geli, sedangkan pak Doni nampak melengos saat mengetahui kalau ini hanya keisengan Riri saja.
Suasana dalam ruangan seketika menjadi sedikit gaduh karena ulah Riri ini
"Sayang, kok Bisa-bisanya bercanda di keadaan begini?" tanya Sugi sambil menggenggam tangannya
"Biar kayak sinetron-sinetron di tipi Hahahaha maaf ya sayang , maafkan ya semua..." Ia masih terkekeh
"Aduh...aduh sakit...sshh" Riri meringis sambil memegangi bagian sekitar pinggangnya
"Ihhh kakak, nggak usah ngomel lagi deh, sakit nih... " Ia menunjuk pinggangnya
"Biarin... " Ujar kakaknya sambil menarik sedikit rambut Riri dengan gemas
"Sayang, aku disiksa kakakku sendiri" Riri pura-pura mengadu pada Sugi
"Jangan digituin Yo, kasihan dia kan lagi sakit!" Sugi membelanya
"Nggak usah dibelain, Sam. Anaknya nakal gini" Damar melengos kehabisan kata-kata
Semua orang yang ada di sana nampak tertawa geli melihat adegan ini
Ponsel pak Doni bergetar ditangannya, ia melihat Gatot mengirimkan sebuah pesan
"Saya keluar sebentar pak" ia meminta ijin pada Sugi
"Ok, kabari saya secepatnya" jawab Sugi seperti paham siapa yang baru saja menghubungi Pak Doni
"Baik pak" tanpa berbasa-basi lagi, dengan langkah cepat ia berlalu pergi dari kamar tersebut
__ADS_1
"Pak Doni mau kemana?" tanya Riri pada Sugi
"Nanti saja aku ceritakan, sekarang sebaiknya kamu minum dulu" ia membantu Riri mendekatkan air dengan sedotan ke hadapannya
Riri menghirup pelan air dalam gelas yang disodorkan oleh Sugi
"Laper nggak?"
Riri mengangguk
"Ok, aku hubungi perawat dulu untuk menanyakan apa yang bisa kamu konsumsi untuk saat ini"
"Ini jam berapa?, Berapa lama aku tidur?"
" Hampir jam empat pagi, sekitar tujuh jam kurang lebih"
"Gia, Dion" panggilnya saat melihat mereka berdiri agak jauh dari sana.
Mereka nampak tersenyum sambil mengambil kursi dan duduk di dekat Riri
Sementara itu Pak Doni baru saja sampai di tempat Gatot bersama beberapa orang bawahannya. Ia melihat Gatot sedang duduk bersandar di satu sudut ruangan yang minim cahaya. Jauh di depan mereka nampak dua orang sedang terikat di sebuah tiang besi. Badan mereka nampak lunglai tanpa tenaga dengan ceceran darah disekitar mereka.
"Mereka tadi sudah kuhajar habis-habisan Don. Tapi mereka masih saja tidak mau mengaku siapa yang memerintahkan mereka. Aku heran bisa-bisanya mereka berdua lebih setia sama orang itu dibanding aku yang menghidupi mereka bertahun-tahun" Gatot nampak menggeleng sambil mengelus senjata api ditangannya, seperti mengatakan kalau kesabarannya kini mulai habis.
"Paling kalau yang begini masalah duit. Mereka pasti dibayar mahal tot. Sudah periksa ponselnya?" Bisik pak Doni, ia nampak duduk disebelah Gatot
"Sudah, aku hanya menemukan satu nomor asing sepertinya sih sambungan dari luar negeri. Dan sialnya lagi nomor itu sudah tidak aktif lagi" Gatot balik berbisik
Pak Doni nampak sedang memikirkan sesuatu.
"Mereka sudah tidak berguna lagi untukku. Kalau kamu mau menyiksanya lagi silahkan saja. Nanti aku yang akan membereskan sisanya"
"Apa mereka tangan kananmu?" tanya pak Doni sembari berpikir
"Bukan, mereka dibawah salah satu yang terkuat disini tapi jangan salah Don rata-rata mereka cukup terlatih kok"
Pak Doni mengangguk "kalau begitu, kita tidak perlu mengotori tangan kita lagi. Aku akan segera mengirim mereka ke penjara. Kamu pilih saja satu penjara, dimana semua musuh-musuhmu ditahan" ia berbisik
Gatot menatap Pak Doni dengan wajah heran "sejak dulu cara berpikir mu itu memang berbeda ya Don. Kamu selalu saja memiliki ide diluar nalar. Aku baru sadar ternyata kecerdasanmu ini yang menjadikan atasanmu merekrut mu bekerja disana. Ok, aku mengerti" ia menepuk pundak pak Doni.
"Serahkan saja mereka ke anak buahku" ia berdiri
"Aku pergi dulu, jaga dirimu kawan" lanjut pak Doni kemudian menjabat erat tangan Gatot dan berlalu keluar dari ruangan itu
__ADS_1
Gatot mengangguk-angguk "Gila, aku nggak habis pikir darimana dia mendapat ide itu?. Dua orang ini akan dikirim ke penjara yang isinya sarang dari musuh-musuhku, tentu saja disana mereka akan dihabisi pelan-pelan. Benar-benar pintar dan sangat kejam" gumamnya sambil tersenyum