
Dengan perasaan kesal yang masih menggelayut di hatinya Riri mengendarai mobil menuju ke Restauran Sushi, dimana ia dan Erika akan bertemu. Waktu menunjukkan pukul 06.55 menit ketika ia sampai di Restauran itu. Riri mau bertemu dengannya dengan pertimbangan masih menganggap Erika sebagai saudari sepupu yang sempat dekat dengannya di masa lalu. Juga karena ia banyak membantu saat orang tuanya tiada, bahkan selalu mencoba menghiburnya. Tapi hubungan mereka kembali merenggang saat Erika tiba-tiba menjauh darinya tanpa ia tahu sebabnya.
Aku duduk menunggunya di satu meja yang menghadap ke pintu masuk Restauran. Kulihat Restauran ini sedang ramai pengunjung. Tempat ini tidak banyak berubah, masih sama seperti beberapa tahun lalu. "Dulu kami berempat, aku, kak Damar, Hadi dan Erika sering sekali makan disini. Kalau mengingat masa lalu yang itu aku merasa sangat bahagia. Tapi itu tidak bertahan berapa lama karena Paman melarang Hadi dan Erika untuk terlalu dekat denganku dan Kak Damar". Aku menghela napasku mengingat beberapa memori di masa lalu.
Selang beberapa menit kemudian aku melihat seorang wanita bertubuh tinggi dengan pakaian berwarna terang masuk ke dalam Restauran, matanya melihat sekeliling. Tanganku terangkat memanggilnya "Erika!"
Ia menoleh ke arahku dan tersenyum riang seperti yang biasa ia lakukan ketika kami bertemu dulu.
"Tari!!!" Pekiknya tertahan saat melihatku, ia melangkah terburu-buru lalu memelukku erat
"Astaga, kamu semakin cantik Tari. Pasti Wijaya Grup memberikan tunjangan dan gaji bagus ke karyawannya. Aku sampai tidak mengenalimu dari jauh" selorohnya sambil ikut duduk di depanku.
"Kamu juga terlihat semakin modis Er" pujiku tulus saat memperhatikan Erika didepanku
"Ah kamu bisa saja memujiku. Kamu sudah pesan? Atau mau mengambil yang di rel?" Erika menunjuk conveyor belt di sebelah kami
"Aku mau yang disini saja"
"Aku juga deh" matanya memperhatikan beberapa piring kecil sushi yang sudah jadi, lewat di depan kami"
Aku mengambil sepiring kecil sushi dengan ikan salmon kesukaanku, ia juga melakukan hal yang sama dengan pilihan kesukaannya sendiri. Sambil menikmati sushi pilihan kami masing-masing, ia mulai bercerita apa saja kegiatannya sekarang di luar negeri.
"Aku sangat merindukanmu Tari" katanya kemudian
Aku tidak menjawab ucapannya hanya sibuk mengunyah sushi yang ada di depanku.
__ADS_1
"Aku ingin minta maaf atas apa yang Hadi sempat lakukan padamu Tari. Aku tidak mengerti kenapa dia menjadi sejahat itu padamu. Ayahku sudah menarik semua aset miliknya dan dia tidak diijinkan keluar dari rumah sampai Ayah mau memaafkannya. Aku juga dilarang bertemu dengannya, jadi aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang"
Aku meletakkan sumpit yang aku pegang dan melihat kearahnya "Darimana kamu tahu apa telah yang dia lakukan padaku?"
"Ayah yang memberitahuku, mungkin ayah mendapatkan informasi itu dari anak buah Hadi"
Aku menghela napas "Er! ...mmm aku tahu yang menyuruhmu datang menemuiku pasti paman atau bibi kan?"
Erika berhenti mengunyah dan menatapku tajam. Ia meletakkan sumpitnya kemudian terdiam sejenak. "Kamu masih sama seperti Tari yang aku kenal. Selalu to the point, tidak mengijinkan orang lain untuk sedikit berbasa-basi" ia tersenyum, kali ini senyumannya terlihat getir
Aku ikut tersenyum "Apa tujuanmu menemuiku? Mmm biar ku tebak, kamu pasti dikirim untuk membujukku agar mau menyerahkan saham yang diwariskan padaku kan?"
"Kalau kamu sudah tahu dari awal kenapa kamu setuju bertemu denganku?" Suaranya terdengar bergetar
Aku menatapnya "karena aku masih megingatmu sebagai sepupu yang baik hati dan kita pernah sangat dekat Er"
"Kalau kau masih mengingat masa lalu kita yang indah itu, ingatlah juga akan kebaikan keluarga kami mengurusmu saat paman, bibi dan Damar tiada. Semua kebutuhanmu sudah kami penuhi dengan baik Tari. Bahkan kamar dan apapun yang menjadi kesayanganku waktu itu diberikan semua padamu, agar kamu nyaman tinggal dirumah kami" kata Erika dengan wajah sinis
Aku tersenyum mendengar apa yang Erika katakan baru saja "Apa lima puluh persen penghasilan orangtuaku dari sahamnya kurang cukup, untuk membayar biaya ku tinggal disana selama beberapa tahun?"
"Apa maksudmu?" Tanyanya ketus
"Kamu tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu? kalau paman memaksaku menandatangani surat kuasa pengalihan penghasilan orang tuaku ke rekening paman selama beberapa tahun. Untung saja ayah sudah membuat aturan tersendiri yang diketahui oleh pihak Bank, sehingga dia hanya bisa mengalihkan setengahnya saja selama kurun waktu tertentu. Ayahku sangat pintar dan teliti bukan?" Ujarku sambil tersenyum mengejeknya
"Kau!!!" Erika menunjuk kearahku
__ADS_1
"Artinya aku sama sekali tidak memiliki hutang apapun pada keluargamu. Jadi kalau kamu memintaku untuk menyerahkan saham itu, tentu saja aku tidak mau. Kau pikir aku sebodoh itu ya?"
"Tahu apa kamu?! Rapat Umum pemegang saham sebentar lagi akan berlangsung Tari. Kami tidak bisa lagi mewakili kehadiranmu. Kalau kamu tidak hadir nanti disana, kemungkinan saham itu juga akan dilelang, dan jatuh ke tangan orang lain. Dan kamu tidak akan mendapatkan apapun karena dianggap tidak bertanggung jawab. Apa menurutmu lebih baik jatuh ke tangan orang lain ketimbang keluargamu sendiri?" Ancamnya
"Kalau masih menganggap aku keluargamu, belilah dengan harga pantas. Sampaikan hal ini pada paman. Oh iya Katakan juga padanya aku akan datang pada saat rapat pemegang saham nanti"
Mata Erika terbelalak mendengar ucapanku "ke..kenapa tiba-tiba kamu ingin hadir?"
"Ya karena kalian tidak bisa mewakili ku lagi, ya sudah aku hadir saja kalau begitu"
Erika berdiri, wajahnya terlihat marah "kamu keterlaluan Tari"
"Duduklah dulu yang tenang. Keterlaluan bagaimana? Kan aku berhak berada di sana. Memangnya salah?"
Erika kembali duduk di tempatnya "Kamu bahkan tidak memikirkan keadaan perusahaan keluarga kita sekarang. Ayah tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat, hanya karena jumlah saham yang ia miliki. Ia tidak leluasa bekerja di perusahaannya sendiri. Padahal yang bekerja mati-matian untuk menjalankan perusahaan adalah ayahku Tari!!! Ayahku!!" ujarnya berteriak tertahan
"Tenang sedikit Er, kau emosi sekali. Tanpa saham yang kumiliki pun kalau keputusan yang diambil paman cocok diterapkan, kenapa dia tidak mendulang banyak dukungan sih?"
Erika nampak menatap Riri dengan tajam "apa kamu yakin mampu berada di rapat itu? Kamu pikir semudah itu datang dan duduk saja disana?"
"Tentu saja aku yakin"
"Tidak usah sombong mengatakan kamu mampu Tari. Lihat saja dirimu sekarang, pendidikan terakhirmu hanya universitas lokal. Aku bisa menebak kalau posisimu di Wijaya Grup hanya pegawai rendahan saja" katanya sinis
Ia memperhatikan pakaian Riri, bahkan sampai melihat kebawah meja untuk memastikan sepatu apa yang Riri kenakan "Melihat penampilanmu ini dari atas kebawah semua yang kamu pakai pasti bermerk, tidak mungkin kamu bisa membelinya sendiri. Palingan hasil dari menjadi simpanan salah satu komisaris disana, ya kan? Menjijikkan, seharusnya kau dulu menikah saja dengan bandot tua teman ayahku itu, mungkin nasibmu jadi lebih baik" ucapnya ketus
__ADS_1
Aku memandangnya tak percaya "Simpanan? Hahahaha apa kau sudah tidak waras Er? Ck!" Aku menggeleng "Mungkin kamu merasa lebih baik dariku hanya karena kamu melanjutkan S2 di luar negeri ya? Hahahahaha" aku tergelak karena merasa geli dengan ucapannya.