
Hari-hari pun berlalu dengan sangat cepat. Setelah renovasi selesai Riri pun mulai berbenah untuk persiapan melakukan soft launching Lembayung Retreat villas.
Walaupun mereka memiliki kantor di belakang, namun Riri selalu lebih memilih meeting bersama pak Kanis di areal Villa. Meeting pagi ini ia lakukan bersama dengan seorang akunting baru bernama Intan dan seorang Chef muda bernama Ronald
"Pak Kanis, kapan seragam staff selesai di buat?"
"Katanya dua hari lagi Bu, omongan mereka bisa dipegang kok bu. Seragam yang lama juga kita buat disana, dan tidak pernah ada masalah"
"Ok, celana panjang rok batik untuk staff spa juga selesai dua hari lagi pak?"
"Iyah Bu semuanya"
"Kurang lebih seminggu lagi saya akan melakukan soft launching. Nanti saya akan mengundang orang-orang pemerintahan yang terkait di daerah ini, Asosiasi hotel dan Spa, beberapa orang juga dari perusahaan tour and travel yang sudah memiliki nama, mungkin juga beberapa humas hotel yang saya kenal. Ada masukan pak Kanis siapa yang harus saya undang lagi?"
"Kalau Ibu tidak keberatan mungkin bisa mengundang bapak Gilang juga Bu"
"Ahh iya saya hampir saja lupa. Nanti saya kirimkan email ke pak Kanis nama-nama yang akan saya undang. Kalau ada perubahan informasikan pada saya secepatnya ya, karena besok kita sudah harus mengirimkan undangannya"
"Baik Bu. Untuk laporan yang ibu minta mengenai kesiapan villa dan fasilitas yang kita miliki semua sudah saya kirim via email sejam lalu. Hanya ada beberapa masalah minor Bu dan semuanya sudah saya koordinasikan ke pihak yang terkait"
"Ok, semoga sebelum hari H semua sudah siap pak"
"Pasti siap Bu, saya akan push semua orang bekerja dengan cepat" ujar pak Kanis bersemangat
"Ok, great"
"Untuk Pak Ronal dan Intan silahkan berkoordinasi mengenai kesiapan di kitchen, kalian harus selalu menjaga komunikasi dengan baik ya"
"Baik Bu" jawab mereka berbarengan
"Pak Ronal, nanti setelah ini kita meeting menu untuk soft launching pak"
"Siap Bu, saya sudah punya beberapa menu yang kemungkinan cocok untuk acara itu"
"Ok bagus, semoga semua berjalan dengan lancar, tanpa hambatan yang berarti"
Sementara Riri masih sibuk dengan meetingnya pagi ini, Sugi baru saja mendapatkan telepon dari ayahnya. Ia menutup sambungan teleponnya dengan helaan napas panjang.
"Acara apa itu pak? Saya dengar tadi bapak dapat undangan" tanya pak Doni
"Acara ulang tahun bapak Walikota, pak Wisnu. Katanya beliau mengadakan acara makan malam keluarga"
"Kapan acaranya pak?"
Sugi terdiam agak lama, ia menggaruk hidungnya sambil berpikir
"Bertepatan dengan acara Villa Lembayung"
"Aduh!..." ujar Pak Doni nampak terkejut
__ADS_1
"Saya sepertinya harus memilih salah satu, kemungkinan besar saya tidak bisa datang ke acara Riri, pak. Pak Doni kan tahu hubungan ayah dengan pak Wisnu baru saja dekat"
"Kalau begitu lebih baik katakan yang sebenarnya pada Bu Riri jauh-jauh hari pak, pasti bu Riri mengerti"
"Bukan itu yang saya khawatirkan, tadi ayah bilang pak Wisnu mau memperkenalkan putrinya yang baru saja pulang dari studinya di luar negeri"
Ia menatap wajah pak Doni dengan tatapan "aku harus apa pak?!!"
"Semoga Bu Riri juga mengerti tentang yang satu itu pak, kan hanya berkenalan biasa"
"Saya kenapa merasa ini bukan perkenalkan biasa ya pak. Nanti jangan beritahu tentang perkenalan ini pada Riri. Saya takut akan menggangu konsentrasinya. Dia pasti sedang sangat sibuk"
"Baik pak" jawab pak Doni singkat. Ia juga berharap tidak akan ada masalah setelah perkenalan itu.
Ponselnya lagi-lagi bergetar, kali ini pak Bram yang sedang melakukan panggilan
"Selamat pagi pak Bram"
"Pagi Sam... uhuk..uhuk!!" Pak Bram terdengar sedang terbatuk-batuk
"Malam ini sayang sekali saya tidak bisa menemani makan malam kalian berdua. Kesehatan saya sedang kurang baik" ujar pak Bram dengan suara serak
"Oh tidak apa-apa pak, lebih baik bapak beristirahat saja agar kondisi pak Bram cepat pulih. Cuaca belakangan sedang tidak bersahabat"
"Iyah Sam, tapi nanti saya akan jadwalkan ulang makan malam kita di lain waktu. Oh iya Tommy tiba-tiba juga harus keluar kota dari semalam. Biasalah Sam, ada saja urusannya"
"Ahh nggak ada bedanyalah kalian berdua. Asal jangan sampah lupa mencari calon istri, itu yang paling penting sekarang. Saya sudah was-was sama Tommy, sampai sekarang belum kelihatan serius sama wanita mana pun. Ck!" Ia menghela napasnya
"Iyah pak, jangan terlalu khawatir, Tommy pasti sudah punya wanita idamannya tapi belum di kenalkan saja sama bapak" jawab Sugi singkat
"Semoga saja benar, dan ia memilih wanita yang baik. Ya sudah kalian nikmati makan malam nanti, ya!"
"Iyah pak Bram, terimakasih"
"Ok Sam, salam buat Riri"
"Ok, Nanti saya sampaikan pak"
Sambungan telepon ditutup oleh pak Bram
"Setidaknya malam ini aku dan Riri bisa makan malam dengan tenang di Penumbra" gumamnya sendiri sambil tersenyum
Ia pun mengetik pesan untuk mengingatkan Riri tentang janji makan malam ini
"Sayang, hanya mengingatkan. Sore ini aku jemput jam 6 kita makan malam berdua di Penumbra π"
Beberapa detik pesannya pun telah dibalas
"Iyah aku ingat kok. Can't wait to see you babe β€οΈ π"
__ADS_1
"Pak Bram sedang sakit, Tommy juga ada urusan kerja. Jadi kita benar-benar makan malam berdua nanti malam π"
"Oh ya? Nice! π tapi nggak bermaksud senang pak Bram sakit ya. Nanti deh aku kirimin bubur sama teh jahe kerumahnya. Kasihan udah berumur, hidup sendirian juga kan?!"
"Aku nggak dikirimin juga? ππ₯Ί"
Riri menggeleng sambil menahan tawanya membaca pesan dari Sugi.
Meeting pagi ini sudah usai mereka lakukan, pak Ronal dan Bu Intan telah mendahului kembali ke pekerjaannya masing-masing. Sedangkan pak Kanis masih sedang membereskan berkasnya. Ia kemudian tertegun melihat perubahan raut wajah Riri saat menerima pesan di ponselnya. Pak Kanis nampak ikut tersenyum melihat Riri yang tadinya tegang karena begitu serius dengan pekerjaannya berubah tersenyum manis dan ceria.
"Iyah boleh, mau dikirimin makanan apa sayang?"
"How about snacks... I mean snacking your lips? π€ Can I have it, like... right now?!"
Riri merasa gemas membaca pesannya, lalu menjawab dengan cepat
"Inih...ππππ ππ Duh gemas π₯Ί"
"π« π« π I love you sayangπΉsampai nanti ya"
"I love you too, ok π "
Ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Ia melihat pak Kanis sedang tersenyum
"Ada apa pak?" tanyanya penasaran
"Nggak Bu, melihat ibu tersenyum saya jadi ingat dengan putri saya. Kalau sedang senang senyumnya mirip Bu Riri"
"Hehehe masa? Putrinya umur berapa pak?"
"13 tahun Bu, masih di sekolah menengah pertama"
"Wah sedang masa-masa peralihan ke remaja ya pak"
"Benar Bu. Saya mulai tidak paham dengan kemauannya, tapi saya masih selalu berusaha untuk memahaminya. Mudah-mudahan saja saya tidak banyak melewatkan fase-fase penting ini" ujar pak Kanis sambil tersenyum
"Yang terpenting komunikasi dan perhatiannya pak. Nggak ada yang lebih penting dari itu kok di masa mereka"
Usai berkata begitu Riri tiba-tiba terdiam, ia jadi teringat dengan kedua orangtuanya. Ia merasa beruntung karena sempat merasakan kasih sayang dan perhatian yang luar biasa dari mereka di usia remajanya.
"Ah aku jadi teringat kembali masa-masa itu" gumamnya dalam hati
Pak Kanis membaca perubahan raut wajah Riri dengan perasaan tidak enak, ia hanya diam tanpa berani menanyakannya
Riri nampak menghela napas, ia kemudian kembali sedikit tersenyum
"Pak Kanis, ternyata waktu memang berlalu dengan sangat cepat ya pak. Kita harus benar-benar bisa menghargai dan menikmatinya dengan baik" ujar Riri lalu bangkit dan berlalu dari hadapan pak Kanis
Pak Kanis mengangguk "Iyah, Bu Riri benar" jawabnya sambil memperhatikan punggung Riri sampai menghilang dari pandangannya
__ADS_1