
Riri sudah berada di ruang kantornya pagi ini. Matanya sedang mengamati perubahan letak barang-barangnya diatas meja beserta letak isi lacinya. "Tuh kan berubah, pasti benar seperti dugaanku. Dewi sore itu pasti kemari setelah aku pulang. Office boy yang biasa bersih-bersih disini jarang sekali mengubah susunan letak barang-barangnya. Dia mencari apa sih?" Riri bertanya-tanya dalam benaknya
"Ah sudahlah, aku mau fokus dulu untuk pekerjaanku hari ini" gumamnya sembari mengeluarkan laptopnya dari dalam tas.
Ponselnya bergetar, Sugi mengirimkan satu pesan
"Hari ini meeting saya dengan Mr. John jadi setelah makan siang ya. Mr. John sudah confirm. Siapkan berkasnya"
"Baik pak" jawabku dengan perasaan geli
"Tuh kan kalau sedang bekerja dia memang sangat berbeda" Gumamku lagi
Seperti biasa aku memeriksa beberapa email yang masuk sejak kemarin. Telepon di mejaku kemudian berdering.
"Selamat pagi, Wijaya Group head office. Dengan Riri, ada yang bisa dibantu?" Aku menjawab telepon itu pada deringan ke dua
"Tari....!!! " Terdengar suara nyaring seorang perempuan
Aku merasa seperti mengenal suara ini "Iyah, maaf dengan siapa saya bicara?"
"Ini aku Erika, aduh susah sekali menghubungimu"
"Erika? Erika yang itu?!"
"Iyah, astaga! aku sepupumu Tari"
"Oh hi Er, apa kabar? kenapa tiba-tiba kamu menghubungiku sepagi ini?"
"Aku baik semoga keadaanmu juga baik Tari. Maaf aku mengganggumu sepagi ini. Kalau aku menelpon siang aku takut kamu sedang sibuk atau bisa jadi tidak ada dikantor. Aku dengar kamu sekarang bekerja di Wijaya Grup yah? Hebat loh Tari hehehehe" suara Erika terdengar begitu bersemangat
"Biasa saja kok Er"
"Aku kangen, kita bisa ketemu nggak? Aku sekarang lagi liburan Tari. Mungkin kamu sudah mendengar kalau aku melanjutkan kuliah S2 diluar negeri"
"oh yah? bagus dong" jawabku sekenanya
"Ayolah Tari, kita sudah lama tidak bertemu dan mengobrol"
"Perasaanku mengatakan ini ada kaitannya dengan Hak Waris Saham yang aku miliki" batinku
Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku menyetujui bertemu dengannya "Ok, kita ketemu dimana dan kapan?"
"Bagaimana kalau nanti malam sekitar jam tujuh? Kita bisa sambil makan malam, Di Restauran Sushi dekat kantor ayah kita yang lama. Masih inget kan?"
__ADS_1
"Hmm boleh, aku kemungkinan bisa sih jam segitu"
"Ok, sampai nanti yah Tari"
"Sampai nanti Er"
Aku memutuskan untuk memberitahukan hal ini pada kak Damar melalui pesan singkat.
Tanpa menunggu jawaban darinya aku kembali fokus dengan pekerjaanku.
Tanpa sadar hari berlalu begitu cepat, aku mendengar derap langkah tegas dari luar ruangan. "Pasti itu langkah kaki Sugi"
Benar saja Sugi dan pak Doni nampak memasuki ruangan lalu menuju ke mejanya di dalam tanpa menoleh lagi padaku seperti yang biasa ia lakukan.
Berbeda dengan Sugi, Pak Doni nampak tersenyum ketika melintas di depanku. Ia tiba-tiba berhenti lalu mendekatiku
"Riri, berkasnya sudah siap didalam?" Tanya pak Doni berbisik sambil menunjuk ruang meeting
"Sudah pak, sudah siap semuanya"
"Nice" katanya sambil mengacungkannya jempolnya
"Sudah makan siang?"
"Belum pak, mungkin Sebentar lagi"
"Boleh, sepuluh menit lagi yah. Lagi nanggung ngerjain ini pak. Biar selesai dulu" aku menunjuk ke arah layar komputer di depanku
"Duh yang paling sibuk dan rajin, beruntung banget ada Bu Riri disini. Kerjaan saya jadi lumayan berkurang hehehehe pas banget, malah saya sekarang jadi bisa pacaran" katanya sambil terkekeh masih berbisik
"Pacarnya pasti masih muda ya pak? Pak Doni jangan-jangan om senang ya? Sugar Daddy ya?? Hehehe" Candaku ikut berbisik sambil setengah tergelak, pak Doni jadi makin terbahak walau tertahan mendengar candaaku
"Ehm!!" Sugi berdehem menyatakan kekesalannya memandang tajam ke arah kami berdua.
Kami menghentikan tawa kami kemudian kembali ke kesibukan sebelumnya. Pak Doni nampak menutup mulutnya dan meninggalkan mejaku kemudian mendekat ke arah Sugi
Ponselku bergetar kulihat ada pesan masuk dari Sugi. "Ya ampun dia di depan mata begini, kenapa malah mengirim pesan sih? Kan bisa ngomong langsung" Gerutuku sambil membaca pesannya
"Ngomongin apa tadi?"
"Pak Doni ngajakin makan siang bareng" belum ada beberapa saat, Sugi sudah membalas pesanku lagi
"Kok aku nggak diajak?"
__ADS_1
"Maaf, pak Dirut kan biasanya makan di cafe atas đ"
"Ya sudah ikut aku ke atas"
"Benar nggak apa-apa? Kan biasanya yang makan dicafe atas hanya level tertentu sama tamu penting. Mendingan nggak deh, aku malas jadi bahan gosip disini"
"đâšī¸"
Aku menoleh kearahnya, kulihat dia melihatku dengan wajah kecewa
"Ya sudah nggak jadi aja. Tapi kamu nggak boleh makan bareng pak Doni"
"Kenapa?"
"Masa aku makan sendiri sedangkan kalian berdua bisa makan sambil ngobrol seru"
"đ Ih gitu doang loh"
"Kok Ketawa, ih pacarku seru-seruan sama cowok lain đ"
"đ Lebih seru sama pak Dirut dong. Nggak usah ngambek sayangku, nanti juga kita bisa bareng lagi âĨī¸"
Aku menunggu lama balasan darinya, sekitar sepuluh menit kemudian balasan dari Sugi masuk ke ponselku "Ya deh Ririku Sayang đâĨī¸đ"
Pak Doni yang sedang duduk dikursinya terlihat keheranan. Matanya memperhatikan dengan teliti ekspresi wajah mereka yang saling mengirimkan pesan walaupun berada dalam satu ruangan sambil menggeleng.
Tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu. Ketiga orang ini otomatis menoleh ke arah pintu masuk.
"Siapa sih? Biasanya pasti telepon dulu kalau mau masuk" batinku
Belum sempat aku membukanya, seorang wanita yang sangat cantik, masuk ke dalam. Wanginya yang lembut menguar keseluruh ruangan.
"Silvi!" Sugi menyebut nama wanita ini dengan wajah terkejut
"Hi Sam, maaf yah aku datang nggak ngabarin dulu. Dewi bilang kamu ada di dalam, jadi aku langsung saja masuk. Mau ajak kamu makan siang" ia tersenyum, suaranya terdengar lembut dan merdu. Ia nampak berjalan dengan langkah anggun mendekati Sugi
"Silvi, lain kali tidak bisa seperti ini. Setidaknya kamu kabari dulu kedatanganmu. Pak Doni, nanti tegur Dewi di depan. Katakan padanya siapa pun yang datang mencari saya harus lewat asisten"
"Baik pak" kata pak Doni, wajahnya terlihat jengkel
"Aku minta maaf Sam, Ibumu tadi bilang padaku aku boleh kemari kapan saja tanpa perlu ada janji sebelumnya. Kalau aku mengganggumu lebih baik aku pulang saja". ia mengambil tangan Sugi dengan wajah sedih
Sugi menghela napas, Ia melepas tangan Silvi dengan sopan kemudian berdiri "kita bicara di cafe atas" katanya ketus. Wajahnya berubah dingin dengan langkah panjang melewatiku keluar dari ruangan. Diikuti oleh Silvi yang seperti tersenyum senang dibelakangnya.
__ADS_1
Pak Doni berdiri dan menghampiri Riri yang sedang diam mematung melihat kearah pintu.
"Jadi seperti ini ya rasanya cemburu. Ada sedikit perasaan sakit di dadaku yang membuatku tidak nyaman. Ingin marah, tapi aku malah merasa tidak berhak untuk marah pada mereka. Harus aku akui mereka kelihatan sangat serasi. Betul apa yang dikatakan Ibu Rita, Silvi memang sangat cantik. Pantas saja waktu itu Sugi mau menemaninya sampai malam"