Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Mabuk


__ADS_3

Menjadi seorang personal asisten seperti ini sesuai dugaanku memang cukup berat. Mengharuskan aku untuk selalu fokus dan siap setiap saat.


Jadwal meeting yang harus di hadiri oleh Sugi hari ini sangat padat. Untung saja aku bekerja bersama pak Doni yang cekatan dan banyak membantuku. Aku harus akui pak Doni memang cerdas juga sangat berpengalaman di bidang ini. Dia selalu bisa diandalkan dalam situasi apapun.


Aku melihat jam di ponselku, saat ini pukul setengah lima sore. Sugi sedang ada meeting terakhir bersama pak Doni. Aku ditugaskan untuk memeriksa email yang masuk dan mengatur jadwal Sugi untuk keesokan harinya.


Aku menghubungi Dewi untuk memeriksa jadwal meeting besok, kudengar suara telepon di mejanya berdering saat aku hubungi. Berkali-kali suara deringan itu berbunyi tanpa ada tanda-tanda seseorang disana.


Aku memeriksa Dewi di depan, kulihat dia sedang bersiap-siap untuk pulang. "Dewi!" Panggilku


Ia menoleh "ya ada apa?" Jawabnya dengan suara datar dan wajah kesal


"Jadwal tentatif meeting pak Sugi kenapa belum dikirim kesaya? Kenapa telepon saya tidak diangkat?" Tanyaku tak kalah kesal


"Nggak dengar. Jadwalnya sudah kok, baru saja" wajahnya berkesan tidak peduli dan melangkah pergi dari mejanya tanpa mengatakan apa-apa lagi


Aku hanya menggeleng melihat kelakuannya "ada aja orang kayak begini" gumamku sambil duduk kembali ke mejaku dan memeriksa email yang masuk.


Benar saja jadwal itu baru saja dikirimkan oleh Dewi "email jadwal begini saja sampai sore baru dikirim, kenapa tidak dikirim dari tadi sih? Padahal seharian ini bisa di update terus kan jadwalnya" aku mengoceh sendiri karena kesal.


Setelah melihat ketersediaan waktu yang dimiliki oleh Sugi, aku menghubungi beberapa pihak terkait untuk menentukan jam meeting besok. Ponselku berbunyi, aku lihat Sugi menghubungiku.


"Selamat sore pak" aku menjawab teleponnya


"Sore Riri, kalau sudah selesai dikantor jemput saya ya. Nanti saya share lokasinya"

__ADS_1


"Baik pak"


Aku menutup teleponnya dan dengan cepat memeriksa ulang jadwal untuk besok dan mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan.


Sekitar sejam kemudian aku mengetik pesan untuk Sugi. "Saya on the way pak"


Sugi hanya menjawab " 👍"


Riri bergegas keluar dari kantor ini dan menjemput Sugi di tempat yang alamatnya baru saja masuk ke ponselnya.


Saat tiba di lokasi, aku masuk ke sebuah Restaurant bergaya Jepang. Kulihat seorang pramusaji mendekatiku


"Selamat datang di Little Kyoto, saya Putri, meja untuk berapa orang kak?" Sapanya


"Selamat malam, saya kemari untuk mencari tamu yang sedang berada disini, atas nama Bapak Sammy Sugi Arthawa " ujarku


"Silahkan masuk kak" katanya, ia berdiri di tempatnya menungguku untuk masuk


"Terimakasih kasih Putri" ujarku lalu masuk ke dalam ruangan itu.


Aku melihat beberapa orang laki-laki yang kemungkinan partner bisnis termasuk Sugi berada di dalam menoleh ke arahku secara serentak. Mereka sepertinya sedang bersenang-senang. Bisa kucium bau alcohol di udara. Ada tiga orang wanita berpakaian seperti geisha menemani mereka. Dua orang menuangkan minuman ke cawan-cawan yang kosong dan seorang lagi sedang menyanyi di temani satu laki-laki yang nampaknya sedang mabuk berat. Sugi langsung berdiri begitu melihatku datang.


"Bapak-bapak semua, maaf saya harus undur diri dulu karena ada satu lagi pertemuan yang harus saya hadiri hari ini" Ujarnya sambil menyalami satu persatu partner bisnisnya. Seorang geisha mendekati Sugi, tangannya memegang lengannya lembut lalu berbisik sambil tertawa genit di telinganya. Sugi tersenyum samar, tangannya melepas pegangan Geisha itu dengan perlahan dan bergerak mendekatiku.


Entah kenapa dadaku terasa sesak melihat pemandangan itu. Darahku tiba-tiba saja terasa mendidih. Aku mengatur napasku untuk menekan emosiku kembali. Seperti biasa kalau ada situasi yang aku tidak suka atau tidak membuatku nyaman otomatis wajahku berubah datar tanpa tampilan emosi.

__ADS_1


"Ck! Pak Sugi ini masih siang loh, sudah mau pulang saja" ujar satu laki-laki yang kelihatannya berumur sekitar limapuluhan. Matanya menelisik kearah Riri, dan berhenti pada bagian kakinya.


Riri merasa sangat risih dengan pandangan mata menjijikkan yang ditunjukkan oleh partner bisnis Sugi ini.


"Itu siapa? Kenapa tidak diperkenalkan pada kami? Cantik juga. Bolehlah sering-sering diajak bareng" kata seorang yang sedang mabuk tadi dengan wajah mes*m.


"Ini personal asisten saya selain pak Doni, namanya Riri. Kalian semua akan sering bertemu dengannya. Kalau begitu saya pamit undur diri. Terimakasih atas jamuan selamat datangnya hari ini, kapan-kapan kalau ada waktu kita lanjutkan kembali" kata Sugi dengan wajah dingin, kemudian berjalan keluar ruangan diikuti oleh Riri.


Kondisi diluar ternyata sudah gelap. Aku mulai melajukan mobil secara perlahan dengan mood yang benar-benar kacau.


"Kita langsung pulang, kepala saya pusing" ujar Sugi dengan suara serak. Bau alcohol tercium jelas dari napas Sugi. Aku melihat dari spion atas matanya terpejam menengadah.


"Baik pak" jawabku singkat


"Ck! Apa banget, Pake mabuk segala, baru juga hari pertama. Dasar laki-laki sama aja, begitu ada kesempatan yah diambillah, masa nggak?!" Aku membatin


"Nggak usah ngatain aku di dalam hati yah Riri! Coba kamu bilang, apa yang ada didalam pikiran kamu sekarang" tiba-tiba Sugi berkata masih dengan mata terpejam


"Ah sial! Tuh kan!! Sudah kubilang dia cenayang. Jangankan isi hati, ukuran pakaian sampai pakaian dalamku saja dia tahu ck!" aku menggerutu


"Aku nggak ada ngatain kamu, itu perasaanmu saja" jawabku sambil menghela napas


Setelahnya kami hanya diam sepanjang jalan.


"Peka sedikit Riri, aku lagi pusing. Perhatikan aku sedikit dong. Kenapa malah diam saja, Ck! Dia pasti marah melihat keadaanku mabuk seperti ini, ditambah perempuan di restoran itu memegangku seenaknya sendiri. Aku juga tidak nyaman dipegang olehnya, kamu juga tahu itu Riri. Belum lagi bapak-bapak mes*m itu, kalau saja mereka bukan partner bisnis sudah ku colok matanya semua. Enak saja memandangnya penuh hasrat seperti itu. Apa mereka pikir dia wanita serendah itu? Brengsek!!!" Sugi memaki dalam benaknya, pusing dikepalanya semakin menjadi.

__ADS_1


"Mood ku kenapa jadi berantakan seperti ini sih? Riri kamu harus profesional! Kamu tahu sendiri kan bagaimana kebiasaan orang-orang seperti mereka kalau bertemu untuk bisnis. Sudah pasti ada bagian-bagian hiburan masuk ke kegiatan mereka. Jadi yah terima sajalah apa yang barusan kamu lihat itu. Sekarang belikan dia apapun yang bisa mengurangi sakit kepalanya tanpa bertanya apa-apa. Itu baru namanya profesional. Kamu di bayar untuk ini" gumam Riri, banyak hal berputar-putar dalam pikirannya saat ini.


__ADS_2