Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Sial


__ADS_3

Waktu pun berlalu, beberapa hari belakangan ini Riri disibukkan oleh urusan kantor dan persiapannya untuk membuka warung makan. Dua unit Ruko disebelah kantor secara resmi telah ia sewa kemarin, untuk jangka waktu selama dua tahun.


Riri banyak sekali mendapat masukan dari Pak Budi seorang konsultan handal yang dikirim oleh Sugi untuk membantunya beberapa waktu yang lalu. Bahkan pak Budi juga sempat merekomendasikan seseorang yang bisa mewujudkan konsep desain warung vintage sesuai keinginannya.


Rencananya Riri akan mulai memoles ruko tersebut keesokan harinya, beruntung orang yang direkomendasikan oleh pak Budi tersebut memiliki jadwal yang kosong untuk seminggu ini. Artinya rencana Riri sepertinya akan berjalan dengan lancar.


Hari sudah beranjak siang, pak Jon pun sudah meminta ijin untuk makan siang seperti biasa.


"Silahkan pak Jon, tidak usah terburu-buru ya" kataku padanya


"Ibu nggak makan siang?" Tanyanya khawatir karena sedari tadi ia berjaga, tidak nampak satu pun delivery makanan yang datang kemari


"Belum lapar pak?"


"Tapi pak Sugi menyuruh saya mengingatkan Ibu untuk makan siang tepat waktu. Beliau mungkin takut ibu sakit karena terlambat makan siang"


Aku tersenyum mendengar ucapannya "ok pak, saya akan memesan makanan sekarang"


"Baik Bu saya pergi dulu" jawabnya, ia nampak berbalik badan dan menjauh


"Iyah pak Jon"


Sepeninggalan pak Jon aku kembali sibuk dengan pekerjaanku. Kudengar ponselku berbunyi, di layarnya nampak nama Dion melakukan panggilan


"Halo" aku mengangkat teleponnya


"Hi Riri, kamu dikantor nggak hari ini?"

__ADS_1


"Iyah, kenapa?"


"Aku mau mampir sebentaaarrr saja" ia menghela napasnya.


"Mmm..." Aku tak tahu harus menjawab apa padanya


"Aku mengerti kalau kamu khawatir kedatanganku akan membuat masalah. Tapi aku mohon ijinkan aku datang sekali ini saja. Mungkin setelah ini aku takkan bisa lagi bertemu denganmu" suaranya terdengar sedih


"Kamu mau nikah ya?" tebakku secara asal


Ia tergelak "Bukan hahahaha, nanti aku jelaskan. Sepuluh menit lagi aku sampai" ia menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dariku


Aku memandangi layar ponsel ditanganku. Perasaanku tiba-tiba saja menjadi tidak enak, seperti akan ada sesuatu hal besar terjadi hari ini. Aku memiliki perasaan yang lebih peka terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarku semenjak harus hidup sendiri dengan berbagai keterbatasan.


"Kenapa aku merasakan perasaan ini lagi yah?? Setelah sekian lama perasaan tak nyaman ini datang lagi. Tapi kali ini rasanya benar-benar membuatku gelisah" gumamku sambil berdiri dan berjalan keluar dari kantor untuk mencari sedikit udara segar diluar.


Jantung Riri mulai berdebar-debar semakin gelisah saat dua orang tersebut mendekatinya. Perasaannya mengatakan "mereka berbahaya!!"


Riri menaikkan kewaspadaan dan bersiap untuk segala kemungkinan. Benar saja, mereka mulai menyerang. Satu orang berusaha menangkapnya dan yang lain bersiap untuk memberikan pukulan untuk melumpuhkannya. Ia mulai bergerak mundur berusaha untuk menangkis serangan dua orang tersebut. Sebuah suara klakson yang cukup keras membuyarkan konsentrasi mereka.


Riri akhirnya memiliki kesempatan untuk melakukan serangan. Tanpa membuang waktu ia berhasil mendaratkan pukulan dan tendangan ke wajah dan kaki mereka. Namun sayangnya itu belum cukup untuk menghentikan mereka. Postur yang besar dari kedua orang tersebut nampak kontras dengan tubuh mungil Riri.


Dua orang tadi juga tidak menyangka kalau wanita yang akan mereka culik bisa menangkis serangan mereka bahkan sampai bisa melakukan serangan balik. Mereka sadar akan kehilangan banyak waktu saat ini. Keduanya melakukan serangan bertubi-tubi, hingga membuat Riri kewalahan. Beberapa kali ia pun kena pukulan di wajah dan dadanya.


Akhirnya mereka berhasil menangkap Riri dan hendak dimasukkan kedalam mobil jeep. Riri berontak, tubuhnya tidak tinggal diam saat mereka mencoba mengikatnya


"BANGS*TTT!!! Kalian mau membawaku kemana hah? Siapa yang memerintahkan kalian???!!!" Teriak Riri sambil terengah-engah

__ADS_1


"Diam!!! Kalau masih melawan ku patahkan tanganmu " Teriak satu laki-laki yang memiliki tato ular membelit bunga matahari di lehernya


"HOI!!!!" Sebuah teriakan terdengar dari kejauhan, nampaknya Pak Jon telah kembali, ia turun dari mobilnya dan berlari secepat kilat mendekati mereka. Ia lantas menendang salah satu diantara mereka hingga terpental. Pak Jon lanjut menghujani pukulan pada satu orang yang lain tanpa ampun, orang tersebut nampak sedikit kewalahan namun masih bisa melancarkan serangan balik.


Riri bersiap menghadapi laki-laki bertato yang sempat terpental tadi. Pertarungan sengit diantara mereka berlangsung cukup lama. Tubuh Pak Jon beberapa kali terbentur tembok akibat pukulan dan tendangan lawan.


Riri pun harus mendapatkan sejumlah pukulan di sekujur tubuhnya akibat serangan yang bertubi-tubi. Mereka bukanlah lawan yang sepadan untuk kedua laki-laki ini. Mereka kini terdesak di satu tempat. Pak Jon sudah terlihat habis tenaga namun memaksakan diri untuk bersiap menghadapi mereka kembali


"Bu Riri, di hitungan ketiga ibu lari saja ke keramaian. Saya yang akan menghadapi mereka berdua disini menghambat kejaran mereka" bisik pak Jon sambil terengah-engah padaku. Darah terlihat mengalir dari pelipis dan bibirnya


"Tapi pak, saya nggak bisa meninggalkan pak Jon sendiri disini. Terlalu berbahaya mereka pasti akan menghabisi bapak" jawabku khawatir. Beberapa kali aku harus menyeka darah yang mengucur dari hidungku. Perut dan dadaku juga terasa nyeri dan ngilu.


"Keselamatan Bu Riri lebih penting"


Aku berusaha berpikir dengan cepat, kulihat mereka mulai menyerangnya kembali. Tanpa disadari keduanya, salah satu orang itu mengeluarkan belati dari balik jaketnya.


"Lari bu!!! Lari!!!." Teriak pak Jon yang masih berusaha sekuat tenaga menghalangi mereka. Dengan ragu Riri berbalik badan berniat untuk meninggalkan pak Jon, mungkin ia bisa menghubungi Pak Doni untuk mendapatkan bantuan. Namun saat ia memalingkan wajahnya kembali padanya, ia melihat satu orang memegang sebuah belati yang akan dihujamkan pada pakJon.


Riri berlari kencang mendorong tubuh pak Jon agar ia menjauh, belati tersebut ternyata mengenai bagian pinggangnya sendiri.


"aghhh!!! Riri mengerang kesakitan sambil memegangi bagian pinggangnya. Rasa sakit di pinggangnya kini mulai terasa berdenyut. Badannya gemetar saat melihat banyak darah merembes keluar dari sana. Semua terasa seperti mimpi dalam gerakan lambat. Ia melihat pak Jon masih dihajar oleh lawan tanpa bisa melawan lagi.


"Sialll!!!" Riri berteriak frustasi. Ia rubuh ditempat dengan air mata yang bercucuran menahan rasa sakit yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya


"BU RIRI!!!!" Teriak pak Jon histeris sambil berusaha menangkis serangan lawan.


Sementara itu laki-laki dengan tato yang sedang memegang belati ditangannya nampak terdiam memandangi Riri yang sedang rubuh kesakitan di depannya. Ia kemudian terlihat bingung dan gelisah.

__ADS_1


__ADS_2