Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Boneka beruang 2


__ADS_3

Riri menjauhkan tubuhnya, ia mengusap air matanya dengan cepat. Kepala boneka yang ia pegang ia lepaskan dari tangannya


"Aku mau sendiri, bisa tinggalkan aku sebentar?" Suaranya terdengar dingin, seperti saat mereka pertama kali bertemu di Eat and Love


Sugi memandangi wajah Riri dengan perasaan bersalah "aku tidak mau kembali lagi melihat Riri yang dingin dan selalu menutup diri seperti dulu" batinnya


"Aku mau menemanimu, ini salahku jadi ijinkan aku memperbaikinya"


"Terserah" kata Riri dengan nada datar, kemudian ia merebahkan diri dan memunggunginya


Sugi mengambil kepala dan badan boneka yang berceceran, lalu duduk di atas ranjang.


Ia berencana meminta bantuan seseorang untuk menjahitkan kembali. Saat tangannya menekan-nekan badan boneka itu, tiba-tiba saja ia merasakan ada sesuatu yang menonjol pada bagian leher yang terbuka.


Sugi menarik bagian yang menonjol itu, ia nampak terkejut melihat benda yang keluar. Sebuah benda berbentuk tabung terbuat dari aluminium yang bagian luarnya di lilit dengan bahan spon. Ia lalu membuka bagian tutupnya, alangkah terkejutnya ia saat melihat didalamnya berisi gulungan kertas yang telah di laminating.


"Riri! Coba kamu lihat ini sebentar"


Riri hanya terdiam tak bereaksi dengan ucapan Sugi


"Aku menemukan satu benda didalam boneka ini, sepertinya surat berharga"


Riri menoleh perlahan dengan wajah tak percaya. Tapi wajahnya berubah saat ia melihat apa yang ada di tangan Sugi.


Sugi menyodorkan surat tersebut pada Riri


Dengan cepat Riri membuka surat tersebut, ia membacanya perlahan.


"Ini surat kuasa" katanya memandang kearahku. Aku mendekatinya dan ikut membaca isi surat tersebut


"Kamu diberikan akses safe deposit box milik orang tuamu di bank X" ujar Sugi dengan nada serius


Riri mengangguk "aku pikir semua aset orang tuaku sudah berada di tangan paman. Ternyata aku salah. Pantas saja dia mencariku mati-matian. Pasti demi ini"


"Kapan kamu mau memeriksanya, aku antar ya"

__ADS_1


"Entahlah, aku hanya khawatir ada seseorang di Bank tersebut yang merupakan mata-mata dari paman, pasti orang itu sudah menunggu kedatanganku cukup lama "


"Hmm aku bisa mengatur kedatanganmu secara private. Aku kan VVIP disana, nanti aku bantu jalur yang benar-benar aman untukmu" katanya tersenyum


"aku mau, terimakasih pak Dirut" jawab Riri dengan perasaan lega


Aku bisa melihat matanya berbinar, senyumnya mulai mengembang.


"....boleh minta peluk nggak? Supaya aku yakin kamu sudah tidak marah lagi" kata Sugi dengan wajah penuh harap


"Tapi kepala bonekanya harus dipasang lagi" katanya sambil mendekat kearahku dan memeluk dengan erat


"Iyah aku yang tanggungjawab" sahut Sugi sambil membalas pelukan Riri dengan perasaan lega luar biasa


"kalau bukan karena hal tadi, seumur hidup mungkin aku nggak akan tahu ada benda berharga didalamnya" Riri meregangkan pelukannya


"Mendiang orang tuamu tidak pernah menyinggungnya sama sekali?"


Riri menggeleng "Ibu hanya bilang untuk selalu menjaga boneka ini dan harus membawanya kemanapun aku pergi"


Riri merogoh kedalam badan boneka beruang, tangannya menyentuh benda seperti kartu, terbuat dari semacam plastik tebal mirip ATM


"Ketemu!!" Pekik Riri, sembari menarik tangannya. Kulihat kartu berwarna hitam ditangannya dengan lambang bank X tertera pada bagian depan.


"Orang tuamu ternyata sudah mempersiapkan banyak hal untuk masa depanmu. Mereka mungkin sudah memiliki firasat saat memutuskan memberikan ini padamu"


"Sugi, apa biasanya akses seperti ini hanya ada satu?"


"Biasanya ada dua, satu milik orang yang membuat, satunya lagi untuk pewarisnya. Tanpa surat kuasa, tanda pengenal dan kartu akses ini, siapapun tidak akan bisa membukanya. Kecuali ada pernyataan dalam surat waris yang di buat oleh si pemilik"


Riri menatap Sugi "kira-kira siapa yang memegang kartu akses pertama ya? Aku yakin bukan paman. Kalau sudah berada di tangannya aku yakin dia tidak akan repot lagi mencariku" Riri menghela napasnya


"Kamu tahu sewaktu kakakku baru saja dinyatakan hilang, hal pertama yang dilakukan pamanku adalah mengobrak-abrik kamar kak Damar. Waktu itu aku sama sekali tidak mengerti kenapa? Sampai pada akhirnya aku dipaksa menandatangani satu surat yang menyatakan perwakilanku di perusahaan. Aku bahkan tidak sempat membaca isinya secara detail, karena mereka mengancam ku. Mereka juga meminta surat akta waris, yang aku bahkan tidak pernah melihat bentuknya seperti apa. Disanalah aku baru memahami apa yang pamanku inginkan" lanjut Riri matanya menerawang


"Ku dengar perusahaannya mengalami masalah keuangan" ujar Sugi

__ADS_1


"Aku yakin dia tidak sehebat ayahku dalam hal mengelola perusahaan. Sejak awal memang mereka berdua sangatlah bersebrangan. Apa yang diputuskan ayahku selalu ditentangnya"


Sugi menepuk lenganku lembut "sudah yuk, disimpan dengan baik suratnya, hari Senin sepulang bekerja aku antar kesana"


"Siap pak Dirut" jawabnya dengan semangat


"Sekarang martabak dulu yuk" ajak Sugi


"Ayok!" Ujarnya bersemangat sambil meletakkan tabung dan kartu akses tadi ke dalam laci nakasnya.


Sugi mendorong Riri lembut keluar dari kamar untuk menuju ke garasi


Ada perasan berbeda yang dirasakan Riri saat ini terhadap Sugi


"Kenapa ya setiap bersamanya aku selalu merasa tenang dan aman. Ya Tuhan apa aku sudah jatuh cinta padanya? Sejauh ini hanya dia satu-satunya laki-laki yang bisa aku percaya. Tapi sayangnya level kami berbeda dan aku cukup tahu diri"


"Bisa tetap bersamanya seperti ini saja, aku sudah lebih dari bahagia. Aku berjanji akan selalu ada untuk membantunya selagi aku mampu. Aku akan selalu mendukung segala keputusannya di masa depan" aku menatapnya tak berkedip saat dia mengeluarkan sepeda motor kesayangannya keluar dari Garasi


"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan" kata Sugi, menoleh padaku saat aku mulai naik ke atas boncengan.


"Bukan apa-apa. Aku hanya merasa bersyukur bisa mengenalmu. Terimakasih Pak Dirut atas semua bantuannya"


Sugi tersenyum "Kalau begitu, tetaplah bersamaku sampai kapanpun" katanya sambil melajukan sepeda motornya dengan mengebut. Pintu gerbang dibelakang kami seperti biasa menutup dengan sendirinya ketika kami keluar dari rumah ini.


Aku terkejut mendengar jawabannya "apa maksudnya? Tetap bersamanya? Oh mungkin maksudnya menjadi tangan kanannya seperti pak Doni" Batinku


"Baiklah aku akan selalu bersamamu" jawabku yakin


Sugi menoleh ke samping, hampir saja dia menghentikan laju motornya mendengar jawaban dari Riri.


Akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan ini. Dia tidak mau mengacaukan malam yang indah seperti hari ini. Dia masih belum yakin akan jawaban yang ia terima jika dia mengutarakan perasaannya sekarang.


"Biarlah aku tahan sebentar lagi perasaanku. Pasti ada waktu yang tepat untuk menyatakannya. Aku tahu Riri sedang bahagia karena baru menyadari kasih sayang orang tuanya ternyata melebihi harapannya"


"Pegang yang erat Riri!!" Teriaknya ketika dia melajukan sepeda motornya lebih kencang

__ADS_1


Riri memeluk pinggangnya semakin erat.


__ADS_2