
"Sayangnya Riri sudah lama tidak ke warung ya? Beberapa kali karyawan disana mengatakan kalau Riri sibuk dengan pekerjaan lain"
"Benar pak, saya sedang ada kesibukan baru. Tapi rencananya Minggu ini saya akan mulai sempatkan lagi sesekali untuk menengok warung"
"Harus itu Riri, bisnis apapun walaupun kecil harus diurus dengan telaten"
"Iyah pak saya mengerti, tapi memang ada sesuatu hal penting yang harus saya urus sementara ini" ujar Riri sedikit salah tingkah
Tommy menyadari wajah Riri yang berubah gelisah
"Ayah saya memang seperti ini Riri, jangan terlalu dipikirkan" kata Tommy merasa tidak enak
Ia pun beralih pada pak Bram "Riri Jangan di ceramahi yah, dia pasti tahu yang terbaik untuk bisnisnya sendiri"
"Hahaha maafkan saya Riri, bukan bermaksud begitu. Hanya saja sayang kalau warungnya ditinggal-tinggal terlalu lama. Apalagi baru beberapa bulan beroperasi"
Riri tersenyum "Terimakasih kasih atas perhatiannya pak Bram. Saya sangat menghargainya. Saya paham maksud baik bapak dan Iyah seperti yang saya katakan tadi saya sedang mempertimbangkan untuk datang sesekali menengok warung"
"Ayah anda beberapa kali jadi teman diskusi saya pagi-pagi. Namun saya agak kaget karena beliau ternyata lebih komunikatif dari yang saya tahu sebelumnya" ujar Riri pada Tommy
Tommy terkekeh "Hehehehe ayah saya memang sok misterius Riri. Selalu begitu untuk hal yang ia kagumi. Awalnya diam mengamati tapi lama-lama penasaran sendiri. Beberapa kali kami mengobrol kadang terselip nama Priboemi dan Riri di dalamnya. Sampai saya ikut penasaran dengan pemilik warung itu" seloroh Tommy sambil menatap Riri tanpa sungkan
Pak Bram nampak tergelak mendengar ucapan putranya "Hahahah ahh kamu berlebihan sekali"
Riri hanya ikut tertawa melihat reaksi pak Bram. Ia merasa sedikit kurang nyaman dengan tatapan Tommy padanya. Ia ingin sekali menyudahi obrolan ini, namun merasa kurang sopan kalau ia pergi sekarang secara tiba-tiba
Sementara itu Sugi yang tadinya ingin menghubungi Bu Alina mengurungkan niatnya saat melihat pak Bram dan putranya mendekat ke arah Riri. Ia memperhatikan mereka mengobrol akrab dari kejauhan.
"Pak, Riri kenal pak Bram?" tanyanya pada pak Doni
"Sepertinya begitu pak, tapi saya tidak pernah mendapatkan laporan kalau pak Bram sempat bertemu dengan Riri di kantornya ataupun di Lembayung"
Sugi diam mengamati mereka, ia melihat pak Bram dan putranya tertawa bersama Riri. Wajahnya langsung berubah dingin saat ia memergoki putra pak Bram berulang kali menatap Riri dengan mesra.
Perasaan Pak Doni seketika was-was saat melihat perubahan wajah Sugi.
"Pak, bapak harus ingat kalau Bu Riri sangat setia. Saya yakin Bu Riri hanya sedang menunjukkan sikap profesionalismenya saja" ujarnya berusaha menghibur Sugi
"Saya harus memastikan itu sendiri" ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati mereka
__ADS_1
Pak Doni nampak terkejut, ia ingin sekali mencegah Sugi namun ia sendiri juga mengetahui hal itu akan sia-sia belaka. Karena sekali atasannya ini memutuskan ia tidak akan mau mendengar masukan dari siapapun termasuk dirinya. Dalam diam ia hanya mengikuti Sugi dari belakang.
Di tempat berbeda Silvi baru saja kembali duduk disebelah Bu Teti. Wajahnya terlihat kesal, beberapa kali matanya melirik kearah Riri, pak Bram dan Tommy dengan tatapan sinis.
"Mereka saling kenal?" tanya Bu Teti
"Entahlah Bu saya tidak tahu" jawab Silvi ketus
"Pak Bram loh yang mendekati Riri duluan, jangan-jangan dia simpanannya ihh" bisik teman Bu Teti disebelahnya sambil bergidik
"Menarik, ternyata keponakan Bu Alina kharismanya boleh juga" bisik Bu Teti pada temannya.
Mereka berdua tanpa sepengetahuan Silvi saling memberi kode, kemudian menahan tawanya masing-masing. Mereka berdua merasa kasihan sekaligus geli melihat putri cantik yang dimanja pak Karta gagal menarik perhatian dua pewaris tunggal dari dua grup bisnis raksasa ini.
Mata mereka seketika terbelalak saat melihat Sugi tiba-tiba saja ikut mendekat kearah Riri, pak Bram dan putranya. Hal ini juga tidak luput dasi perhatian tamu-tamu yang lain. Mata mereka mengikuti kemana arah Sugi melangkah.
"Selamat Malam pak Bram, apa kabar?" ujarnya tersenyum ramah sembari menyodorkan tangannya
"Sam! kabar saya baik" ia menjabat tangan Sugi dengan antusias.
"Oh iya ini kenalkan Tommy, ...eh sebentar kalian sepertinya sudah saling mengenal hahaha aduh saya sudah mulai pikun, Sam"
Tommy menggeleng merasa geli, sambil sesekali melirik kearah Riri yang terlihat ikut tersenyum.
Namun senyuman Riri hanya di permukaan. Di dalam benaknya saat ini sedang terisi berbagai macam hal mengenai situasi yang rumit ini.
"Aduh, bagaimana ini??? Apa yang harus aku lakukan!?? Kok bisa-bisanya sih aku terjebak disituasi seperti ini. Sugi pasti sedang marah besar saat ini" gumamnya dalam hati sambil meremas pinggiran gaunnya dengan ujung jari
"Tapi kan aku tidak salah, orang tua dan anaknya ini yang mendekatiku duluan. Yah bukan salahku kan?!" Gumamnya lagi dalam hati
"Sam, ayahku kalau sedang bersemangat memang seperti ini, Harap maklum hehehe" Tommy masih terkekeh
"Aku bisa mengerti, kadang-kadang ayahku juga sudah mulai begitu" jawab Sugi ikut tersenyum
"Apa mungkin saya begini, karena saya terlalu bersemangat akhirnya bertemu dengan Riri disini" jawab pak Bram sambil menoleh pada Riri
"Anda rupanya mengenal Riri pak Bram?" tanya Sugi sambil melirik kearah Riri
"Oh tentu kenal, saya kan pelanggan setia warungnya. Iyah kan Riri?!"
__ADS_1
"Betul pak, pak Bram ini ternyata pelanggan setia bubur ayam di warung Priboemi. Saya pun baru mengetahuinya tadi" jawab Riri berhati-hati
"Oh iya?!" Ia menatap dingin kearah Riri
Riri menelan ludahnya sambil mengangguk pelan
"Kenal Riri juga Sam?" tanya Tommy, wajahnya terlihat penasaran
"Riri ini dulu beberapa saat sempat menjadi asisten saya bersama pak Doni, iya kan Riri?" jawab Sugi singkat sambil memiringkan sedikit kepalanya menatap Riri
"Iyah pak saya sempat bekerja di Wijaya Grup" Timpal Riri masih berhati-hati
"Oh ternyata begitu" pak Bram mengangguk angguk
"Wahh pasti menyenangkan sekali ada Riri sebagai asistenmu dikantor, Sam" Sahut Tommy sambil mengangkat alisnya
"Iyah sebagai asisten dia sangat luar biasa cekatan dan smart"
"Kamu pasti belum tahu, Sam. Riri memiliki gerakan refleks yang cepat dan sigap. Kamu harusnya tadi melihat, bagaimana dia menyelamatkan dirinya dari cipratan makanan yang dibawa oleh Pramusaji yang hampir saja menabraknya tadi"
"Iyah kamu benar. Saya saja sampai kaget melihatnya. Dan ternyata saat saya perhatikan, wanita yang cekatan itu ternyata Riri" ujar Pak Bram menimpali
Sugi tersenyum "Riri memang berbeda, itu kenapa saya bilang dia luar biasa." jawabnya sambil sedikit menyenggol lengan Riri
Senggolan kecil dari Sugi pada Riri membuat tamu-tamu yang hadir saat itu menduga-duga. Tidak biasanya pak Dirut muda ini seakrab itu dengan lawan jenis. Mereka kemudian mulai membandingkan perlakuannya yang berbeda dengan Silvi saat wawancara media tadi.
Bahkan semenjak Sugi berada dalam jarak dekat dengan Riri bahasa tubuhnya pun berbeda. Ia kedapatan selalu mengarahkan dirinya pada Riri. Aura Sugi pun dinilai tiba-tiba berubah lebih santai dan nyaman sekarang. Bahkan keduanya terlihat serasi saat berinteraksi.
"Bapak-bapak terlalu berlebihan, itu hanya survival skill saja yang kebetulan muncul disaat yang tepat" sanggah Riri salah tingkah
"Kalau ingin bekerja kembali, datang saja pada ayahku Riri. Atau bisa menghubungi aku secara langsung. Aku pasti akan memberikan penawaran yang terbaik" tawar Tommy tanpa sungkan
"Terimakasih atas tawarannya pak Tommy, tapi saat ini saya belum berpikir untuk bekerja kembali"
"Tommy, dia sedang sibuk dengan bisnisnya kok malah ditawari bekerja dikantor kita. Ada-ada saja kamu. Jangan mau Riri, fokus saja ke bisnismu" ujar pak Bram dengan penuh keyakinan
Riri tersenyum "Tentu saja pak, saya memang sedang fokus ke urusan bisnis saya saat ini"
"Bagus" ia mengangkat jempolnya pada Riri
__ADS_1
Beberapa tamu nampak iri melihat interaksi mereka yang akrab. Termasuk Silvi yang kini terlihat sedang menahan amarahnya sendiri.