
Walaupun ia duduk dalam posisi santai seperti kebiasaannya dengan kaki terlipat, namun khusus malam ini ia terlihat sangat mengintimidasi.
Tangannya terangkat, ia memanggilku untuk mendekat dengan gerakan satu tarikan jari telunjuk ke arahnya tanpa suara
Dalam diam aku mengikuti perintahnya untuk mendekat. Ia mengulurkan tangannya untuk meraih tubuhku agar duduk di pangkuannya.
Aku bisa merasakan tangannya menarik turun resleting gaunku dengan kasar.
"Sayang...." Aku memanggilnya pelan
Gaun yang aku kenakan jatuh menuruni pundak, ia mengelus lengan dan leherku yang terbuka bebas. Jantungku semakin berdetak kencang dengan perlakuannya ini.
"Sayang, aku mau bicara... jangan seperti ini..." Ujarku berusaha menyadarkan dia dari amarahnya
Ia masih belum menjawab ucapanku, bibirnya mulai menyentuh leher dan punggungku dengan rakus. Aku tidak tahu entah kapan ia berhasil membuka penutup dada yang aku kenakan, kini tangannya sudah berada disana mengelusi setiap lekukan tubuhku dengan bebas.
Aku memutar tubuhku dan mendekatkan wajahku padanya demi melihat wajahnya yang dingin. Mata kami bertemu.
"Hei ... kita bicara dulu sebentar...jangan begini sayang..." kataku dengan suara lembut sambil mengelus rambut dan pipinya.
Ia nampaknya sedang tidak ingin di tentang sama sekali, matanya semakin tajam menelisik memperhatikan setiap sudut di wajahku. Ia terlihat seperti singa jantan yang sedang kelaparan bersiap untuk menyantap hasil buruannya yang kini ada di depan mata.
Ia lagi-lagi tak menjawab, bibirku mulai di lumatnya dengan kuat. Mencaplokinya dengan rakus, tanpa menyisakan sedikit celah untuk bernapas.
Aku belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Ia menyerang dengan ciuman bertubi-tubi tanpa bisa aku hentikan. Sementara tangannya mengelusi dan meremas kuat bagian-bagian sensitif yang aku miliki.
"Ahhh...sayanghhh... Shhh!" Rintihan pun meluncur bebas dari bibirku tanpa bisa ku cegah lagi. Aku mulai tidak bisa berpikir jernih, aku jatuh terlalu dalam dengan permainannya ini.
Aku yang terlena dengan cumbuannya hanya bisa pasrah diperlakukan seperti ini. Ia berhenti sejenak, lalu meletakkan tubuhku diatas ranjang. Ia kemudian menarik gaunku dengan kasar
Aku yang masih terengah-engah mulai kembali sadar dengan situasi ini. Saat ia kembali mendekat aku menahan dadanya dengan kedua tangan.
"Sayanghh ... Please stophh... Aku selamanya milikmu. Hhhh...Tidak perlu hal semacam inih untuk membuatkuhh setia. Kamuhh tahu itu kan?!" kataku dengan sisa-sisa kesadaran yang aku miliki
Ia menggeleng lalu melanjutkan lagi cumbuannya yang semakin panas. Serangannya kali ini lebih ganas dari sebelumnya. Aku pun ikut tenggelam, hanyut ke dalam kenikmatan ini.
Aku terkejut saat ia menarik lepas pakaian dalam yang menutupi bagian bawahku, kesadaranku pun mulai kembali
Jantungku berdetak lebih kencang. Aku merasa sesuatu kejadian besar penuh makna akan terjadi dan itu akan mengubah segalanya. Aku berada diantara perasaan takut, ragu dan penasaran, mataku mulai berkabut.
"I'm yours babe..., Semua untukmu, asal kamu bisa merasa lebih tenang" ujarku dengan suara lirih sambil tersenyum. Air mataku yang menggenangi pelupuk mataku mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah lagi. Aku merasa siap menyerahkan semua padanya
Ia menatap mataku yang mulai basah, gerakannya terhenti. Wajahnya berubah khawatir dan panik. Secepat kilat ia menarik selimut yang ada di ujung ranjang lalu menyelimuti ku. Badannya kemudian rebah dan memelukku dengan sangat erat.
"Am sorry baby... Aku benar-benar minta maaf" bisiknya. Ia menangis dalam pelukanku. Kurasakan badannya bergetar, aku pun tak kuasa menahan tangisku sendiri.
"I Love you So much Riri, I can't help my self. maafkan aku sayang aku cemburu buta" bisiknya dengan suara lirih
Aku mengusap-usap kepalanya dengan lembut.
"Sudah merasa lebih baik?" tanyaku dengan lembut
Ia bangkit lalu memandangi wajahku. Matanya terlihat merah dan basah "apa aku mengacaukan semuanya?" tanyanya dengan suara lemah
Aku menggeleng "setidaknya aku jadi tahu sisimu yang ini"
"Setelah kamu tahu, apa kamu masih mencintaiku?" tanyanya, wajahnya terlihat sedih
__ADS_1
"Jangan konyol sayang, tentu saja masih. Aku akan tetap berada di sisimu sampai kapanpun"
Ia menggigit bibirnya
"Aku ingin tahu kenapa kamu sampai sebegitu cemburu dan insecurenya pada Tommy?"
Ia duduk bersandar pada sandaran ranjang "mmm tapi janji nggak akan mentertawakan apapun yang aku katakan?"
"Ok, aku berjanji, sekonyol apapun ceritamu aku tidak meremehkannya"
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan
"Mmm... dia ganteng Riri. Sebagai laki-laki aku pun mengakuinya. Kehidupan pribadinya tidak banyak orang yang tahu, kemungkinan besar ia sama seperti diriku. Aku tidak pernah mendengar cerita buruk tentangnya. Usahanya di bidang pertambangan berjalan dengan lancar, ia sukses besar, ditambah ia memiliki orang tua yang sangat humble dan terbuka. Kamu lihat sendiri kan hubungannya dengan pak Bram sangat dekat. Bahkan pak Bram pun langsung menyukaimu tanpa perlu tahu latar belakangmu, tidak seperti kedua orang tuaku Riri"
"Hanya itu?" tanyaku sambil ikut duduk disebelahnya dengan menggamit selimut untuk menutupi tubuhku.
"Aku merasa dia jauh lebih baik dariku. Mungkin kalau aku jadi kamu, aku akan lebih memilihnya. Ia bisa memberikan lebih banyak kemudahan untukmu. Kalau sampai ia berhasil mencuri perhatianmu, terus aku bisa apa?"
Aku menghela napas "Astaga sayang, kamu nggak sedang mabuk kan? Atau dalam pengaruh obat mungkin? Kamu benar-benar bukan Sugi seperti yang aku kenal selama ini" kataku merasa khawatir
"Apa aku sekacau itu?"
Aku mengangguk
"CK!" Ia mengucek rambutnya frustasi
"Tapi nggak apa-apa, aku senang kita bisa mengobrol terbuka seperti ini"
"Sekarang kamu jadi tahu kalau aku serapuh ini"
"Siapa sih manusia yang bisa selalu kuat, semua orang memiliki kelemahannya masing-masing. Dan kelemahanmu bukan masalah bagiku" aku tersenyum menatapnya
"Iyah benar. Kamu lupa ya, aku berhutang nyawa padamu. Hidupku sudah lama terikat denganmu.Jangankan laki-laki sekaya Tommy, yang lebih kaya pun aku tidak peduli"
"masa?" Katanya sambil tersenyum
"Kecuali kalau laki-laki itu kayanya 100 kali lipat dari Tommy mungkin aku akan pertimbangkan kembali hehehehe" jawabku sambil terkekeh
"CK!...hhh" ia melengos
"Hahahaha aku bercanda sayang"
Ia menarik tubuhku dan memeluk erat
"Terimakasih Sayang atas cinta, pengertian dan kesabarannya"
"Kamu laki-laki yang paling sempurna untukku. Lagi pula aku tidak mengenalnya sama sekali, siapa yang tahu tabiat aslinya seperti apa"
"Aku hampir saja melakukan hal buruk padamu. Aku pencemburu sayang, aku nggak bisa melihatmu akrab dengan laki-laki lain"
"Tapi aku akrab dengan Pak Doni, kenapa kamu tidak cemburu?"
"Karena aku sangat percaya dengan Pak tua itu"
"Terus kenapa kamu tidak memberikan aku juga kepercayaan yang sama? Apa selama ini aku genit pada laki-laki lain?"
"Entahlah, pokoknya aku nggak mau kamu akrab dengan siapapun selain yang aku setujui. Jangan sampai aku nekat mengatakan pada semua orang kalau kita sudah menikah. Seperti yang kamu bilang tadi hidupmu sudah terikat denganku. Titik!" ia merenggut
__ADS_1
Aku hampir saja menyemburkan tawa mendengar ia menggerutu. Aku bersusah payah menahan diriku agar kekesalannya mereda
"Iyah sayang, okay... " Ujarku sambil mengecup pipi dan bibirnya
"Sebaiknya kamu pakai kemejaku saja. Aku malas turun mengambil yang baru" ia bergegas membuka kemejanya dan memakaikannya padaku
"Aku kan bisa ambil sendiri"
"Jangan banyak gerak, kalau kamu turun dengan selimut begini aku takut akan kehilangan kendali lagi"
Aku menutup mulutku menahan tawa, lalu buru-buru mengancingkan kemeja yang kebesaran di badanku ini.
"Aku kasar ya tadi? Maaf ya"
"Mmm...Iyah..." Ujarku lalu buru-buru memalingkan wajahku yang memanas karena teringat pada serangannya tadi. Aku takut ia melihat wajahku yang berubah merah padam
Ternyata ia memang sedang memperhatikan wajahku sejak tadi
"Sebentar, kenapa wajahmu jadi merah padam begini? Jangan-jangan kamu menyukainya ya? Benar kan sayang? Ayo katakan padaku" desaknya sambil menghirup wangi rambutku
Aku mengangguk pelan
"Serius?"
"Iyah, tapi nggak pakai marah"
"Hehehehe ... Duh sayang, aku merasa sangat beruntung. Kita ulang lagi atau bagaimana? Kali ini aku bisa memulainya dengan lembut"
Aku menggeleng
"Benar nggak mau? Besok harga berubah loh!! Hehehehe" ia terkekeh
Aku mencubit pinggangnya sambil tertawa "Hahahaha... Nggak mau!"
"Aduhh sakittt ahh... Iyah.. Iyah sayang nggak jadi" ujarnya meringis sambil mengusap-usap pinggangnya yang sakit
"Oh iya tadi ada orang yang bersembunyi di balik pohon, mungkin berniat untuk menyerangku"
Ia menoleh, wajahnya terlihat kaget "Apa anak buah pak Tua tidak mengawalmu dengan baik?"
"Sudah kok, dia sudah bekerja dengan cukup baik. Aku yakin orang itu Silvi, pak Doni akan mengirimkan rekaman CCTV nya besok pagi...."
Aku pun menceritakan semua padanya.
"Wanita gila itu benar-benar tidak berubah, kamu harus tetap waspada sayang. Sejak awal aku sadar resikonya besar mendatangkan dia kembali kemari. Tapi kalau dia berada di luar negeri akan sulit bagiku untuk mengawasinya"
"Harusnya kamu perketat pengawasannya"
"Iya kamu benar, tapi selama ini sudah kulakukan. Khusus di hotel ini, kubiarkan dia bebas tanpa pengawasan. Karena aku pikir dia tidak akan berani menyerangmu di muka umum, ternyata aku salah"
"Ya sudahlah, yang penting aku masih baik-baik saja kan?!"
Ia mengangguk lalu mengecup pipiku "aku mandi dulu ya. Aku sudah mempersiapkan baju ganti di dalam sana. Pakai saja apa yang kamu mau" katanya sambil menunjuk ke satu ruangan diujung kamar villa ini"
Ia pun beranjak dari sana dan masuk ke dalam kamar mandi. Aku pun bergegas mengganti pakaian
Malam pun semakin larut, usai mandi aku menyusul Sugi yang sedang berada di balkon. Ia sedang termenung memandangi lautan luas dengan gelegar ombaknya yang menderu menghantam karang. Kami lanjutkan bercengkrama membahas banyak hal, termasuk perkembangan terakhir Villa Lembayung.
__ADS_1
Aku berjanji untuk kembali lima hari sekali setiap minggu untuk bertemu dengannya sembari mengurus warung dan kantor DnW