Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Laki-laki aneh


__ADS_3

Dua jam sebelum press conference berlangsung Riri sedang menikmati sarapannya di meja makan. Ia terlihat cerah pagi ini. Satu tangannya nampak memegangi ponsel yang menempel pada telinganya. Sedangkan tangan yang lain sedang memegang sendok, mengaduk tehnya dalam cangkir.


Gia baru saja berangkat mendahuluinya, ada meeting internal yang harus ia hadiri pagi ini. Riri tadi sudah membekalinya dengan kopi panas dalam termos kecil dengan setangkup roti panggang cokelat kesukaannya.


"Pagi Sayang..." Sugi menjawab teleponnya dengan suara berat


"Aku salah waktu ya? Jangan-jangan kamu ketiduran. Yah kebangun deh gara-gara aku, maaf ya sayang" ujarku merasa tidak enak


"Hei, it's okay. Aku memang menunggu teleponmu"


"Sebenarnya tadi aku sudah mau menelpon, tapi nggak jadi gara-gara buatin Gia sarapan. Dia ada rapat internal pagi-pagi sekali hari ini"


"Loh Gia menginap semalam?"


"Iyah, kan menemani aku yang lagi galau hehehe" aku tertawa geli


"Ck! Aku juga galau, tahu! Sepertinya ini perjalanan bisnis ku yang paling berat"


"Karena ada masalah itu ya?"


"Bukan, masalah itu sebenarnya nggak terlalu mengganggu pikiranku. Isi pikiranku lebih banyak tentang kamu. Aku rindu setengah mati padamu, Riri"


"Masa?...Aku jadi penasaran... Apa dulu ketika bersama Mita kamu juga seperti ini?" tanyaku iseng


"Tuh! Jangan mulai lagi, aku nggak suka. Masa laluku dengannya sudah lama selesai. Aku bahkan sudah lama tidak pernah ingat padanya lagi. Mmm Riri aku ingin kamu tahu rencanaku setelah pulang dari sini"


"Test DNA?"


"Salah satunya, tapi sebelumnya aku harus bertemu dengan Mita untuk hal itu. Aku juga akan membahas kasus ini dengannya"


"Apa nanti kalian akan menuntutnya kalau dia ternyata bersalah karena menyebarkan berita bohong?"


"Nah itu yang aku belum tahu, apa dia terlibat secara langsung atau ada orang lain dibalik kasus ini"


"Kamu tidak menyimak pertanyaanku dengan benar"


"kalau dia terbukti bersalah maka aku akan menyerahkan kasus ini pada tim legal kami"


"Yakin, tega?"


"Kenapa tidak, sudah kubilang hubunganku dengannya sudah selesai. Terus terang hal-hal seperti ini sangat berpengaruh pada image keluarga dan perusahaan. Jadi sebaik apapun hubunganku dimasa lalu dengan seseorang kalau sudah ada kasus menyangkut nama baik, pasti aku akan melakukan sesuatu untuk mengatasinya"


"Kalau itu terjadi padaku, apa kamu tega menuntutku?" tanyaku kembali dengan maksud iseng


"Apa kamu juga tega meninggalkan aku dan menikah dengan laki-laki lain?" Jawabnya serius


Aku tercengang mendengar jawaban yang juga sekaligus pertanyaan ini darinya. "Aku kini yakin rasa sakit luar biasa yang pernah ia rasakan sebelumnya sangat membekas dalam hatinya. Seperti yang pernah dikatakan pak Doni dulu, mungkin itu yang menyebabkan ia menjadi posesif seperti sekarang" gumamku dalam hati


"Kenapa tiba-tiba diam?" suara Sugi mengagetkanku


"Aku bukan Mita, sayang"


Ia menghela napasnya "maaf Riri, aku nggak bermaksud begitu" katanya lemah, ia seperti merasa salah bicara


"Ternyata kejadian itu masih sangat membekas dalam ingatanmu ya?, tapi nanti saat bertemu dengannya bicaralah baik-baik. Aku tidak keberatan sama sekali. Aku entah kenapa merasa yakin sekali, kalau Mita kembali hanya untuk bertemu denganmu"


"Ck! Aku tidak mau membahasnya Riri. Aku bahkan tidak peduli. Aku hanya mau membersihkan nama baikku, itu saja" ia terdengar frustasi


"Aku mengerti, Sayang. Tenang saja, aku akan tetap disini menunggumu. Kapan kamu kembali?"

__ADS_1


"Kemungkinan besar tiga hari lagi. Tapi sepertinya kita tidak bisa langsung bertemu setelah aku kembali. Wartawan pasti akan mengikuti aku kemana-mana. Aku nggak mau kamu jadi incaran wartawan. Mereka akan menelisik kehidupan pribadi dan latar belakang keluargamu. Itu yang aku khawatirkan"


"Oh kalau begitu, artinya nanti kamu hanya bisa bertemu dengan Mita aja dong?" tanyaku lagi sambil menahan tawa


"Hei!!! aku ingin sekali menggigit gemas bibirmu yang tajam itu!!! tanda yang aku tinggalkan di tubuhmu rupanya tidak mempan ya?!!!" Ujarnya ketus


"Hahahaha sabar pak, Jangan marah-marah! Ingat kesehatanmu loh pak Dirut" aku tergelak dengan candaanku sendiri


Kudengar helaan napasnya yang berat


"Puas ketawanya? Awas ya..." Ancamnya dengan suara lembut


"I love you so much pak Dirut hehehe" kataku dengan nada manja masih sambil terkekeh


"Ck! I love you too baby"


"sebaiknya kamu beristirahat, Sleep tight ya, sweet dream. Kamu pasti lelah, Besok kita ngobrol lagi"


"Ciumnya mana?"


"Muach!"


"Aku mau yang asli, pokoknya nanti aku mau minta cium yang banyak dan lama. Kamu nggak boleh protes" ujarnya manja


Aku tersenyum mendengar permintaannya "Iyah, sayang"


"Ya udah aku tutup ya"


"Iyah" jawabku lembut, sambungan teleponnya kemudian terputus. Aku meletakkan ponselku kembali keatas meja.


Kulihat jam di ponselku, ternyata sudah pukul 08:10 menit. Aku bergegas mengganti pakaian untuk berangkat ke kantor. Hari ini aku merasa cukup bersemangat karena teringat kabar dari Bu Ina semalam, katanya mobil baruku akan datang nanti sore


Perjalananku menuju kantor terbilang lancar pagi ini. Ketika sampai, dari kejauhan aku melihat seorang laki-laki berdiri di depan pintu masuk. Tanpa rasa curiga aku turun dari sepeda motorku dan menghampiri laki-laki itu. Aku cukup terkejut saat menyadari laki-laki itu adalah Dion.


Ia menatapku sambil tersenyum "hi, selamat pagi Riri" sapanya penuh senyum


"Hi Dion, kenapa kamu ada disini pagi-pagi?"


"Harusnya siang-siang ya?" Ia nyengir memperlihatkan giginya yang putih dan rata. Lesung pipinya kali ini nampak jelas


"Ada perlu apa datang kemari?" tanyaku sambil membuka pintu folding gate dengan cepat. Nampak Dion ikut membantuku mendorong satu sisi pintu sebelah kiri.


"Terimakasih Dion" kataku sambil masuk kedalam.


"My pleasure" jawabnya sambil mengikutiku


"Sial, kenapa anak ini ada disini sih? Kalau aku mengusirnya sekarang rasanya tidak sopan sama sekali" batinku


"Duduklah di sana" aku menunjuk ke arah sofa di depanku


"Ok, kamu sudah sarapan Riri? Aku belum loh" katanya lagi dengan mimik sedih


"Aku sudah, kalau kamu belum yah aku nggak bisa bantu. Ini kan kantor bukan kedai"


"Nggak ada kopi ya untuk tamu yang datang kemari?"


Aku menatapnya heran "instant, tunggu sebentar" kataku sambil beranjak ke belakang


"Wahh terimakasih!!" Ujarnya gembira

__ADS_1


Aku hanya bisa menggeleng mendengarnya


Sejenak aku telah kembali membawa secangkir kopi beserta setoples kue kering.


"Nih silahkan" aku meletakkannya di atas meja


"Wah ini pagi terbaikku" ia tersenyum


"Oke sekarang katakan padaku apa tujuanmu kemari? Jangan membuang waktuku hari ini karena sebentar lagi aku ada janji meeting disini"


"Setelah kopiku habis, aku akan pulang. Tenang saja" ia meniup kopinya pelan lalu menghirupnya dengan nikmat


Aku menatapnya bingung "kamu kemari hanya untuk ini? Kamu tahu alamat kantor ini darimana?"


"Dari pesanan alat penghancur kertas mu. Alatnya masih ada di dalam mobilku. Nanti aku ambilkan. Aku sedang ingin bertemu denganmu, makanya aku mau mengantarkannya kemari" katanya berterus terang


"Dion, ini rasanya kurang tepat untuk kamu lakukan. Kamu tahu kan aku...."


"Iyah aku tahu, kamu milik pak Dirut ganteng itu. Tapi semalam aku sudah mendengar beritanya. Yah siapa tahu kamu perlu teman bicara" ia memotong ucapanku, matanya masih menatapku dalam-dalam


"Aku baik-baik saja Dion, terimakasih atas perhatianmu. Tapi sebaiknya perhatianmu itu kamu alihkan kepada wanita lain yang lebih tepat"


"Namanya juga usaha" ia kembali nyengir


"Ck! Habiskan kopimu, aku mau memeriksa emailku sebentar" aku beranjak dari sana menuju ke meja kerjaku


Biasanya ketika Riri bekerja, otomatis semua hal diluar pekerjaannya tiba-tiba menjadi tidak penting lagi. Ia benar-benar berkonsentrasi pada hal yang sedang dikerjakannya saat ini dan melupakan hal lain. Seperti saat ini, ia sedang sibuk membalas beberapa email yang masuk sampai melupakan Dion yang ternyata masih ada di sana.


Sepanjang Dion berada di sana matanya tak pernah lepas dari Riri. Ia beberapa kali terlihat tersenyum saat melihat Riri menampilkan beberapa ekspresi wajah tertentu saat memperhatikan layar laptopnya.


Riri nampak tersenyum puas karena semua email yang masuk pagi ini telah ia balas satu persatu. Tiba-tiba saja matanya mengarah pada Dion yang masih berada disana. Bahkan posisinya sekarang sedang rebah diatas sofa sambil menatapnya.


"Astaga, kamu masih ada disini?!!"


"Iyah, kan lagi ngeliatin kamu kerja. Riri, Kamu Cantik!" Ujarnya santai


"Duh!!! Gimana cara mengusir orang ini ya??" Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal


"Aku nggak perlu diusir, sebentar lagi aku pulang kok" katanya seperti membaca pikiranku


"Alatnya mana?"


"Tunggu ya" ia nampak bergegas keluar menuju ke mobilnya


Sedetik kemudian ia telah kembali membawa barang pesananku. Ada tambahan satu kerat minuman vitamin C dan satu dus permen berbagai rasa diatasnya. Ia meletakkannya diatas meja tamu.


"Yang diatas ini bukan pesananku"


"Itu untukmu, biar kamu nggak cepat sakit dan menjagamu tetap manis seperti sekarang" ia lagi-lagi tersenyum


"Tapi aku sepertinya nggak bisa menerima ini"


"Takut dimarahi pak Dirut? Kalau kamu tidak memberitahunya pasti dia nggak akan tahu"


"A..."


Dion memotong ucapanku "Thanks yah kopinya, have a nice day sweety. Aku pulang. Nanti aku pasti kemari lagi, atau telepon aku kalau kamu ingin bertemu" ia mengedipkan sebelah matanya lalu menghilang dengan cepat dari hadapanku


"Laki-laki yang aneh!" gumamku sambil membawa masuk barang-barang yang ada di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2