Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
kondisi baik


__ADS_3

"Walaupun luka di pinggang mu ini lumayan dalam, tapi untung saja tidak sampai mengenai organ dalam" kata Sugi sambil membantu mengikat rambutku yang tergerai bebas. Ia lantas menyeka keringat yang ada di keningku dengan lembut


"Aku jadi nggak bisa ngapa-ngapain" aku menggerutu


Ia mendekatkan wajahnya "Ya keadaanmu begini, terus mau gimana?...Sabar"


Aku hanya bisa mengangguk lemah mendengar ucapannya


"Aku jadi kepikiran kerjaan dikantor, mana pengiriman lagi banyak. Kak Damar kemana?"


"Dia sama Gia mau merekrut orang baru untuk sementara menggantikanmu incharge dikantor. Sepertinya Gia memiliki kandidat yang cocok dan bisa langsung bekerja dengan baik"


"Terus Warungku gimana sayang?"


Ia nampak tersenyum sambil menggeleng "masih aja inget kerjaan, renovasi warungmu sudah mulai dikerjakan hari ini sesuai jadwal. Tenang saja ada anak buah pak Doni yang menunggu tukang bekerja di sana"


"Makasi ya sayang"


Ia mengecup punggung tanganku "my pleasure, baby"


"Pak Dirut, sebaiknya pergi bekerja hari ini, aku nggak apa-apa kok sendirian. Aku tahu banget jadwalmu yang super sibuk itu"


Ia menatapku tanpa menjawab


"Beneran sayang aku lebih tenang kalau kamu kembali sibuk seperti biasa. Aku tidak mau merepotkan siapa-siapa. Lagipula disini kan fasilitasnya lengkap, terus ada perawat yang berjaga 24 jam" aku tersenyum padanya


Ia menghela napasnya "kamu sakit aja masih mikirin ini itu, kan aku yang tahu jadwalku"


Ia menatap wajahku agak lama "ya deh, aku mungkin memang harus pergi sebentar. Nanti aku akan kembali secepatnya. Kamu ditemenin sama Dion dulu ya"


"Loh dia masih disini? Aku pikir sudah pergi"


"Masih, dia menunda keberangkatannya gara-gara ini. Katanya mau melihat kamu sembuh dulu, nanti setelahnya baru dia berangkat"


"Dia mau kemana?" tanyaku heran


"Nanti tanya aja sendiri ke dia. Dan aku sedikit merasa cemburu dengan kedekatan kalian" ia berbisik, wajahnya berubah dingin


Aku menahan tawaku yang hampir saja menyembur "jangan aneh deh, kedekatan apa??!!


"Yah bisa mengobrol dengan nyaman sama kamu itu berarti hubungan kalian cukup dekat dong. Aku kali ini akan merelakan kedekatan kalian hanya karena dia sempat menolong menyelamatkan nyawamu"


Aku tersenyum "i love you sayang, nggak ada yang bisa menggantikan pak Dirut ganteng di hatiku"


"Ck! Paling bisa kalau gombal" ia mendekat dan mengecup bibirku


"Hahahaha" aku tergelak mendengar jawabannya

__ADS_1


"I love you too. Nanti aku kembali"


"Iyah"


Ia sekali lagi mengelus kepalaku dan pergi berlalu dari kamar ini


"Dion titip Riri ya, saya pergi dulu. Nanti saya akan kembali secepatnya" ujarnya pada Dion


"Iya, saya akan menjaganya dengan baik" jawab Dion


Pak Doni pun berdiri dan berjalan mengikuti Sugi yang sudah terlebih dahulu pergi


Dion kemudian menghampiriku Ia nampak tersenyum


"Duduklah Dion, kamu sudah sarapan?"


"Aku dan yang lain tadi sudah sarapan, waktu kamu di cek sama perawat" sahutnya sambil duduk dikursi yang ada disebelah ranjangku


"Terimakasih ya Dion sudah mau bersusah payah menyelamatkanku"


"Masa dapat ucapan terimakasih aja?!" Ia memutar bola matanya lalu terkekeh


"Yah terus kamu mau apa? Kalau aku mampu aku pasti berikan"


"Mmm... yang aku mau sudah kamu berikan pada orang lain yah nggak apa-apa sih hahahaha" ia kembali terkekeh "melihatmu sehat dan bisa tersenyum saja sudah lebih dari cukup untukku, Riri"


"Nggak yakin sih hahahaha" ia menutup wajahnya dengan satu tangan


"Aku dengar kamu mau bepergian ya? Kemana?"


"Ada, ke suatu tempat yang jauh dari sini"


"Terus kenapa nggak jadi berangkat?"


Ia memandangi langit-langit kamar ini "Aku mau menunggumu sampai sehat, paling tidak sudah keluar dari rumah sakit ini"


"Kenapa begitu? Kalau memang itu penting, pergilah, Aku akan baik-baik saja Dion. Nanti kalau sudah keluar dari rumah sakit aku akan mengabarimu"


"Kamu mengusirku?" Ia menatap langsung mataku dalam-dalam


Aku menggeleng sambil mengalihkan pandangan pada tanganku yang masih tertancap selang infus. "Bukan begitu, aku hanya merasa tidak enak karena harus merepotkanmu"


"Sementara waktu luangku cukup banyak, kedai yang aku urus sudah bisa ku tinggalkan pada managernya masing-masing. Usahaku yang lain juga sudah bisa berjalan tanpa harus ada aku disana. Sedangkan pacarmu kan sudah pasti sibuk, jadi aku bisa menggantikannya sebentar"


Aku kembali memandanginya dengan pandangan yang mengatakan "apa sih Dion?!? Gak cape yah?"


"Ok Riri aku bercanda hehehehe" jawabnya tertawa geli seperti tahu arti pandanganku itu

__ADS_1


"Kali ini aku serius Dion. Awalnya aku berpikir kamu seperti laki-laki kaya lainnya. Yang biasanya bertindak seenaknya saja. Tapi penilaianku jadi berubah semenjak kita mengobrol di waktu makan siang itu. Aku berharap nanti kamu bisa menemukan wanita yang baik dan pantas untukmu"


"Sudah kutemukan, tapi ternyata bukan untukku. Aku yang terlambat menemukannya" ia menunduk


"Aku perjelas ucapanmu, yang kamu maksud aku kan? Bicara saja terus terang Dion. Aku takkan marah, malah aku senang kita bisa bicara terbuka seperti ini"


Ia lagi-lagi tersenyum "Iyah kita terlambat bertemu, lebih tepatnya aku yang terlambat mengenalmu.


".....Eh tapi kalau ku pikirkan lagi, baru kali ini aku merasa nyaman berada di tengah-tengah banyak orang. Aku merasa seperti mengenal kalian sudah cukup lama. Aku bahkan tidak merasa harus waspada berada disini"


"Karena kami tidak punya hidden agenda Dion"


"Iyah hubungan pertemanan seperti ini yang tidak pernah aku miliki sebelumnya" ia kali ini nampak berpikir


"Aku yakin kamu laki-laki yang baik Dion. Mungkin karena pengaruh lingkungan saja yang membuatmu jadi sosok yang berbeda dari aslinya"


"Jangan memujiku begitu, nanti aku nggak bisa move on loh Riri"


"Halah, nanti kalau ketemu cewek cantik pasti beda lagi" aku menahan tawa


Ia lagi-lagi menatapku lekat-lekat


"Nggak usah memandangiku begitu, wajahku yang lebam ini bisa luntur loh"


"Kamu babak belur begini saja masih kelihatan menarik dimataku, Riri. Siapa tahu nanti pak Dirut itu bosan dan membuangmu, bilang saja padaku"


"Ck! Dioooonnn!!" Aku berteriak pelan


"Hahahaha aku yakin kakimu sekarang pasti sudah gatal ingin menendangku"


"Hehehehe Iyah begitulah" aku tertawa pelan mendengar ucapannya.


Kami masih mengobrol tentang rencana-rencananya sampai hari beranjak siang. Kunjungan dokter dan perawat pun tiba. .


Dion nampak memperhatikan dokter dan perawat melakukan pengecekan.


"Semua dalam kondisi baik. Kalau kondisinya selalu seperti ini untuk seterusnya mungkin jadwal kepulangan ibu untuk rawat jalan akan bisa dilakukan lebih cepat" kata Dokter Nara padaku


"Iya dok"


"Ok, silahkan nanti makan siangnya dihabiskan, diminum obatnya dan beristirahat yang cukup" tutup dokter Nara


"Terimakasih dok"


"Sama-sama, mari Bu Riri"


"Iyah dok"

__ADS_1


Dokter dan perawat pun pergi dari kamar ini setelah tersenyum pada Dion


__ADS_2