
Dari kejauhan pak Yuda masih mengawal Riri sesuai dengan tugas yang dibebankan padanya. Ia pun kaget saat melihat Dirut Wijaya Grup ternyata juga sedang berada disini. Selama dia bertugas mengawal Riri ia dilarang berinteraksi di muka umum dengan pak Doni kalau mereka tiba-tiba berkunjung kemari.
"Kenapa kemari?" tanyaku pada Sugi yang sedang menatapku
"Saya ke belakang dulu ya Bu, toiletnya ada di sebelah mana?" tanya pak Doni yang nampak beranjak dari duduknya
"Bapak turun lewat tangga ini, toiletnya ada di sebelah kanan pak" aku menunjuk tangga di ujung tempat ini
"Baik Bu, permisi" jawabnya lalu bergegas pergi
Aku kembali mengalihkan pandanganku pada Sugi. Ia menepuk sofa disebelahnya, menyuruhku untuk duduk disana. Aku pun mengikuti keinginannya
"Kenapa tidak mengangkat teleponku? Pesanku juga tidak kamu balas" tanyanya dengan wajah khawatir
"Aku sibuk, hanya karena itu kamu datang kemari?" tanyaku dengan nada dingin
Ia menggeleng "i miss you so much" bisiknya lembut. Aku tidak merespon ucapannya
Ia menghela napasnya "Aku tahu kamu sudah melihat foto-foto itu"
"Foto yang mana?" tanyaku sengaja berpura-pura tidak tahu
"Fotoku bersama Anita" ia menyisir rambutnya kebelakang dengan jari-jari tangannya yang panjang. Ia berusaha menyembunyikan senyumannya.
Rasanya emosiku jadi memuncak saat ia menyebut namanya dengan santai
"Oh kalian sudah seakrab itu rupanya. Namanya begitu lancar keluar dari mulutmu. Sepertinya kalian memang akan menjadi pasangan yang serasi, sesuai dengan berita itu" ujarku sinis
Ia kini benar-benar tersenyum lebar lalu mulai menutupi mulutnya sendiri seperti menahan tawa
"Kenapa tertawa? Apa yang lucu!!?" Ujarku dengan perasaan kesal
"Pengin meluk pacar yang lagi cemburu" ia berbisik, matanya tak sedetikpun lepas dari wajah Riri
"Siapa yang cemburu?!" Ujarku bersungut-sungut
Tiba-tiba ia bangkit " Mmm..Sebaiknya kita bicara diluar saja yuk sayang. Disini terlalu ramai" ajaknya dengan suara pelan
Aku memalingkan wajah dan bergeming
"Kamu mau jalan sendiri atau aku gendong? Aku serius loh!" Ia kembali berkata dengan mimik serius
Untuk mencegah ia bertindak sesuka hatinya, aku pun berdiri dan mengikutinya
Pak Kanis ternyata masih berdiri di tempatnya semula dengan wajah penasarannya
"Pak, nanti kalau ada yang menghubungi saya, catat saja pesannya. Bilang saja saya sedang keluar" ujarku padanya sambil berlalu menuju mobil Sugi yang masih terparkir di depan lobby Villa.
__ADS_1
"Baik Bu" jawabnya singkat
Ternyata pak Doni sudah berada di dalam mobil. Ia lalu turun untuk membukakan pintu mobil untukku dengan senyuman lebar. Sugi pun ikut masuk menyusulku. Mobil pun melaju dengan perlahan. Seperti biasa ia kemudian menurunkan sekat partisi.
Aku memalingkan wajahku ke arah jalanan dari kaca mobil yang gelap. Perasaanku sedang tidak baik-baik saja.
Sugi tiba-tiba mencium pipiku "Jangan marah padaku, sayang. Aku tidak tahan dengan sikapmu ini"
"Terus apa aku harus gembira melihatmu tersenyum lebar bersama wanita idealmu itu?"
"Sayang, aku tidak bermaksud untuk melukai perasaanmu, situasi malam itu sangat sulit untukku. Aku terpaksa melakukannya. Kalau aku tidak mau, itu akan menyinggung ayahnya. Dan kalau itu terjadi, dampaknya akan mempengaruhi hubungah ayah dengan Bapak Walikota"
"Aku bahkan tidak mengobrol dengannya sepanjang acara. Dia beberapa kali berusaha untuk membuka pembicaraan tapi aku terus terang tidak tertarik sama sekali. Kalaupun aku mau menjawabnya itu hanya basa basi biasa saja" katanya lagi mulai frustasi karena aku masih bergeming
"Sayang, lihatlah kemari. Apa kamu tidak lagi percaya padaku?!" Ujarnya lagi dengan nada sedih
"Riri....aku bukan lelaki tukang tebar pesona seperti Tommy, aku tidak pernah mencium punggung tangan wanita secara sembarangan seperti yang ia lakukan padamu"
Ucapannya yang terakhir cukup membuatku tersadar, kalau dia memang bukan tipe laki-laki seperti Tommy. Aku menoleh kearahnya. Wajahnya terlihat sedih.
"Karena kita tidak pernah muncul di publik, semua orang masih menganggap aku lajang, belum memiliki kekasih, dan aku yakin mereka juga menganggap kamu begitu. Hal-hal seperti ini pasti akan sering terjadi"
"Aku kemari karena takut kehilanganmu, Riri"
Aku masih menatapnya tanpa respon apapun"
Ia tersenyum, tangannya terulur untuk membelai wajahku "Masih kesal ya? Kamu boleh memukul dan mencubitku untuk meredakan amarahmu"
"Aku juga takut kehilanganmu" ujarku sambil membenamkan wajahku dalam pelukan hangatnya
"Itu takkan pernah terjadi, percayalah padaku"
Ia melepaskan pelukannya dan mengangkat wajahku
"Sayang, sebentar lagi perayaan ulang tahun perusahaan akan dirayakan kembali. Kamu masih ingat nggak, hari dimana aku diumumkan menjadi Direktur Utama setahun yang lalu? Hahahaha" ia tergelak mengingat memori yang terlintas dikepalanya
Aku jadi ikut tergelak karenanya " hahahaha...Siapa yang menyangka hubungan kita bisa sejauh ini ya"
"Sejauh apa sih memangnya hubungan kita?" Ia mendekatkan wajahnya untuk menggodaku
"Yah sejauh ini" jawabku asal merasa salah tingkah
"Mau dibuat lebih jauh lagi nggak?" Bisiknya sambil menciumi leherku
"Jangan..." Ujarku sambil menutupi mulutnya dengan tangan. Ciumannya beralih, ia kini menggigit-gigit telapak dan jari tanganku
"Hahahaha geli... sayang"
__ADS_1
"Hihhh...kok aku jadi gemes gini sih" ia kembali memelukku erat
"Nanti di acara itu kita harus muncul di publik sebagai pasangan. Aku tidak rela melihatmu mengobrol dengan laki-laki lain, apalagi sampai ada lagi Tommy-Tommy lain yang mencium punggung tanganmu. Menyebalkan sekali" sahutnya dengan dahi berkerut
"Tapi..."
"Shhh!!" ia menutup mulutku dengan telunjuknya, "Tidak ada tapi-tapi... Aku siap dengan segala konsekuensinya. Aku berharap kamu pun begitu. Kita hadapi semuanya bersama"
"Ya deh, tapi jujur aku takut semua media akan mencari tahu tentang latar belakang keluargaku. Semua orang akan mulai mengorek-ngorek kehidupanku di masa lalu yang mungkin saja bisa menjatuhkan imageku dan dipakai untuk menyerangmu"
"CK!... Aku tidak peduli. Yang penting semua orang jadi tahu kalau kamu itu adalah milikku dan aku sudah memiliki calon istri yang baik hati dan pintar sepertimu"
Aku menggeleng sambil tersenyum tak tahu harus menjawab apa.
"Oh iya, semalam Damar memberitahuku kalau dia akan kembali dan menetap disini. Setelah mengurus banyak hal beberapa bulan ini, ia siap menjalankan bisnisnya dari sini"
Sugi tersenyum lebar "Oh ya? Bagus dong. Kenapa dia tidak pernah membahas ini sebelumnya ?"
"Mungkin rencana awalnya berbeda, tapi berubah semenjak bertemu dengan Gia dan hubungan mereka kemungkinan sudah sangat serius. Damar itu kadang introvert, kalau punya rencana besar pasti hanya dia yang tahu"
"Hahahaha dia memang seperti itu, selalu penuh kejutan" Sugi tergelak teringat akan masa lalunya di luar negeri bersama Damar
"Tapi untuk detailnya kapan kembali dan gimana-gimananya dia hanya bilang, "pokoknya nanti kalau aku sudah landing kapan pun itu aku kabari lagi" gitu!!"
"Dasar Rio!!"
"Yah begitulah dia" aku mengangkat kedua tanganku
"Ya sudah nanti kabari aku kalau dia minta dijemput, nanti aku siapkan seseorang"
"Ok sayang. Terus sekarang kita kemana?"
"Nggak kemana-mana, aku nggak punya rencana"
"Makan malam di restauran di Villa Lembayung yuk! Mau nggak?"
"Boleh" jawabnya dengan mata berbinar
"Okeh, aku telepon ke villa dulu. Biar mereka bisa menyiapkan meja untuk kita dan pak Doni"
"Yahh... Nggak berdua aja?"
"Bertiga lah sayang, kasian pak Doni"
"Ck! Ya tapi nanti setelah makan kita mampir ke villa tempatmu tinggal ya?" Ujarnya dengan wajah penuh harap
"Iyah... " Jawabku singkat
__ADS_1
"Yes!!!" Sahutnya bersemangat, ia lalu menaikka sekat partisi "pak Kita ke Villa Lembayung" perintahnya pada pak Doni yang nampak tersenyum lebar sejak sekat partisi tadi dinaikkan kembali.
"Baik pak" jawabnya singkat tidak kalah bersemangat. Ia tahu masalah ini telah usai, dan hubungan mereka masih baik-baik saja