Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Bu Alina


__ADS_3

Nampak seorang staff laki-laki berjalan seperti layaknya perempuan mendatangi kami dengan wajah angkuh


"Selamat pagi Bu, Saya Anton. Maaf ada yang bisa saya bantu Bu?" Ia melihat ke arahku, kemudian ke arah sales wanita yang menyebalkan ini


"Bu Tina ada apa ini?"


Sales menyebalkan yang ternyata bernama Tina ini tidak menjawab pertanyaan itu


"Selamat pagi pak, saya kemari mau membeli mobil ini" sambil menunjuk ke arah mobil yang ku maksud. Staff laki-laki itu juga memandangiku naik turun dengan wajah malas. Dari pandangan matanya seolah-olah mengatakan tempatmu bukan disini, dan kamu hanya akan menyusahkan kami.


"Oh ini mobil keluaran terbaru Bu. Harganya juga tidak main-main. Mungkin ibu bisa memilih mobil yang lain, silahkan di sebelah sini" ia mempersilahkan aku menuju ke tempat yang lain


Sales yang bernama Bu Tina tentu saja tersenyum melihat perlakuan temannya terhadapku.


Aku tak mau mengikutinya dan menatapnya tajam "Ternyata begini ya pelayanan Showroom yang katanya terbaik di kota ini?!"


"Bukan begitu Bu, saya hanya menyarankan yang cocok saja dengan Anda. Kami di sini sudah terbiasa melayani pembeli, jadi kami tahu yang mana yang sesuai dengan kemampuannya" laki-laki kemayu yang bernama Anton ini tersenyum sumringah


"Baik, saya mau bertemu dengan manager kalian" kataku mencoba untuk tetap tenang


"Hah? Manager? Nggak salah Bu? Buat apa ketemu manager kami?, Apa nggak sekalian owner saja hahahaha aduh aku jadi geli sendiri" Anton terkekeh mengelap keringatnya dengan tisu ditangan. Tidak berbeda dengan Tina, ia nampak tersenyum sinis saat mendengar ucapanku


"Bertemu owner-nya lebih bagus lagi. Biar owner kalian tahu pegawai biasa seperti kalian yang merusak bisnisnya"


"Hahahaha merusak apa? Duh telingaku kayaknya ada kotorannya kok jadi nggak kedengaran apa-apa sih" ia tertawa mengejek


"Sudahlah ton, kita tinggalin aja dia disini. Kerjaan kita kan banyak. Yuk ah" Tina mengajak Anton kembali ke mejanya


Aku hanya bisa menghela napasku "kenapa sih orang-orang ini selalu saja melihat penampilan luar seseorang?. Kalau saja ini bukan tempat umum mungkin sudah ku Jambak dua orang tadi" aku bergumam menahan geram dalam hatiku


Sambil berjalan ke luar showroom aku mengambil ponselku berniat menghubungi Kak Damar. Tiba-tiba ada suara seorang wanita memanggil "Hi mba" katanya dengan suara lembut


Aku menoleh ke arah suara, ku lihat seorang wanita cantik elegan, yang sudah cukup berumur memandang ke arahku sambil tersenyum


"Iyah Bu? Ibu bicara dengan saya?" Tanyaku


"Iyah dengan anda, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya" katanya sembari mendekat


Aku melihatnya wajahnya dengan seksama


"Saya Alina, kalau tidak salah anda yang di Restauran Eat and Love kan?"


"Ah iya aku ingat mata wanita cantik dan lembut ini" aku membatin


"Mba Riri kan? yang menyelamatkan anak bungsu saya?"


"Iyah saya ingat Bu" kataku sambil tersenyum


"Duh, Maaf Mba Riri kartu nama anda terselip entah dimana. Saya cari-cari tidak ketemu. Jadi saya tidak bisa menghubungi mba Riri untuk sekedar makan malam seperti janji saya"


"Ah tidak apa-apa Bu, saya sendiri sebenarnya juga sudah lupa"


"Saya kalau sudah janji sama orang lain pasti teringat terus, sampai saya cari ke restauran sana. Katanya mba Riri sudah tidak bekerja disana lagi"


"Iyah Bu sudah lama saya berhenti bekerja disana"


"Eh iya, ayo masuk dulu kita ngobrol di dalam"

__ADS_1


Aku memandangnya bingung


"Kenapa bengong? ayo, sini..."


Bu Alina menarik tanganku lembut


"Showroom ini punya Bu Alina?"


"Punya suami saya" jawabnya sambil mengempit lenganku merapat padanya


"Bu Alina kok ingat sama saya? Kan waktu itu gelap dan saya pakai masker ya?"


"Saya ingat sama tas ransel ini, sama mata cantik mba Riri" ujarnya sambil memandang tas ransel di punggungku dan kemudian ke wajahku


"Ooo" sahutku masih merasa ini kebetulan yang aneh


Di dalam showroom semua staf seperti tercengang melihat kedekatan kami. Anton dan Tina yang tadinya memandang sinis kini diam menunduk tak berkutik


"Yuk kita ke lantai dua, mba Riri ada urusan apa kemari? Mau membeli mobil ya?" Tanyanya dengan suara yang masih tetap lembut tanpa sebersit pun nada menghakimi


"Iyah Bu saya mau membeli mobil"


Ia lalu mempersilahkan aku untuk duduk di salah satu sofa di ruang VIP


"Silahkan duduk disini dulu ya mba" katanya sambil ikut duduk di seberang dan menelpon seseorang di internal showroom ini


"Pagi Nita, Saya Alina. Iya ... saya mau satu espresso"


"Mba Riri mau minum apa?"


"Saya apa saja Bu terimakasih" jawabku sambil memandang sekeliling ruangan


"Dan satu teh hangat... Mmm Boleh Nita, terimakasih" Bu Alina nampak menutup teleponnya


"Saya senang akhirnya kita bisa bertemu disini. Apa kabarnya mba? Kerja dimana sekarang?"


"Saya sempat bekerja di Wijaya Grup Bu, tapi baru saja resign"


"Loh kenapa? Kan disana manajemen bagus, jenjang karirnya juga ada. Sebagai apa disana?"


"Saya asisten Direktur Utama Bu, saya berhenti karena mau membantu usaha kakak saya"


"Oh asistennya Sam"


"Ibu kenal beliau?"


"Ibunya Sam teman kumpul-kumpul di organisasi. Bukannya Sam itu atasan mba Riri di restauran waktu itu?"


"Iyah Bu benar"


"Saya juga kaget loh waktu tahu ternyata manager di restauran itu orang yang sama dengan anaknya Bu Rita hahahaha"


Aku tersenyum mendengar ceritanya


"Terus tadi sudah pilih mobilnya dibawah?"


"Belum Bu"

__ADS_1


"Kenapa belum? Mau yang mana sih? Nanti saya kasih harga spesial"


"Sebenarnya saya kemari mau membeli mobil yang ini Bu" aku menunjuk tipe mobil yang aku inginkan pada brosur yang aku pegang.


"Terus?" Bu Alina memandangku penasaran


"Staff sales di bawah sepertinya merasa saya tidak mampu membelinya jadi mereka malah menyarankan saya untuk membeli mobil yang lain"


"Loh kok begitu? Siapa sales-nya nanti saya akan laporkan ke bapak"


"Tina dan Anton Bu" jawabku tanpa ragu


"Ok saya akan ingat, jangan sampai pelayanan disini di cap buruk hanya gara-gara dua orang tadi"


"Mungkin sekedar masukan saja, sebaiknya mereka di training ulang saja Bu, siapa tahu mereka sering di kecewakan oleh calon pembeli. Jadi mereka merasa bisa menilai seseorang hanya dari penampilan saja"


"Masukan di terima mba" katanya tersenyum


"Karena mobilnya laris nanti saya masukkan daftar indent VIP ya biar dapatnya cepat"


"Waduh saya berterimakasih sekali Bu untuk bantuannya"


"Sama-sama mba Riri, sebentar ya"


Ia nampak menghubungi seseorang kembali di internal showroom "Saskia, ini Alina tolong bawakan saya satu formulir pembelian mobil dan kwitansi kemari. Terimakasih" katanya lalu menutup sambungan teleponnya


Beberapa saat seorang wanita datang membawa setumpuk berkas di tangannya.


"Selamat pagi bu, Saya Saskia" katanya padaku lalu duduk disebelahku


"Saskia, Mba Riri ini mau membeli mobil, layani beliau dengan baik. Diskon VIP yah kia" kata Bu Alina dengan senyum sumringah.


"Baik saya mengerti Bu" Kata Saskia lalu mulai mempersiapkan beberapa formulir yang harus aku tandatangani


Setelah usai, Saskia undur diri dan turun kembali ke mejanya


"Terimakasih untuk harga spesialnya Bu" kataku dengan perasaan tidak enak


"Ini semua tidak sebanding kok dengan jasa mba Riri malam itu"


"Sudah kewajiban saya bu"


"Ternyata wajah mba Riri cantik ya, kok saya jadi teringat kakak saya sih hehehehe" ia tertawa kecil sambil mengerjapkan matanya


Aku seperti melihat ada genangan di pelupuk matanya, kemudian buru-buru ia enyahkan.


"Usaha kakaknya di bidang apa?"


"Furniture Bu, kakak saya usaha jual beli furniture di luar negeri. Sekarang dia mau membuka kantor disini untuk membantu usahanya di luar"


"Wahhh usaha bagus itu, dia buka sendiri atau join sama orang luar?"


"Sendiri Bu"


"Luar biasa, merintis usaha itu susahnya luar biasa loh mba apalagi di luar negeri. Kakaknya hebat"


"Terimakasih Bu pujiannya, kakak masih amatir, jadi perlu berjuang dan belajar terus menerus. Mudahan-mudahan usaha ini bisa terus berkembang"

__ADS_1


"Pasti bisa, saya yakin" katanya sambil tersenyum


__ADS_2