Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Laki-laki yang tepat


__ADS_3

Aku bisa bernapas lega saat mengetahui ternyata memang benar Sugi yang menyelamatkanku.


"Haaaussss" ucapku dengan lemah, aku ternyata masih belum bisa mengendalikan diriku secara normal. Badanku masih terasa panas, keringatku masih saja mengucur deras.


Sugi mengambil botol air mineral dan membantuku untuk minum. Lalu mendekatkan wajahnya kearahku "Riri, apa kamu bisa mendengarku?"


Aku mengangguk karena terlalu lelah untuk bicara. Kulihat dia mengambil ponsel dan mengetik sesuatu disana.


"Dokter Dewa sedang menunggu kita dirumah, sabar ya" ujarnya padaku.


Kurasakan tangannya bergerak menjangkau sesuatu "klik!" Aku mendengar suara tombol ditekan. Kaca hitam sekat partisi pembatas antara jok depan dan belakang bergerak menutup. Sugi kemudian membuka gulungan selimut yang menutupiku. Dia melepaskan ikatan tanganku kemudian memakaikan kemejaku kembali.


Setiap gerakan yang ia lakukan membuatku blingsatan. Hasrat yang kurasakan tadi belum hilang sama sekali. Saat Sugi memakaikan kemeja tangannya menyentuh punggungku yang terbuka, suara ******* keluar dari mulutku tanpa bisa kuhentikan.


"Ahhh!!" Aku menggigit bibir untuk menahan diriku agar tidak mengeluarkan ******* lain.


Tanganku bergerak sendiri menyentuh wajahnya, kemudian turun ke lehernya. Aku meraba-raba dadanya, tanganku masuk melalui celah kancing kemeja yang ia kenakan. Napasku makin terengah-engah, aku merasakan sensasi yang tidak biasa menjalar melalui tangan sampai ke seluruh tubuhku.


Ketika aku mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi tadi, suara yang keluar hanya berupa *******, aku seperti meracau.


Sugi menatap Riri dengan wajah bingung. Ia menelan ludahnya, menahan gejolak yang juga mulai bangkit di dalam dirinya. "Kasihan Riri, Ini pasti ulah Hadi. Obat apa yang sudah dia berikan pada Riri hingga jadi begini"


Sugi menangkap tangan Riri dan meremasnya lembut


"shhhhh!!" Riri mendesis tidak karuan. Kemudian ia memeluk Riri erat sambil memegangi tangannya yang masih mencoba meraba-raba tubuh Sugi.


"Tahan sedikit Riri, sebentar lagi kita akan sampai" bisiknya di telingaku. Tubuhku mengejang mendengar bisikan Sugi. Dengan jelas aku bisa merasakan hangat hembusan napasnya menyapu daun telingaku.


"Ah aku benar-benar frustasi, aku tidak bisa berhenti menyentuhnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang tentangku. Saat ini aku merasa begitu jijik dengan diriku sendiri"


"Maafkan...saya...Sugi" bisikku terbata-bata Airmataku menetes, aku mulai terisak.


"Tidak apa-apa Riri, semua akan baik-baik saja" bisiknya, Sugi semakin erat memelukku.

__ADS_1


Ketika kami tiba di rumah Sugi, ia bergegas membuka pintu mobil dan menggendongku keluar kemudian masuk kedalam rumah. Dokter Dewa yang telah menunggu sedari tadi mengikutinya dari belakang.


Disebuah ruangan kerja nampak Pak Subrata sedang sibuk dengan pekerjaannya. Perusahaannya sedang ditimpa banyak masalah saat ini. Konsentrasinya teralihkan ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat Foto Hadi terikat pada sebuah pohon dalam keadaan telanj*ng. Dengan cepat ia menghubungi salah satu bawahannya untuk menjemput Hadi saat itu juga di rumah barunya untuk dibawa ke rumah sakit.


Tak berapa lama Pak Subrata kemudian bergegas menuju Rumah sakit. Wajahnya terlihat tegang saat masuk ke salah satu kamar VIP. Hadi terlihat masih terbaring lemah di ranjangnya. Tadi dokter mengabarkan padanya kalau Hadi saat ini masih belum siuman.


"Selamat sore pak Brata" sapa salah satu perawat yang menjaga Hadi


"Kemana Dokter Cakra? Bagaimana keadaan Hadi saat ini?" Tanya Pak Brata


"Dokter Cakra sedang menuju kemari pak. Keadaan pak Hadi sementara masih baik, kami masih melakukan observasi pak"


Pak Subrata menghela napasnya mendengar penjelasan dari perawat. Keningnya berkerut memikirkan semua ini. "Siapa yang berani-beraninya melakukan ini semua pada Hadi dan anak buahnya? Apa yang telah ia lakukan sampai dia dihajar seperti ini?"


Pak Subrata mengeluarkan ponselnya dan menghubungi asistennya


"Ada rekaman CCTVnya?"


"Bagaimana dengan yang di depan? Ada rekaman mobil atau kendaraan yang digunakan?"


"Tidak ada pak"


Pak Subrata menutup sambungan telepon. Tangannya terkepal menahan amarah.


Sementara itu Riri saat ini sedang tertidur lelap dikamar Sugi setelah diberikan obat penenang oleh Dokter Dewa. Sugi nampak duduk di sebelahnya sedang memperhatikan wajah Riri yang damai. Tangannya mengelus pipi Riri dengan penuh kasih


"Aku mencintaimu Riri. Kalau kamu mengijinkan, aku berjanji akan selalu berusaha membahagiakanmu. Tapi aku pikir setelah apa yang terjadi dalam hidupmu ini aku sadar kamu tidak akan menerimaku dengan mudah. Sungguh berat cobaan yang harus kamu terima" gumam Sugi


Ponsel Sugi berbunyi, dia melihat nomor Andi sedang melakukan panggilan. Sugi keluar dari kamarnya dan mengangkat telepon tersebut


"Halo pak Andi"


"Pak, bagaimana dengan Mentari apakah sudah ketemu?"

__ADS_1


"Sudah, saat ini dia sedang beristirahat"


"Apa...apa dia hmm baik-baik saja?" Nada suara Andi terdengar khawatir


"Saat ini baik, mudah-mudahan nanti setelah dia bangun tidak ada masalah lebih lanjut. Saya mau bicara tentang Riri, bagaimana kalau kita bertemu sekarang di Restauran?"


"Baik saya kesana sekarang"


"Ok kalau begitu, sampai bertemu nanti"


Sugi menutup pembicaraan.


Hatinya bimbang, dia tidak rela meninggalkan Riri dengan keadaan begini, tapi ia juga tahu ini adalah momen yang tepat untuk bertemu Andi. Masa lalu Riri, agar semua informasi yang ia terima lebih jelas tentang Riri.


Setengah Jam Kemudian Sugi dan Andi bertemu di Restauran Eat and Love.


Setelah Sugi menceritakan apa yang terjadi, tangan Andi terkepal menahan amarah.


"Sudah saya duga orang itu ternyata memang sejahat itu. Beruntung Mentari diselamatkan oleh Anda kalau tidak entah apa yang akan terjadi padanya"


"Mengenai masalah ini, saya harap pak Andi tidak membocorkannya pada orang lain. Saya khawatir masalah iniakan menjadi panjang dan mengganggu banyak hal di masa depan"


"Saya mengerti, apa Mentari bekerja disini?"


Sugi menggeleng "Sebenarnya dia hanya membantu saya disini sebagai part timer, pekerjaan aslinya ada di kantor yang lain"


"Saya yakin dia seseorang yang sangat cekatan, cerdas dan bisa diandalkan dalam bekerja"


"Anda benar pak Andi, saya bersyukur karena dia bisa membantu pekerjaan saya disini. Boleh saya tahu hubungan Anda dan Riri seperti apa?" Wajah Sugi terlihat penasaran


Andi belum mau menjawab. Matanya memandang air laut yang luas di depannya. Ia sebenarnya enggan untuk menceritakan kembali masa lalunya kepada siapa pun yang ingin tahu. tapi ia tahu dengan bercerita, rasa bersalah dan beban dalam hatinya mungkin akan berkurang.


Lagipula ia sangat yakin laki-laki di depannya ini sangat mencintai Mentari "Semoga ia benar-benar laki-laki yang baik dan sepadan untuk Mentari. Aku rela jika ternyata laki-laki inilah yang akan menggantikan posisiku asalkan Mentari bahagia" gumam Andi di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2