Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Menuju Penumbra


__ADS_3

Sugi langsung memeluknya saat ia baru saja masuk ke dalam mobil. Mobil ini pun melaju kembali keluar dari areal Villa dengan perlahan. Sekat partisi di dalam mobil pun turun perlahan, senyum pak Doni terlihat mengembang. Ia ikut gembira saat melihat Sugi dan Riri kembali bertemu setelah beberapa hari menjalani kesibukan mereka masing-masing.


Riri keheranan saat melihat sekat partisi perlahan menutup di depannya.


"Kok ditutup?" Tanyaku padanya


"Biar lebih leluasa, nggak enak sama pak tua"


"Memangnya kita mau ngapain?" Aku menatapnya curiga teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu di Villa Sea View.


"Hehehehe...nggak ada sayang. Kita ngobrol aja"


"Benar?"


"Benar..." Jawabnya sambil menatapku dengan lembut


"Sayang, Silvi apa kabar setelah malam itu? Apa dia membuat kekacauan di tempat lain"


"Entahlah, aku tidak pernah bertemu dia lagi usai hari itu. Katanya, dia sudah beberapa hari ini tidak pernah menghubungi ibuku. Biasanya kan sehari bisa beberapa kali untuk hal-hal tidak penting"


"Dari rekaman CCTV di hotel dia hanya kelihatan jelas sewaktu berada di ruangan acara dan ketika dia pulang diantar oleh sopir yang bertugas mengantarnya. Sepertinya ia sudah berencana dari jauh-jauh hari, bahkan ia sampai tahu dimana saja CCTV di letakkan"


"Ku dengar informasi dari sopir yang mengantarnya malam itu, dia minta diantarkan ke suatu klub malam ternama di daerah selatan"


"Apa dia memiliki kenalan dekat atau kerabat disini?"


"Bisa jadi begitu, karena menurut sopirnya dia selalu bertemu dengan laki-laki yang sama di tempat itu"


"Ini menarik, aku penasaran siapa laki-laki itu? Apa sopirnya tidak memberikan fotonya?"


"Sudah ada fotonya, tapi dia selalu memakai topi dan kacamata hitam. Dan duduknya selalu menghadap tembok. Jadi sulit mengenali wajahnya" jawab Sugi sambil memperlihatkan foto itu padaku


Aku memperhatikan foto yang disodorkannya padaku.


"Kenapa aku merasa familiar dengan cara duduk laki-laki ini ya? Tunggu..aku masih mengingat-ingat orang ini mirip siapa sih ya?" Ujarku sambil berpikir


"Sudahlah sayang, tidak usah terlalu dipikirkan"


Aku akhirnya menyerah karena tidak ingat siapa laki-laki yang cara duduknya seperti itu.


"Argh aku tidak bisa mengingatnya, lupakan saja. Itu semua tidak penting" gerutuku karena kesal


Ia yang masih memperhatikanku hanya bisa tersenyum geli sambil menggeleng melihat tingkahku ini

__ADS_1


"Lebih baik kamu fokus padaku saja malam ini, gimana?"


"Hmm...coba ku lihat apa yang kamu kenakan hari ini" kataku saat ia meregangkan pelukannya.


Seperti biasa penampilannya selalu saja simple namun berkelas dan enak dipandang mata. Kali ini ia mengenakan kemeja berwarna hijau emerald dengan setelan jas berwarna hitam.


"Ganteng banget sih sayang" bisikku padanya


"Masa? Ririku juga tambah cantik malam ini" bisiknya sambil menatapku


"Tapi aku punya kantong mata...ini lihat deh" ujarku dengan wajah sedih sambil mendekatkan wajahku padanya


"CK! Semalam tidur jam berapa?" Ia mengelus pipiku dengan ibu jarinya


"Semalam selesai kita mengobrol, sepertinya sejam atau dua jam kemudian. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan, aku takut lupa" aku tersenyum lebar padanya


"Duh...,Selesai soft launching kamu harus lebih banyak berisitirahat"


"Iyah aku tahu"


Sugi memperbaiki duduknya, ia terlihat sedikit gelisah


"Ehmn..Bagaimana persiapannya? Lancar?"


"Kamu sendiri sudah coba?" Ia tersenyum geli karena yakin kalau Riri belum mencoba produknya sendiri sama sekali


"Hahahaha sudah dong, tapi belum semuanya. Kamu pasti tahu aku tidak punya banyak waktu untuk itu" Aku terkekeh


"Dasar" ia mencolek hidungku dengan gemas "Sayang yang namanya berjualan apapun bentuknya sebagai pemilik yah kamu harus coba dong daganganmu. Mana bisa berjualan tanpa mencoba. Dari sanalah kamu tahu kekurangan dan kelebihan produk yang kamu miliki"


Lagi-lagi aku terkekeh "Hahahaha aku tahu itu sayang, Jadi rencananya aku memang mau lanjut trialnya. Tentu saja diluar dari jadwal trial undangan. Tapi aku tidak meragukan skill teman-teman di villa. Aku yakin kamu pasti suka"


Ia tersenyum sambil menggeleng "waktunya mepet sekali sih sama soft launchingnya"


"Yah daripada kelamaan nunggu ini itu, aku khawatir kalau pacarku yang ganteng dan manly itu bakalan makin gondok jadinya. Makin merasa tidak diperhatikan, tiap hari selalu saja komplain. Katanya dia lagi kurang kasih sayang" ujarku sambil meliriknya tajam


Ia mengelus lehernya sendiri sambil tertawa "Hehehe siapa sih pacarmu itu? Nyebelin banget!"


Aku mencubit kecil pipinya "Ini dia orangnya, nyebelin, tapi anehnya aku cinta banget sama dia"


"Hahahaha ..." ia tergelak sembari kembali memelukku erat.


Tawanya kemudian mereda

__ADS_1


"Sayang....." Ia memanggilku dengan keraguan yang kentara dari nada suaranya


"Hmm" aku melepaskan diri dari pelukannya


"Sepertinya saat launching Villa Lembayung nanti, aku nggak bisa datang. Ada undangan makan malam dari Bapak Walikota..." Ujarnya dengan wajah sedih


"Oh gitu... Ya nggak apa-apa, sebenarnya kemarin malah aku yang kepikiran sama rencana kedatanganmu. Tamu undangan pasti heboh melihatmu hadir disana. Daaannnn Aku pasti kebingungan menjawab pertanyaan dari mereka"


"Tapi aku yang sedih, di hari pentingmu aku malah nggak bisa datang"


"Sudahlah, kan masih banyak event lain. Siapa tahu ada properti yang kedua, ketiga... malah mungkin ke seratus hahaha mengkhayal memang bebas ya" aku tergelak


Ia menghela napasnya "CK! Kalau kamu jadi makin sibuk, terus waktu buat akunya kapan?"


"Bisa diatur sayang, duh baru juga mengkhayal sudah diprotes pak Dirut hehehe. Ngomong-ngomong kenapa pak Walikota tiba-tiba mengundangmu?"


"Hubungan ayah dan beliau baru saja dekat. Kamu kan tahu perusahaan sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah, jadi ini merupakan kesempatan yang baik" jawabnya datar


"Tapi kenapa wajahmu tidak mengesankan ini kesempatan baik?" Ujarku heran, karena merasa aneh dengan raut wajahnya


Tidak seperti biasanya, kalau dia memiliki kabar baik tentang apa saja, sedikit tidaknya pasti muncul seulas senyuman yang terpancar. Kalaupun bukan dari bibirnya bisa terlihat dari matanya


Ia tersenyum "aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu ya?" Ia mengucek lembut rambutku


"Ishh rambutku kan jadi berantakan" sahutku dengan wajah cemberut sambil mengusap-usap kepalaku sendiri. Sementara dia hanya tertawa geli


"Mmm... aku hanya tidak terlalu suka ayahku dekat dengan orang pemerintahan. Kamu mengerti kan maksudku?"


Aku mengangguk "aku sangat mengerti itu"


"Ok kita nggak usah bahas itu lagi, kita nikmati saja malam yang indah ini" sahutnya sambil melingkarkan tangannya di pinggangku


Ku rebahkan kepalaku di dadanya "Aku sudah tidak sabar untuk segera tiba di Penumbra"


"Dasar tukang makan hehehe" ia tergelak


Aku pun ikut tertawa mendengar ucapannya.


Sementara itu dalam apartmentnya Silvi sedang terlihat kebingungan, matanya merah seperti habis menangis. Ia duduk diatas kursi dengan posisi menunduk sambil memeluk lututnya.


Kamarnya dalam keadaan berantakan luar biasa. Pakaian kotor nampak bergelimpangan disana sini, ditambah beberapa pasang sepatu yang diletakkan sembarangan bersama dengan sampah bungkus-bungkus makanan yang berserakan.


"Ini tidak mungkin terjadi... Tidak mungkin!!!! Tidak..tidak.... tidak....Aku harus melakukan sesuatu... Iyah aku harus melakukan sesuatu secepatnya"

__ADS_1


Mulutnya komat Kamit berbicara sendiri. Matanya nanar memandangi testpack bertanda dua garis merah ditangannya.


__ADS_2