
Dalam perjalanan pulang hari sudah gelap, Sugi bersikeras untuk menggantikan Riri menyetir. Ia tahu Riri kelelahan karena seharian Riri sangat sibuk membantu pekerjaannya.
"Lelah ya?" Tanya Sugi pada Riri yang nampak tak bertenaga bersandar pada sandaran jok.
"Mmm" jawabnya lemah
"Mau makan malam apa?" Tanya Sugi lagi
Riri tak menjawab, hanya terlihat gerakan dadanya naik turun karena hembusan napasnya yang teratur
Sugi menoleh ke arah Riri untuk memastikan kalau Riri memang sedang tertidur lelap.
"Sepertinya dia ketiduran. Mungkin saja dia semalam susah tidur? Dia kenapa ya, seperti bukan Riri yang aku kenal?" Gumamnya dalam hati
Tanpa sepengetahuan Riri, Sugi menuju ke satu Restauran makanan cepat saji dan memesan beberapa paket burger dan kentang goreng kesukaan Riri. Lalu turun sebentar di minimarket untuk membeli berbagai macam es krim untuk stok. Ia membeli banyak es krim rasa vanila kesukaan Riri.
Sesampainya di rumah, Sugi membangunkan Riri dengan lembut. Ia mengelus rambut dan pipinya perlahan. "Riri kita sudah sampai!"
Riri bergeming, akhirnya Sugi memutuskan untuk menggendongnya. Belum ada dua langkah, Riri terbangun dari tidurnya. Dilihatnya leher Sugi dekat sekali dengan wajahnya.
"Apa aku bermimpi?" Riri melihat sekelilingnya
"Astaga!! Sugi menggendongku" Dengan panik Riri menepuk-nepuk dada Sugi dengan pelan
Sugi masih melangkah sambil menunduk menoleh kearah Riri
"Sudah bangun?" Katanya, Riri bisa melihat wajah Sugi dengan jelas, mungkin saat ini wajahnya sendiri sedang bersemu merah
"Hei turunkan aku disini, aku bisa jalan sendiri kok. Kenapa aku tidak dibangunkan saja tadi?" Protesku padanya
Sugi tersenyum, ia tidak mau menuruti kata-kata Riri, ia terus saja melangkah sampai masuk kedalam rumah. Riri yang tidak punya tenaga untuk memaksa turun hanya bisa pasrah dalam gendongan Sugi.
Ia Kemudian menurunkan Riri diatas sofa lalu berjongkok di depan Riri menatapnya lembut
"Kamu tadi ketiduran. Dari semalam kulihat kamu bersikap agak aneh. Ada apa Riri? Mungkin ada hal yang kamu ingin ceritakan tapi sungkan atau malu. Aku siap mendengarkan apa saja" katanya penuh perhatian
Riri menggeleng "tidak ada apa-apa Sugi. Aku hanya terkadang punya masa-masa sedang ingin sendiri. Seperti semalam aku tiba-tiba saja ingat keluargaku. Jangan khawatir nanti juga kembali normal, aku sudah terbiasa"
Sugi tersenyum "Ya sudah, sekarang lebih baik kamu mandi dulu biar segar. Aku sudah beli burger, kentang goreng sama es krim vanila. Nanti kita makan sama-sama"
Riri menatap Sugi, ada perasaan terharu yang ia rasakan. Air matanya tiba-tiba menetes di pipinya.
"Hei kenapa menangis?" Sugi menghapus air mata Riri dengan Tangannya
Riri menggeleng tak sanggup berbicara
__ADS_1
Sugi duduk disebelahnya "lagi kangen banget sama mereka yah?"
Riri mengangguk, air matanya menetes semakin deras, napasnya terasa sesak.
"Kasihan, sini peluk" kata Sugi menarik Riri kedalam pelukannya
Riri menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Sugi. Sugi hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya pelan.
Selang beberapa saat tangisnya mulai mereda. Sugi mengambil tisu dari atas meja untuk diberikan pada Riri. Masih sedikit terisak Riri menghapus sisa-sisa air matanya.
"Aku..kok..Jadi...makin.. cengeng" Katanya tersendat-sendat
"Kamu nggak cengeng, hanya sedang sedih itu saja. Mungkin kamu sudah bertahun-tahun menahan kesedihan ini sendiri. Kalau pengin nangis, ya nangis saja biar plong. Aku tahu kamu wanita yang kuat tapi meluapkan emosi itu penting Riri"
Riri mengangguk
"Sudah tidak usah bicara lagi, sekarang mandi dulu" Sugi menarik lembut tangan Riri untuk berdiri.
Ketika Riri telah masuk ke dalam kamar, Sugi nampak kembali ke garasi untuk mengambil paket burger dan es krimnya. Dilihatnya Rio baru saja kembali. Mereka berjalan beriringan menuju ke dalam rumah
"Kenapa kamu sendirian, Riri kemana?" Tanyanya pada Sugi
"Kenapa nanyain dia?" Wajah Sugi berubah curiga
"Lagi mandi, kita juga baru saja sampai"
Rio melihat burger yang ada tanganku "Burgernya satu buat aku ya?"
"Tunggu Riri dulu, aku beliin buat dia kok" katanya sewot
"Ishhh Bapak Direktur Utama loh beliin asistennya burger hahahaha.... Ya..ya..ya aku mengerti yang namanya cinta itu memang memabukkan" Rio tergelak
"Ssttt!! Aku mau mandi dulu. Jangan dimakan burgernya, tunggu Riri milih dulu mau yang mana!!" Sahut Sugi sambil meletakkan paket burger tersebut keatas meja dan memasukkan sekantong plastik kresek es krim ke dalam freezer.
"Siap pak Dirut" ujar Rio dengan posisi hormat.
Sugi naik ke lantai dua, jari tengahnya teracung ke arah Rio dengan wajah sok bengis
"Hahahahaha " Rio semakin tergelak
Rio kemudian duduk di sofa, tangannya merogoh kedalam kantong baju mengeluarkan ponselnya. Ia lalu menghubungi seseorang
"Gimana pak?"
"Hah? kenapa?"
__ADS_1
"Terus sekarang dia ada dimana?"
"Ok, saya tunggu informasinya pak. Terimakasih"
Rio menutup teleponnya dengan wajah gusar. Ponselnya ia Ketuk-ketukkan pada pahanya, wajahnya nampak seperti berpikir keras akan sesuatu.
Riri baru saja selesai mandi, dilihatnya Rio sedang diruang tamu. Ia dengan cepat mengenakan masker dan topinya lalu keluar dari kamar.
"Malam pak Rio" Sapanya dengan bahasa tubuh agak kikuk
"Malam Riri" jawab Rio matanya memperhatikan Riri menuju meja makan. Diatas meja ia melihat tiga paket burger lengkap dengan kentang goreng. Setelah memilih burger yang ia suka, kemudian ia mengambilkan satu paket untuk Rio.
"Silahkan pak" Tangan Riri menyerahkan makanan tersebut pada Rio
"Terimakasih" ujar Rio sambil tersenyum
Riri kembali ke meja makan dengan gelisah
"Riri sebelum disini, tinggal dimana?"
"Saya indekos pak, jauh dari sini"
"Kenapa tidak tinggal dengan orangtua? Mereka tinggal di pedesaan ya?" Tanya Rio wajahnya penasaran
Riri terdiam cukup lama sampai akhirnya menjawab "orang tua saya sudah meninggal pak, jadi saya memang tinggal sendiri. Kenapa bapak ingin tahu?"
Rio merasa bersalah "Maaf atas kelancangan saya. Saya hanya penasaran saja. Sejak kapan bisa membuat kopi dengan mesin pembuat kopi?"
"Sudah lama, ada seseorang yang mengajari saya pak. Saya juga pernah bekerja sebagai barista walaupun hanya tiga bulan"
Rio mengangguk perlahan "Terus kenapa tadi pagi kopi saya tidak sepahit yang saya bayangkan? Padahal saya minta kopi pahit kan?!"
Riri memandang Rio dengan wajah kecewa "maaf, apa bapak tidak menyukainya? Lain kali saya akan mengingatnya"
"Berapa takaran gula yang Riri masukkan ke kopi saya?" Tanyanya lagi sambil mendekat
"Seperempat sendok teh" jawab Riri
"Hei!! Kalian sedang membahas apa? Sugi tiba-tiba muncul menuruni anak tangga
"Kopi pak, sepertinya saya tidak sengaja memberikan sedikit gula pada kopi pahit pak Rio tadi pagi" ujar Riri
"Aku hanya ingin tahu berapa takaran gula yang ia masukkan kedalam kopiku tadi pagi. Aku suka kopi buatannya" sahut Rio dengan wajah gelisah
"Wah bisa makin betah dia tinggal disini Riri. Besok-besok kasih kopi paling pahit saja ya" canda Sugi sambil mengambil satu paket burger yang ada diatas meja. Wajahnya bingung melihat Rio dan Riri yang tak merespon candaannya sama sekali.
__ADS_1