Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Malam yang hampir sempurna


__ADS_3

"Apa kegiatan Riri sekarang?" Tanyanya dengan mata yang fokus pada wajah Riri


"Saya membantu usaha kakak saya Bu, kami baru membuka kantor disini"


"Saya dengar-dengar kakak Riri bersahabat baik dengan Sam di luar negeri ya? Kok bisa kebetulan ya? Hehehe takdir dekat dengan siapa memang tidak bisa di duga ya"


"Benar Bu, saya juga kaget luar biasa waktu tahu kalau ternyata mereka berteman baik"


Bu Rita menarik panjang napasnya "Riri, saya minta maaf ya atas sikap saya selama ini. Saya juga sempat mengatakan hal-hal yang kurang baik waktu itu. Bukan bermaksud membela diri sendiri, tapi saya akui memiliki kekhawatiran yang berlebihan terhadap masa depan Sammy"


"Tidak ada yang perlu dimaafkan bu, saya sangat mengerti maksud Ibu Rita. Mungkin kalau saya ada di posisi Ibu, bisa jadi saya juga akan melakukan hal yang sama"


Ia tersenyum "Terus terang dalam hati kecil, saya sebenarnya bersyukur sekali Sam memiliki teman dekat seperti Riri. Bisa mengimbangi dan mengerti Sammy dengan baik, terkadang saya sendiri pun sebagai Ibu tidak sepenuhnya mengerti tentang kemauannya"


"Sammy sedari kecil anaknya keras hati. Kalau dia menginginkan sesuatu dia pasti gigih mengejarnya dan tidak akan mendengar kritikan dari orang lain. Karena menurut dia semasih hal tersebut dia rasa benar dan tidak melanggar hukum ya bukan masalah baginya. Kalau mau A yah A tidak bisa diubah jadi B"


"Dia persisten yah Bu" jawabku sambil tersenyum


"Nah benar sekali, kami jadi sering berdebat tentang keputusan-keputusan yang dia ambil. Termasuk sewaktu dia bersikukuh kuliah di suatu Universitas yang tidak masuk rekomendasi di luar negeri. Ayahnya sampai memutus support keuangan dia di awal-awal kuliah, tapi tetap loh dia bisa bertahan dari bekerja part time disana hahahaha" Bu Riri terkekeh mengingat masa lalu


Aku ikut tersenyum geli mendengar cerita Bu Rita "Dan ternyata kami baru mengetahui, Universitas yang dia pilih nyatanya memang bagus di jurusan bisnis dan manajemen. Kami akui kami keliru waktu itu"


"Loh Riri sudah datang rupanya, malah saya santai tadi di atas" suara pak Danu mengejutkan kami


"Sudah pak baru saja, justru saya yang mungkin datangnya terlalu cepat. Takut kena macet pak"


"Ini kita lagi cerita-cerita tentang Sammy. Riri pun tahu anak itu nggak bisa di bantah kalau sudah ingin sesuatu hahaha"


"Ah anak itu memang keras kemauannya. Sabar-sabar saja Riri. Apalagi kalau sedang marah sangat emosional, saya sering sekali menasehatinya. Untung saja semakin dewasa ia banyak memperbaiki diri" kata pak Danu sambil ikut duduk bersama kami


"Dia pernah marah nggak sama Riri?" tanya Bu Rita


"Marah yang sampai membentak sih belum pernah Bu"


"Baguslah, tapi kalau dia marah besar diamkan saja ya. Nanti juga baik sendiri hehehehe" lagi-lagi Bu Rita terkekeh disambung oleh pak Danu yang juga ikut tertawa


Pak Yanto nampak mendekati kami "Permisi, makanannya sudah siap Bu, pak" katanya sambil tersenyum

__ADS_1


"Yuk mari Riri kita lanjut di meja makan saja ceritanya. Disini makannya boleh sambil mengobrol kok, santai saja ya" Bu Rita merangkulku sambil berjalan menuju meja makan


Pak Danu juga ikut berdiri dan mengikuti kami dari belakang.


Sekitar jam sembilan malam aku pamit dari kediaman keluarga Sugi. Diluar dari perkiraanku, ternyata orang tua Sugi cukup menyenangkan. Obrolan kami banyak membahas masa kecil Sugi dan terselip beberapa obrolan dunia bisnis dari pak Danu.


Saat ini aku sedang dalam perjalanan pulang, Ditelingaku kembali terngiang pesan dari Bu Rita saat berpamitan tadi. Katanya "Jaga baik-baik hubungan kalian ya. Menurut pengalaman Ibu, cobaan kalian akan banyak yang datang dari luar. Kuncinya bersabar, saling percaya. Semoga kalian bisa berjodoh"


Aku menghela napas "cobaan dari luar? Apa maksudnya ya? gosip dan orang ketiga?" Aku menggeleng sendiri "semoga saja tidak terjadi" gumamku khawatir


Kulihat Shop n Shop ternyata masih buka di jam ini. Aku jadi teringat kalau sedang membutuhkan beberapa box file, alat tulis, dan mungkin juga beberapa hal lain yang masih kurang dikantor. Tanpa ragu aku membelokkan mobil ini ke Supermarket yang di klaim paling lengkap itu.


Ketika asyik memilih beberapa barang, aku seperti melihat sosok Dion berdiri di satu sudut sedang memperhatikan sekelilingnya.


"Aduh kenapa bisa ada dia disini sih? Aku pikir pemilik supermarket apalagi anaknya pemilik supermarket akan jarang sekali berkeliling di supermarketnya sendiri. Seperti aku salah menduganya" aku bergumam sambil berharap dia tidak melihatku disini dan memutuskan untuk memutar agar tidak terlihat olehnya.


Hampir semua yang ia butuhkan sudah berada di tangannya. Terakhir Riri memutuskan untuk membeli alat penghancur kertas. Alat itu berguna untuk menghancurkan isi file penting yang sudah tidak digunakan lagi. Ia nampak memanggil staf laki-laki untuk membantunya.


"Pak, saya boleh minta tolong bawakan barang ini ke kasir. Saya mau membeli yang merek ini" aku menunjuk satu merek yang pernah aku gunakan di hotel Z


Kami tiba di kasir, petugas kasir dengan cekatan menghitung barang-barang yang aku beli.


Sebelum petugas kasir menghitung alat penghancur kertas yang aku pilih, aku berinisiatif untuk memeriksa kembali alat tersebut. Aku ingin memastikan alat tersebut dalam keadaan baik.


Mataku awas melihat alat ini kembali dengan teliti, benar saja ada retakan samar di bagian samping "Maaf Bu alat ini sepertinya retak di bagian samping" kataku pada petugas kasir


"Iyah Bu retak, coba saya cek stok disini untuk menggantikannya" jawabnya ramah sambil memencet nomor staf Runner


Petugas tersebut terlihat berbicara di telepon


"Sebentar yah Bu untuk stoknya masih di periksa"


Beberapa saat kemudian telepon di depan petugas itu berdering, dengan cepat diangkat olehnya.


Petugas tersebut menutup teleponnya dan menoleh ke arahku "maaf Bu, untuk merek ini stoknya habis. Tapi dua hari lagi kami restock. Kalau berkenan saya boleh minta nomor teleponnya Bu? Nanti kami akan informasikan kalau barangnya sudah datang "


"Boleh Bu" kataku sambil mencatat nomor teleponku di kertas yang ia sodorkan

__ADS_1


"Sekalian alamatnya Bu, kalau jadi membeli kami bisa mengirimkannya juga secara langsung dengan tambahan minimum ongkos pengiriman"


"Baik tolong kirimkan saja dengan warna yang sama yah" ujarku sambil menuliskan alamat kantorku disana


"Baik Bu" ia lalu menyebutkan sejumlah total uang yang harus aku bayarkan.


Setelah itu aku melangkah dengan tergesa menuju parkiran mobil, aku khawatir kalau Dion akan melihatku disana. Benar saja ia sudah menungguku di pintu keluar


"Malam Riri" sapanya sambil tersenyum, angin kencang nampak mengacaukan rambut dan pakaian yang ia kenakan. Tatto yang terukir di dada dan lengannya kini terlihat jelas olehku.


"Malam" jawabku datar


"Kok sendiri? Pacarmu pasti lagi sibuk ya? Atau sedang di luar kota? Masa dia membiarkan wanita secantik kamu pergi-pergi malam begini sendirian" katanya sambil menyisir rambutnya yang lurus kebelakang.


"Ada perlu apa sampai harus menungguku begini?" Jawabku ketus


"Siapa yang menunggumu? Hehehehe aku kebetulan merokok di luar" ia terkekeh "jangan-jangan kamu yang sengaja berbelanja kemari, berharap bertemu denganku ya?" Ia tersenyum lebar


"Ya sudah aku pulang ya, nikmati saja rokokmu" aku melangkah melewatinya


"Sebentar Riri" ia memegang lenganku


Aku menarik tanganku dengan wajah kesal menatapnya tajam


"Kenapa tidak membalas pesanku waktu itu? Aku menunggunya semalaman loh. Kamu jahat tahu nggak, sudah membuatku kepikiran sampai sekarang"


"Dion, maaf aku tidak punya banyak waktu untuk ini. Sudah larut aku mau pulang"


Wajahnya berubah senang "Hei masih ingat namaku rupanya. Segitu saja aku sudah senang Riri. Ternyata namaku masih tersimpan baik di memorimu"


"Ck! Aku pulang yah, selamat malam Dion" aku berbalik badan lalu melangkah dengan tergesa. Khawatir ia akan mengikutiku dari belakang.


"Hati-hati dijalan yah cantik, sampai nanti. Sampai kita berjumpa lagi!!!" Teriaknya di belakangku


Aku bisa bernapas lega, ternyata kekhawatiranku tidak terjadi. Tidak nampak batang hidungnya di sekitar mobil yang aku bawa. Aku bergidik


"Semoga saja aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. kenapa sih harus bertemu dengan orang itu disini? padahal tadi aku sedang gembira" gumamku kesal sambil melajukan mobil ini.

__ADS_1


__ADS_2