Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Keluarga


__ADS_3

Dalam perjalanan Sugi seperti biasa menyandarkan kepalanya di sandaran jok. Ia nampak memejamkan matanya sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk menangkap Silvi. Ia yakin sekali masalah kali ini Silvi jugalah dalangnya, sesuai dengan laporan Pak Doni tadi pagi.


"Pak, anda baik-baik saja?, Apa perlu kita pulang sebentar untuk beristirahat?" tanya Pak Doni khawatir, matanya sesekali memperhatikan Sugi dari spion atas


"Saya baik-baik saja pak, kita tetap dengan dua jadwal meeting saya hari ini. Saya hanya sedang memikirkan cara untuk menghentikan Silvi. Perempuan gila itu takkan berhenti sampai apa yang ia inginkan tercapai" Sugi memijit keningnya


"Iyah benar pak, apalagi orangnya tinggal di luar negeri. Akan susah sekali untuk menangkapnya. Mmm... Apa sebaiknya kita usahakan agar dia kembali ya pak?"


"Maksudnya kita pancing dia agar mau pulang dan tinggal disini? Bagaimana caranya? Kan gara-gara kejadian itu akhirnya dia tidak berani kembali"


"Ibu anda pak. Coba bicarakan pada Bu Rita masalah ini. Beliau pasti punya cara untuk melakukannya"


"Ok" Sugi mengangguk "nanti setelah jadwal saya selesai kita kerumah orangtua saya"


"Baik pak" jawab Pak Doni tenang, tapi dalam hatinya ia juga sedang memikirkan detail rencana untuk menjebak Silvi setelah nanti dia kembali


Di rumah Sakit, Bu Alina baru saja tiba. Tangannya terlihat penuh dengan tentengan kresek berwarna putih saat memasuki ruangan rawat inap ini.


"Tante Alina..." Sapa Dion saat ia melihat Bu Alina memasuki ruangan. Ia lalu segera menghampirinya saat melihat Bu Alina seperti kerepotan dengan tentengannya


"Aku bantuin Tan, bawa apa aja ini kok banyak banget"


"Loh kok Dion sendirian, Damar kemana?" Sahut Bu Alina sambil menyerahkan beberapa kresek ditangannya pada Dion


"Abang lagi ngurusin kantornya yang disini, katanya mau rekrut staf untuk bantuin Riri, Tan"


"Oh gitu, untung ada nak Dion. Maaf yah jadi ngerepotin"


" Nggak repot kok Tan, malah senang bisa ikut membantu"


Bu Alina menatap Dion beberapa detik "mulai hari panggil Bu Ina aja ya, rasanya lebih pantas begitu" ia tersenyum pada Dion


"Ok, siap" jawab Dion sembari meletakkan kresek yang ia terima diatas meja ruang tamu


Bu Ina lantas menengok ke kamar Riri, dilihatnya ia sedang tertidur pulas


"Dia baru saja beristirahat setelah dia minum obatnya tadi"


"Biarkan dia beristirahat, kita ngobrol di sana saja" Bu Alina menunjuk sofa diruang tamu


Mereka berdua duduk bersebelahan


"Bu Siska apa kabar nak? Kenapa jarang sekali ikut kegiatan. Biasanya ibumu paling rajin loh"


"Ibu sehat, sekarang beliau lagi proses cerai sama ayah" ungkap Dion pelan


"Hah??!! Cerai?! Ini serius? Kok tiba-tiba begitu?"


"Masa Bu Ina nggak tahu kelakuan ayah saya? Kayaknya dia sudah jadi topik sehari-hari kalian di setiap kegiatan kan?" Ia mengusap pahanya gelisah

__ADS_1


"Bukan begitu maksud Bu Ina, hanya kaget mendengar berita pada akhirnya ibumu memutuskan untuk berpisah. Padahal sejak dulu hampir semua teman-teman dekatnya menyarankan berpisah saja dengan ayahmu"


"Saya akhirnya memberanikan diri untuk meyakinkan ibu kalau berpisah lebih baik daripada disakiti ayah terus-terusan. Saya juga nggak menyangka ibu langsung menyetujuinya" senyum Dion mengembang


"Terus ayahmu gimana?"


"Ayah tentu saja marah, bahkan mengancam tidak akan menafkahi lagi kalau proses gugatan perceraian masih berlanjut"


Bu Alina menghela napasnya "Bu Ina yakin setelah proses cerai selesai, ayahmu akan merasa sangat kehilangan. Dia selama ini terbiasa dilayani dengan baik oleh ibumu, tapi sayangnya dia tidak menghargai semua yang disediakan. Lihat saja nanti, ayahmu pasti kebingungan mencari cara agar ibumu kembali"


"Yah itu urusan ayah, ibu pasti nggak akan mau kembali. Dia sudah cukup muak dengan sikap ayah selama ini. Saya hanya mau ibu bahagia di hari tuanya, bu. Beruntung selama ini beliau punya beberapa bisnis kecil sendiri, jadi materi tidak akan menjadi masalah untuknya"


"Baguslah kalau begitu, Bu Ina lega mendengarnya. Sekarang ibumu tinggal dimana?"


"Sementara di rumah saya. Biarlah beliau menenangkan diri disana. Saya kebetulan juga mau merantau beberapa waktu untuk mengembangkan Bisnis yang saya rintis Bu"


"Wahh... Bagus nak, mumpung masih muda dan single. Yang semangat ya, Bu Ina doakan untuk keberhasilan nak Dion"


"Terimakasih Bu Ina"


"Kapan mulai berangkat dan kemana?"


"Maunya hari ini Bu, tapi karena kondisi Riri, rencana saya jadi mundur. Tujuannya kemana? Adalah Bu, nanti saya ceritakan kalau sudah sukses" ia nampak tersipu samar-samar


"Loh kenapa jadwalnya mundur? Riri kan sudah baik-baik saja. Masih ada Bu Ina, kakaknya, ada Sugi juga yang akan menjaganya...." Bu Ina terdiam menatap Dion dengan wajah curiga


Wajah Dion terlihat kaget "Eeee... gimana yah Bu? Bukan begitu sih maksud saya" Dion gelagapan


"Hahahaha Oalah... Duh masalah anak muda" ia terkekeh menutup mulutnya


"Hehehehe" Dion ikut tertawa kecil salah tingkah


"Bu Ina mengerti nak, tapi sayang ya Riri sudah memilih Sugi. Dan sepertinya susah untuk di pisahkan. Ahhh!! .....untuk ukuran laki-laki seganteng nak Dion begini urusan wanita sih harusnya nggak susah yah" Bu Alina memukul lembut pundak Dion


"Tapi sayangnya yang baik dan berkarakter seperti Riri susah dicari Bu" Dion terlihat sedikit kecewa


"Dia berbeda ya? Bu Ina akui dia tumbuh dengan sangat baik, cobaan yang dia terima membuat emosinya lebih matang daripada yang terlihat" gumam Bu Ina sembari memperhatikan Riri dari jauh


"Saya sudah tahu ceritanya Bu. Awalnya saya pikir dia tipe wanita kaya kebanyakan, yang ketus dan manja dari penampilan awal kita berkenalan. Tapi lama-lama saya jadi tahu kalau dia sebaik dan dan sepengertian itu Bu. Niat awal yang tadinya mau iseng menggoda pacar pak Dirut jadi berubah hehehehe"


"Dasar!, kena jebakan pesona Riri ya?!!.. hahahaha salah sendiri suka iseng" Bu Ina kembali tergelak


"Hehehehe saya jadi malu" ia menggaruk kepalanya


"Eh iya lupa. Bu Ina bawa makanan, ada cemilan, salad buah, es campur. Macam-macam, coba deh dibuka satu-satu bungkusannya" ujar Bu Ina sambil membuka salah satu kresek putih diatas meja


"Wah kebetulan Bu, saya lagi lapar" jawab Dion tanpa sungkan dengan wajah cerah


"Silahkan ambil yang nak Dion mau"

__ADS_1


Dion mengambil sekotak nasi goreng dan segelas es campur dari dalam kreseknya


"Saya makan duluan yah Bu"


"Iyah silahkan, Bu Ina sudah sempat makan tadi sebelum kesini. Jadi masih kenyang" ujarnya sambil tersenyum


Dion nampak lahap menikmati nasi gorengnya


"Srett!..." Suara pintu dibuka


"Wahh!!! Ada acara makan-makan rupanya" kata Damar yang nampak memasuki ruangan


"Makan bang!" Sahut Dion sembari sibuk mengunyah


"Iyah silahkan Dion"..."Bu Ina...!! Ia lantas menghampiri Bu Alina dan memeluknya erat


"Damar! , Kata Gia kamu tiba tengah malam ya? Aku pulang duluan semalam jam sepuluh kurang lebih, nggak kuat ngantuknya itu loh" jawab Bu Alina sambil memeluk Damar


"Iyah sekitar jam 1 yah, aku lupa"


"Kamu sudah makan? Tuh, Bu Ina bawa banyak makanan" ia menunjuk keatas meja


"Sudah, tadi sempat nyobain sop buntut, tapi nggak enak Bu. Jadi aku masih lapar sekarang" Damar membuka satu bungkusan nasi goreng daging yang dibawa Bu Alina


"Enak itu, nasi goreng gila. Daging kambing"


"Mantapp!!" Kata Damar saat memasukkan suapan pertama ke mulutnya. Ia kemudian duduk di depan Dion


Tiba-tiba Damar menutup nasi gorengnya kembali "aku mau pipis dulu" ia lari terbirit-birit ke kamar kecil yang terletak di sudut ruangan


Bu Ina nampak menggeleng melihat Damar


Dion meletakkan sendoknya dan termenung. Hal itu tak luput dari mata Bu Alina


"Nak Dion kenapa? Nasi gorengnya nggak enak ya?"


Dion terlihat kaget dan kembali memegang sendoknya "enak kok Bu" ujarnya pelan


"Terus tadi itu kenapa bengong?"


Ia sejenak terdiam.... "Ini pertama kalinya saya berada di tengah-tengah keluarga yang akrab seperti ini. Rasanya sedikit aneh tapi saya senang berada disini Bu. Walaupun saya orang luar tapi entah kenapa rasanya saya juga jadi bagian dari keluarga ini"


Bu Alina lagi-lagi menghela napasnya "nak Dion, secara tidak langsung sudah masuk ke keluarga ini kok. Anggap saja kami ini keluarga Dion juga. Karena kita disini semua sudah mengetahui niat baik dan tulus dari Dion"


Dion mengangguk "terimakasih yah Bu Ina"


"Terimakasih apa sih, kami yang harusnya berterima kasih sama Dion. Sudah nggak usah banyak berpikir, makan yang banyak. Nungguin anak bandel di dalam itu juga butuh tenaga" Bu Alina nampak menutup mulutnya menahan tawa


Dion hanya tersenyum geli mendengarnya

__ADS_1


__ADS_2